Bacaan : Yesaya 58:1-12
Seorang laki-laki di Kerala, sebuah daerah di India selatan, meninggal
gara-gara berpuasa selama 50 hari tanpa makan dan minum. Sebenarnya
pada hari ke-41, banyak orang mencoba mendobrak kamarnya, tetapi pihak
keluarga tidak memperbolehkan.
Jika kita melakukan puasa tanpa tujuan ilahi, apa yang kita lakukan
itu sebenarnya tidak berguna sama sekali. Puasa bukan ajang untuk
menguji ketahanan tubuh. Juga bukan ajang pembanggaan diri; sehingga
kita seolah-olah lebih rohani daripada yang lain. Semakin banyak
berpuasa, semakin kelihatan rohani: ini prinsip yang sangat keliru.
Bukankah kita kerap melakukan puasa, tetapi dengan tujuan yang salah?
Beberapa di antara kita melakukan puasa dengan tujuan diet. Yang lain
melakukannya karena menganggap puasa sebagai suatu tantangan yang
seru. Dan, beberapa orang melakukannya hanya untuk kemegahan dan
kosombongan diri. Puasa seperti ini tidak akan pernah berkenan di hati
Tuhan.
Jika kita berpuasa, kita mesti mendasarinya dengan tujuan ilahi. Kita
berpuasa untuk melatih dan menguasai kedagingan serta hawa nafsu. Kita
berpuasa supaya bisa lebih peka dan lebih fokus dengan rencana Tuhan.
Kita berpuasa agar dapat berdoa dengan lebih konsentrasi karena
kedagingan kita terkikis. Puasa adalah hal yang baik, jika dilakukan
dengan motivasi yang baik. Sebaliknya, puasa bisa menjebak kita untuk
terlibat dalam kemunafikan. Apakah kita adalah orang kristiani yang
kerap melakukan puasa dan rutin melakukannya? Luruskan motivasi kita,
maka puasa kita akan menjadi sangat efektif —PK
TANPA TUJUAN ILAHI PUASA YANG KITA LAKUKAN AKAN SIA-SIA
|