Dear e-Reformed Netters,
Senang sekali bisa bertemu Anda lagi di edisi April e-Reformed.
Kutipan kecil tentang seorang tokoh Reformasi, Martin Luther, ini
saya ambil dari buku "Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1:
Allah, Manusia, dan Pengetahuan", yang diterbitkan oleh Penerbit
Momentum (2006).
Kita tahu bahwa kekristenan bukan sekadar agama, melainkan sebuah
iman percaya pada Kristus Yesus yang bangkit pada hari Paskah, yang
baru saja kita rayakan. Luther lahir di keluarga yang taat dan
kemudian setelah dewasa menjadi biarawan. Tidak berhenti di sana, ia
mempelajari dan mempraktikkan ritus-ritus keagamaan dengan ketat,
namun ternyata ia belum "mengalami Tuhan" secara pribadi sampai pada
suatu ketika ia membaca dan memahami perkataan Paulus di dalam kitab
Roma.
Mungkin kita atau anak-anak kita sudah sejak lahir hidup di keluarga
Kristen, memiliki nama Kristen, besar di lingkungan gereja, sekolah
di sekolah Kristen, dan seumur hidupnya dikepung dengan budaya
kekristenan, namun jika kita atau anak-anak kita belum memiliki
perjumpaan pribadi dengan Allah, berdoalah supaya iman itu hidup dan
tumbuh, bukan sebagai pengetahuan saja, tapi sebagai kuasa yang
memperbarui hidup yang dari dalam. Dari perjumpaan pribadi dengan
Kristus itu akhirnya kita tidak hanya akan menyembah Dia sebagai
Tuhan di dalam agama Kristen, tapi sebagai Tuhan di dalam hidup kita
yang sesungguhnya, yang membuahkan perubahan cara pandang dan pola
pikir yang sesuai dengan firman-Nya.
Akhir kata, mari sebelum kita menyimak artikel di bawah, kita amini
syair pujian berikut. Selamat belajar!
"Ku telah mati
dan tinggalkan
cara hidupku yang lama.
Semuanya sia-sia
dan tak berarti lagi.
Hidup ini kuserahkan
pada mezbah-Mu ya, Tuhan.
Jadilah pada-Mu seperti
yang Kau ingini."
Dalam anugerah-Nya,
Kusuma Negara
----------------------------------------------------------------------
ZIARAH SPIRITUAL MARTIN LUTHER
Orang yang berhasil membawa reformasi bagi gereja di mana orang-orang
lain telah gagal ini berasal dari latar belakang yang sederhana.
Martin Luther dilahirkan pada tahun 1483 dan dibesarkan menjadi
seorang Katolik yang taat oleh kedua orang tuanya yang petani itu.
Sebagai seorang anak, ia mempelajari kredo-kredo, Doa Bapa Kami, dan
Sepuluh Perintah serta menghormati gereja dan para santo/santa. Ia
berumur 20 tahun sebelum ia mulai membaca Alkitab, dan ia kemudian
melaporkan bahwa ia terkejut menemukan bahwa Alkitab berisi jauh
lebih banyak daripada yang diduganya. Luther belajar untuk sebuah
karier dalam bidang hukum, tetapi kematian seorang kawan secara
mendadak dan lolosnya dia dari sambaran kilat dalam suatu badai guruh
memimpin dia untuk masuk biara Augustinian pada tahun 1505. Karena
sangat mengkhawatirkan jiwanya, ia menjadi seorang biarawan yang
sangat cermat, terkesan berlebihan, dan ia menghukum diri secara
berat karena dosa-dosanya. Ia kemudian menyatakan bahwa jika seorang
bisa diselamatkan karena kebiarawanannya, maka ia adalah orangnya!
"Saya sendiri adalah seorang biarawan selama 20 tahun dan begitu
berjerih lelah dalam doa, puasa, tidak tidur, dan kedinginan
sehingga saya hampir mati karena kedinginan .... Apa lagi yang
harus saya cari melalui ini kecuali Allah yang melihat bagaimana
saya menaati peraturan-peraturan dan menjalani suatu kehidupan yang
begitu kaku?" (Werke 49, 27).
Pada tahun 1507, ia ditahbiskan menjadi imam, tetapi ia melanjutkan
kehidupan studinya dan menjadi seorang guru besar bidang teologi di
Universitas Wittenberg di Jerman. Tugas-tugasnya termasuk mengajar
berbagai bagian Alkitab.
