______________________Milis Publikasi e-Reformed______________________
Dear e-Reformed Netters,
Pertama, maaf seribu maaf, akhir-akhir ini saya sangat sibuk sehingga
pengiriman e-Reformed jadi terlambat. Semoga pengiriman artikel di
bawah ini bisa menjadi pengganti pengiriman yang terlambat.
Minggu lalu adalah minggu perayaan Hari Reformasi Gereja. Saya ingin
bertanya, masih adakah gereja yang merayakannya? Sepertinya, Hari
Reformasi ini semakin lama menjadi semakin tidak dikenal. Mau
melakukan sedikit eksperimen? Silakan Anda bertanya kepada jemaat
biasa, apakah mereka tahu tentang Hari Reformasi Gereja? Saya tidak
heran kalau mereka menggelengkan kepala, tanda tidak tahu. Atau kalau
pun tahu, maka hanya terbatas di kalangan gereja-gereja beraliran
teologi reformed saja. Itu pun karena nama gereja mereka adalah
Reformed, sehingga mereka tahu kalau gereja mereka pasti ada sangkut
pautnya dengan reformasi. Tapi, ini hanya pandangan saya saja yang
cenderung skeptik.
Mengapa artikel di bawah ini saya pilih untuk mengingatkan kita semua
pada Hari Reformasi Gereja? Artikel yang ditulis oleh Pdt. D.S.
Hananiel yang berjudul PENTINGNYA PENDIDIKAN FIRMAN TUHAN DALAM HIDUP
BERJEMAAT ini merupakan isu utama mengapa banyak gereja sekarang ini
tidak lagi memiliki kuasa. Saya sangat setuju dengan pengamatan
beliau.
Gereja Tuhan yang benar dibangun di atas pengajaran para nabi
(Perjanjian Lama) dan rasul (Perjanjian Baru) dalam Alkitab. Kalau
gereja tidak lagi memberitakan firman Tuhan dan firman Tuhan tidak
lagi diajarkan pada jemaat, maka gereja itu pada dasarnya sudah tidak
lagi memiliki dasar untuk berdiri. Nah, semangat untuk kembali kepada
pengajaran firman Tuhan dan menekankan pentingnya firman Tuhan
ditegakkan adalah semangat reformasi. Apakah berlebihan kalau saya
sekarang ini mengajak kita semua mereformasi gereja kita masing-
masing?
In Christ,
Yulia
<yulia(at)in-christ.net>
<http://reformed.sabda.org/>
<http://fb.sabda.org/reformed/>
======================================================================
PENTINGNYA PENDIDIKAN FIRMAN TUHAN DALAM HIDUP BERJEMAAT
Sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa keberhasilan
penjajahan dalam kurun waktu 3,5 abad lamanya adalah karena si
penjajah TIDAK menyediakan PENDIDIKAN bagi rakyat. Alhasil, rakyat
tidak dapat berpolitik, mudah dikelabui, bahkan tidak mampu mengambil
alih pemerintahan. Demikian pula saya berkeyakinan, bahwa manusia
tidak akan dapat menikmati kepenuhan kemerdekaan yang disediakan oleh
Tuhan Yesus bila orang-orang Kristen TIDAK DIDIDIK dalam KEBENARAN
ALLAH. Bahkan firman Tuhan mengatakan, merajalelanya ajaran-ajaran
palsu yang berkedok "kekristenan" dan "Roh Kudus", dapat mengakibatkan
orang Kristen kembali "dijajah" oleh kuasa kegelapan. Sungguh
menakutkan kalau kita membayangkan hal ini. Saya pribadi merasa ngeri,
bila kekuatiran Paulus yang diutarakan pada jemaat di Korintus sungguh
akan menjadi kenyataan, yakni "orang-orang Kristen menyia-nyiakan
kasih karunia Allah" (2 Kor. 6:1).
Kalau kita memerhatikan keadaan gereja-gereja, anak-anak Tuhan pada
dewasa ini, sungguhlah harus menimbulkan beban untuk benar-benar
memikirkan bagaimana MENDIDIK anak-anak Tuhan, gereja-gereja Tuhan,
pengerja-pengerja Tuhan dengan kebenaran Tuhan yang "ada sejak semula"
(meminjam istilah para rasul).
Menurut observasi kami, dewasa ini terdapat beberapa gejala sebagai
berikut.
a. Anak-anak Tuhan yang begitu besar hasratnya untuk mengetahui
kebenaran telah berhasil dipikat untuk mendengar serta mempelajari
"kebenaran-kebenaran" yang sudah banyak dibubuhi dengan "bumbu-
bumbu masak" supaya "asyik", "enak rasanya", dan "sedap
kedengarannya". Apakah sudah tiba saatnya apa yang dinubuatkan
Rasul Paulus menjadi kenyataan, bahwa orang-orang mengumpulkan
"guru" menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya?!
