Bacaan : 1 Petrus 1:13-21
Di Harvard University, Anda dapat mengambil kelas yang membahas
kebahagiaan. Kelas populer ini menolong siswa untuk mengetahui,
seperti kata sang dosen, "Cara agar Anda merasa bahagia."
Itu bukan ide buruk. Sesungguhnya, dalam beberapa kesempatan Alkitab
bahkan menyarankan pentingnya merasakan kebahagiaan atau sukacita.
Salomo mengatakan bahwa kita punya hak istimewa untuk merasakan
kebahagiaan yang diberikan Allah (Pkh. 3:12; 7:14; 11:9).
Meskipun begitu, terkadang kita terlalu berlebihan mencari
kebahagiaan du-niawi. Kita menganggapnya sebagai hal utama yang harus
diraih, bahkan yakin bahwa kebahagiaan adalah tujuan utama Allah bagi
kita. Lalu kita pun merasa bingung.
Firman Allah menyatakan bahwa kebahagiaan sejati dapat terwujud jika
kita taat pada taurat Allah (Mzm. 1:1,2; Ams. 16:20; 29: 18). Allah
menuntut kekudusan dan memanggil kita untuk menjalani hidup yang
kudus, yang mencerminkan karakter moral-Nya (1 Tes. 4:7; 2 Ptr.
3:11). Dalam surat pertama Petrus kita membaca, "Tetapi hendaklah
kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang
kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu,
sebab Aku kudus" (1 Ptr. 1:15,16).
Pada saat kita harus membuat keputusan mengenai bagaimana kita harus
bertindak atau bagaimana kita harus menjalani hidup, maka kita harus
ingat bahwa perintah Allah bukan "Bersenang-senanglah", melainkan
"Jadilah kudus". Sukacita sejati berasal dari hidup yang kudus dan
menghormati Allah --JDB
Dalam semua pikiran, ucapan, dan tindakanku,
Aku rindu, ya Allah, untuk menghormati-Mu;
Dan kiranya motivasiku yang terdalam
Adalah mengasihi Kristus yang rela berkurban. --D. De Haan
TAK ADA KEBAHAGIAAN SEJATI YANG TERPISAH DARI KEKUDUSAN
DAN TAK ADA KEKUDUSAN YANG TERPISAH DARI KRISTUS
|