Dear e-Reformed Netters,
Untuk kesekian kalinya kita akan membahas tentang Bapak Reformator
yang sudah sangat kita kenal, yaitu Yohanes Calvin. Ia, bersama-sama
dengan Zwingli, Farel, dan Bucer yang mendahuluinya, memberi jasa
yang besar bagi perkembangan kekristenan di Indonesia. Anda mungkin
bertanya: "Kok bisa?"
Jika kita membaca sejarah gerakan Reformasi, maka kita akan melihat
bahwa selain di Swiss, salah satu pusat gerakannya adalah di Belanda.
Semenjak abad ke-17, para misionaris Belanda, termasuk yang dikirim
ke Indonesia, telah memperkenalkan Protestanisme. Diperkirakan ada 65
hingga 200 ribu jiwa yang menjadi percaya pada 1815 di bawah gereja
Reformasi yang diakui pemerintah Belanda saat itu, yaitu Gereja
Protestan Hindia Timur. Pada 1914, ada kira-kira setengah juta orang
yang telah dibaptis di wilayah jajahan Hindia Belanda. Gerakan misi-
misi Kristen ini memasuki wilayah-wilayah Indonesia yang terpencil
dan mereka melayani melalui sekolah-sekolah dan balai-balai
pengobatan. Mereka juga terlibat dalam memperkenalkan bahasa-bahasa
daerah yang belum pernah mengenal sistem tulisan sebelumnya dengan
menerbitkan bahasa cetak mereka yang pertama dalam buku-buku,
terutama Alkitab dan buku-buku Kristen. Secara tidak langsung, hal-
hal yang disebutkan di atas ini menjadi hasil dari buah karya gerakan
Reformasi Calvin bagi gereja dan masyarakat Kristen Indonesia secara
luas.
Kembali ke Eropa, hingga saat ini, kita masih bisa melihat dampak
teologi Reformasi dengan melihat kota Jenewa pada khususnya dan
negara Swiss pada umumnya. Negara ini terkenal sebagai wilayah yang
paling rendah tingkat kriminalitasnya dan paling tinggi taraf hidup
masyarakatnya. Mengapa dampak teologi Reformasi ini bisa sedemikian
luas dan kuat? Silakan membaca artikel di bawah ini dan Anda akan
memahami jawabannya.
In Christ,
Redaksi Tamu e-Reformed,
Kusuma Negara
http://reformed.sabda.org/
----------------------------------------------------------------------
ARSITEK TEOLOGI REFORMASI: JOHN CALVIN
Apabila Luther adalah prajurit yang meluncurkan tembakan pembukaan
Reformasi, maka Calvin adalah pakar utama yang mengonsolidasikan
hasil-hasil kemajuan Protestan. Ia berusaha mereformasi bukan hanya
doktrin dan organisasi gereja, seperti yang dilakukan oleh Luther,
tetapi juga tatanan sosial-politik sesuai dengan firman Allah. Lahir
di Noyon, Perancis, pada tahun 1509, 8 tahun sebelum Luther memakukan
95 tesisnya di pintu gereja di Wittenberg, Calvin adalah tokoh
Reformasi generasi kedua. Ia belajar di beberapa sekolah untuk
mendapat pendidikan humanisme.
Setelah ayahnya meninggal, ia meninggalkan studi hukumnya dan beralih
ke teologi. Seperti Luther, ia mengalami pertobatan yang dramatis,
namun ia tidak digerakkan oleh rasa bersalah dan rasa takut yang
mencekam seperti rekan Jermannya itu. Ketika penganiayaan hebat pecah
menimpa para tokoh Reformasi Protestan, Calvin berpindah-pindah untuk
seketika lamanya di Perancis dengan beberapa nama samaran, dan
kemudian menetap di Basel, Swiss, di mana ia mulai menulis bukunya,
Institutes of the Christian Religion.
Di antara banyak kontribusi yang diberikan oleh Calvin bagi
Reformasi, buku ini yang paling bertahan. Menjelang penerbitan edisi
terakhirnya tahun 1559, buku ini telah bertumbuh dari eksposisi
ringan doktrin Kristen (enam bab) menjadi karya teologi Reformasi
yang paling signifikan. Mula-mula buku ini adalah suatu diskusi
tentang Sepuluh Perintah Allah, Pengakuan Iman Rasuli, dan Doa Bapa
Kami. Dalam bentuk finalnya yang terdiri dari delapan puluh bab, buku
ini diorganisasi menjadi empat buku yang terdiri dari pokok bahasan
tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, dan gereja.
