Bacaan : 1Tesalonika 4:13-18
Pada 14 November 1970, jatuhnya pesawat terbang telah merenggut nyawa
sebagian besar anggota tim sepak bola Marshall University, staf
pelatih, dan banyak pemimpin masyarakat di Huntington, Virginia
Barat. Tujuh puluh lima orang tewas dalam kecelakaan itu, sehingga
universitas dan masyarakat sangat terguncang. Dua dari orang-orang
yang kehilangan orang terkasih ialah Paul Griffen dan Annie Cantrell.
Kisah mereka berkaitan sebab putra Griffen, Chris, adalah tunangan
Annie. Ketika Chris tewas, mereka tenggelam dalam tahun penuh derita
yang rasanya tak tertanggungkan lagi. Mengapa? Sebab, seperti kata
Paul kepada Annie di film yang menggambarkan tragedi ini, "Kesedihan
itu memorak-porandakan."
Ia benar, kesedihan memang memorak-porandakan. Kita semua, pada waktu
tertentu, merasakan kesedihan -- termasuk kita yang menjadi pengikut
Kristus. Meskipun demikian, bagi orang percaya ada suatu hal yang
lebih dari air mata, rasa sakit, dan kehilangan. Yaitu pengharapan.
Dengan menulis kepada jemaat yang telah melihat orang-orang terkasih
mereka direnggut kematian, Paulus mengakui realitas kesedihan.
Tetapi, ia menantang mereka untuk tidak "berdukacita seperti
orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1Tesalonika
4:13). Kehilangan dan kematian adalah bagian dari hidup, tetapi
orang-orang percaya dapat menghadapinya, karena mengetahui bahwa
orang-orang kristiani tidak pernah mengatakan selamat tinggal untuk
terakhir kali. Kita dapat saling menghibur (ayat 18) dengan harapan
akan kebangkitan dan pertemuan kembali di masa mendatang --WEC
KEMATIAN BUKAN LAGI TRAGEDI
MELAINKAN KEMENANGAN KARENA KRISTUS HIDUP
|