Bacaan : Lukas 21:1-4; 2Korintus 8:1-5
Di provinsi Mizoram di India hiduplah sekelompok orang
Kristen yang menemukan cara unik untuk memberi persembahan bagi
pekerjaan Tuhan. Ketika para ibu rumah tangga menyiapkan makanan
yang kebanyakan terbuat dari beras untuk keluarganya, ia menakar
beras secukupnya.
Kemudian, sebelum menanak nasi ia menyisihkan segenggam
beras dari beras yang sudah ditakar tersebut. Beras tersebut ia
simpan sampai hari Minggu, saat ia membawanya ke gereja dan
menggabungkannya dengan beras yang dibawa para wanita yang lain.
Kemudian gereja menjualnya dan hasilnya digunakan untuk mendukung
pelayanan misi. Salah satu barang yang dibeli dengan uang itu
adalah sebuah komputer yang digunakan untuk membantu orang Mizoram dalam menyelesaikan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa
mereka.
Akan sangat mudah bagi orang miskin untuk memandang dan
menganggap bahwa harta mereka yang sedikit tidak berharga untuk
dipersembahkan. Demikian pula halnya dengan janda miskin dalam
Lukas 21. Mudah baginya untuk merasa bahwa dua peser uang yang
dipersembahkannya tidak ada artinya bila dibandingkan dengan
sejumlah besar uang yang dipersembahkan oleh orang kaya untuk
perbendaharaan gereja.
Allah lebih berkenan pada hati yang mau berkorban daripada
besarnya persembahan seseorang. Karena itulah Yesus berkata bahwa
sang janda memberi lebih banyak daripada yang lainnya (ayat 3).
Dapatkah kita dengan jujur mengatakan bahwa persembahan kita juga
merupakan bentuk pengorbanan kita? --JDB
The gifts we offer to the Lord
Are by His standards measured;
Our sacrifice and lives of praise --
Such gifts are highly treasured. --Sper
PENGORBANAN ADALAH UKURAN SEJATI DARI PERSEMBAHAN KITA
|