Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/34

e-Reformed edisi 34 (19-12-2002)

John Wycliffe dan John Hus

                          JOHN WYCLIFFE
                          -------------

John Wycliffe dilahirkan di Yorkshire pada tahun 1325. Studi
teologianya ditempuh di Universitas Oxford dan memperoleh gelar
doktor teologia di sana pada tahun 1372. Wycliffe dikenal sebagai
seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Banyak kalangan sangat
menghormatinya sebagai orang yang bijaksana dan berpendidikan.
Reputasi Universitas Oxford ikut terangkat karena keberadaan
Wycliffe sebagai pengajar di universitas ini, yang telah dimulainya
sejak tahun 1361. Hampir sebagian besar hidup Wycliffe akhirnya ia
habiskan untuk mengabdi di sekolah ini.

Kehidupan Wycliffe pada dasarnya penuh dengan kontroversi. Ia
mempunyai kebiasaan berbahaya yaitu mengatakan apa saja yang
dipikirkannya. Jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan
tentang ajaran Katolik resmi, maka ia langsung akan menyuarakannya.
Namun hal yang membuat gereja mulai bermusuhan dengan Wycliffe
adalah ketika ia mempertanyakan tentang hak Gereja atas kuasa
duniawi dan kekayaan gereja. Paus telah menuntut bahwa hak milik
gereja-gereja di Inggris adalah milik Paus. Wycliffe sangat tidak
menyetujui tuntutan seperti itu. Menurutnya harta milik gereja
adalah milik negara. Persoalan inilah yang mendorong Wycliffe mulai
menyelidiki prinsip dasar kepemilikan dalam Alkitab. Ia menarik
kesimpulan bahwa gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi.
Gereja harus menjadi miskin dan sederhana seperti gereja pada masa
Perjanjian Baru. Dalam hal ini Paus dikritik secara tajam oleh
Wycliffe. Menurutnya Paus dan konsili seharusnya berada di bawah
hukum Allah, karena Kristus lah Kepala Gereja. Oleh karena Kristus
tidak pernah mentahbiskan Paus, maka Paus tidak mempunyai kekuasaan
dari Kristus. Bahkan sampai puncaknya Wycliffe menyebut Paus sebagai
Si Anti-Kristus.

Selain itu Wycliffe juga mempertanyakan tentang penjualan kartu-
kartu pengampunan dosa dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan
kepada para santo dan religi yang berbau takhayul. Ia mempertanyakan
juga pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transubstansiasi)
yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat. Untuk pandangan-
pandangannya inilah Wycliffe sering harus berhadapan dengan para
uskup dan konsili-konsili untuk disidang. Namun, Inggris pada
dasarnya penuh sentimen terhadap Gereja Roma, khususnya pada tahun-
tahun 1300-an. Para pangeran -- dan banyak orang awam yang memegang
kepemimpinan yang sangat kuat di Inggris.-- menyesalkan cara Gereja
merampas kekuasaan dan harta rakyat. Dalam hal inilah Wycliffe
mendapat dukungan dari John Gaunt (Pangeran Lancaster). Dengan
memanfaatkan kecerdasan Wycliffe, John Gaunt sering memakai ide-ide
dan kepopuleran Wycliffe untuk berargumentasi dengan Gereja. Sebagai
imbalannya, Pangeran John Gaunt memberi Wycliffe semacam
perlindungan.

Pada tahun 1377, Wycliffe akhirnya diajukan ke persidangan dan
diminta menghadap uskup London untuk mempertanggungjawabkan
pandangan dan ajaran-ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Namun
persidangan terpaksa dihentikan, sebelum Wycliffe sempat
mengeluarkan sepatah kata pun, karena ternyata John Gaunt dan
pemimpin persidangan beradu pendapat tentang bagaimana persidangan
dijalankan, tentang apakah Wycliffe harus duduk atau berdiri. Namun
sejak itu Paus mengutuk pandangan dan ajaran Wycliffe. Tulisan-
tulisan Wycliffe mulai dilarang beredar.

