Bacaan : Mazmur 102:1-23
"Suami saya selalu menunjukkan sikap permusuhan. Apa pun yang saya
lakukan dianggap salah. Saya harus bagaimana?" Keluh seorang ibu pada
pendetanya. "Sudahkah Ibu berdoa memohon Tuhan melunakkan hatinya?"
tanya Pendeta. Ibu itu menjawab, "Saya merasa Tuhan pun sedang
memusuhi saya! Memang semuanya gara-gara saya. Beberapa tahun lalu
saya pernah selingkuh. Sejak saat itu, biarpun sudah bertobat, saya
merasa baik suami maupun Tuhan memusuhi saya!"
Ketika dimusuhi orang, kita bisa mengadu pada Tuhan. Namun, jika Tuhan
pun buang muka, ke mana lagi kita bisa pergi? Situasi tanpa harapan
ini pernah dialami pemazmur. Bagian pertama Mazmur 102 mengungkapkan
kesengsaraannya saat dicela musuh sekaligus dimurkai Tuhan. Ia merasa
Tuhan menyembunyikan diri (ayat 3) dan membiarkannya terpuruk (ayat
11). Akibatnya, semangat hidup pemazmur meredup. Ia layu bagai rumput
(ayat 5,12). Tidak nafsu makan, tidak bisa tidur, dan merasa sangat
kesepian (ayat 7,8). Namun, di bagian kedua (ayat 13-23), nada bicara
pemazmur berubah. Muncul optimisme. Pemazmur yakin Tuhan masih sayang
kepadanya (ayat 14). Kesetiaan Tuhan lebih besar daripada murka-Nya.
Pasti Tuhan akan kembali mengasihani dan mendengarkan doa umat-Nya
(ayat 17,18).
Hubungan dengan Tuhan bisa rusak karena dosa dan pemberontakan kita.
Ketika hal itu terjadi, Tuhan terasa jauh. Wajah-Nya tampak seram
bagai musuh. Namun, jika kita sudah bertobat, yakinlah bahwa Tuhan
pasti kembali peduli. Dia tidak lagi berwajah marah, tetapi ramah.
Jangan biarkan hidup Anda terus dihantui rasa bersalah! —JTI
SETIAP PERTOBATAN MENYURUTKAN MURKA TUHAN
|