Dear e-Reformed Netters,
Jika harus menjawab dengan jujur, saat Anda ditanya: "Apakah Anda
suka dikritik?" sebagian besar dari Anda pasti menjawab "tidak".
Sebagian kecil dari Anda mungkin akan menjawab: "Lihat-lihat dulu apa
kritikannya, kalau kritikan itu tidak menyakitkan dan tidak membuat
telinga saya merah, bolehlah." Jadi, pada dasarnya orang tidak suka
dikritik karena ia takut disakiti atau diusik dari zona nyamannya.
Cuplikan kecil dari buku yang berjudul "Our Sufficiency in Christ",
yang saya kirimkan berikut ini, penuh dengan kritikan, khususnya bagi
para pendeta. Jadi, kalau Anda orang yang tidak suka dikritik, lebih
baik jangan membaca artikel di bawah ini. Karena, kalau Anda
membacanya dengan serius, saya yakin Anda akan gelisah dan mulai
mencari kambing hitam, atau Anda harus mulai berpikir untuk melakukan
suatu perubahan yang mendasar.
Salah satu contohnya adalah kritikan John MacArthur, Jr., si penulis
artikel, terhadap gereja-gereja yang tidak memberikan pengajaran
firman Tuhan dengan kuat, tapi memilih menggunakan cara-cara sekuler
untuk menumbuhkan gerejanya, misalnya -- yang terlintas di benak
saya -- gereja mulai mengundang para selebriti; mengubah ibadah
dengan musik-musik masa kini yang lebih memberi hiburan rohani;
memberikan pelayanan untuk memuaskan kenyamanan jemaat; memakai
strategi pemasaran masa kini untuk menarik lebih banyak orang datang
ke gereja, dan lain sebagainya.
Menurut penulis, dasar gereja adalah Kristus, karena itu gereja harus
berpangkal utama pada pengajaran Kristus, yaitu firman yang menjadi
daging, karena itu "mereka yang membangun gereja menurut dasar yang
lain berarti sedang mendirikan sebuah struktur bangunan yang tidak
akan diterima oleh sang Arsitek Agung".
Dan untuk pendeta-pendeta yang lebih suka membaca buku-buku manajemen
sekuler daripada belajar firman Tuhan, John MacArthur, Jr. berkata,
"... jika ia mempelajari buku-buku itu karena ia berpikir ia akan
menemukan rahasia besar yang sangat diperlukan, yang firman Tuhan
tidak ungkapkan tentang bagaimana menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit
atau bagaimana memimpin gereja, maka pengetahuannya tentang kecukupan
Alkitab sangatlah buruk. Jika ia mendasarkan pelayanannya pada teori-
teori sekuler, ia mungkin akan merancang sebuah sistem penginjilan,
konseling, dan kepemimpinan gereja yang tidak alkitabiah."
Nah, jika Anda suka dengan kritikan-kritikan seperti itu, selamat
membacanya.
In Christ,
Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org >
< http://reformed.sabda.org/ >
< yulia(at)in-christ.net >
======================================================================
DOKTRIN KECUKUPAN ALKITAB
Suatu ketika di sebuah konferensi pendeta, seorang rekan pendeta
bertanya kepada saya, "Apa sebenarnya yang menjadi rahasia kekuatan
dan pertumbuhan gereja yang Anda gembalakan, yaitu Grace Community
Church?"
"Rahasia pertumbuhan gereja adalah memberikan pengajaran firman Tuhan
yang jelas dan kuat kepada jemaat," jawab saya.
Tapi saya sangat terkejut ketika dia membalas, "Jangan main-main!
Saya sudah mencobanya dan tidak berhasil. Katakan pada saya yang
sebenarnya, apa rahasianya?"