Pada tahun 1536, Calvin dengan enggan menyetujui untuk membantu
William Farel, yang mengancam dia dengan hukuman ilahi apabila ia
tidak mau bergabung dengan usaha Reformasi di Jenewa. Calvin dan
Farel mencoba untuk menjadikan kota itu sebagai satu model komunitas
Kristen dengan menegakkan hukum moralitas yang tinggi.
Tetapi orang-orang Jenewa yang liberal menghalangi usaha-usaha
reformasi itu. Setelah diusir oleh kota itu, Calvin kemudian pergi ke
Strassbourg di mana ia menggembalakan sebuah gereja dari para
pengungsi Protestan Perancis selama 3 tahun. Itu adalah tahun-tahun
kehidupannya yang paling bahagia. Ia mendapatkan seorang istri,
menulis sebuah liturgi Protestan untuk menggantikan aturan ibadah
Katolik, bekerja bersama para tokoh Reformasi Jerman untuk
mempersatukan kembali gereja, dan mulai menulis tafsiran-tafsirannya,
yang akhirnya meliputi 49 kitab Alkitab.
Kemudian Jenewa memanggilnya kembali. Melalui aklamasi publik, Calvin
kembali pada tahun 1541 karena para penerusnya gagal dalam
kepemimpinan mereka. Di bawah bimbingan Calvin, Jenewa menjadi sentra
internasional gerakan Reformasi. Pandangan-pandangan teologis,
sosial, dan politiknya dikagumi di banyak negara ketika para
pengungsi Protestan dari seluruh Eropa berkumpul di Jenewa di mana
mereka mendirikan gereja-gereja lokal mereka sendiri. Calvin menjadi
satu- satunya tokoh Reformasi internasional melalui korespondensi
yang luas dengan para pengungsi ini ketika mereka kembali ke negeri
mereka masing-masing sebagai misionaris-misionaris bagi
Protestanisme.
Teologi Calvin: Kedaulatan Allah
Ide-ide Calvin, seperti juga ide-ide Luther, pada dasarnya
menghidupkan kembali Augustinianisme. Prinsip fundamental yang
mengisi setiap bab Institutes-nya adalah pandangannya tentang Allah
sebagai Raja yang berdaulat atas segala ciptaan. Kedaulatan Allah
bukanlah suatu ide yang abstrak dan spekulatif, tetapi merupakan
suatu prinsip yang dinamis, suatu realitas yang menginformasikan
kehidupan yang konkret, yang membentuk diskusi Calvin tentang setiap
doktrin. Calvin berkeinginan bahwa pengenalan orang-orang percaya
akan Allah "lebih berisi pengalaman hidup daripada spekulasi yang
melayang tinggi dan sia-sia" (Institutes 1. 10. 2).
Dari semua atribut Allah, yang paling penting untuk dialami secara
pribadi adalah providensi-Nya karena atribut ini paling konkret
menunjukkan kedaulatan-Nya. Providensi Allah tak dapat dipisahkan
dari karya-Nya sebagai Pencipta. Tetapi jika Allah hanya sekadar
Pencipta, Ia tidak akan berhubungan dengan ciptaan itu, sama seperti
seorang pembuat jam yang tidak lagi terlibat dengan beroperasinya
sebuah jam setelah ia membuatnya. Sebab itu, Calvin memandang
providensi pemeliharaan Allah meliputi seluruh tatanan ciptaan. "Ia
menopang, memberi makan, dan memerhatikan segala sesuatu yang telah
dijadikan- Nya, bahkan burung pipit yang tak berarti sekalipun"
(Institutes 1. 16. 1). Rencana rahasia Allah mengatur segala
eksistensi, dari benda- benda yang tak berjiwa sampai kehidupan
binatang dan juga manusia. Kehendak Allah yang tak terselidiki akan
mengarahkan segala sesuatu. Implikasi-implikasi pandangan tentang
Allah ini jelas sangat luas. Calvin bersikeras bahwa pandangannya
tidak memimpin ke dalam fatalisme atau menolak tanggung jawab
manusia. Berulang-ulang, ia menegaskan bahwa perhatian utamanya
adalah menerangkan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang pokok yang
sukar ini. Allah tidak berlaku seperti tuan tanah yang tidak ada di
tempat. Ia secara akrab melibatkan diri dengan ciptaan. Calvin
mengutip beberapa nas dari Perjanjian Lama maupun Baru untuk
mendukung kendali Allah yang menyeluruh atas apa yang telah
dijadikan-Nya. Sementara menegaskan providensi Allah, ia menolak
gagasan tentang nasib, kebetulan, dan keberuntungan serta
menganggapnya sebagai "temuan-temuan kafir".
