Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-reformed/2

e-Reformed edisi 2 (4-12-1999)

Lagu Natal dari Desa di Gunung

   Kita tentu akan merasa sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal
tanpa menyanyikan "Malam Kudus," bukan?
   Terjemahan-terjamahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu
dari yang lainnya, namun semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga
dalam bahasa-bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak
perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam
menterjemahkannya.
   "Malam Kudus" sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan
dikasihi di seluruh dunia. Bahkan musikus ternama rela memasukkannya
pada acara konser dan piringan hitam mereka.
   Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya
berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria.
Inilah ceritanya....


ORGEL YANG RUSAK

   Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah
mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu.
   Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi
menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki.
Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian-
bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang
kebaktian.
   Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat
sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain
kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi
tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.
   Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar
di desa itu. Ia mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan
sandiwara Natal itu di rumahnya.
   Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula.
Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah
orang kaya itu.
   Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. Ia
mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang
jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang
yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali.... malam yang kudus....
malam yang sunyi....


HADIAH NATAL YANG ISTIMEWA

   Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga
siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang
apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.
   Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz
Gruber, yang masih muda, adalah kepala sekolah di desa Arnsdorf, yang
terletak tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. Ia pun merangkap pemimpin
musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.
   Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya.
"Inilah hadiah Natal untukmu," katanya, "sebuah syair yang baru saja saya
karang tadi malam."
   "Terima kasih, pendeta!" balas Franz Gruber.
   Setelah mereka berdua diam sejenak, pendeta muda itu bertanya:
"Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya? "
   Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan
syair hasil karya Josef Mohr.
   Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang
kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu
sendiri masih belum dapat digunakan.
   Penduduk desa berkumpul untuk merayakan malam Natal. Dengan keheranan
mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada
sebuah lagu Natal yang baru.
   Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya --
untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik
senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu
ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.
   Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang
telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu "Malam Kudus"
diperdengarkan.


BAGAIMANA TERSEBAR?

   Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang
sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung,
mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya.
   "Malam Kudus" masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia
selesai memperbaiki orgel Oderndorf, lalu pulang.
   Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu:
Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang
pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik.
   Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar,
sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang
mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi uang atas nyanyiannya.
   Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya
sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka
sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah
lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan
negeri Austria.
   Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Kepada
mereka ia nyanyikan lagu Natal yang baru saja dipelajarinya dari kedua
penciptanya di gereja desa itu.
   Salah seorang penyanyi wanita menuliskan kata-kata dan not-not yang
mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian
mereka pun dapat menghafalkannya.
   Keempat wanita itu senang menambahkan "Malam Kudus" pada acara mereka.
Makin lama makin bayak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu
mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.
   Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak-
beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai
atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil
keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka
menyanyikan "Malam Kudus," yang oleh mereka diberi judul "Lagu dari
Surga."
   Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang
rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal.
Tentu di sanapun mereka membawakan lagu "Malam Kudus."


RAHASIA ASAL USULNYA

   Lagu Natal yang indah itu umumnya dikenal hanya sebagai "lagu rakyat"
saja. Tetapi sang raja ingin tahu siapakah pengarangnya. Pemimpin musik
di istana, yaitu komponis besar Felix Mandelssohn juga tidak tahu tentang
asal usul lagu natal itu.
   Sang raja mengirim seorang utusan khusus untuk menyelidiki rahasia
itu. Utusannya hampir saja pulang dengan tangan kosong. Lalu secara
kebetulan ia mendengarkan seekor burung piaraan yang sedang bersiul.
Lagu siulannya tak lain ialah "Malam Kudus"!
   Setelah utusan raja tahu bahwa burung itu dulu dibawa oleh seseorang
dalam perjalanannya dari daerah pegunungan Austria, maka pergilah dia ke
sana serta menyelidiki lebih jauh. Mula-mula ia menyangka bahwa barangkali
ia akan menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan Johann Michael
Haydn, seorang komponis bangsa Austria yang terkenal. Tetapi sia-sia
semua penelitiannya.
   Akan tetapi usaha utusan raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu
pada penduduk setempat. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa
salah seorang muridnya mungkin, pernah melatih burung yang pandai
mengkidungkan "Malam Kudus" itu. Maka ia menyembunyikan diri sambil
bersiul meniru suara burung tersebut.
   Segera muncullah seorang anak laki-laki, mencari burung piarannya
yang sudah lama lolos. Ternyata anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu
yang sudah termasyur itu, yang dulu diajarkan kepada burung piaraannya,
ditulis asli oleh ayahnya sendiri!
   Demikianlah seorang bocah dan seekor burung turut mengambil peranan
dalam menyatakan kepada dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang
"Lagu Natal dari Desa di Gunung" itu.

	
TANDA PENGENAL ORANG KRISTEN

   Setelah satu abad lebih, "Malam Kudus" sesungguhnya menjadi milik
bersama seluruh umat menusia. Bahkan lagu Natal itu pernah dipakai
secara luar biasa, untuk menciptakan hubungan persahabatan antara orang-
orang Kristen dari dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar
belakangnya:
   Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan Pasifik diliputi
oleh Perang Dunia Kedua. Beberapa minggu setelah Hari Natal itu, sebuah
pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam
peperangan, sehingga jatuh ke dalam samudra di dekat salah satu pulau
Indonesia.
   Kelima orang awak kapal itu, yang luka-luka semua, terapung-apung
pada pecahan-pecahan kapalnya yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada
mereka beberapa perahu yang makin mendekat. Orang-orang yang asing bagi
mereka mendayung dengan cepatnya dan menolong mereka masuk ke dalam
perahu-perahu itu.
   Penerbang-penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga,
Apakah orang-orang ini masih di bawah kuasa Jepang, musuh mereka?
Apakah orang-orang ini belum beradab, dan hanya menarik mereka dari laut
untuk memperlakukan mereka secara kejam?
   Segala macam kekuatiran terkilas pada pikiran mereka, karena mereka
sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa para pendayung berkulit
coklat itu. Sebaliknya, orang-orang tersebut sama sekali tak dapat
berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui
dengan pasti, apakah tentara angkatan udara itu telah jatuh ke dalam
tangan kawan atau lawan.
   Akhirnya, sesudah semua perahu itu mendarat di pantai, salah seorang
penduduk pulau itu mulai menyanyikan "Malam Kudus." Kata-kata dalam
bahasa Indonesia itu masih asing bagi para penerbang yang capai dan 
curiga. Tetapi lagunya segera mereka kenali. Dengan tersenyum tanda
perasaan lega, turutlah mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri.
Insaflah mereka sekarang bahwa mereka sudah jatuh ke tangan orang-orang
Kristen sesamanya, yang akan melindungi dan merawat mereka.


LAGU DUNIAWI DAN SURGAWI

   Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan
lagu "Malam Kudus"?
   Josef Mohr hidup dari tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber
hidup dari tahun 1787 sampai tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani
Tuhan bertahun-tahun lamanya dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh
pengetahuan orang, mereka tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar
biasa. Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang.....
kecuali satu kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah bekerja sama
untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan.

   Gereja kecil di desa Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada
tahun 1899, sehingga hancur luluh. Sebuah gedung gereja yang baru
sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan
perunggu sebagai peringatan lagu "Malam Kudus."
   Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang
bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di surga.
Tangannya ditaruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-
anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di
belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik
gitarnya.
   Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi
dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan "Lagu Natal dari Desa di
Gunung."

Sumber:
Buku "Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian" (Jilid I),
oleh H.L. Cermat,
diterbitkan oleh Lembaga Literatur Baptis.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org