Bacaan : 2Korintus 7:1-12
Lloyd Ogilvie, pendeta dari Senat Amerika, menceritakan
peristiwa yang dialaminya saat ia sedang makan siang bersama
seorang pengusaha terkemuka. Seorang wanita yang mengenali eksekutif tersebut, berjalan ke arah meja dan menyapanya dengan
tepukan yang keras di punggungnya, menyebabkan ia menumpahkan
kopi ke bajunya. Kemudian dengan gayanya yang norak, ia melemparkan selendang bulunya melewati bahu, dan mengenai wajah Dr.
Ogilvie. "Oh, maaf," ia meminta maaf. Eksekutif itu menatap
matanya dan berkata, "Nyonya, jangan cuma minta maaf,
berubahlah!"
Pada saat kita berdosa, Tuhan tidak tertarik pada permintaan
maaf yang tergesa. Dia mencari sikap yang berbeda dan perubahan
perilaku. Kitab Suci menyebut hal ini sebagai dukacita menurut
kehendak Allah yang menghasilkan pertobatan (2Korintus 7:9-10).
Paulus melihat dukacita ini dalam jemaat di Korintus, yang
dihasilkan dari tanggapan mereka atas surat teguran yang di tulis
Paulus sebelumnya (1Korintus 5:1-8). Pada mulanya Paulus merasa
susah hati karena telah membuat mereka berduka (2Korintus 7:8),
tetapi saat kedukaan mereka membimbing mereka pada perubahan hati
yang sejati, sang Rasul pun bersukacita (ayat 9-11).
Dukacita atas dosa dapat menjadi baik atau buruk. Bagaimanapun, hanya dukacita yang menuntun kepada keinginan untuk berubah
itulah yang membebaskan kita dari rasa bersalah dan memperbarui
sukacita kita atas keselamatan [DJD]
FOR FURTHER STUDY
Second Corinthians 7:11 gives seven characteristics
of true repentance. What are they?
Restate them in your own words.
PERTOBATAN: DUKACITA DARI HATI
TERHADAP DOSA DAN DARI DOSA
|