Menurut hemat saya, belum! Tetapi kita selaku hamba-hamba Tuhan
telah gagal dalam menggembalakan domba-domba Allah. Kita lebih
tertarik pada "yang di luar"; undangan- undangan yang begitu
memikat untuk khotbah/memimpin di luar, undangan- undangan untuk
membawakan berbagai seminar, bahkan undangan dan tawaran studi. Tak
heran kalau Tuhan, Gembala yang Agung berkeluh kesah: "Celakalah
gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri! Domba-
domba-Ku berserak dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit
yang tinggi." Maka dalam kelaparannya, domba-domba Tuhan makan apa
saja yang dapat dimakannya!
b. Gereja yang seharusnya menjadi tiang kebenaran kini mengikuti mode-
mode persekutuan, mode tepuk tangan, mode "oikumene", dll.. Gereja
kini sudah kehilangan identitasnya -- merah tidak, putih pun tidak
tetapi samar-samar. Hamba-hamba Tuhan takut mengajarkan doktrin-
doktrin tegas, jelas, dan nyata. Gereja kita menjadi "banci".
Maklum, tanpa penyesuaian diri kita akan kehilangan jemaat! Gereja
dewasa ini merupakan gereja massa, gereja manusia dan bukannya
gereja Kristus yang JELAS IDENTITASNYA. Adanya perbedaan paham
doktrinal tidak perlu menjadikan kita eksklusif! Bukankah gereja
Tuhan adalah satu?
c. Dikhawatirkan bahwa dewasa ini (kaum saya) para hamba Tuhan sudah
kehilangan wibawa untuk berkata: "Demikianlah SABDA Tuhan serta
sekalian alam!" Apakah hamba Tuhan merupakan suatu profesi atau
suatu panggilan Allah? Maklum dengan kemajuan zaman, ada banyak
tuntutan- tuntutan -- tuntutan kebutuhan pribadi, tuntutan
kebutuhan keluarga, dan sebagainya. Kasihan manusia-manusia yang
"ditakdirkan" tinggal di desa dan kota kecil yang "kering". Mereka
"terpaksa" harus belajar untuk berdikari. Gedung-gedung mewah yang
penuh sesak sudah menanti. Di situlah dibutuhkan "hsamba Tuhan".
Tidak mengherankan kalau ada orang yang bertanya: "Masih perlukah
ada gereja? Masih perlukah hamba- hamba Tuhan?" Sebaliknya,
"Perlukah saya menjadi seorang hamba Tuhan pada zaman modern ini,
yang hanya menjadi `sasaran` frustrasi manusia, menjadi `budak-
budak` tuan-tuan dalam gereja? Bukankah perbuatan yang bodoh untuk
menjadi `seperti Gembala Agung yang tidak membuka mulut- Nya ketika
diguntingi bulu-Nya?`"
Jeritan panggilan Tuhan Yesus tetap belum tercoret dari Kitab Suci
yang demikian bunyinya: "Siapakah yang dapat: Kusuruhkan?" Lihatlah
semuanya sudah menguning! Penuai begitu jarang! Maklum mentalitas
penuai modern: Berapa gajinya? Bagaimana jaminan sosialnya? Apa
haknya? Apa kerjanya?
Kaumku, para hamba Tuhan, "gelap" sudah hampir tiba! Pekerjaan masih
jauh dari sempurna. Penuai tetap (bahkan berkurang). Sudahkah kita
lupa pengorbanan Kristus yang begitu besar, berharga, dan sungguh
tidak terbayarkan!
Tekanan yang terdapat dalam Kitab Suci, kesibukan utama Tuhan Yesus
sewaktu Ia masih ada di dunia, yang diikuti oleh kegiatan para rasul,
kemudian adalah PENDIDIKAN, PENGAJARAN! Maka marilah kita MENDIDIK,
MENGAJAR, MENGGEMBALAKAN domba-domba yang sudah ditebus-Nya dan yang
dipercayakan kepada kita untuk dipeliharakan.
1. Jangan kita singkirkan dan tolak undangan-undangan luar. Maklum di
satu pihak, gereja Tuhan bukanlah gereja yang kita asuh saja.