Selama kritik Wycliffe adalah seputar kebusukan-kebusukan Paus dan
tentang penyelewengan terhadap pengambilalihan hak milik gereja,
maka Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Paus sangat geram
terhadap Wycliffe dan memerintahkannya untuk berhenti berkotbah,
bahkan meminta universitas Oxford untuk memecatnya, namun tidak
berhasil karena Wycliffe mendapat perlindungan dari John Gaunt.
Oxford justru mendukung Wycliffe. Dewan doktor di Oxford menyatakan
bahwa tidak satupun tuduhan itu dapat membuktikan bahwa ajaran
Wycliffe salah. Buku yang berjudul "Protes" akhirnya ditulis
Wycliffe, sebagai pembelaan terhadap ajaran-ajarannya.

Namun, ketika Wycliffe mulai menyerang gereja dalam hal doktrin
transubstansiasi, ia mulai kehilangan banyak pendukung. Hal lain
yang terjadi yang akhirnya menyakitkan Wycliffe adalah Skisma Besar
yang menyebabkan Inggris menjalin persekutuan dengan Roma dan
Pembrontakan Petani (1381) yang dianggap merupakan hasil dari
pengajarannya yang sesat. Akibatnya, tulisan-tulisannya dilarang,
bahkan diperintahkan untuk dibakar. Wycliffe sendiri akhirnya
kehilangan kedudukannya di Oxford dan dilarang berkotbah. Para
pengikutnya juga diusir dari Oxford.

Akibat pengusirannya ini, Wycliffe justru memanfaatkan waktunya
untuk menterjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus
diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. "Oleh
karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan
keselamatan. maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan
hanya bagi para imam saja," tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak
setuju, ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menterjemahkan
Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan
tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin) Wycliffe
berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-
orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua
mengalami perbaikkan tetapi baru selesai dikerjakan setelah Wycliffe
meninggal. Edisi itu dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe", dan dibagi-
bagikan secara ilegal oleh para Lollard (skolar dari Oxford).

Karena kelemahan badan yang menyerangnya, Wycliffe akhirnya tinggal
di Lutterworth dan menghabiskan waktunya di sana untuk menulis.
Begitu produktifnya Wycliffe dalam menulis sampai membuat para
musuhnya kagum. Pada tanggal 31 Desember 1384 Wycliffe meninggal
karena serangan stroke. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe
dikuburkan, Konsili Konstanz mengucilkan dan menghukum dia. Pada
tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya
disebarkan di sungai Swift.

Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang
sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi
yang luar biasa bagi munculnya gerakan Reformasi di kemudian hari.
Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapat julukan "Si
Bintang Fajar Reformasi", karena melalui semangatnya Reformasi mulai
muncul seperti munculnya fajar di pagi hari.

Pada dasarnya Wycliffe berusaha untuk tetap bertahan di Gereja Roma,
namun Gereja tidak lagi menghendakinya. Sesudah Wycliffe, para
pengikutnya juga ditindak di Inggris, namun pandangan-pandangannya
mulai tersebar dengan cepat ke Eropa. Diantara para pengikut
Wycliffe muncul seorang murid Kristus yang setia dan mengikuti
jejaknya, yaitu John Hus.


                            JOHN HUS
                            --------

John Hus dilahirkan di kota Husinetz, wilayah Bohemia Selatan,
dari sebuah keluarga petani. Pendidikan dasar dan menengahnya
ditempuh di Husinetz, tetapi kemudian melanjutkan studi theologinya
ke Universitas Charles, di Praha, yang diselesaikannya tahun 1396.

Diantara teman-teman sebayanya, John Hus dikenal sebagai seorang
mahasiswa yang pandai. Kesukaannya membaca melebihi teman-temannya.
Hampir semua macam buku dibacanya, baik itu buku-buku teologia yang
diakui resmi oleh gereja maupun yang dianggap sesat oleh gereja,
seperti halnya buku karangan para pembaharu gereja Bohemia, Milic,
Yanov, dan buku-buku John Wycliffe, sang reformator Inggris. John
Hus adalah seorang yang sangat ramah dan bersahabat dengan orang-
orang di sekitarnya. Selain diakui sebagai seorang yang saleh, ia
juga dianggap sebagai seorang yang mempunyai tingkah laku yang
sangat terpuji.

Pada tahun 1401 ia ditahbiskan menjadi imam dan tahun 1402 diangkat
menjadi rektor Universitas di Praha. Di kampus inilah John Hus
menghabiskan sebagian besar waktunya. Namun disamping tugasnya
sebagai rektor, ia juga menjadi pengkhotbah rutin di Kapel Betlehem,
sebuah kapel yang sangat berpengaruh, yang letaknya tidak jauh dari
universitas itu. Di Kapel ini Hus berkotbah dua kali sehari.