Saya cukup mengenal rekan pendeta itu dan saya berani berkata bahwa
jika Anda bertanya kepadanya apakah ia percaya pada doktrin kecukupan
Alkitab (sufficiency of Scripture), maka ia akan menjawab ya. Namun,
apa yang ia akui untuk dipercaya tidak sejalan dengan filosofi
pelayanannya. Ia beranggapan bahwa untuk membangun gereja yang
efektif, diperlukan trik-trik tertentu, sebuah strategi yang berdaya
cipta, atau sebuah metodologi yang lebih "up-to-date". Ia mencoba
menambah ketidakcukupan firman Tuhan yang ia bayangkan. Mungkin tanpa
menyadarinya, ia telah menyimpulkan bahwa Alkitab saja tidaklah cukup
untuk menjadi sumber dalam pelayanan, dan ia mencari sesuatu yang
lain untuk menutupi ketidakcukupan itu.
Pemimpin Kristen lain dikutip pernah mengatakan bahwa ia yakin tidak
akan pernah ada kebangunan rohani di Amerika kalau kita tidak
memiliki orang-orang Kristen di Kongres Amerika. Ia akhirnya
meninggalkan kependetaannya dan sekarang bekerja untuk mengusahakan
orang-orang Kristen terpilih menjadi anggota Kongres. Ia beranggapan
bahwa ia dapat mencapai keberhasilan melalui politik lebih daripada
yang bisa ia capai melalui mengajarkan firman Tuhan. Ia mungkin
berani mempertaruhkan hidupnya bagi kebenaran firman, namun karena
satu dan lain hal, ia tidak percaya bahwa mengajarkan firman Tuhan
saja kepada jemaat dapat memberikan pengaruh sebesar melakukan aksi
politik.
Dapatkah politik mencapai keberhasilan rohani yang tidak dapat
dicapai oleh Alkitab? Pada zaman Nehemia, adalah firman Tuhan yang
mendorong kebangunan rohani bagi bangsa Israel (Nehemia 8). Apakah
firman Tuhan kini kurang efektif dibanding dulu? Jelas bahwa rekan
saya tadi secara verbal menegaskan otoritas, potensi, dan kecukupan
Alkitab. Tapi pada praktiknya, ia telah menyerah pada pencipta tren
yang merasa bahwa kita membutuhkan sesuatu yang lebih.
Saya lihat tren yang sama semakin banyak memengaruhi gereja, bahkan
yang sudah solid. Pendeta beralih mencari pertolongan pada buku-buku
teori manajemen sekuler. Mereka justru memandang CEO non-Kristen
sebuah perusahaan multinasional sebagai teladan -- seolah-olah model
bisnis sekuler memberikan panduan yang lebih penting untuk membangun
Kerajaan Allah daripada firman Tuhan. Tapi ingat, dunia bisnis telah
dikuasai untuk mencari "image" dan keuntungan, bukan kebenaran.
Sayangnya, gereja sudah menyerap prioritas yang salah itu. Para
pemimpin Kristen sepertinya terobsesi untuk meningkatkan pertumbuhan
gereja dengan akal manusia. Sering kali, mereka lebih familiar dengan
teori manajemen yang sekarang ada daripada teologi alkitabiah.
Padahal, firman Tuhan berkata bahwa Tuhanlah yang menambah jemaat
gereja (Kis. 2:47), bukan manusia. Kristus mengatakan bahwa Ia akan
membangun gereja-Nya (Mat. 16:18). Alat yang benar untuk
mengembangkan gereja semuanya bersifat supernatural, karena gereja
itu supernatural. Mengapa kita harus memakai metodologi manusiawi
untuk apa yang Tuhan lakukan bagi pembangunan Gereja-Nya?
Saya yakin bahwa orang-orang Kristen yang mencari sumber di luar
firman Tuhan untuk strategi pelayanan pasti pada akhirnya, secara
tidak sadar, bertentangan dengan pekerjaan Kristus. Kita tidak perlu
mencari hikmat dunia yang busuk untuk memberikan pencerahan atau
jawaban baru bagi masalah-masalah spiritual. Jawaban yang paling
dapat dipercaya bagi kita ada di Alkitab. Hal itu benar, tidak hanya
dalam bidang konseling saja, namun juga dalam bidang-bidang lain,
seperti penginjilan, pertumbuhan rohani, kepemimpinan gereja, dan
bidang- bidang lain yang harus dipahami oleh orang Kristen untuk
dapat melayani secara efektif. Injil adalah satu-satunya cetak
biru/rancangan yang sempurna untuk semua pelayanan yang sejati.