Luther menyelesaikan gelar doktornya pada tahun 1512 dan memperoleh
penghargaan karena kemampuan-kemampuan praktisnya dan
kecemerlangannya sebagai seorang cendekiawan dan teolog dengan
memimpin sebelas biara. Ia juga berkembang menjadi seorang
pengkhotbah yang penuh kuasa dan memakai talentanya untuk
mengomunikasikan dengan efektif pesan sederhana Alkitab yang
diperolehnya dari hasil penelitiannya. Studinya tentang Augustinus
membuatnya menjadi seorang Augustinian yang lebih dari sekadar nama,
dan menolak Aristoteles dan tradisi teologi Kristen yang bertumpu
pada fondasi-fondasi Aristotelian. Pada tahun 1516, sementara
mengajar Surat Roma, ia memahami untuk pertama kalinya pengajaran
Paulus tentang pembenaran oleh iman dengan cara yang sangat pribadi.
Sebelumnya, rasa bersalah dan berdosa telah membuat dia takut pada
keadilan Allah. Tentang hal ini ia berkata:
"Siang dan malam saya merenungkan sampai saya dapat melihat
hubungan antara keadilan Allah dan pernyataan bahwa `orang benar
akan hidup oleh iman`. Kemudian saya menangkap bahwa keadilan Allah
adalah kebenaran, yang dengannya, melalui anugerah dan rahmat,
Allah membenarkan kita melalui iman. Di sana saya merasa diri saya
dilahirkan kembali dan mengalami pintu firdaus terbuka. Keseluruhan
Alkitab diberikan dalam kasih yang lebih besar. Nas Paulus ini bagi
saya menjadi satu pintu gerbang ke surga ...." (Lectures on
Romans).
Suatu hubungan iman pribadi dengan Allah melalui Yesus Kristus
mengubah hidupnya dan perspektifnya. Pada tahun 1517, pandangannya
bahwa keselamatan yang dihasilkan oleh iman kepada Kristus
menyebabkan dia menantang klaim Gereja Katolik Roma yang mengeluarkan
surat indulgensi sebagai pengampunan dosa. Indulgensi ini, surat yang
dibeli dengan sejumlah uang, membebaskan seseorang dari kewajiban
melakukan suatu perbuatan melalui sakramen pertobatan. Praktik ini
bermula pada waktu perang salib, ketika orang-orang kaya membeli
indulgensi daripada ikut berperang dalam perang salib. Setiap orang
yang berpartisipasi, baik dengan ikut berperang ke Tanah Suci atau
ikut menyokong dana, secara otomatis menerima janji bahwa ia tidak
akan dihukum atas dosa-dosanya dalam api penyucian (purgatori).
Pada masa Luther, uang yang didapat dari penjualan indulgensi itu
biasanya digunakan untuk membangun katedral Santo Petrus di Roma.
Lutther sadar bahwa praktik-praktik seperti itu bertentangan dengan
pengajaran Alkitab. Hanya hubungan yang benar dengan Allah melalui
iman yang dapat membawa pengampunan dosa dan keselamatan. Sebab itu,
ia menantang apa yang dianggapnya memperdagangkan anugerah Allah.
Pada 31 Oktober 1517, Luther memakukan 95 tesisnya pada pintu gereja
di Wittenberg. Menempel pengumuman-pengumuman seperti itu, yang
sebenarnya hanya untuk mengundang perdebatan dan diskusi tentang hal-
hal yang tercantum di dalamnya, merupakan hal yang biasa dilakukan
pada masa Abad Pertengahan. Namun, tanggapan positif terhadap tesis-
tesis Luther membawa perubahan yang revolusioner pada gereja. Tesis
kuncinya adalah nomor 62, yang menyatakan, "Perbendaharaan (harta
karun) yang sejati dari gereja adalah Injil suci kemuliaan dan
anugerah Allah." Dengan kata-kata ini, Luther dengan berani menolak
gagasan Abad Pertengahan tentang perbendaharaan jasa-jasa yang diatur
melalui hierarki gereja. Tesis-tesis lain menegaskan kerusakan
manusia, perlunya pertobatan seumur hidup (bertentangan dengan remisi
instan dari melalui pembayaran uang), dan anugerah Allah yang
sepenuhnya dan cuma-cuma dalam Kristus. Tesis-tesis Luther menantang
beberapa dogma dan praktik Katolisisme Abad Pertengahan. Karena
tesis- tesis itu, ia diekskomunikasikan oleh Paus dan dicap sebagai
pelanggar hukum oleh keputusan kaisar setelah suatu pertemuan yang
dramatis di hadapan Kaisar Charles V di Diet of Worms.
Ide-ide Luther mulai mendapat bentuknya yang pasti pada tahun 1520.
Tiga prinsipnya menjadi semboyan teologi Reformasi.
1. Sola Scriptura: Sebagai firman Allah yang diilhamkan, Alkitab
adalah satu-satunya dasar otoritatif bagi semua doktrin Kristen.
Tradisi -- pengajaran lisan dan tertulis dari para bapa gereja mula-
mula dan para teolog Abad Pertengahan -- yang dipakai untuk
mengesahkan penjualan indulgensi dan praktik-praktik gereja lainnya,
termasuk penambahan beberapa sakramen, tidak boleh dipakai sebagai
suatu otoritas yang setara dengan Alkitab.
