Bacaan : Mazmur 51
Dalam kesengsaraan yang dinyatakan di Mazmur 51, Daud tampaknya
menyanggah dirinya sendiri. Ia berseru, "Engkau tidak berkenan kepada
korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau
tidak menyukainya" (ayat 18). Lalu tiga ayat kemudian, ia berkata,
"Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan
korban yang terbakar seluruhnya" (ayat 21). Sebenarnya, Allah
menginginkan persembahan korban kita atau tidak?
Persembahan korban itu seperti bunga yang diberikan seorang suami
kepada istrinya setelah pertengkaran yang seru. Si istri tidak
memerlukan bunga. Bunga tersebut hanya berharga baginya apabila itu
sungguh-sungguh mencerminkan perasaan suaminya. Apabila si istri
berpendapat bahwa bunga itu hanya sekadar ritus dan tidak
melambangkan penyesalan sang suami, bunga-bunga itu justru akan
membuat perpecahan di antara mereka semakin buruk.
Allah tak memerlukan hewan untuk dipersembahkan kepada-Nya. Kitab
Ibrani berkata, "Tidak mungkin darah lembu jantan atau darah kambing
jantan menghapuskan dosa" (10:4). Korban itu menunjukkan penebusan
yang dilakukan Yesus dengan darah-Nya sendiri, sekali untuk
selamanya, ketika Dia mati demi dosa-dosa kita.
Sikap orang-orang yang mempersembahkan korban itulah yang
sesungguhnya berarti. Apabila persembahan itu diberikan tanpa
penyesalan, ritus itu merupakan penghinaan. Itulah sebabnya Daud
menulis, "Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur;
hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah"
(Mazmur 51:19) -HWR
PENYESALAN ADALAH PERASAAN SEDIH ATAS PERBUATAN
BUKAN KARENA TERTANGKAP BASAH
|