Gereja Tuhan itu universal. Setiap hamba Tuhan menanggung kewajiban
untuk melayani semua domba Tuhan, SEJAUH MANA yang DIPERKENAN oleh
Tuhan. Pada lain segi, katak dalam tempurung. Hamba Tuhan dalam
gereja sendiri saja akan merugikan jemaat juga. Maka perlu disusun
suatu daftar prioritas berdasarkan:
a. Di manakah kita dipanggil untuk bekerja?
b. Di manakah kini kita ditempatkan Tuhan yang Empunya kebun anggur?
2. Hamba Tuhan berbeda dengan guru pengajar yang tinggal mengajar
berdasarkan kurikulum. Hamba Tuhan menyampaikan BERITA Allah,
KEHENDAK Allah, dan PENGETAHUAN Allah. Dan semua itu, selain
membutuhkan persiapan yang saksama dan bertanggung jawab, juga
komunikasi intensif dengan Dia. Hal ini tidak saja membutuhkan
waktu banyak, tapi juga konsentrasi dan ketaatan yang meminta
pengorbanan! Kalau guru pengajar sudah memiliki pedoman buku
pelajaran yang ditetapkan oleh atasan, tidaklah demikian dengan
hamba Tuhan yang perlu menggali sampai dalam, melalui pengalaman-
pengalaman hamba Tuhan lainnya, para penulis buku- buku yang tetap
memegang kebenaran "yang dari semula", juga pengalaman hidup kita
sendiri dengan Tuhan, karena bukankah kita seharusnya menyampaikan
apa yang telah "kita dengar dan alami sendiri dari Tuhan"? Melalui
pengalaman ini, yang kita peroleh kalau kita bersedia untuk
menerima pahit getir hidup, dengan menelan garam untuk diperbudak
dan diperalatnya kita oleh tuan-tuan gereja, barulah kita "berguna"
bagi anak-anak Tuhan. Dan meminjam istilah Rasul Paulus, seorang
hamba Tuhan perlu mengalami pengalaman "ditindas, habis akal,
dianiaya, ditinggalkan sendirian, dihempaskan". Ya, kita perlu
senantiasa mengalami "kematian Yesus dalam tubuh kita" (2 Kor. 4).
Dunia sudah muak dengan filsafat, politik, dan "ajaran yang
tinggi". Manusia/domba-domba Allah/anak-anak Tuhan membutuhkan
makanan yang dapat dimakan, yang bergizi, menyehatkan, enak, dan
praktis untuk diterapkan.
3. Pencobaan Rasul Paulus sebagai seorang ahli filsafat untuk mengajar
secara "hebat" sangat besar, tetapi ia memilih bahasa yang dianggap
"kebodohan" oleh dunia tetapi yang memiliki kuasa, karena firman
Allah saja yang diberitakannya. Memang dunia dewasa ini minta
"bahasa hikmat", tetapi panggilan hamba Tuhan adalah: bukan
menggunakan kata- kata hikmat tetapi kata-kata yang memiliki
kekuatan Roh (1 Kor. 2) Untuk itu, perlu ada kesetian pada firman
Allah saja! Kewajiban hamba Tuhan bukanlah memberikan impresi,
melainkan REVELASI dan REGENERASI. Di samping itu, perlu juga
MAKANAN DAGING YANG KERAS, yaitu doktrin- doktrin yang mendalam,
yang tegas, yang berani kita ajarkan, agar sebagaimana tulang
belulang memberi bentuk kepada tubuh seseorang, demikianlah kita
dapat memberi bentuk kepada gereja dan anak-anak Tuhan.
4. Kedudukan yang tinggi yang tidak dapat digantikan orang lain,
memang menjamin keberadaan kita, "dibutuhkannya" kita dalam gereja.
Tetapi Tuhan Yesus "membutuhkan" dua belas murid. Musa membutuhkan
wakil-wakilnya, para penatua. Para Rasul membutuhkan juga penatua-
penatua. Memang aristokrasi gereja tidaklah sesuai dengan pola
Tuhan Yesus dalam pendirian gereja-Nya. Hal ini ditekankan melalui
gambaran fungsi seluruh anggota tubuh yang bergantung satu pada
yang lain untuk kemudian bekerja sama-sama. Oleh sebab itu, sesuai
panggilan-Nya (Ef. 4:11-12), kita wajib MELENGKAPI, MENDIDIK,
MEMBEKALI, serta MELIBATKAN sebanyak mungkin anak-anak Tuhan dalam
pelayanan, pemerintahan. Bahaya senantiasa mengancam hamba-hamba
Tuhan, yang pada suatu saat ingin menguasai segala sesuatu, tetapi
pada lain saat "melepaskan" semua kepada anak-anak Tuhan tanpa
pengarahan, pembekalan, dan pendidikan. Akibatnya anak-anak
Tuhan/para pengerja gereja, masing-masing berbuat apa yang benar di
matanya sendiri, ini adalah merupakan pengulangan gejala pada zaman
Hakim-Hakim.
