Bacaan : Lukas 1:26-45
Tak lama setelah orang-orang Amerika melahap sisa-sisa
daging kalkun dari perayaan Thanksgiving, para reporter
berita di televisi dengan wajah sedih memberitahu para
pemirsa bahwa Natal tahun ini "sepertinya akan menjadi Natal
yang buruk." Yang mereka maksudkan adalah jumlah penjualan di
toko-toko mungkin akan menurun selama masa berbelanja yang
akan datang. Dan hal ini membuat Natal yang "buruk."
Kita dapat memahami mengapa hal ini menjadi sebuah berita
hangat. Banyak perusahaan menanti para pembeli akhir tahun
yang sibuk berbelanja agar keuangan perusahaan mereka tetap
terjaga. Namun ada sesuatu yang mengusik dalam diri saya
orang-orang berbicara mengenai Natal yang "buruk," meskipun
kata itu ditujukan pada angka penjualan yang rendah.
Bagaimana mungkin perayaan kelahiran Mesias, sang Juruselamat
dunia, dapat menjadi saat yang buruk?
Marilah kita mencermati sekali lagi kisah yang sudah tak
asing ini. Pada bulan-bulan sebelum Yesus dilahirkan, Maria
pergi ke kota tetangga untuk mengunjungi saudaranya,
Elisabet, yang juga sedang mengandung dan menantikan
kelahiran anaknya. Ketika Maria berbicara, bayi yang berada
dalam rahim Elisabet melonjak kegirangan (Lukas 1:44). Mereka
yang tahu siapa sebenarnya bayi Maria, akan bersukacita.
Mari kita cari sukacita tersebut dengan memusatkan
perhatian kita pada peristiwa yang kita rayakan, bukan pada
perayaannya. Kelahiran Yesus-lah yang kita hormati, dan hal
itu akan membuat Natal menjadi indah --JDB
SETIAP HARI NATAL MENJADI INDAH
BILA KITA MEMUSATKAN DIRI PADA KABAR BAIK TENTANG YESUS
|