Mereka yang membangun gereja menurut dasar yang lain berarti sedang
mendirikan sebuah struktur bangunan yang tidak akan diterima oleh
sang Arsitek Agung.
APA LAGI YANG DAPAT DIKATAKAN?
Apakah berarti saya membuang segala sumber bantuan di luar Alkitab
sebagai sesuatu yang sama sekali tidak berguna? Apakah tidak ada
pencerahan yang bermanfaat yang bisa didapat dengan melihat
pengamatan para sosiolog dan psikolog? Apakah tidak ada prinsip
bermanfaat dari para ahli manajemen sekuler yang dapat dipelajari
oleh para pemimpin gereja? Apakah tidak ada teknik dari ahli
pengamatan empiris yang dapat pendeta terapkan secara sah bagi
pertumbuhan gereja? Apakah tidak ada yang dipelajari di luar Alkitab
yang dapat berguna bagi gereja?
Apakah berguna? Mungkin. Apakah harus? Tidak. Jika semua itu memang
diperlukan, pasti secara prinsip semua itu sudah ada dalam firman
Tuhan. Kalaupun tidak, Tuhan sudah menyediakan cukup untuk apa yang
kita butuhkan, yang tidak terpikirkan. Kecerdikan manusia terkadang
berseberangan dengan Kebenaran. Bahkan jam yang mati pun, bisa benar
dua kali dalam sehari. Namun, performa seperti itu sangat buruk untuk
dibandingkan dengan firman Tuhan. Firman Tuhan benar dalam segala
penyatan-Nya dan cukup bagi setiap kehidupan dan pertumbuhan gereja.
Tentu saja tidak salah jika seorang pendeta membaca buku-buku sekuler
tentang teori hubungan/relasi atau manajemen dan menerapkan saran
bermanfaat yang mungkin ia temukan dari buku-buku tersebut. Namun,
jika ia mempelajari buku-buku itu karena berpikir ia akan menemukan
rahasia besar yang sangat diperlukan, yang firman Tuhan tidak
ungkapkan tentang bagaimana menyembuhkan jiwa-jiwa yang sakit atau
bagaimana memimpin gereja, maka pengetahuannya tentang kecukupan
Alkitab sangatlah buruk. Jika ia mendasarkan pelayanannya pada teori-
teori sekuler, ia mungkin akan merancang sebuah sistem penginjilan,
konseling, dan kepemimpinan gereja yang tidak alkitabiah.
Demikian juga, seorang pendeta mungkin sah-sah saja mempelajari seni
berpidato untuk mengasah keterampilannya dalam berkhotbah; atau
pelayan gereja yang mempelajari teknik bernyanyi agar lebih
ekspresif. Orang-orang percaya dalam pelayanan tentu saja dapat
mengambil hal-hal yang bermanfaat dari cara pembelajaran seperti itu.
Namun, setiap pelayan Tuhan yang berpikir bahwa teknik-teknik itu
yang lebih baik dan dapat menambah kekuatan dari pesan Alkitab,
berarti ia memiliki pemahaman yang tidak cukup akan kecukupan
Alkitab.
Saya bertemu dengan seorang pria yang meninggalkan gereja di mana ia
melayani sebagai pemusik dan kemudian terjun dalam bisnis
pertunjukan. Ia berkata pada saya, "Saya belajar satu hal: Anda tidak
bisa hanya berdiri di sana dan mewartakan Injil. Anda harus memunyai
"platform". Anda harus mendapatkan respek dari banyak orang. Jika
saya bisa menjadi terkenal dan menggunakan status saya sebagai
bintang untuk mewartakan Injil, bayangkan betapa lebih berkuasanya
pesan yang akan saya sampaikan!"
