Bacaan : Ibrani 11:13-16,39-40
Selama Perang Dingin, saya memandu beberapa studi tur ke
Eropa. Rute perjalanan membawa kami dari Amsterdam ke Berlin,
yang artinya harus melalui wilayah Jerman Timur yang komunis. Di
perbatasan kami harus menunjukkan paspor, merelakan barang dan
bis diperiksa. Kami menunggu selama tiga jam untuk mendapatkan
izin. "Ingat," seorang penjaga memberitahu saya, "tak ada Kedutaan Amerika di Jerman Timur, jadi jangan sampai kehilangan
paspor atau izin masuk Anda."
Semua itu berbicara mengenai perasaan tak diinginkan! Pesannya jelas: Kami senang menerima uang Anda tetapi kami tidak
menginginkan Anda. Kami merasakan permusuhan selama di sana.
Sebagai orang Kristen, terkadang saya merasakan perasaan
seperti itu terhadap dunia ini -- bahwa saya bukanlah bagian darinya. Kitab Suci menjadikannya jelas bahwa sebagai orang percaya
dalam Kristus kita adalah "orang asing dan pendatang di bumi ini"
(Ibrani 11:13). Kita adalah penduduk dari tanah yang lebih baik
(ayat 16). Sebesar apa pun kita mencintai negara kita, kita tidak
akan pernah merasa seperti di rumah sendiri di bumi ini dan
memang seharusnya tidak.
Bagaimana kita mengatasi keadaan sebagai perantau yang hanya
numpang lewat? Dengan memandang Kristus dan mengikuti teladan-Nya. Dia juga tak diingini di dunia ini. Pada saat meninggalkan
rumah-Nya yang di sorga untuk masuk ke dalam kemanusiaan kita,
Dia menjadi perantau yang terbaik. Suatu hari kelak Dia akan
menyambut kepulangan kita ke rumah [DCE]
Guide me, O Thou great Jehovah,
Pilgrim through this barren land;
I am weak, but Thou art mighty,
Hold me with Thy powerful hand. --Williams
HIDUP KEKRISTENAN ADALAH PERJALANAN PERANTAUAN
BUKAN TUR MELIHAT-LIHAT PEMANDANGAN
|