Bacaan : Pengkhotbah 1:1-11
Ketika cuaca buruk, saya berolahraga dengan alat untuk jalan
cepat. Namun itu sangat membosankan! Meski odometer (alat pengukur jarak) menunjukkan jarak satu setengah kilometer, pada kenyataannya saya hanya berjalan di tempat.
Kehidupan tanpa Allah bagaikan berada di atas alat olahraga
itu. Keturunan yang satu datang dan yang lain pergi (Pengkhotbah
1:4). Matahari terbit dan terbenam dari hari ke hari, dari tahun
ke tahun (ayat 5). Angin terus-menerus berputar dan mengitari
bumi (ayat 6). Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tak
kunjung penuh (ayat 7). Seperti halnya fenomena alam ini, kehidupan pun selalu bergerak, tak pernah sampai ke titik akhir; selalu
berubah, sehingga tak pernah menemukan sesuatu yang benar-benar
baru. Lalu, datanglah kematian. Orang-orang yang tanpa Allah tak
berpengharapan, dan tahu bahwa mereka akan segera dilupakan.
Benar-benar masa depan yang suram!
Betapa jauh bedanya dengan orang yang mengenal Allah! Memang, mereka pun terkadang mengalami rutinitas, kehidupan yang
monoton, dan kesulitan, namun mereka tidak berjalan tanpa arah,
melainkan sedang menuju suatu tempat yang pasti. Demikian Ernest
Pike, teman saya yang sudah berusia 83 tahun, memandang hidup
ini. Tak lama sebelum meninggal, ia menyapa saya sambil tersenyum, "Di sepanjang kehidupan kekristenan saya, saya telah mempersiapkan diri untuk ke surga. Kini saya akan berangkat ke sana."
Anda pun dapat memiliki pengharapan seperti itu. Akuilah
bahwa Anda adalah orang berdosa. Terimalah Yesus sebagai Juruselamat. Dia akan mengubahkan perjalanan kehidupan Anda yang monoton menjadi perjalanan yang penuh makna --HVL
If we commit ourselves to Christ
And follow in His way,
He\'ll give us life that satisfies
With purpose for each day --Sper
KEHIDUPAN TANPA KRISTUS MEMILIKI SUATU AKHIR YANG TAK BERPENGHARAPAN
KEHIDUPAN BERSAMA KRISTUS MEMILIKI PENGHARAPAN YANG TAK PERNAH BERAKHIR
|