Sebab itu, sejak awal Calvin membicarakan doktrin tentang Allah
sebagai Pencipta dan Pemelihara, bukan sebagai Penyebab pertama atau
Penggerak yang tidak digerakkan, yang abstrak dan impersonal.
Termasuk dalam gagasan tentang Allah sebagai Pencipta adalah bahwa
Allah berpribadi dan bahwa Ia berkehendak dan mengatur apa yang telah
dijadikan-Nya. Tidak seperti pandangan Aquinas, ide Calvin tentang
Allah yang berpribadi tidak ditambahkan setelah ia terlebih dahulu
membuktikan eksistensi-Nya (seperti yang dilakukan oleh Aquinas
ketika mengadaptasi bukti-bukti rasional Aristoteles tentang suatu
Penggerak yang tidak digerakkan atau Penyebab pertama). Calvin
menolak dan menganggap tidak alkitabiah segala ide tentang Allah
sebagai sekadar Penggerak pertama yang mengawali "suatu gerakan
universal tertentu, menggerakkan seluruh mesin dunia dan masing-
masing bagiannya" (Institutes 1. 16. 1). Allah itu berpribadi dan
secara aktif berpartisipasi dalam ciptaan.
Dengan demikian, Calvin membicarakan providensi Allah tidak sekadar
untuk isi intelektual dari providensi tersebut, tetapi untuk nilai
religius praktis yang luar biasa besarnya bagi orang beriman.
Kepercayaan pada providensi Allah memberi penghiburan besar kepada
orang beriman bahwa segala kehidupan berada di bawah kendali Bapa
surgawi yang penuh kasih. Pada saat yang sama, kepercayaan ini
memberi suatu rasa takjub dan takut yang sepantasnya terhadap Allah,
karena dalam rencana-Nya, Allah juga menyatakan kepada orang-orang
Kristen tanggung jawab mereka untuk menemukan dan menggenapi
kehendak-Nya. Berusaha mempertemukan kedaulatan Allah dengan tanggung
jawab manusia, Calvin menegaskan penundukkan pada kehendak Allah dan
mengakui serta menerima bagaimana Allah memakai keadaan-keadaan
sekitar untuk mengajar kita taat pada firman-Nya.
Hati orang Kristen, karena ia telah diyakinkan bahwa segala sesuatu
terjadi oleh rencana Allah, dan bahwa tidak ada suatu apa pun yang
terjadi secara kebetulan, akan selalu melihat kepada-Nya sebagai
Penyebab utama dari segala hal, tetapi juga akan memberi perhatian
pada penyebab-penyebab kedua di tempat mereka yang sepantasnya ....
Sejauh menyangkut manusia, apakah ia baik atau jahat, hati orang
Kristen akan mengetahui bahwa segala rencana, kehendak, usaha, dan
kemampuan manusia berada dalam tangan Allah; bahwa itu berada dalam
pilihan-Nya untuk mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya atau
mengekangnya kapan pun Ia menghendakinya (Institutes 1. 17. 6).
Orang-orang Kristen tidak hanya mengerti dan mengalami providensi
Allah melalui iman, tetapi juga menyerahkan kehendak mereka pada
kedaulatan Allah untuk menaati perintah-perintah-Nya. Kaum Calvinis
dilegakan dari kecemasan yang menulahi orang-orang tak percaya yang
tidak menyadari maksud dan rencana Allah yang sedang dikerjakan dalam
kehidupan sehari-hari. Meskipun menjalankan tanggung jawab mereka
sendiri untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari menurut prinsip-
prinsip alkitabiah, kaum Calvinis mengakui dan menerima dengan iman
yang sederhana bahwa apa pun yang terjadi berada di bawah
pemeliharaan providensia Allah.
Antropologi Calvin: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan
Karena Allah adalah Raja yang berdaulat yang memerintah atas ciptaan-
Nya, maka segala sesuatu yang diciptakan-Nya, termasuk manusia, harus
melayani dan memuliakan Dia. Moto Calvin menjelaskan tugas kita:
"Hatiku kupersembahkan kepada-Mu, O Tuhan, siap dan tulus."