5. Masih dalam rangka pendidikan, Rasul Paulus suka menasihati
jemaatnya, agar mereka mengikuti teladan hidupnya. Menurut
pengamatan saya, salah satu kegagalan pendidikan hamba Tuhan dewasa
ini adalah: kita tidak dapat memberikan teladan hidup kepada jemaat
kita. Sebagai contoh: Persoalan "hari Sabat". Kita selaku hamba
Tuhan dengan keras dan tegas menuntut jemaat kita memegang teguh
hari Sabat tersebut misalnya dengan menutup toko, berhenti bekerja.
Tetapi bagaimana dengan pekerjaan kita sendiri selaku hamba Tuhan?
Apakah peraturan Sabat tidak berlaku bagi seorang hamba Tuhan?
Benarkah kalau hari Sabat, yaitu sehari berhenti setelah bekerja 6
hari, dilaksanakan sebentar pada hari ini, sebentar pada hari lain
oleh seorang hamba Tuhan? Apakah salah kalau jemaat meniru teladan
hamba Tuhan tadi? Harus diakui bahwa kegagalan banyak hamba Tuhan
untuk melaksanakan hari Sabat adalah tidak diperolehnya izin dari
majelis/pengurus gereja. Tetapi apakah kegagalan mendapat izin ini
tidak terletak pada diri kita sendiri yang gagal mendidik, gagal
bekerja sungguh-sungguh selama 6 hari?! Teladan lain adalah
berbaktinya keluarga hamba Tuhan terutama kalau anak-anak masih
kecil -- belum sekolah -- apakah perlu ke kebaktian anak-anak? Dan
kalau sudah bertumbuh, perlukah mereka semua terlibat dalam
pelayanan juga? Salahkah suami istri untuk bertugas bersama-sama
keluar kota memenuhi undangan pelayanan? Salahkah kalau seminggu
sekali seluruh keluarga -- hamba Tuhan, istri dan anak-anak --
pergi bersama-sama untuk rileks? Sampai di manakah di dalam
pendidikan jemaat kita, kita membenarkan suami, karena
kesibukannya, tidak perlu mendampingi keluarganya pergi? Pernah
seorang penulis buku yang alkitabiah mengemukakan bahwa panggilan
hamba Tuhan adalah:
a. melayani Tuhan pertama-tama,
b. melayani keluarganya sebagai yang kedua, dan
c. melayani jemaat/gereja sebagai yang ketiga.
Sebagai penutup, perkenankan kami untuk mohon maaf, seandainya melalui
artikel ini, saya mungkin telah menyinggung teman-teman sejawat saya,
karena melalui artikel ini, saya tidak ingin menggurui, sebaliknya
ingin sharing observasi, sharing beban, sharing pandangan untuk
mendapatkan pandangan, pendapat, nasihat, serta bimbingan dari teman-
teman sejawat, karena bukankah kita sama-sama pelayan-Nya yang
ditugaskan untuk membangun gereja-Nya, memelihara domba-domba-Nya.
Kita wajib melaksanakan kewajiban/panggilan kita tadi dengan sebaik-
baiknya.
Catatan: Pdt. D.S. Hananiel lahir di Surabaya. Pada tahun 1934 hijrah
dan menetap di kota Malang. Karena mengalami berbagai zaman, maka
pendidikan beliau sangat bervariasi: pendidikan Belanda, Tionghoa,
Jepang, Indonesia, dan Inggris. Selama 24 tahun terdidik dan mengabdi
kepada Khong Hu Cu, Kwan Im, dan Kong Co di Kelenteng Malang. Oleh
sebab itu, beliau pada dasarnya adalah anti-Kristus. Pertobatan beliau
dimulai dari penyelidikan Kitab Suci yang tujuan semulanya adalah
untuk mencari kelemahan dan kesalahan kekristenan. Setelah menjadi
anak Tuhan, beliau menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Dan pada
tahun 1960, beliau melayani sebagai penginjil, kemudian pada tahun
1969 ditahbiskan menjadi pendeta. Saat ini melayani Gereja Eleos
Malang, juga selaku dosen dan penanggung jawab kerohanian (Kristen) di
kampus Universitas Brawijaya Malang.
======================================================================
Diambil dari:
Nama majalah: Pelita Zaman (edisi no. 2 tahun 1987)
Penulis: Pdt. D.S. Hananiel
Penerbit: Pelita Zaman, Surabaya 1987
Halaman: 45 -- 48
|