Bacaan : Filipi 1:12-19
Israella Darmawan sangat gembira saat Barrack Obama terpilih menjadi
Presiden Amerika. Padahal ia bukan anggota tim suksesnya. Bukan pula
warga Amerika. Israella adalah guru SD Fransiskus Asisi, Jakarta,
yang pernah mengajar Obama ketika menjalani masa kecilnya di
Indonesia. Walau hanya setahun, ia masih ingat saat ia memeriksa
tugas mengarang yang diserahkan oleh Obama kecil. Obama membuat
karangan berjudul "I want to be a president" (Saya ingin menjadi
presiden). Israella tidak menyangka, tahun itu ia diberi kesempatan
untuk ikut membentuk perjalanan hidup seorang presiden Amerika!
Setiap pertemuan adalah kesempatan. Itulah komentar Rasul Paulus
kepada jemaat Filipi tentang kisah pemenjaraannya. Pengalaman
dipenjara tanpa bersalah umumnya berisi cerita pahit. Tidak demikian
bagi Paulus. Dari proses pengadilan sampai pemenjaraan, ia bertemu
dengan banyak orang yang belum beriman. Baik tentara Romawi di istana
maupun sesama penghuni penjara (ayat 13). Ini dipandangnya sebagai
kesempatan emas. Ia memakai setiap pertemuan untuk bersaksi tentang
Kristus. Ia berharap lewat pertemuan singkat itu, Tuhan bisa
memakainya untuk mengubah jalan hidup tiap orang yang dijumpainya.
Setiap hari Tuhan mempertemukan Anda dengan berbagai tipe manusia.
Seiman atau bukan. Menyenangkan atau menyebalkan. Baik atau jahat.
Kaya atau miskin. Pandanglah itu sebagai sebuah kesempatan. Pancarkan
kasih Tuhan lewat tutur kata dan perbuatan Anda. Siapa tahu, dalam
pertemuan singkat itu Allah memakai Anda untuk ikut membentuk jalan
hidup mereka ke arah yang lebih baik -AYA
PERAN ANDA MUNGKIN SEDIKIT DALAM HIDUP SESEORANG
NAMUN ITU SUDAH CUKUP MEMPERKAYA HIDUPNYA
|