Karena manusia telah berdosa, mereka tidak hidup sesuai maksud asali
mereka. Seperti Luther, Augustinus, dan Paulus, Calvin dengan tajam
mempertentangkan kemuliaan dan ketulusan asali manusia sebagai gambar
Allah dengan kerusakan dan kefasikannya setelah kejatuhan.
Alkitab melukiskan manusia yang telah jatuh sebagai manusia yang
tidak memunyai kebaikan dan kekuatan. Tidak ada perbuatan manusia
yang tak ternodai oleh kerusakan yang diakibatkan oleh kejatuhan itu.
Meskipun gambar ilahi tidak sama sekali rusak, tetapi gambar ini
telah mengalami distorsi yang luar biasa. Dihukum karena dosanya
dengan diambil hikmat dan kebenarannya, Adam menunjukkan kebodohan,
kesia- siaan, dan kefasikan. Adam yang telah jatuh ini menurunkan
pembawaan- pembawaan ini kepada keturunannya dalam kesalahan dan
kerusakan yang disebut sebagai "dosa asal". Dosa asal bukan hanya
kerusakan yang diwariskan, tetapi juga, menurut Calvin, merupakan
kesalahan yang diimputasikan, suatu putusan hukum yang dikenakan oleh
Allah seperti dalam sidang pengadilan. Mengulangi pengajaran Paulus
dalam Roma 5, Calvin mengajarkan bahwa Adam berdosa bukan sekadar
bagi dirinya, tetapi sebagai seorang wakil federal bagi seluruh umat
manusia, sama seperti Kristus, "Adam Kedua", yang mati sebagai wakil
bagi dosa manusia.
Kerusakan yang kita warisi berarti bahwa setiap kehendak individual
diperbudak oleh dosa, dan kita sama sekali tidak dapat melakukan yang
baik. Manusia yang jatuh tidak memunyai kehendak bebas moral. Karena
kehendak manusia dalam keadaan naturalnya, belum ditebus, adalah
hamba dosa, hanya orang-orang yang telah dibebaskan oleh anugerah
Allah-lah yang adalah agen-agen moral yang bebas. Tidak setuju dengan
banyak filsuf, Calvin bersikeras bahwa kehendak dan rasio manusia
begitu dilumpuhkan oleh dosa sehingga ia tidak dapat berfungsi
seperti yang dimaksudkan sejak asalnya, manusia tidak dapat berbuat
baik dan menyembah Allah. Calvin berpendapat bahwa, di antara semua
Bapa Gereja, hanya Augustinus yang mengenali cakupan sepenuhnya dari
kerusakan manusia. Dosa begitu merusakkan natur manusia sehingga
manusia dalam keberadaan totalnya (akal, kehendak, afeksi, dsb.)
dapat melakukan yang baik yang diwajibkan Allah baginya hanya melalui
anugerah Allah saja.
Pandangan Calvin tentang keselamatan adalah bahwa dalam kasih dan
ketaatan dan sebagai pengganti, Kristus telah membayar hukuman bagi
dosa di Kalvari untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih
Allah untuk diselamatkan. Dalam penebusan, anugerah Allah
diimputasikan kepada (dianggap sebagai milik) orang-orang percaya,
bukan diinfusikan (dicurahkan) ke dalam diri orang-orang percaya.
Calvin menerangkan doktrin keselamatan dalam pembicaraannya tentang
karya Roh Kudus, yang menerapkan karya Kristus kepada orang percaya.
Roh menciptakan pertobatan dan iman dalam hati serta memperbarui
gambar Allah dalam orang-orang yang telah dipilih untuk ditebus itu.
Mengikuti Paulus dalam Efesus 2:8-9, Calvin menyatakan bahwa iman
adalah sarana yang melaluinya orang-orang percaya dipersatukan dengan
Allah, tetapi iman itu sendiri adalah suatu pemberian dari Allah.
Perbuatan baik mengikuti iman, tetapi tidak dapat menjadi dasar bagi
keselamatan. Dalam keselamatan, seperti dalam penciptaan dan penataan
dunia, tema Calvin yang berulang adalah kebergantungan manusia pada
kedaulatan Allah.
