Bacaan : Kejadian 22:1-14
Ketika masih kanak-kanak, saya tidak suka dengan kisah
Abraham yang pergi ke Gunung Moria untuk mengorbankan putranya,
Ishak. Mengapa Allah menyuruh Abraham melakukan hal itu? Saya
juga anak tunggal dalam keluarga, dan saya tidak ingin hal semacam itu terjadi pada saya! Orangtua saya berkata bahwa saat itu
Allah sedang menguji iman Abraham. Dan, ia berhasil melewati
ujian itu. Bahkan, ketika pisau sudah tergenggam di tangannya,
Abraham masih mempercayai Allah (Kejadian 22:8-10). Ia telah
belajar bahwa Allah dapat dipercaya.
Membuat pernyataan iman adalah hal yang mudah. Ujian yang
sebenarnya adalah ketika Allah meminta kita untuk mempertaruhkan
milik kita yang paling berharga. Bagi Abraham, masalahnya adalah
mengenai ketaatan. Pada masa kini, seorang wanita karier bergaji
tinggi dipecat karena menolak meninggalkan standar imannya. Dan,
seorang pendeta diusir dari gerejanya karena menaati Firman Allah
yang menyuruhnya berbicara tentang rasisme di tengah jemaatnya.
Bukankah seharusnya orang-orang tersebut mendapat penghargaan karena mereka telah melakukan hal yang benar? Ujian iman
yang terberat sesungguhnya adalah ketika kita merasa Tuhan tidak
menghargai kesetiaan kita.
Mungkin saat ini Anda sedang diminta untuk mengembalikan
kepada Allah sesuatu yang menurut perasaan Anda telah diberikan-Nya bagi Anda. Belajarlah untuk melihat bahwa ujian ini adalah
suatu peluang untuk menyatakan iman Anda kepada Pribadi yang
selalu memegang janji-Nya itu--bahkan ketika Anda tidak dapat
memahaminya sekalipun --HWR
Be still, my soul -- the Lord is on thy side!
Bear patiently the cross of grief or pain;
Leave to thy God to order and provide --
In every change He faithful will remain --von Schlegel
IMAN ADALAH KEMAMPUAN
UNTUK MELIHAT ALLAH DALAM KEGELAPAN
|