Bacaan : Matius 16:24-28
Orang-orang pandai terkadang dapat menjadi begitu bodoh.
Coba perhatikan para penjelajah Ekspedisi Franklin pada abad ke-19 yang mencoba mencapai Kutub Utara. Annie Dillard, dalam bukunya Teaching A Stone To Talk (Mengajarkan Batu Berbicara),
menjelaskan perbekalan yang mereka bawa untuk perjalanan yang
berbahaya itu:
"Setiap kapal membawa mesin uap tambahan dan persediaan batu
bara yang hanya dapat dipakai selama 12 hari untuk perjalanan
yang diperkirakan memakan waktu 2 atau 3 tahun. Bukannya membawa
batu bara tambahan...setiap kapal dilengkapi perpustakaan yang
memuat 1.200 buku, organ dengan 50 nada, peralatan makan keramik
untuk para perwira dan orang-orangnya, gelas minuman berbentuk
piala yang terbuat dari kaca berukir, dan perlengkapan makan
seperti piring ceper, sendok, garpu yang terbuat dari perak
murni. Ekspedisi ini tidak membawa pakaian khusus untuk Antartika, hanya seragam Angkatan Laut." Bayangkan, menuju gurun yang
dingin dengan perlengkapan seperti itu! Alangkah bodohnya!
Sebagian orang yang berjalan menuju kekekalan dapat saja
berpandangan lebih sempit. Mereka gagal memikirkan tujuan akhir
dengan segala marabahaya akibat kehancuran kekal. Mengabaikan
kebutuhan utama akan pengampunan dosa melalui iman dalam Yesus
Kristus, mereka tidak menghiraukan pertanyaan-Nya yang serius,
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan
nyawanya?" (Matius 16:26)
Anda berpandangan sempit atau bersiap untuk kekekalan? [VCG]
If I gained the world but lost the Savior,
Were my life worth living for a day?
Could may yearning heart find rest and comfort
In the things that soon must pass away? --Olander
ORANG YANG HANYA SEKADAR MENJALANI HIDUP
AKAN MENGALAMI PENYESALAN KEKAL
|