Calvin memakai istilah pemilihan untuk menerangkan bagaimana
kedaulatan Allah beroperasi dalam keselamatan. Hanya setelah memahami
kondisi keberdosaan manusia, kita dapat memahami keniscayaan adanya
pilihan. Orang-orang yang tidak menegaskan pemilihan oleh Allah,
menurut pendapat Calvin, cenderung kepada berbagai bentuk
Pelagianisme, yang mengajarkan bahwa manusia dapat mengusahakan
keselamatan mereka sendiri tanpa anugerah Allah atau memerlukan
anugerah untuk membantu mereka dalam usaha menyelamatkan diri
sendiri. Doktrin Calvin tentang pilihan atau predestinasi menentang
pandangan Renaisans tentang "homo mensura" (manusia adalah ukurannya)
dan gagasan abad pertengahan tentang anugerah kooperatif, yang
keduanya mendukung otonomi manusia.
Dalam menerangkan tentang doktrin pilihan, Calvin menegaskan hanya
ide-ide yang secara jelas diajarkan dalam Alkitab. Ia mencela setiap
teologi yang melampaui pengajaran eksplisit Alkitab sebagai pemikiran
spekulatif. Sebab itu, argumen pertamanya adalah bahwa Alkitab secara
gamblang mengajarkan tentang pemilihan melalui istilah-istilah
seperti memilih, mempredestinasi, dan lain-lain. Misalnya, dalam
Perjanjian Lama, Allah memilih Israel untuk menerima penyataan
khususnya dalam kovenan dengan Musa. Allah memilih Israel bukan
karena ada jasa atau ada kualitas tertentu yang dimiliki oleh orang-
orang Yahudi, tetapi hanya karena Ia berkehendak menunjukkan
anugerah-Nya dengan menebus mereka sebagai satu umat (lih. Ul. 7:7-
8). Bahkan di dalam Israel, tidak semua orang dipilih, tetapi hanya
satu "sisa" (Kej. 45:7; Yes. 10:21). Calvin mengutip kedaulatan Allah
dalam "memilih Yakub dan menolak Esau" sebagai contoh pemilihan (Rm.
9:13). Dengan demikian, pemilihan bersifat kolektif dan juga
individual dalam Alkitab. Dari Abraham sampai para nabi, Allah
memanggil satu bangsa untuk menjadi milik-Nya.
Calvin mencatat banyak nas dalam Perjanjian Baru yang
mengilustrasikan kedaulatan Allah dalam pemilihan dan predestinasi.
Misalnya, pernyataan Yesus: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi
Akulah yang memilih kamu" (Yoh. 15:16) (*1), dan perkataan Paulus,
"Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan
.... Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk
menjadi anak- anak-Nya" (Ef. 1:4-5) (*2), meneguhkan kedaulatan Allah
dalam pilihan. Calvin menyimpulkan bahwa Alkitab dengan jelas
mengajarkan predestinasi. Kedaulatan anugerah Allah dalam pemilihan
adalah keniscayaan karena manusia mati dalam dosa, tanpa kebebasan
kehendak yang sejati, manusia tidak dapat memilih Allah bagi dirinya
sendiri. Tanpa predestinasi, Allah tidak berdaulat, umat manusia akan
terhilang dalam dosa secara kekal. Dalam rencana penebusan-Nya, Allah
memilih untuk menebus sebagian manusia untuk memuliakan nama-Nya yang
kudus. Alasan mengapa Ia memilih metode keselamatan seperti itu
berada dalam kehendak-Nya sendiri yang berdaulat.
Akhirnya, Calvin menjawab keberatan-keberatan yang diajukan terhadap
doktrin pemilihan. Tanggapan-tanggapan mengambil beberapa bentuk:
(1) Sebelumnya ia telah menyatakan bahwa kehendak bebas adalah suatu
ciptaan filsafat yang keliru. Jika manusia "mati dalam dosa" (Ef.
2:1), maka hanya anugerah Allah saja yang dapat menyelamatkannya.
Pengajaran alkitabiah tentang dosa asal menjawab banyak keberatan
terhadap doktrin pilihan, karena kerusakan manusia adalah suatu
presuposisi penting tentang keniscayaan predestinasi Allah yang
berdaulat.
(2) Sebagian keberatan adalah karena menganggap pemilihan itu tidak
adil, membuat rasa tanggung jawab kita menjadi tidak ada artinya.