Tanggapan saya adalah pesan itu tidak dapat lebih berkuasa dari apa
yang sudah ada di dalamnya, dan kekuatan orang yang mempresentasikan
tidak ada hubungannya dengan menjadi selebriti. Firman Tuhan adalah
"kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (Rom.
1:16). Apa maksud perkataan orang yang ingin menjadi selebritis itu?
Apakah ia percaya bahwa Injil itu lemah sebelum kita membubuhinya
dengan kredibilitas; apakah kita harus melakukannya melalui
popularitas dan bukan melalui kebajikan; melalui teknik, bukan
melalui kuasa Roh Allah?
Bagaimana gereja mula-mula dapat berfungsi tanpa "keahlian" yang kita
miliki kini? Kenyataannya justru orang-orang Kristen pada waktu
itulah yang mengguncangkan dunia (Kis. 17:6), dan mereka melakukan
itu tanpa kesaksian selebriti, tanpa teknik modern manajemen, tanpa
psikoterapi, tanpa media massa, dan tanpa sebagian besar alat yang
dipandang gereja kontemporer sebagai alat yang penting. Yang mereka
miliki adalah firman Tuhan dan kuasa Roh Kudus, namun mereka tahu
bahwa semua itu sudah cukup.
Bagaimana gereja yang murni, sederhana, dan saleh di negeri Tirai
Besi bisa sangat berkuasa sepanjang abad ini tanpa strategi pemasaran
orang Barat?
Saya khawatir gereja-gereja dan para pemimpin Kristen di dunia Barat
yang berpegang teguh pada kecukupan Alkitab tidak akan banyak lagi.
J. I. Packer melihat tren ini bertahun-tahun yang lalu dan menulis,
Pengamat di luar gereja melihat kita berjalan sempoyongan dari satu
tipu muslihat ke tipu mulihat yang lain, dari tantangan satu ke
tantangan yang lain, seperti orang mabuk di tengah kabut, tidak tahu
ada di mana dan jalan mana yang harus dilalui. Khotbah semakin kabur;
para pemimpin kacau balau; hati resah; keraguan semakin kuat;
ketidakpastian melumpuhkan tindakan .... Tidak seperti orang Kristen
mula-mula yang dalam 3 abad memenangkan dunia Romawi; orang-orang
Kristen yang memelopori Reformasi; kebangkitan Puritan dan kebangunan
gerakan Injili; serta gerakan misi besar pada abad terakhir."
Gereja menjadi kurang yakin karena gereja memandang Alkitab dengan
cara yang tidak benar. Banyak orang Kristen jelas-jelas tidak lagi
percaya bahwa Alkitab adalah buku panduan yang cukup untuk hidup dan
kelanjutan gereja.
APA YANG PENULIS ILAHI KATAKAN
Untuk melawan tren itu, kita harus memahami apa yang Tuhan sudah
nyatakan tentang kecukupan mutlak Alkitab dan membiarkan-Nya
menentukan falsafah pelayanan kita. Tidak ada yang dapat menyangkal
posisi Allah sebagai Pemerintah tertinggi dalam hidup dan pelayanan
kita.
Paulus menjelaskan kecukupan Alkitab yang lengkap dalam 2 Timotius
3:16, yang menunjukkan empat cara yang sudah Tuhan saksikan, bahwa
firman-Nya benar-benar cukup untuk setiap kebutuhan rohani:
ALKITAB MENGAJARKAN KEBENARAN
Yang pertama adalah Alkitab sangat bermanfaat untuk mengajar. Kata
Yunani yang diterjemahkan untuk "mengajar" (didaskalia) terutama
ditujukan lebih ke arah isi pengajaran, bukan proses mengajarnya.
Yakni, firman adalah panduan operasional kebenaran ilahi yang harus
memerintah hidup kita.
