Bacaan : Matius 7:1-5
Sore itu pulang dari kantor, karena harus cepat-cepat sampai ke rumah,
saya naik taksi. Biasanya saya naik bus. Begitu masuk ke dalam taksi,
saya mencium bau tidak enak. "Joroknya sopir taksi ini," begitu pikir
saya. Sepanjang jalan, saya menutup hidung dengan sapu tangan. Turun
dari taksi, ketika hendak menaikkan tas ransel saya, tahu-tahu tangan
saya menyentuh sesuatu. Ada kotoran burung yang menempel di sana.
Rupanya itulah sumber bau yang mengganggu saya. Saya menyesal telah
menuduh sopir taksi itu, padahal masalahnya ada pada saya.
Salah satu tema yang diangkat oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit
adalah tentang menghakimi terhadap sesama. Intinya, kita jangan hanya
jeli melihat keburukan orang lain, tetapi abai terhadap keburukan diri
sendiri yang mungkin malah lebih besar. Tuhan Yesus memakai kiasan
selumbar dan balok. Selumbar berasal dari kata Yunani, karfos, yang
artinya: menjadi kering. Kata ini menggambarkan sesuatu yang sangat
kecil; bisa ranting kecil, serpihan jerami kecil, atau sekadar sehelai
rambut yang tidak sengaja masuk ke mata. Kontras dengan balok.
Ketika ketidakberesan atau ketidaknyamanan terjadi dalam hidup kita,
jangan buru-buru menyalahkan orang lain; menuduhnya sebagai pihak yang
bertanggung jawab atau biang keladi. Sebaiknya introspeksi diri dulu,
melihat ke dalam diri sendiri. Mungkin kesalahannya justru ada pada
diri kita. Atau, sekurang-kurangnya kita ikut andil. Seperti bau tidak
enak yang saya cium di dalam taksi, ternyata sumbernya kotoran burung
yang menempel di tas ransel saya —AYA
BERHENTI MENGHAKIMI
MULAI MENGINTROSPEKSI DIRI
|