Calvin menjawab bahwa dalam Alkitab, Allah sendiri adalah prinsip
keadilan yang tertinggi. Seperti yang terlihat jelas dalam contoh
Perjanjian Lama tentang Ayub, manusia tidak boleh memegahkan diri dan
menuduh Allah tidak adil jika Ia memilih sebagian dan menolak
sebagian lainnya. Mempertanyakan tindakan Allah menyiratkan bahwa
kita dapat meminta pertanggungjawaban dari Allah, yang berarti
menempatkan diri kita atau klaim-klaim kita di atas Dia. Itu adalah
puncak arogansi manusia. Keadilan Allah jauh lebih tinggi melampaui
segala konsepsi manusia tentang keadilan.
Bertentangan dengan pendapat umum, kata Calvin, kedaulatan Allah
tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Meskipun kedua hal ini
tampaknya tidak dapat diperdamaikan, Alkitab meneguhkan kedua fakta
ini, yaitu bahwa anugerah yang berdaulat adalah satu-satunya sarana
yang melaluinya kita dapat diselamatkan dan bahwa kita masih harus
mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita. Meskipun penalaran
manusia yang terbatas tidak dapat menyelesaikan dua fakta yang
kelihatan bertentangan ini, kita harus meneguhkan keduanya sebagai
kebenaran. Kedaulatan Allah dan akuntabilitas manusia, keduanya
diajarkan dalam Alkitab, dan hubungan di antara keduanya sesungguhnya
adalah suatu misteri besar. Kedaulatan Allah sendiri mengesahkan
tanggung jawab manusia. Pandangan-pandangan yang mengajarkan kehendak
bebas sebagai dasar satu-satunya bagi tanggung jawab moral memberikan
otonomi kepada pilihan manusia, otonomi yang justru diajarkan oleh
Alkitab sebagai milik Allah sendiri saja. Pandangan Calvin lebih
seimbang daripada yang sering diakui oleh orang-orang yang
meremehkannya. Orang-orang Kristen harus menegaskan kedaulatan Allah
atas seluruh tatanan ciptaan, sehingga segala sesuatu ditentukan oleh
kehendak Allah yang tak terselidiki, dan tanggung jawab moral dan
spiritual kita. Dengan cara yang misterius, di luar pemahaman
manusia, Allah menuntut tanggung jawab manusia atas segala
tindakannya.
Suatu nas klasik Perjanjian Baru yang mengajarkan tentang
predestinasi sekaligus tanggung jawab manusia adalah Kisah Para Rasul
2:23. Dalam khotbah Pentakostanya, Petrus menyatakan bahwa Allah
telah mempredestinasikan kematian Yesus di atas salib sebagai bagian
dari rencana keselamatan ilahi. Tetapi Petrus juga menyatakan bahwa
orang- orang yang menyalibkan Yesus bertanggung jawab atas kematian
Sang Anak Allah. Baik predestinasi Allah maupun tanggung jawab
manusia tidak dikompromikan, karena keduanya dinyatakan dengan tegas.
Tanpa sepenuhnya memahami bagaimana keduanya adalah benar, orang-
orang Kristen diserukan untuk menekankan keduanya secara seimbang
karena keduanya diajarkan dalam Alkitab.
(3) Dalam mempertahankan doktrin pilihan, Calvin juga merujuk kepada
pengalaman eksistensial kita bahwa kita tidak mampu untuk melakukan
apa yang diwajibkan oleh Allah dalam firman-Nya. Ia mengutip
Pernyataan Paulus dalam Roma 7:15-20 bahwa meskipun kita mengetahui
dan ingin melakukan yang baik, kita masih melakukan yang jahat. Kita
mendapati dalam firman Allah bahwa anugerah adalah keniscayaan dan
dijanjikan kepada kita dan diteguhkan dalam pengalaman kita sendiri.
Di samping itu, doktrin pilihan ilahi tidak dimaksudkan untuk membuat
orang-orang percaya cemas tentang apakah mereka dipilih atau tidak,
tetapi justru mengantisipasi kecemasan seperti itu dengan memberikan
keyakinan keselamatan dan penghiburan. Jauh dari sekadar suatu ide
spekulatif tentang bagaimana Allah berhubungan dengan ciptaan-Nya,
kedaulatan Allah dalam predestinasi, ketika dipahami secara benar,
akan memberi nilai praktis yang besar dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran ini memberi kita keyakinan bahwa Allah menjalankan
pemeliharan pribadi atas segala peristiwa. Kepercayaan bahwa Allah
adalah Tuhan dan Juru Selamat kehidupan pribadi kita menangkal
keputusasaan.