2. Sola Gratia: "Hanya Anugerah" -- digabung dengan Sola Fide, "Hanya
Iman" -- menjelaskan pandangan alkitabiah tentang penebusan.
Keselamatan hanya dihasilkan oleh anugerah Allah yang berdaulat dalam
mengutus Kristus. Kematian-Nya di atas salib dan kebangkitan-Nya dari
kematian adalah satu-satunya penyembuh bagi dosa manusia. Kebenaran
diimputasikan kepada manusia atas dasar karya penebusan Kristus di
atas salib. Tanggapan manusia kepada anugerah Allah adalah iman
kepada janji-janji Allah, secara spesifik adalah bahwa Allah akan
menyelamatkan semua orang yang percaya bahwa kematian dan kebangkitan
Kristus telah dilaksanakan bagi mereka. Keselamatan seluruhnya adalah
hasil anugerah Allah, dan kita memperoleh keselamatan bukan oleh
usaha atau perbuatan kita, tetapi hanya atas dasar iman kepada
provisi Allah. Mengikuti Rasul Paulus dalam Surat Roma, Luther
mengajarkan bahwa orang-orang percaya dibenarkan dalam pandangan
Allah bukan melalui usaha manusia, tetapi melalui iman sederhana
kepada janji- janji Allah yang dinyatakan dalam Kristus. Betapa
jauhnya perjalanan yang telah dilakukan Martin Luther sejak hari-
harinya dalam biara ketika ia percaya bahwa ia harus membuat dirinya
layak bagi anugerah Allah!
3. Keimaman bagi semua orang percaya. Gereja tidak memerlukan satu
kelas imam untuk menjadi pengantara antara orang percaya dan Allah.
Sebaliknya, setiap orang menjadi imam bagi dirinya sendiri dan
memunyai akses langsung kepada Allah melalui Kristus. Kristus adalah
Imam Besar Agung kita yang menggantikan semua imam manusia. Melalui
iman kita kepada Kristus, kita berdiri di hadapan Allah sebagai imam
dan tidak memerlukan lembaga manusia mana pun untuk bersyafaat bagi
kita.
Tiga ide ini mendasar bagi Reformasi dan menjadi doktrin-doktrin
fundamental Protestanisme. Semua perubahan dalam doktrin,
spiritualitas, dan organisasi gereja yang menghasilkan terbentuknya
berbagai kelompok Protestan adalah didasarkan pada prinsip-prinsip
ini.
Bangkitnya Kembali Teologi dan
Antropologi Alkitabiah oleh Luther
Pandangan-pandangan Luther tentang Allah terus berkembang ketika ia
memperdalam pengetahuannya tentang Alkitab dan meneliti implikasi-
implikasi tiga prinsip utamanya. Selama tahun-tahun awal dalam biara,
ia mengalami rasa berdosa dan kecemasan karena ketakutannya pada
Allah dan keadilan-Nya. Namun, setelah mengalami anugerah Allah,
Luther memahami keadilan Allah dalam terang kasih-Nya. Penolakannya
terhadap gagasan apa pun tentang Allah yang berasal dari Alkitab
membuatnya secara terbuka menertawakan keberadaan pertamanya
Aristoteles. Di samping itu, ia mengkritik Thomas karena mengambil
pandangan- pandangannya tentang Allah dari Aristoteles dan bukan dari
Alkitab. Keyakinan-keyakinan Augustinian Luther memimpin dia bahkan
lebih keras lagi mencela pengaruh Aristoteles pada interpretasi Abad
Pertengahan tentang manusia. Menolak pernyataan Aristoteles dari "On
the Saul" bahwa "jiwa mati bersama dengan tubuh", Luther berkata:
"Seolah-olah kita tidak memunyai Alkitab di mana kita menemukan
pengajaran yang luar biasa melimpahnya tentang seluruh pokok itu,
yang justru tak pernah terpikirkan oleh Aristoteles. Tetapi orang
kafir yang sudah binasa ini justru telah memeroleh supremasi,
menghambat, dan hampir menindas Kitab Suci dari Allah yang hidup."
(An Appeal to the Ruling Class).
Berdasar pada Alkitab, khususnya Kitab Kejadian dan tulisan-tulisan
Paulus, Luther menyimpulkan seperti Augustinus bahwa masalah dosa
berakar pada ketidakpercayaan Adam. Gambar Allah setelah kejatuhan
"begitu ternoda dan dikaburkan oleh dosa" dan "begitu berkusta dan
najis" sehingga kita hampir tidak dapat memahaminya. Gambar Allah
"hampir seluruhnya hilang" (Commentary on Genesis). Berbagai
pandangan antropologi-antropologi Abad Pertengahan memperlihatkan
bahaya dari membentuk pandangan-pandangan Kristen di bawah pengaruh
pemikiran sintesis. Bagi Luther, dosa yang terbesar adalah
kesombongan, ketidaksediaan kita untuk mengakui kondisi kita yang
telah jatuh dan berdosa. Dosa kini menjalankan kekuasaan sedemikian
rupa sehingga kehendak manusia jatuh tertelungkup dan tak berdaya
sampai anugerah Allah membebaskannya.
