Bacaan : 1 Samuel 8
Siti seorang gadis lajang. Ia sangat merindukan jodoh. Apalagi usianya
sudah memasuki kepala tiga, dan teman-teman seangkatannya hampir semua
telah menikah. Ia tak putus berusaha dan berdoa, memohon kepada Tuhan
agar dipertemukan dengan pemuda tambatan hati. Namun, doa dan usahanya
tak juga membawa hasil. Sampai suatu kali ia berkenalan dengan seorang
pemuda di sebuah mal. Keduanya saling tertarik, lalu pacaran. Tiga
bulan kemudian mereka menikah.
Siti sebetulnya sadar kalau keputusannya itu berisiko. Ia belum begitu
kenal pemuda itu. Orangtua, saudara, dan teman-temannya juga sudah
mengingatkannya. Namun, suara hati dan semua nasihat itu seolah
terbungkam dengan keinginannya untuk segera menikah. Siti pun naik ke
pelaminan. Awalnya semuanya berjalan lancar. Hingga enam bulan
kemudian rumah tangganya berantakan. Siti pun hanya bisa menyesali
keputusannya.
Hal serupa dialami oleh bangsa Israel. Mereka menginginkan seorang
raja. Alasannya karena bangsa-bangsa lain dipimpin oleh raja (ayat 5).
Samuel telah mengingatkan mereka akan risiko hadirnya seorang raja di
tengah mereka (ayat 11-18). Akan tetapi, mereka tetap ngotot.
Akhirnya, Tuhan membiarkan mereka mempunyai raja (ayat 22). Dan
sejarah mencatat, bahwa dari situlah awal kehancuran bangsa Israel.
Saul sebagai raja pertama gagal total. Setelah Salomo, bangsa itu
pecah. Bahkan jauh kemudian, mereka dibuang ke negeri Babel.
Maka, berhati-hatilah dengan keinginan. Apa yang sekarang kita idam-
idamkan, belum tentu pada masa depan menjadi berkat. Bisa saja malah
mendatangkan laknat —AYA
TUHAN, JANGAN BERIKAN YANG AKU INGINKAN
TETAPI BERIKANLAH YANG TERBAIK BAGIKU
|