Bacaan : Matius 16:13-20
Ketika menuliskan kehidupan Simon Petrus, penulis lagu dan pengarang,
Michael Card menggambarkan rasul tersebut sebagai sebuah "batu yang
rapuh". Istilah tersebut mengandung pertentangan, namun sangat tepat
menggambarkan pribadi Petrus.
Selama hidup Petrus, kita melihat pertentangan ini muncul ketika ia
menunjukkan saat-saat yang penuh keberanian, tetapi kemudian diikuti
dengan kegagalan rohani. Setelah menyatakan bahwa Kris-tus adalah
Anak Allah, Yesus pun berkata kepadanya, "Dan Aku pun berkata
kepada-mu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan
mendirikan jema-at-Ku dan alam maut tidak akan mengu-asainya" (Matius
16:18). Sebuah batu karang. Sebuah batu. Petrus, yang berarti "batu
yang kecil", terbukti rapuh ketika ia berusaha membujuk Yesus agar
tidak memanggul salib dan ketika ia menyangkal Yesus sampai tiga kali
setelah Dia ditangkap.
Petrus, si "batu yang rapuh", mengingatkan kita bahwa tidak ada
kekuatan pribadi atau bakat apa pun juga yang dapat membuat kita
mampu menghadapi hidup dan berbagai tantangannya. Hanya dengan
bertumpu pada kekuatan Kristus, kita akan menemukan pemeliharaan-Nya.
Apabila kita mengakui kerapuhan kita dan bergantung kepada-Nya, maka
kekuatan Kristus akan memberi kita kuasa untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan yang kita temui di dalam hidup.
Seperti Petrus, kita semua merupakan "batu yang rapuh". Betapa kita
patut bersyukur atas kuasa-Nya yang menjadi sempurna di dalam
kelemahan kita (2Korintus 12:9,10) -WEC
HANYA DENGAN MENGAKUI KELEMAHAN KITA
MAKA KITA AKAN MENJADI KUAT DI DALAM TUHAN
|