Bacaan : 1Timotius 5:17-25
Seorang pria kristiani di lingkungan kami menerima promosi yang
memberinya penghasilan yang jauh lebih besar. Teman-teman sesama
tenaga penjual mendesak agar ia menaikkan gaya hidupnya dengan
membeli banyak barang menggunakan kartu kredit. Ia melakukan apa pun
yang dilakukan orang lain, misalnya liburan main ski sekeluarga, naik
kapal pesiar, membeli perabot baru, melakukan perjalanan belanja yang
mewah.
Kemudian penjualan surut, dan gajinya turun. Tekanan itu
mengakibatkan ketegangan hebat dalam pernikahannya. Teman-temannya
menganjurkan agar ia mengikuti apa yang mereka lakukan: mengakali
laporan biaya operasional dan laporan penjualannya. Ia mengikuti
anjuran mereka, tetapi ia kemudian diliputi kecemasan dan rasa
bersalah.
Seorang sahabat kristiani yang bijaksana mengamati ketegangan yang
dialaminya dan berdoa untuknya. Ia kemudian menganjurkan agar ia
berani menghadapi kenyataan. Orang percaya yang sedang menderita itu
akhirnya berseru kepada Allah dalam rasa malu dan penyesalan. Ia
mengakui dosanya, membereskan masalahnya dengan perusahaan, dan
membicarakan hal itu dengan istrinya. Kedamaian akhirnya kembali
hadir dalam hidupnya.
Ajaran Paulus kepada para penatua dalam bacaan hari ini berlaku untuk
semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Ketika sedemikian
banyak budaya di dunia digerakkan oleh kesombongan dan ketamakan,
ajaran sang rasul agar tidak "terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain"
(ayat 22) sangatlah tepat.
Ketika kita tergoda untuk bergabung dengan orang lain dalam perbuatan
yang salah, menjauhlah! --DCE
TAK SEORANG PUN YANG MENGIKUTI KRISTUS
AKAN TERPISAH DARI ALLAH
|