Bacaan : Wahyu 21:1-7
Baru-baru ini, saya merasa bersyukur kepada Allah karena
kebaikan-Nya kepada saya selama 80 tahun terakhir. Namun
tatkala berefleksi tentang hidup saya, saya merasa berduka
mengingat adik saya, Cornelius, yang tewas dalam pertempuran
selama Perang Dunia II. Ia baru berumur 20 tahun waktu itu.
Tidak seperti saya, ia tak pernah merasakan gelora cita-cita
dan harapan yang menjadi bagian dari kehidupan kaum muda.
Begitu pula dengan banyak orang muda yang meninggal semasa
saya menjadi pendeta. Kebanyakan dari mereka itu mengalami
kekeringan emosi dan rohani. Betapa menyedihkan!
C.S. Lewis mengingatkan kita bahwa kematian dan dukacita
bukanlah akhir segalanya. Pada bagian akhir bukunya yang
berjudul The Last Battle (Pertempuran Terakhir) dikisahkan
bahwa Peter, Edmund, dan Lucy bertemu singa besar bernama
Aslan (melambangkan Kristus di surga), yang menceritakan
kepada mereka bahwa mereka meninggal karena kecelakaan. Lewis
menulis: "Saat Dia berbicara, Dia tidak lagi tampak seperti
singa bagi mereka; namun hal-hal yang terjadi setelah itu
sangat agung dan indah sehingga saya tak dapat melukiskannya
dalam bentuk tulisan. Bagi kita, inilah akhir dari seluruh
cerita .. Namun bagi mereka, ini adalah awal dari cerita yang
sesungguhnya."
Bagi orang Kristen, cerita yang sesungguhnya dimulai di
surga, yakni saat kita menikmati kehidupan kekal dan sukacita
bersama Yesus! "Hidup adalah Kristus," yang berarti pelayanan
yang penuh sukacita, yang terkadang juga diwarnai penderitaan
dan dukacita. Namun "mati adalah keuntungan" (Filipi 1:21).
Dan, barulah cerita yang sesungguhnya dimulai! --HVL
BILA SEORANG KRISTEN MATI
IA BARU SAJA MEMULAI KEHIDUPANNYA
|