Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > BAU
< April
2009
>
M S S R K J S
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30    


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Selasa, 07 April 2009

Bacaan Setahun : 2 Samuel 13-15
Nats : Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (Matius 7:3)

BAU

Bacaan : Matius 7:1-5

Sore itu pulang dari kantor, karena harus cepat-cepat sampai ke rumah, saya naik taksi. Biasanya saya naik bus. Begitu masuk ke dalam taksi, saya mencium bau tidak enak. "Joroknya sopir taksi ini," begitu pikir saya. Sepanjang jalan, saya menutup hidung dengan sapu tangan. Turun dari taksi, ketika hendak menaikkan tas ransel saya, tahu-tahu tangan saya menyentuh sesuatu. Ada kotoran burung yang menempel di sana. Rupanya itulah sumber bau yang mengganggu saya. Saya menyesal telah menuduh sopir taksi itu, padahal masalahnya ada pada saya.

Salah satu tema yang diangkat oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit adalah tentang menghakimi terhadap sesama. Intinya, kita jangan hanya jeli melihat keburukan orang lain, tetapi abai terhadap keburukan diri sendiri yang mungkin malah lebih besar. Tuhan Yesus memakai kiasan selumbar dan balok. Selumbar berasal dari kata Yunani, karfos, yang artinya: menjadi kering. Kata ini menggambarkan sesuatu yang sangat kecil; bisa ranting kecil, serpihan jerami kecil, atau sekadar sehelai rambut yang tidak sengaja masuk ke mata. Kontras dengan balok.

Ketika ketidakberesan atau ketidaknyamanan terjadi dalam hidup kita, jangan buru-buru menyalahkan orang lain; menuduhnya sebagai pihak yang bertanggung jawab atau biang keladi. Sebaiknya introspeksi diri dulu, melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin kesalahannya justru ada pada diri kita. Atau, sekurang-kurangnya kita ikut andil. Seperti bau tidak enak yang saya cium di dalam taksi, ternyata sumbernya kotoran burung yang menempel di tas ransel saya —AYA

BERHENTI MENGHAKIMI

MULAI MENGINTROSPEKSI DIRI
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran