______________________Milis Publikasi e-Reformed______________________
Dear e-Reformed Netters,
Berikut ini adalah bagian kedua dari artikel yang dikirimkan
sebelumnya. Harap kami supaya setelah Anda selesai membaca seluruh
artikel ini, Anda dapat mengambil kesimpulan bahwa hidup menurut
hikmat Allah bukan merupakan pilihan, tapi kepastian. Berpalinglah
dari hikmat duniawi yang pada akhirnya hanya menjanjikan kekosongan.
Kembalilah kepada Tuhan, karena hanya di dalam Dialah Anda akan
dapat menemukan arti kekayaan hidup yang sesungguhnya.
Selamat membaca.
In Christ,
Yulia
http://reformed.sabda.org
http://fb.sabda.org/reformed
----------------------------------------------------------------------
PERCAYA KEPADA ALLAH DI DALAM SEGALA SESUATU
(Bagian 2)
Catatan-catatan Mental
Saya yakin bahwa siapa pun yang bertindak dalam iman akan menemukan
bahwa Allah dapat dipercaya untuk keselamatannya. Tetapi, itu
hanyalah permulaan. Langkah berikutnya adalah percaya kepada Allah
dalam segala keputusan hidup sehari-hari. Melalui tulisan ini, saya
telah membandingkan dua jalan, pertama berdasarkan hikmat manusia,
yang lain berdasarkan hikmat Tuhan. Saya telah melakukan yang
terbaik untuk mengembangkan sebuah kasus menarik mengenai keunggulan
hikmat Allah.
Saya telah mencoba meyakinkan Anda bahwa mengambil inisiatif adalah
lebih baik daripada bersikap pasif, malas, atau fatalistis; bahwa
berbuat baik mengalahkan tindakan memusatkan diri sendiri yang
mematirasakan jiwa kita; bahwa kedisiplinan diri, meskipun sulit
untuk dibangun, memberikan banyak keuntungan; bahwa mengatakan
kebenaran dengan kasih adalah lebih baik daripada berkelit dalam
kebohongan; bahwa memilih teman dengan bijaksana adalah kunci
penting untuk bertumbuh dalam hikmat; bahwa menikah dengan baik
adalah dasar dari sebuah pernikahan yang langgeng; bahwa tempaan
keluarga yang kuat adalah cara terbaik untuk memberikan warisan
positif dari satu generasi ke generasi berikut; bahwa menumbuhkan
kasih sayang adalah cara yang ampuh untuk mengubah dunia; dan bahwa
pengelolaan kemarahan secara konstruktif penting untuk kebahagiaan
pribadi dan keharmonisan hubungan.
Kitab Amsal telah banyak mengajarkan kepada saya tentang bagaimana
menjalani hidup saya, dan saya berharap saya telah efektif dalam
menyampaikan apa yang telah saya pelajari. Tetapi masih tersisa
pertanyaan, akankah kita memilih jalan Tuhan di berbagai
persimpangan kehidupan sehari-hari? Akankah kita memercayai Allah
secara cukup untuk menyesuaikan kehendak kita dengan jalan-Nya?
Sudah hampir tiga puluh tahun sejak saya memutuskan untuk mencoba
memercayakan seluruh hidup saya kepada Allah, dan sekarang saya
semakin yakin bahwa Allah dapat dipercaya lebih dari yang saya
pernah lakukan dalam hidup saya. Ketika saya melihat kembali ke
tahun-tahun lampau, saya tidak menyesali saat-saat ketika saya
mengikuti jalan Tuhan. Tidak satu pun. Kadang-kadang sulit, kadang-
kadang membingungkan, tetapi selalu, pada akhirnya, saya berbahagia
telah memilih hikmat Allah.
Pada sisi lain, saya bisa memenuhi berjilid-jilid catatan dengan
penyesalan yang saya bawa ketika saya sengaja memilih jalan lain.
Saya teringat satu catatan yang disebut "Catatan Saya yang Sangat
Bodoh", berisi kenangan segala sesuatu pada saat saya berada di
persimpangan kritis dalam hidup, dan saya memilih jalan yang bodoh.
Setiap kali, saya mengakhirinya dengan berkata, "Itu sangat bodoh.
Lihatlah akibatnya. Lihatlah orang yang telah saya sakiti. Lihatlah
rasa bersalah yang saya bawa. Lihatlah waktu saya yang telah
terhilang. Menolak mengikuti cara Allah itu bodoh sekali."
Seperti yang saya katakan pada bab pertama buku ini, kita tidak
dilahirkan bijak; kita dilahirkan dengan kebodohan dalam hati dan
pikiran kita. Salah satu tugas hidup yang utama adalah keluar dari
kebodohan dan bertumbuh ke arah kebijaksanaan. Belajar dari
kesalahan merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Oleh karena itu,
setiap kali saya mendapat pelajaran dari pilihan bodoh saya, yang
memungkinkan saya untuk membuat pilihan yang bijaksana kali
berikutnya, saya secara mental menyimpan pilihan-pilihan tersebut ke
dalam "Catatan Saya yang Sangat Cerdas". Membaca dan membandingkan
dua catatan tersebut merupakan salah satu cara paling efektif untuk
membangun kepercayaan di dalam Tuhan. Jelas sekali bahwa setiap saya
berjalan di jalan Allah, hidup saya menjadi lebih baik. Setiap saya
percaya kepada-Nya dengan menaati perintah-Nya, bertindak sesuai
kebijaksanaan-Nya, atau berserah pada bimbingan-Nya, Ia membuktikan
kelayakan-Nya untuk saya percayai: kebijaksanaan-Nya terbukti,
perintah-Nya adil, dan bimbingan-Nya membantu saya. Akhirnya, saya
bisa mengatakan tanpa ragu-ragu, "Saya percaya Allah dengan segenap
hatiku! Saya tidak sedang membual atau membuat pernyataan palsu.
Saya percaya kepada Tuhan karena Ia telah membuktikan diri-Nya dapat
dipercaya."
Janganlah Bersandar pada Pengertianmu Sendiri
Apa arti bagian kedua dari Amsal 3:5-6? Ketika Alkitab memerintahkan
kita "janganlah bersandar pada pengertian kita sendiri," apakah itu
berarti kita harus membuang jauh otak kita untuk tumbuh sebagai
orang Kristen? Apakah ini berarti kita harus mengabaikan kecerdasan
kita dan menganggap bahwa kita tidak memiliki pemahaman apa pun,
bahwa kita tidak belajar apa pun sepanjang hidup kita? Tentu saja
tidak. Tapi itu peringatan bagi kita untuk waspada terhadap reaksi
refleksif manusiawi kita terhadap situasi kehidupan yang kompleks.
Kita akui atau tidak, perspektif manusia selalu terbatas, dan
intuisi alamiah selalu sedikit meragukan. Sejujurnya, kita semua
akan mengacaukan hidup kita ke tingkat tertentu jika kita hanya
mengikuti pemahaman kita sendiri. Kita membutuhkan masukan dari
Allah dalam proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-
hari.
Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel berjudul "178 Detik untuk
Hidup." Artikel ini bercerita tentang dua puluh orang pilot yang
cakap tetapi yang tidak pernah menerima pelatihan simulasi. Masing-
masing dari kedua puluh pilot ini diikutsertakan dalam simulasi
penerbangan dan diperintahkan untuk melakukan apa saja yang bisa
mereka lakukan agar pesawat terbang tetap terkendali di dalam cuaca
berawan tebal, gelap, dan berbadai. Artikel tersebut menyatakan
bahwa kedua puluh pilot itu "jatuh dan membunuh diri mereka sendiri"
dalam waktu rata- rata 178 detik. Dibutuhkan waktu kurang dari 3
menit bagi para pilot yang memiliki intuisi yang terlatih ini untuk
menghancurkan diri mereka sendiri segera sesudah mereka kehilangan
titik acuan visual mereka.
Beberapa waktu lalu, saya sedang menjadi kopilot sebuah pesawat
dalam perjalanan malam kembali ke Chicago dari Pesisir Timur AS.
Sementara pilot yang bertugas sedang sibuk memasukkan data ke dalam
komputer, saya melakukan lepas landas dan menambah ketinggian,
menjaga agar pesawat tetap lurus dan datar dan berada di jalurnya.
Semua berjalan lancar sampai kami memasuki lapisan awan yang sangat
tebal. Tanpa adanya titik acuan di luar pesawat, dengan tenang saya
fokus pada peralatan di panel kokpit dan membuat koreksi apa saja
yang diperintahkan. Tetapi, beberapa menit setelah memasuki awan
itu, peralatan-peralatan tersebut memerintahkan saya untuk membuat
koreksi atas semua kesalahan saya; peralatan-peralatan tersebut
menunjukkan bahwa kami perlahan-lahan berbelok ke kiri. Namun, saya
tahu bahwa saya tidak mengubah kendali sedikit pun, dan saya yakin
bahwa tidak ada pergeseran atau turbulensi angin apa pun. Jadi, saya
duduk dan berkata kepada diri sendiri, "Tidak ada keharusan kita
untuk berbelok ke kiri." Dan saya tidak melakukan koreksi yang
diperintahkan.
Alasan saya sangat sederhana: Saya telah mengemudikan pesawat
terbang sejak saya berumur lima belas tahun -- pesawat biasa,
pesawat amfibi, pesawat bermesin satu, pesawat bermesin ganda,
pesawat berbaling- baling turbo, pesawat jet, bahkan helikopter --
tanpa satu pun kecelakaan atau nyaris kecelakaan. Saya menganggap
bahwa karena saya telah melakukan begitu banyak penerbangan dan
mempertahankan catatan yang baik, saya jelas telah mengembangkan
intuisi yang andal menyangkut gerakan pesawat. Jadi, pada malam itu,
saya sengaja memilih percaya pada intuisi saya sendiri dan bukan
tanda-tanda yang tampak pada peralatan di panel kokpit. Saya
berkata, "Saya tahu lebih baik. Jika harus memilih salah satu di
antara percaya pada peralatan atau intuisi pribadi, saya akan
percaya pada intuisi saya."
Pilihan yang buruk. Untung saja, pada waktu itu pilot melihat dari
petanya, memeriksa peralatan, meraih kendali, dan segera membuat
koreksi. Dia melirik seolah-olah bertanya, "Apa kamu gila?" Kemudian
dia tersenyum kecut kepada saya, menunjuk ke peralatan tersebut, dan
berkata, "Percayalah pada alat ini. Kita berdua akan hidup lebih
lama." Selama sisa penerbangan itu saya katakan kepada Anda bahwa
saya menatap lekat-lekat ke peralatan-peralatan tersebut, dan saya
membuat setiap koreksi kecil yang ditunjukkan oleh panel.
Ketika penulis Kitab Amsal mengatakan kepada kita untuk tidak
bersandar pada pengertian kita sendiri, dia menunjukkan bahwa
secerdas atau sebanyak apa pun pengalaman hidup kita, kita masih
perlu menyadari bahwa penilaian manusia selalu terbatas dan kadang-
kadang salah. Kadang-kadang gagasan terbaik kita tentang apa yang
seharusnya dikatakan atau dilakukan ternyata keliru, berbahaya,
bahkan merusak. Ketika sampai pada keputusan penting dalam hidup
kita, kita hampir selalu membutuhkan pemahaman yang lebih dalam dan
perspektif yang lebih luas dari sekadar yang ditawarkan oleh hikmat
manusia kepada kita.
Apa yang kita sangat butuhkan adalah pikiran Tuhan mengenai hal-hal
serius dalam hidup ini. Ia menawarkannya kepada kita melalui ajaran
firman-Nya dan bimbingan Roh-Nya. Tugas kita bukanlah untuk
mempertanyakan atau menganggap bahwa kita sudah tahu lebih baik,
seperti pilot yang terlalu percaya diri yang menomorduakan petunjuk
dari peralatan-peralatannya, tetapi untuk percaya bahwa Allah
mengetahui lebih baik bagaimana mengisi hidup kita. Sebuah aturan
rohani yang barangkali berguna: "Jika ragu, selalu, selalu, dan
selalu percayalah pada hikmat Allah."
Akuilah Dia dalam Segala Lakumu
Mari kita langsung pada pokok frasa berikut ini. Dalam konteks
kutipan pendek ini, "mengakui Allah" berarti mengakui kebijaksanaan,
wawasan, dan pemahaman-Nya. Itulah yang dibahas dalam buku ini. "Di
dalam semua laku kita" berarti ... yah, di "semua" laku kita. Kita
dapat diyakinkan bahwa setiap bidang kehidupan yang kita putuskan
untuk kita kelola tanpa menggunakan hikmat, wawasan, dan pemahaman
dari Allah akan berakhir dalam masalah. Setiap bidang yang kita beri
tanda "Dilarang Masuk Tanpa Izin" dan mencoba mengabaikan Tuhan,
tampaknya akan menjadi bidang yang membahayakan kualitas hidup kita
dan mengancam orang-orang di sekitar kita. Untuk menenggelamkan
sebuah kapal tidak diperlukan banyak lubang, cukup satu saja. Dan
satu lubang itu pun tidak harus berukuran besar.
Beberapa orang melihat ambisi karir mereka, yang lain memandang
seksualitas, sebagian lagi pada uang, pilihan teman-teman, atau
kegiatan pada waktu luang, dan mereka berkata, "Aku mengetahui semua
tentang kebijaksanaan-Mu, Tuhan. Aku mengetahui apa yang Alkitab
katakan tentang hal ini. Aku mengetahui bagaimana Roh-Mu mendorongku.
Tetapi, jawabanku adalah tidak. Aku tidak menginginkan nasihat-Mu. Aku
tidak menginginkan kebijaksanaan-Mu. Aku sendiri yang akan mengatur
hal ini."
Ingatlah bab tentang inisiatif? Ingatlah orang-orang yang menepuk
punggung sendiri tatkala mereka mengambil inisiatif di hampir setiap
bidang kehidupan, bahkan mungkin sembilan dari sepuluh orang, tetapi
mereka gagal menyadari kerusakan yang bisa dilakukan oleh satu
bidang kemalasan? Prinsip ini berulang. Sembilan dari sepuluh orang
tidaklah cukup, baik itu berarti mengambil inisiatif atau berbagai
bentuk lain untuk pembangunan karakter atau ketaatan. Satu saja
bidang kehidupan yang tidak diserahkan sudah berkonsekuensi negatif
dan meluas. Pada suatu waktu kelak, hal itu hampir pasti akan
berdampak buruk pada dimensi lain dalam kehidupan kita. Akhirnya,
ketika hidup tidak lagi berjalan dengan baik, kita mungkin akan
melihat ke belakang dan berkata, "Semuanya dimulai dengan satu
kendali pribadi yang kecil, bahwa saya merasa bisa mengelola diri
lebih baik daripada Allah ... dan sekarang beginilah jadinya."
Banyak orang tampak bertekad untuk mempelajari segala sesuatu yang
sulit. Tetapi kita semua bisa menyelamatkan diri kita sendiri dan
beban masalah orang lain jika kita bisa mempelajari apa yang telah
dipelajari oleh jutaan orang sebelum kita: Berbagai bidang
kehidupan, yang tidak ditempatkan di bawah kepemimpinan dan
kebijaksanaan Tuhan, pada akhirnya akan menjadi sumber frustrasi,
sakit hati, dan nyeri yang hebat.
Penulis Amsal sunguh-sungguh meminta agar kita tidak menjerumuskan
diri sendiri ke dalam risiko ini. Jika kita mengakui Allah dalam
semua hal, dalam setiap bidang kehidupan kita, kita dapat mengurangi
risiko permasalahan itu secara signifikan. Itu seperti menambal satu
lubang yang mengancam akan menenggelamkan kapal kita.
Adakah kendali pribadi yang Anda belum serahkan kepada Allah? Jika
ya, mengapa Anda tidak menyerahkannya kepada Allah? Turunkanlah
tanda "Dilarang Masuk Tanpa Izin" dan persilakanlah Tuhan masuk.
Saya belum pernah bertemu orang yang menyesali keputusan ini.
Sekarang giliran Anda. Saya mendorong Anda.
Maka Ia Akan Meluruskan Jalanmu
Sebelum baris terakhir pada bagian ini menjauhkan siapa pun dari
topik utamanya, saya ingin menjelaskan apa yang bukan merupakan arti
dari kalimat tersebut. Kalimat tersebut tidak berarti bahwa Allah
akan membuat kita sehat, kaya, dan bahagia. Kalimat tersebut tidak
berarti bahwa Ia akan membuat kita nyaman, populer, dan langsing.
Kalimat tersebut tidak berarti bahwa Ia akan memenuhi semua
pengharapan sepele dan keinginan sesaat kita. "Ia akan meluruskan
jalanmu" berarti bahwa Ia akan memberikan arah, tujuan, fokus, dan
pemenuhan hidup kita. Ia akan membimbing kita melewati rawa-rawa dan
parit-parit sehingga kita bisa tetap di jalan yang benar. Ia akan
bekerja di dalam kita untuk mengubah hati dan jiwa kita. Ia akan
bekerja di kedalaman pribadi untuk mengubah hati dan jiwa kita. Ia
akan bekerja melalui diri kita supaya kita berdampak pada orang
lain. Dan ketika kita sudah tiada, Ia akan memimpin kita melewati
pintu gerbang surga. Ketika Anda merenungkan hal ini, apa lagi yang
kita bisa minta?
