Bacaan : Yakobus 1:1-13
Dalam buku Flags of Our Fathers, James Bradley menceritakan
pertempuran Iwo Jima dalam Perang Dunia II dengan peristiwa
pengibaran benderanya yang terkenal di Gunung Suribachi. Ayah
Bradley, John, adalah salah seorang pengibar bendera itu. Namun yang
lebih penting, ayah Bradley tersebut adalah seorang anggota korps
kesehatan angkatan laut, yakni sebagai seorang dokter.
Di tengah-tengah sengitnya pertempuran, menghadapi berondongan
tembakan dari kedua sisi, John mengambil risiko yang membahayakan
dirinya agar dapat merawat orang-orang yang terluka dan sekarat.
Pengorbanan diri ini menunjukkan kemauan dan tekadnya untuk
memedulikan orang lain, meskipun itu berarti membahayakan dirinya
sendiri.
Dokter Bradley memenangkan Navy Cross atas kepahlawanan dan
keberaniannya, tetapi ia tidak pernah membicarakan itu dengan
keluarganya. Bahkan pada kenyataannya, mereka baru tahu ia mendapat
bintang kehormatan militer, setelah ia meninggal. Bagi sang dokter,
yang penting bukan masalah memenangkan medali kehormatan, melainkan
bagaimana ia memedulikan teman-temannya.
Dalam Yakobus 2:8 kita membaca, "Jikalau kamu menjalankan hukum utama
yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri’, kamu berbuat baik." Yakobus mengatakan bahwa kita
"berbuat baik" ketika sengaja memerhatikan orang lain sebagaimana
kita ingin diperlakukan. Kata baik berarti "dengan benar, mulia,
sehingga tidak mungkin disalahkan".
"Berbuat baik" tanpa mementingkan diri sendiri berarti mencerminkan
hati Allah, dan memenuhi hukum kasih-Nya --WEC
SESUNGGUHNYA KASIH ADALAH INTI DARI KETAATAN
|