Setiap orang Kristen memiliki kapasitas spiritual untuk menerima dan
menanggapi Alkitab. Orang non-Kristen tidak memiliki kapasitas yang
cukup untuk menerima kebenaran alkitabiah: "Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu
baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab
hal itu hanya dapat dinilai secara rohani" (1 Kor. 2:14). Sebaliknya,
orang Kristen memiliki "pikiran Kristus" (ay. 6). Roh Kudus
memampukannya memahami firman Tuhan dengan ketajaman, hikmat, dan
pemahaman rohani. Tidak ada orang Kristen yang tidak memiliki
kemampuan itu; masing- masing memiliki Roh Kudus sebagai tempat
tinggal Guru kebenaran (1 Yoh. 2:27).
Dalam praktik, KEKUDUSAN KITA SEPADAN DENGAN PENGETAHUAN DAN
KONSEKUENSI KITA UNTUK TAAT PADA FIRMAN TUHAN. Pemazmur mengatakan,
"Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa
terhadap Engkau" (Maz. 119:11). Semakin lengkap pengetahuan kita
tentang Alkitab, semakin kita tidak mudah terkena godaan dosa dan
kesalahan. Dalam Hosea 4:6, Tuhan mengatakan, "Umat-Ku binasa karena
tidak mengenal Allah." Karena menolak pengetahuan yang sejati, mereka
tidak mampu hidup sesuai dengan yang Allah kehendaki. Hidup mereka
adalah wujud pengabaian firman Tuhan secara sengaja -- namun
pengabaian dan kepuasan diri memiliki efek destruktif yang sama.
Karena itu, cara terbaik untuk menghindari masalah rohani yang serius
adalah dengan beriman, bersabar, dan mempelajari Alkitab secara
menyeluruh dengan hati yang taat -- "sebab dengan demikian
perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yos. 1:7-8)
ALKITAB MENEGUR DOSA DAN KESALAHAN
Alkitab juga bermanfaat untuk menyatakan kesalahan (2 Tim. 3:16).
Alkitab menantang dan menegur perilaku dan pengajaran yang salah.
Menurut Uskup Agung Richard Trench, menyatakan kesalahan adalah
"menegur/menasihati seseorang dengan lengan teracung kepada
kebenaran, untuk membawanya -- walaupun tidak selalu kepada
pertobatan, namun setidaknya agar ia menyadari dosa-dosanya". Firman
memengaruhi kita saat kita mempelajarinya dan merasakan kuasa-Nya
yang menyadarkan kita. Juga akan menyadarkan orang lain saat kita
menunjukkan firman itu pada mereka.
Alkitab menjelaskan bahwa ada dua aspek pada teguran: teguran untuk
perilaku berdosa dan teguran untuk pengajaran yang salah. Paulus
meminta Timotius, yang mencoba membersihkan gereja di Efesus,
"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,
nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah ..." (2 Tim.
4:2). Tujuan utama dalam pemikirannya adalah teguran untuk perilaku
berdosa. Timotius harus berkhotbah dan menerapkan firman Allah
sehingga orang-orang akan berpaling dari dosa dan berjalan dalam
kekudusan -- meski akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi
menerima ajaran sehat (ay. 3).
Ibrani 4:12-13 juga menjelaskan mengenai teguran untuk perilaku
berdosa. Ayat 12 menggambarkan firman Tuhan sebagai pedang bermata
dua yang menusuk amat dalam untuk mengungkapkan dan menghakimi
pikiran dan motif yang paling dalam. Ayat 13 mengatakan, "Dan tidak
ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala
sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita
harus memberikan pertanggungan jawab." Tuhan masuk dalam hati kita
dengan firman-Nya dan membuka segala isi hati kita.
Bahasa Yunani untuk "telanjang" di ayat itu digunakan untuk seorang
kriminal yang digiring ke pengadilan atau eksekusi. Sering kali,
seorang prajurit akan mengacungkan sebuah belati di bawah dagu sang
kriminal agar kepalanya tetap tegak sehingga semua orang dapat
melihat siapa dia. Mirip dengan pengertian itu, Alkitab mengungkapkan
siapa kita sebenarnya dan memaksa kita menghadapi realitas dosa kita.