Saya baru-baru ini menghadiri pemakaman ayah salah seorang teman
terdekat saya. Pemakaman itu diadakan di pekuburan gereja yang saya
kunjungi sepanjang masa kanak-kanak dan remaja saya. Semua tampak
persis seperti tiga puluh tahun sebelumnya. Pada saat saya duduk di
sana, teringatlah saya pada banyak kenangan.
Saya sangat ingat pada seorang pria tua yang telah menantang saya
untuk memercayai Allah dengan segenap hati dan mengizinkan Dia
membimbing serta mengarahkan hidup saya. Ketika saya memikirkan
kembali arti peristiwa tersebut dalam hidup saya selama tiga puluh
tahun sebelumnya, saya nyaris tidak bisa menahan emosi. Saya
tersenyum ketika menyadari bahwa saya tidak dapat menghabiskan satu
malam dengan melempar dan berbalik ke tiga puluhan-tahun yang lalu
itu tanpa saya kehilangan arti, tujuan, atau petualangannya.
Lalu saya kembali menahan air mata saat memikirkan semua yang
mungkin saya lewatkan seandainya saya memilih untuk mengatur sendiri
kehidupan saya: pekerjaan yang membuat saya bersemangat untuk bangun
pada pagi hari, teman-teman yang sudah seperti keluarga bagi saya,
pernikahan yang terus bertumbuh, dan anak-anak yang memberikan
kebahagiaan terbesar di dalam hidup saya.
Dalam upacara pemakaman tersebut, saya meletakkan tangan saya di
atas lutut dengan telapak tangan tengadah, dan saya berkata, "Tuhan,
setengah hidupku mungkin telah berlalu, tetapi aku ingin membuat
kesepakatan yang sama mengenai apa pun dengan waktu yang tersisa,
yang saya akan buat sehubungan dengan masa lalu. Aku ingin percaya
kepada- Mu dengan sepenuh hati, dan tidak bersandar pada
pengertianku sendiri. Di seluruh jalanku, aku ingin mengakui-Mu, dan
aku ingin memercayai-Mu untuk meluruskan jalanku." Saya tidak bisa
menggambarkan rasa damai dan harapan yang membanjiri jiwa saya. Jika
masa depan adalah segala sesuatu seperti tiga puluh tahun yang lalu,
itu akan menjadi sebuah bola!
Jangan lewatkan Petualangannya
Saya menyukai Yeremia 29:11 ketika Tuhan berkata, "Sebab Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu
... yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,
untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Saya
senang merenungkan ayat ini. Saya senang merenung tentang Allah yang
merancang suatu rencana khusus untuk hidup saya. Saya ingin
kebenaran ini meresap ke dalam jiwa saya.
Allah memiliki rencana, hari depan dan harapan untuk kita masing-
masing, dengan nama kita sendiri di atasnya. Meskipun Allah tidak
menjanjikan suatu kehidupan yang bebas dari masalah atau sakit, Dia
menjanjikan suatu kehidupan yang terlalu baik untuk dilewatkan.
Tetapi, kita masih tidak akan pernah menemukan petualangan hidup itu
- - sampai kita memercayakan diri kita pada bimbingan dan pimpinan-
Nya! Allah mengenal kita dengan lebih baik daripada diri kita
sendiri. Dia memahami kemampuan dan keterbatasan kita. Dia
mengetahui persis apa kesulitan yang kita harus hindari dan melihat
potensi kita sepenuhnya. Dia memiliki pandangan tinggi yang
ditetapkan untuk kita, dan Dia bersedia memberikan segala bentuk
bantuan yang kita butuhkan untuk menggenapi rancangan-Nya dengan
sempurna. Namun, kita harus sepenuhnya berpaling dan memercayai-Nya.
Apa pun langkah iman yang Anda perlu ambil, saya berharap dan berdoa
agar Anda akan mengambilnya. Saya tidak mengetahui apa yang Allah
sediakan untuk hidup Anda, tetapi saya mengetahui pasti bahwa Anda
tidak ingin melewatkan petualangan ini!
Sumber:
Judul buku: Making Life Work
Judul artikel: Trust God in Everything (Bab 12)
Penulis: Bill Hybels
Penerbit: InterVarsity Press
Halaman: 192 - 206
______________________________e-Reformed______________________________
Pemimpin Redaksi: Yulia Oenijati
Kontak Redaksi: < reformed(at)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti: < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed
Situs SOTeRI: http://soteri.sabda.org
Situs YLSA: http://www.ylsa.org
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Reformed 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
|