Kapel Bethlehem banyak dihiasi dengan lukisan-lukisan gambar Kristus
dan Paus, namun dengan prilaku yang justru sangat berlawanan. Di
satu sisi adalah gambar Kristus yang sedang berjalan tanpa alas
kaki, di sisi lain gambar Paus yang sedang menunggang kuda. Di satu
sisi gambar Yesus yang sedang membasuh kaki murid-murid-Nya, di sisi
lain gambar Paus yang sedang diciumi kakinya. Hus sangat geram
dengan sifat keduniawian para rohaniwan gereja saat itu, termasuk
Paus. Pada kesempatan berkotbah inilah ia terus menerus mengajarkan
tentang kesucian pribadi dan kemurnian hidup. Tapi tak jarang ia
gunakan kesempatan kotbahnya untuk mengkritik kehidupan gereja,
khususnya para klerus, uskup dan juga kepausan. Dari semua kotbahnya
sangat jelas terlihat bahwa ajaran tentang otoritas Alkitab adalah
penekanan utamanya.

Di antara buku dan tulisan para reformator gereja pada abad
pertengahan, Hus paling tertarik pada pandangan-pandangan Wycliffe.
Meskipun John Wycliffe ada di Inggris namun pengaruh tulisannya
tersebar sampai ke Bohemia, bahkan sampai ke istana, khususnya ke
saudara perempuan raja Bohemia, Anne, yang menikah dengan Raja
Richard II dari Inggris. Hus lah yang menjadi penyebar utama
ajaran-ajaran Wycliffe di Bohemia. Ajaran-ajaran Wycliffe
dikuliahkannya kepada mahasiswanya, bahkan karangan Wycliffe
"Trialogus" diterjemahkannya ke dalam bahasa Cekoslowakia. Banyak
orang tertarik dengan ajaran yang baru itu sehingga Hus menjadi
sangat terkenal, bahkan sampai ke kalangan aristokrat, termasuk sang
ratu. Ketika pengaruh Hus di universitas semakin besar, maka semakin
populerlah tulisan-tulisan Wycliffe.

Namun dari pihak gereja, hal ini dipandang sebagai malapetaka. Uskup
Agung Praha menolak ajaran Hus dan mulai memerintahkan Hus untuk
berhenti berkotbah. Namun Hus menolak perintah tsb. Paus Innocentius
VII (salah satu dari tiga Paus hasil Skisma Besar) memerintahkan
Uskup Agung Bohemia untuk mengambil tindakan-tindakan perlawanan
terhadap ajaran Wycliffe yang sudah dinyatakan sesat pada tahun 1407.
Universitas secara khusus diperintahkan untuk membakar semua
tulisan-tulisan Wycliffe. Paus John XXIII akhirnya menempatkan Praha
di bawah "interdict" -- suatu tindakan untuk mengucilkan seluruh kota
itu, sehingga tidak ada seorang pun di kota itu yang dapat menerima
sakramen gereja. Demi jemaat, akhirnya Hus bersedia meninggalkan
kota Praha. Namun, Hus mempunyai cukup banyak pendukung. Tantangan-
tantangan yang dihadapi Hus justru membangkitkan semangat
nasionalisme rakyat Bohemia, termasuk Raja Bohemia.

Di luar kota Praha Hus terus melanjutkan perjuangannya dengan
mengembangkan perlawanan terhadap gaya hidup yang amoral dari kaum
rohaniwan, termasuk Paus, bahkan menegaskan bahwa hanya Kristus lah
Kepala Gereja, bukan Paus. Dalam bukunya yang berjudul "On the
Church", Hus mencela otoritas kaum rohaniwan, tapi menekankan bahwa
hanya Allah yang dapat mengampuni dosa. Menurut Hus, jika doktrin
gereja bertentangan dengan ajaran Alkitab, maka ajaran Alkitab lah
yang harus dijunjung tinggi.

Pengajaran Hus tentang otoritas Alkitab inilah yang sangat menonjol,
bahwa Alkitab adalah satu-satunya yang memiliki kewibawaan yang
tertinggi dalam gereja. Kristus adalah Kepala yang memerintah
gereja, bukan Paus. Semua ajaran gereja yang bertentangan dengan
Alkitab ditolak oleh Hus, seperti penjualan surat penghapusan
dosa, kehidupan mewah dan amoral dari para pejabat gereja, termasuk
Paus, dan mendesak agar roti dan anggur dalam perjamuan juga harus
diberikan kepada semua anggota jemaat.

