Bacaan : Roma 1:8-16
Penyakit pikun lambat laun merenggut Ibu Cetas dari tengah-tengah
kami. Tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan oleh saya dan suami
untuk menahannya agar ia tidak terlepas dari kami.
Pada masa-masa yang sulit itu, Ibu mengajarkan banyak pelajaran
kepada kami. Ia memang lupa cara untuk mela-kukan banyak hal, tetapi
ada satu hal yang tidak dilupakannya, yaitu bagaimana ia berdoa.
Kadang-kadang seseorang datang dan menceritakan sebuah masalah yang
dihadapinya. Kemudian Ibu akan segera diam sejenak untuk berdoa bagi
orang tersebut.
Ibu juga terus berbicara kepada orang lain tentang Yesus. Orang-orang
yang merawatnya di rumah jompo berkata bahwa ia sering bertanya
kepada para penghuni dan pekerja lainnya apakah mereka telah mengenal
Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Ia ingin agar mereka yakin bahwa
dosa-dosa mereka sudah diampuni dan bahwa mereka akan masuk surga.
Apabila saya mengenang sifat-sifat yang ada di dalam diri Ibu, saya
teringat akan Roma 1. Rasul Paulus selalu mengingat jemaat di gereja
Roma dalam doanya (ayat 9). Dan ia "ingin untuk memberitakan Injil"
sebab ia berkata, "Aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah
kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (ayat
15,16).
Selama Ibu Cetas mampu melakukannya, ia tetap mencari Yesus di dalam
doa dan bercerita tentang Dia kepada orang lain. Kita semua dapat
belajar dari teladan keberanian dan imannya kepada Tuhan -AMC
BERBICARA KEPADA KRISTUS TENTANG ORANG LAIN AKAN MENGGAIRAHKAN
KITA UNTUK BERBICARA KEPADA ORANG LAIN TENTANG KRISTUS
|