Mungkin Anda berkali-kali hanyut dalam kepuasan diri rohani dan
senang berada dalam dosa, dan menemukan firman Tuhan menusuk dalam di
hati Anda dengan pengakuan yang tak tertahankan. Itu adalah kuasa
teguran Alkitab, dan itu merupakan anugerah yang berharga.
CARA YANG BAIK UNTUK MEMASTIKAN BAHWA GEREJA TIDAK MENJADI TEMPAT
BERLINDUNG PARA PENDOSA ADALAH PENDETA HARUS MENGKHOTBAHKAN FIRMAN
TUHAN DENGAN PENUH IMAN DAN KETEPATAN. Dengan demikian, orang-orang
Kristen akan mengakui dosa-dosanya, dan orang yang tidak percaya akan
bertobat atau sebaliknya pergi meninggalkan gereja. Sedikit orang mau
memberi diri untuk ditegur oleh firman Tuhan dari minggu ke minggu
kecuali mereka merindukan kekudusan. Yesus mengatakan bahwa yang
berbuat jahat membenci terang dan tidak datang kepada terang itu,
sehingga perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak (Yoh.
3:20). CARA MEMBUAT ORANG YANG TIDAK PERCAYA DAN PARA PENDOSA MERASA
NYAMAN DI GEREJA ADALAH DENGAN MEMBERINYA KHOTBAH YANG HALUS, HAMBAR,
DAN DANGKAL. Hal itu akan memimpin mereka kepada kenyamanan palsu.
Mereka akan senang hadir, berpartisipasi, dan memiliki perasaan
religius dan diterima. Tapi hal itu menjadi kepalsuan yang
mencelakakan.
Alkitab, yang merupakan standar untuk menguji semua klaim kebenaran,
juga menegur pengajaran yang tidak benar. Rasul Yohanes mengungkapkan
kuasa firman sebagai kebenaran saat dia mengatakan bahwa orang-orang
percaya dapat mengatasi yang jahat karena "mereka kuat dan firman
Allah diam di dalam mereka" (1 Yoh. 2:14). Yang jahat, Iblis, bekerja
melalui agama palsu (2 Kor. 11:14), namun cara itu tidak mempan untuk
mereka yang kuat dalam firman. Itu sebabnya mengapa agama-agama palsu
berusaha untuk menjelek-jelekkan, mengubah, atau mengganti Alkitab
dengan tulisan mereka sendiri. Karena Alkitab menunjukkan kesalahan
mereka, mereka mengubah maknanya untuk membenarkan diri mereka
sendiri. Namun, mereka yang memutarbalikkan firman akan menjadi
binasa (2 Pet. 3:16).
Orang Kristen yang memiliki pengertian yang cermat tentang kebenaran
alkitabiah bukanlah seperti bayi yang tidak mampu berpikir dengan
tajam. Mereka seperti anak-anak muda yang kuat, yang dapat dengan
mudah mengenali pengajaran palsu dan tidak menjadi "anak-anak, yang
diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan
palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef. 4:14).
ALKITAB MENGOREKSI TINGKAH LAKU
Firman juga bermanfaat untuk memperbaiki kelakuan (2 Tim. 3:16).
Firman tidak hanya menyatakan perilaku yang berdosa dan pengajaran
yang salah, namun juga memperbaikinya. Bahasa Yunani dari perbaikan
(epanorthosis) secara literal berarti "meluruskan" atau "mengangkat".
Dengan kata lain, firman mengembalikan kita pada postur kerohanian
yang benar.
Saya yakin Anda juga sering mengalami hal ini, bukan? Firman akan
menusuk hati dan membawa kita kepada pengakuan, namun kemudian
memberikan petunjuk sehingga kita dapat memperbaiki dosa. Firman
tidak membiarkan kita kandas secara rohani. Saat kita mengizinkan
firman untuk dengan segala kekayaannya tinggal dalam hati kita (Kol.
3:16), firman membangun kita (Kis. 20:32) dan mengubah kelemahan kita
menjadi kekuatan.