Menyadari sangat berbahayanya ajaran-ajaran Wycliffe, yang
dipopulerkan oleh Hus, bagi Gereja Katolik Roma saat itu, maka Paus
Gregorius memperingatkan Uskup Agung agar melakukan tindakan yang
tegas terhadap Hus dan tulisan Wycliffe. Oleh karena itu pada bulan
Juni 1408 diadakan sidang sinode yang memutuskan untuk membrendel
semua tulisan Wycliffe dan meminta Hus untuk tidak lagi
mengajarkannya. Akibat dari keputusan tersebut Hus mengadakan
perlawanan terhadap Uskup Agung. Hal yang tidak dapat dielakkan
adalah terjadinya pergolakan dalam Universitas Praha karena
ada sebagian orang yang mendukung Hus tapi ada juga yang melawan.

Namun demikian Hus bertekad untuk menegakkan pengajaran yang ia
yakini berdasarkan pada Alkitab. Selama hampir dua tahun ia mencoba
mengadakan pembelaan lewat tulisan-tulisan dan kotbah-kotbahnya,
sampai akhirnya Paus John XXIII menggunakan kekuasaannya untuk
mengucilkan Hus dan para pendukungnya dari gereja. Raja Romawi,
Sigismund sebenarnya menaruh simpati terhadap Hus. Itu sebabnya
ia menawarkan bantuannya untuk menyelesaikan pertikaian Hus dengan
Paus. Didesaknya John Hus untuk mau menghadiri konsili yang akan
diadakan oleh Paus pada thun 1414. Pada pikirnya konsili yang akan
membahas tentang tindakan-tindakan pembaharuan dalam gereja akan
dapat mengakomodasi ide-ide Hus. Karena tempat diadakannya konsili
adalah di Contanz, maka jika Hus bersedia menghadirinya, Sigismund
menjanjikan keselamatan diri Hus, bahkan jika hasil konsili tidak
menguntungkan Hus.

Itikat baik Raja Sigismund diterima dengan baik oleh Hus, sehingga
ia setuju untuk menghadiri konsili dengan tujuan agar ia dapat
mempertanggungjawabkan pandangan-pandangan teologinya yang dituduh
menyesatkan jemaat. Namun, malapetaka menimpa diri Hus, setibanya
di Contanz, John Hus ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Kesempatan untuk pembelaan diri dalam konsili ternyata tidak pernah
diberikan, sebaliknya Hus dihadapkan ke beberapa kali persidangan
dengan tuduhan-tuduhan yang sangat memojokkannya. Konsili akhirnya
memutuskan untuk meminta Hus menarik kembali ajaran-ajarannya yang
dianggap sesat, namun Hus menolak dengan tegas dan menuntut untuk
suatu persidangan yang adil. Hus bersedia mengaku bersalah hanya
jika konsili berhasil menunjukkan dari Alkitab bahwa ajarannya
telah menyimpang. Untuk hal ini Hus tidak pernah mendapatkan jawaban
dari sidang konsili. Selama delapan bulan masa persidangan yang
silih berganti Hus dipaksa harus meringkuk di dalam penjara dan
diperlakukan dengan tidak layak.

Sekali dua kali Raja Sigismund berusaha untuk membujuk anggota
sidang konsili agar mereka mendengarkan pembelaan Hus. Namun konsili
menolak bahkan mengancam untuk mengucilkan Raja dari gereja jika
ia terus mendesak konsili. Ancaman ini membuat Raja tidak berkutik
untuk membela Hus, sehingga janji perlindungan Raja terhadap
keselamatan Hus pun terpaksa harus dibatalkan dengan alasan bahwa
janji terhadap penyesat tidak perlu ditepati.

