Bacaan : Hakim-hakim 7:7-25
Dalam bukunya, Melepas Belenggu Kekhawatiran dan Kecemasan (Gloria
Graffa), Pam Vredevelt menulis bahwa ia pernah menemukan akronim
buatan orang atas kata fear ("ketakutan"), yakni false evidence
appearing real (bukti palsu yang kelihatan benar). Menurutnya,
ketakutan bisa membuat seseorang menilai sesuatu secara
berlebihan—cenderung negatif, atas sesuatu yang belum ia ketahui
secara pasti kebenarannya.
Tepat seperti itulah yang dialami Gideon. Saat dihadapkan pada
"pertarungan mustahil" dengan orang Midian dan Amalek, ia takut.
Kekuatannya terbatas. Ia hanya punya 300 prajurit. Sementara lawan
"seperti belalang banyaknya, dan unta mereka tidak terhitung, seperti
pasir di tepi laut banyaknya" (ayat 12). Yang ia hadapi terlalu
banyak, terlalu kuat. Jadi, wajar jika di benaknya terbayang kekalahan
telak. Tuhan menjanjikan kemenangan (ayat 9), tetapi Gideon masih
tetap takut. Hebatnya, Tuhan tahu apa yang Gideon rasakan. Maka, Tuhan
memberinya kesempatan untuk meneguhkan kepercayaan dirinya, yakni
dengan mengintai perkemahan Midian (ayat 10,11). Dan, begitu ia tahu
bahwa nama Allah Israel menggentarkan musuh, ketakutan Gideon pun
sirna.
Rupa-rupa pergumulan hidup juga kerap membuat kita takut. Terlalu
berat. Terlalu menakutkan. Namun, Allah yang mengerti ketakutan
Gideon, juga memahami ketakutan kita. Jangan biarkan ketakutan itu
terus membuat banyak bayangan negatif di kepala. Sebaliknya, ceritakan
semua kepada-Nya. Biarlah besar dan kuatnya lawan justru mendorong
kita untuk mengandalkan Dia saja, bukan kekuatan kita yang terbatas
—AW
JIKA HIDUP ADA DI TITIK TERBERATNYA
MAKA HANYA YESUS TANDINGANNYA
|