Ada aspek yang memurnikan dan membersihkan dalam kuasa perbaikan yang
Alkitab miliki. Yesus mengatakan, "Kamu memang sudah bersih karena
firman yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh. 15:3). Tidak ada metode
terapi buatan manusia yang memahami atau program anjuran para ahli
sekuler yang memiliki efek memurnikan dan membersihkan seperti itu.
Namun, setiap orang Kristen sudah mengalaminya. Ini adalah satu lagi
contoh kecukupan sempurna sumber-sumber yang kita miliki dalam
Kristus.
ALKITAB MENDIDIK ORANG DALAM KEBENARAN
Mendidik dalam kebenaran (2. Tim. 3:16) adalah proses lain di mana
firman Tuhan mentransformasi pemikiran dan tingkah laku kita.
Bahasa Yunani untuk mendidik (training) adalah "paidion", yang di
tempat lain dalam Alkitab diterjemahkan sebagai "anak" atau "anak-
anak" (contoh, lihat Matius 2:8; 14:21). Jadi, ayat ini menjelaskan
bahwa firman Tuhan mendidik orang-orang percaya seperti orang tua
atau guru mendidik anak. Dari bayi rohani sampai dewasa rohani,
Alkitab melatih dan mendidik orang-orang percaya dalam hidup yang
ilahi.
Alkitab adalah nutrisi rohani orang-orang Kristen. Dalam 1 Timotius
4:6, Paulus memberi instruksi kepada Timotius untuk menjadi "terdidik
dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat". Dalam Matius
4:4, Yesus mengatakan, "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi
dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Petrus berkata
bahwa kita harus merindukan nutrisi firman Allah sama seperti bayi
yang selalu menginginkan air susu (1 Pet. 2:2).
Yakobus 1:21 mengatakan, "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang
kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah
lembut Firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa
menyelamatkan jiwamu." Terimalah firman Tuhan dengan hati yang murni
dan sikap rendah hati, itulah bagian kita. Saat kita melakukannya,
pemikiran, sikap, tindakan, dan kata-kata kita akan secara progresif
diperbaharui dan diubahkan. Firman mendidik kita dalam kebenaran.
Perenungan dan pembelajaran firman Tuhan secara saksama dan teratur
merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kesehatan dan kemenangan
rohani kita. Bahkan bagi mereka yang mengerti Alkitab dengan baik
harus terus disegarkan oleh kuasa-Nya dan diingatkan oleh kebenaran-
Nya. Itulah sebabnya mengapa Petrus mengatakan,
"Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya
itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam
kebenaran yang telah kamu terima. Aku menganggap sebagai kewajibanku
untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum
menanggalkan kemah tubuhku ini. Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera
menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan
kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi aku akan berusaha,
supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya
itu." (2 Pet. 1:12-15)
Saat Paulus akan meninggalkan Efesus, dia menuntut para tua-tua di
sana untuk tetap berpegang pada satu-satunya sumber kekuatan dan
kesehatan rohani: "Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan
kepada Firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan
menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang
yang telah dikuduskan-Nya." (Kis. 20:32)
Paulus memberikan perspektif yang sama seperti Petrus mengenai
pentingnya diingatkan secara terus-menerus tentang apa yang sudah
kita ketahui: "Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam
Tuhan. Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan
memberi kepastian kepadamu" (Fil. 3:1). Kita harus secara sistematis
menyegarkan diri kita tidak hanya dengan kebenaran baru, namun juga
dengan kebenaran lama yang telah kita kuasai. Penekanan yang kuat
pada firman Tuhan akan memastikan kita untuk menjadi "diperlengkapi
untuk setiap perbuatan baik" (2 Tim. 3:17). (t/Dian)
======================================================================
Diterjemahkan dari:
Judul buku: Our Sufficiency in Christ
Judul bab: Bible-Believing Doubters
Penulis: John MacArthur, Jr.
Penerbit: Word Publishing, Dallas-London-Vancouver-Melbourne 1991
Halaman: 118 -- 128
|