Bacaan : Ayub 38:1-7
Di salah satu buku seri Narnia Chronicles karya C.S. Lewis yang
berjudul Keponakan Penyihir, Digory dan Polly memakai cincin khusus
agar bisa masuk ke alam lain. Mereka dibawa ke suatu tempat, di mana
mereka bisa menyaksikan terbentuknya sebuah dunia baru. Dalam gelap,
sebuah suara merdu mengiringi lahirnya bintang-bintang, disusul sinar
mentari yang baru tercipta. Saat pagi, mereka melihat bahwa seekor
singalah yang sedang bernyanyi. Seolah menjawab suaranya, rerumputan
menyebar seperti karpet, dan pepohonan pun tumbuh dalam sekejap. Lalu
berbagai hewan bermunculan di daratan. Ketika penciptaan Narnia
selesai, Aslan, sang pencipta, mengaruniai hewan-hewan itu kemampuan
berbicara, lalu mengadakan perayaan bersama semua makhluk ciptaannya.
Kemahiran Lewis dalam menggunakan simbolisme kristiani memberi
perspektif segar kepada kita akan berbagai pertanyaan mengenai
permulaan dunia kita. Dulu, alam semesta kita ini tidak ada. Tak ada
benda, energi, maupun waktu. Lalu, Anak Allah berfirman dan
terciptalah berbagai ciptaan seperti yang kita lihat saat ini (Yoh.
1:1-3). Para malaikat menanggapinya dengan puji-pujian yang menggema
dari tempat-tempat kudus. Ayub memberi tahu kita bahwa di dasar-dasar
bumi "bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama dan semua anak
Allah bersorak-sorai" (Ayb. 38:4,7).
Saat malam penuh bintang, sudah selayaknya penyembahan yang dimulai
oleh para malaikat bergema dalam hati kita demi kemuliaan Allah --HDF
Allah yang menciptakan cakrawala,
Dia juga menciptakan samudra,
Allah yang menempatkan bintang-bintang,
Kepadaku Dia peduli dan sayang. --Berg
KARYA PENCIPTAAN ALLAH TELAH USAI
KARYA PENYEMBAHAN KITA BARU SAJA DIMULAI
|