Pada akhir abad keenam belas dan permulaan abad ketujuh belas, Jacob
Arminius, seorang teolog Belanda, mengajukan suatu alternatif bagi
pandangan tentang predestinasi yang dipegang oleh Augustinus, Luther,
dan Calvin. Arminius percaya bahwa prapengetahuan Allah mendahului
predestinasi-Nya, sebab itu, pilihan Allah tidak absolut, tetapi
bersyarat. Allah memilih orang-orang berdasarkan prapengetahuan-Nya
tentang apakah mereka akan menerima atau menolak Kristus dan karya
keselamatan-Nya. Arminius berusaha mencari dasar pijak antara
kepercayaan Calvin pada predestinasi absolut Allah dan pengajaran
Pelagius tentang otonomi manusia. Tidak seperti Pelagius, Arminius
percaya bahwa dosa asal tidak hanya melumpuhkan kehendak manusia,
tetapi juga menjadikannya sama sekali tidak mampu melakukan apa yang
baik terlepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah yang
mempersiapkannya, manusia mati dalam dosa. Arminius juga percaya
bahwa Kristus tidak membayar hukuman bagi dosa setiap orang, tetapi
bahwa penderitaan Kristus tersedia hanya bagi orang-orang yang
memilih untuk menerima Dia. Allah mengampuni dosa orang yang bertobat
dan percaya. Keselamatan, dengan demikian, adalah suatu usaha kerja
sama antara manusia dan Allah, sama seperti yang diajarkan Thomas
Aquinas dalam sintesis Abad Pertengahannya.
Teologi Arminius dengan kuat memengaruhi pemikiran Protestan,
khususnya evangelikalisme, di kedua sisi benua Atlantik. John Wesley
memopulerkan ide-ide Arminian dalam Kebangunan Rohani Injili Inggris
pada abad kedelapan belas dan menjadikannya inti teologi Metodis.
Banyak denominasi Amerika, seperti Baptis, kaum independen, dan
kelompok-kelompok kekudusan, berkomitmen pada pandangan-pandangan
Arminian.
Ringkasan Reformasi
Teologi dan antropologi para tokoh Reformasi melukiskan bagaimana
telitinya mereka merevisi doktrin dan kehidupan gereja Kristen (*3).
Pandangan yang mereka rumuskan dengan sukses menantang mentalitas
sintesis yang telah mendominasi gereja selama berabad-abad. Dan
mereka tidak menciptakan suatu bentuk baru dari kekristenan, suatu
perspektif yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam gereja. Tidak
dimotivasi oleh suatu semangat untuk mencari yang baru, para tokoh
Reformasi mengembangkan ide-ide alkitabiah yang di atasnya gereja
secara asali didirikan. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala
sistem filsafat asing dari pemikiran Kristen dan kembali kepada
pengajaran-pengajaran Paulus dan Augustinus untuk membentuk ulang
setiap area doktrin dan praktik.
Karena asumsi-asumsi para tokoh Reformasi berbeda begitu tajam dengan
asumsi-asumsi para pendahulu mereka, perubahan-perubahan radikal
terjadi. Otoritas-otoritas lama yang mencampur Alkitab dengan
filsafat, sejarah, dan tradisi ditolak dan digantikan dengan mereka
yang secara sadar menerima Alkitab sendiri sebagai dasar bagi iman
dan kehidupan. Luther menentang otoritas Paus dan juga Kaisar. Calvin
membawa misi Reformasi lebih jauh untuk memikirkan kembali
keseluruhan doktrin Kristen. Pekerjaan mereka memecah gereja Barat
menjadi dua bagian, suatu perpecahan yang telah berlangsung sampai
masa kita sekarang. Orang-orang Katolik memulai Kontra-Reformasi
untuk menjawab tuduhan-tuduhan kaum Protestan dan juga untuk
mereformasi berbagai penyalahgunaan yang menghalangi pelayanan mereka
sendiri. Hal yang sentral bagi Kontra Reformasi adalah Konsili Trent
(1545 -- 1563), yang menegaskan kembali kebanyakan doktrin Abad
Pertengahan, termasuk sintesis Thomas Aquinas tentang ide-ide
Aristotelian dan alkitabiah.