Keadaan penjara dan masa persidangan yang panjang membuat kondisi
fisik Hus menurun dengan drastis. Namun ditengah kelemahan tubuh
karena kurang tidur dan penyakit yang menyerangnya, serta desakan
Raja agar Hus menyerah, Hus tetap menyatakan tidak bersalah,
bahkan ia terus menuntut haknya untuk memberikan pembelaan diri
atas tuduhan-tuduhan yang diberikan kepadanya. Pada sidang konsili
ia berseru: "Meskipun ditawarkan sebuah kapel yang penuh dengan
emas, saya tidak akan mundur dari kebenaran." Selama dalam penjara
John Hus masih sempat menulis banyak surat kepada sahabat-
sahabatnya di Bohemia. Surat-suratnya penuh memuat petunjuk-
petunjuk bagi para pengikutnya, bahkan untuk beberapa tahun
lamanya surat-surat itu menunjukkan wibawa yang besar.

Pada tanggal 6 Juli 1415, sidang konsili di hadapan jemaat
membacakan tiga puluh tuduhan yang diberikan kepada ajaran Hus,
yang mana tidak satu pun dari tuduhan itu betul. Gereja akhirnya
memutuskan dengan resmi menyatakan bahwa Hus adalah pengajar sesat,
jabatannya sebagai imam dicopot dan ia diserahkan kepada pihak
otoritas sekuler untuk segera dihukum mati pada hari itu juga.
Dalam perjalanan menuju tempat eksekusi, Hus melewati halaman
sebuah gereja dimana sedang berkobar sebuah api unggun yang dibuat
dari buku-bukunya. Hus masih sempat berseru kepada orang-orang
yang berkumpul di jalan agar tidak mempercayai kebohongan yang
beredar tentang dia dan ajarannya. Pada saat Hus siap dibakar
mati di atas tiang pancang, yaitu hukuman paling keji yang pantas
dijatuhkan bagi pengajar sesat jaman itu, pejabat pemerintah
yang bertugas melaksanakan hukuman mati masih berharap agar Hus
menarik kembali ajaran-ajarannya, namun Hus berkata: "Allah adalah
saksi saya. Bukti yang mereka kemukakan salah. Saya tidak pernah
mengajar atau berkotbah kecuali untuk maksud memenangkan manusia,
jika mungkin, dari dosa mereka. Hari ini saya siap mati dengan
gembira."

Walaupun John Hus telah mati dibakar hidup-hidup, tetapi
pengajarannya masih terus dikumandangkan oleh para pengikutnya
yang setia. Mereka menamakan diri Kaum Hussit. Selama beberapa
waktu pengikut kelompok ini dikejar-kejar dan dihambat dengan
sangat kejam. Namun pemerintah Bohemia dan Gereja Katolik Roma
tidak mampu membendung semangat mereka. Setelah melewati perang
Hussit yang panjang akhirnya Gereja Hussit diakui keberadaannya
di Bohemia disamping Gereja Katolik Roma.

Abu jasad John Hus telah hanyut di sungai, tapi semangat Hus untuk
menegakkan pengajaran Alkitab yang murni tidak pernah dihanyutkan
oleh jaman dan waktu. Pengaruh dari semangat dan kegigihan John
Hus untuk membela kebenaran Alkitab telah membuka jalan bagi
pencerahan rohani yang memuncak pada terjadinya Reformasi Gereja
Protestan.

=====================================================================

Bahan disusun oleh Yulia Oeniyati dari sumber-sumber:
-----------------------------------------------------
1. Judul Buku   : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dlm Sejarah Gereja
   Judul Artikel: 1. Hus, John
                  2. Wycliffe, John
   Penulis      : Drs. F.D. Wellem, M.Th.
   Penerbit     : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989
   Halaman      : 1. 134 - 136
                  2. 246 - 247

2. Judul Buku   : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
   Judul Artikel: 1. John Hus, Dibakar pada Tiang Pancang
                  2. Wycliffe Mengawasi Penerjemahan Alkitab ke dalam
                     Bahasa Inggris
   Penulis      : A. Kenneth Curtis, dkk.
   Penerbit     : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991
   Halaman      : 1. 68 - 69
                  2. 66 - 67

3. Judul Buku   : The New International Dictionary of the Christian
                  Church
   Judul Artikel: 1. Hus, Jan
                  2. Wycliffe, John
   Editor       : J. D. Douglas
   Penerbit     : Zondervan Publishing House
   Halaman      : 1. 492 - 493
                  2. 1064 - 1065

4. Judul Buku   : New Dictionary of Theology
   Judul Artikel: 1. Hus, John
                  2. Wyclif, John
   Editor       : Sinclair B. Ferguson
   Penerbit     : InterVarsity Press
   Halaman      : 1. 323 - 324
                  2. 732

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org