Para tokoh Reformasi bukannya sudah sempurna. Sebagian pengikut
Luther dan Calvin telah memodifikasi pandangan-pandangan mereka.
Tetapi dua pilar Reformasi ini dengan kuat menegaskan kedaulatan
Allah dan mendesak orang-orang untuk mengakui bahwa satu-satunya
alternatif bagi kedaulatan Allah adalah kecenderungan, kuat atau
lemah, pada otonomi manusia, yang menjadi kata favorit dalam era
modern.
(*1) Bdk. Yoh. 6:39, 44-45; 13:18; 17:9
(*2) Bdk. Rm. 8:29; 9:10-13
(*3) Untuk sederhananya, kami membatasi studi kita tentang
Protestanisme sebagai satu wawasan dunia pada ide-ide Luther dan
Calvin saja. Dengan demikian, kami meniadakan berbagai kelompok yang
disebut para tokoh Reformasi radikal dan kaum Anabaptis dan sekte-
sekte Reformasi lainnya. Karena kami percaya ide-ide mereka memunyai
signifikansi yang lebih besar bagi implikasi-implikasi sosial wawasan
dunia, kami menyimpan diskusi tentang ide-ide mereka ini untuk
pembahasan kita tentang masyarakat dalam jilid 2.
Untuk Bacaan Lebih Lanjut
Althaus, P. The Theology of Martin Luther. Philadelphia: Fortress,
1966.
Bainton, Roland H. Here I Stand: A Life of Martin Luther. New York:
Abingdon Cokesbury, 1950.
Bangs, C. D. Arminius. A Study in the Dutch Reformation. Nashville:
Abingdon, 1971.
______. The Reformation of the Sixteenth Century. Boston: Beacon,
1952.
Chadwick, Owen. The Reformation. Baltimore: Penguin, 1968.
Dickens, A. G. The Counter Reformation. New York: Harcourt Brace
Jovanovich, 1963.
Duffield, John, ed. John Calvin. Grand Rapids: Eerdmans, 1966.
Leith, John. An Introduction to the Reformed Tradition. Atlanta: John
Knox Press, 1977.
McNeill, John T. The History and Character of Calvinism. New York:
Oxford University Press, 1954.
McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. John Calvin: Institutes
of the Christian Religion. Philadelphia: Westminster Press, 1960.
Niesel, W. The Theology of Calvin. London, 1956.
Ozment, Steven. The Age of Reform: An Intellectual and Religious
History of Late Medieval and Reformation Europe. New Haven: Yale
University Press, 1980.
Parker, T. H. L. John Calvin: A Biography. Philadelphia: Westminster
Press, 1975.
Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther`s Works. 55 vol. St. Louis:
Concordia, 1955-76.
Schwiebert, E. G. Luther and His Times. St. Louis: Concordia, 1950.
Wendel, Francois. Calvin: The Origin and Development of His Religious
Thought. New York: Oxford, 1954.
----------------------------------------------------------------------
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia,
dan Pengetahuan
Judul asli buku: Building Christian Worldview, Vol 1: God, Man, and
Knowledge
Penulis: W. Andrew Hoffecker
Penerjemah: Peter Suwandi Wong
Penerbit: Penerbit Momentum, Surabaya 2006
Halaman: 138 -- 148
----------------------------------------------------------------------
SEPUTAR REFORMASI, TEOLOGI REFORMED, DAN TOKOH REFORMASI
BACAAN PILIHAN
1. Sekilas Hidup Reformator John Calvin di Jenewa dan di Strasburg
http://reformed.sabda.org/sekilas_hidup_reformator_john_calvin_di_jenewa_dan_di_strasburg
2. John Calvin Mencari Istri Yang Tepat, Idelette
http://reformed.sabda.org/john_calvin_mencari_istri_yang_tepat_idelette
3. Sejarah dan Pentingnya Alkitab Geneva
http://reformed.sabda.org/sejarah_dan_pentingnya_alkitab_geneva
TOKOH REFORMASI
1. Martin Luther (1483 -- 1546)
http://biokristi.sabda.org/martin_luther_1483_1546
2. Johanes Calvin: Pelopor Gerakan Reformasi Gereja
http://biokristi.sabda.org/johanes_calvin
3. Biografi Singkat Abraham Kuyper
http://biokristi.sabda.org/biografi_singkat_abraham_kuyper
----------------------------------------------------------------------
|