Ide tentang manusia yang tidak memunyai kebebasan moral begitu
sentral bagi seluruh antropologi Luther sehingga ia menulis "The
Bondage of the Will", suatu jawaban yang keras terhadap Erasmus,
pakar humanis terbesar yang mempertahankan kehendak bebas manusia. Di
dalamnya, Luther menulis:
"Ketika manusia tanpa Roh Allah, perbuatan jahatnya bukan
bertentangan dengan kehendaknya, tetapi perbuatan itu sesuai dengan
kehendaknya sendiri .... Dan kesediaan ini ... tak dapat ia
tiadakan, dilawan, atau diubah dengan kekuatannya sendiri ....
Artinya adalah bahwa kehendak itu tidak dapat mengubah dirinya
sendiri dan berbelok ke arah yang berlainan .... Pilihan bebas
tanpa anugerah Allah sama sekali tidak bebas, tetapi terus menjadi
tawanan dan budak kejahatan karena pilihan itu tidak dapat mengubah
dirinya sendiri ke arah yang baik."
Ini adalah suatu ringkasan yang sangat baik dari prinsip "non posse
non peccare" Augustinus. Seperti pendahulu teologinya itu, Luther
terutama ingin menunjukkan bahwa anugerah Allah secara mutlak
esensial bagi keselamatan. Jika manusia mampu memilih kebaikan moral
dan spiritual, maka keselamatan akan menjadi suatu usaha kerja sama
antara Allah dan manusia. Luther menolak posisi Semi-Pelagian ini
karena jika manusia dapat mengawali suatu hubungan dengan Allah, maka
anugerah hanya merupakan suatu bantuan bagi usaha manusia dan bukan
sebagai keharusan seperti yang dikatakan Alkitab.
Teologi Luther menghidupkan kembali tekanan-tekanan utama Augustinus.
Tokoh Reformasi itu mencela pembedaan-pembedaan Aquinas antara
anugerah operatif dan kooperatif, dan antara kebajikan natural dan
supernatural. Sampai anugerah Allah membebaskan manusia dari belenggu
dosa dan kejahatannya, manusia tidak memunyai kehendak "bebas". Satu-
satunya kehendak "bebas" yang sesungguhnya adalah bebas melakukan apa
yang baik. Karena dosa melumpuhkan kehendak manusia, kehendak kita
tidak memiliki kuasa seperti itu. Dosa sangat merusak kapasitas
manusia untuk melakukan apa yang baik secara moral. Hanya oleh
anugerah Allah kita mampu melakukan kebaikan moral.
Tiga Tulisan Luther
Perpecahan awal Luther dengan Roma menjadi tak dapat diperbaiki
ketika ia menerbitkan tiga tulisan utama pada tahun 1520. Tulisan-
tulisan ini meringkaskan pemikirannya. Traktatnya yang pertama, "An
Appeal to the Ruling Class", adalah suatu seruan lantang kepada para
petinggi Jerman untuk mereformasi gereja. Di dalamnya, ia berusaha
meruntuhkan apa yang disebutnya "tiga tembok" yang telah didirikan
oleh kaum "Romanis" untuk memperkuat kendali para rohaniwan terhadap
gereja. Luther dengan kuat menyangkal bahwa Alkitab membedakan antara
orang-orang Kristen awam dan para rohaniwan. Pernyataan Petrus
tentang "imamat yang rajani" (1 Ptr. 2:9) berarti bahwa semua orang
Kristen, bukan hanya sebagian tertentu, adalah imam. Para teolog Abad
Pertengahan secara tak layak telah meninggikan kelas imam, kaum
rohaniwan, di atas orang- orang percaya biasa, dan menyebut mereka
"religius" dalam pengertian jabatan mereka yang tinggi. Tetapi Luther
menunjukkan bahwa pengajaran Petrus tentang keimaman semua orang
percaya berarti bahwa karena anugerah Allah, setiap orang Kristen
berdiri dalam Yesus Kristus di hadapan Allah dan tidak memerlukan
seorang pun dari kelas istimewa untuk menjadi perantara antara Allah
dan dia sendiri.
"Tembok" kedua yang hendak diruntuhkan Luther adalah keutamaan Paus
sebagai penafsir Alkitab. Setiap orang percaya wajib membaca Alkitab
bagi dirinya sendiri dan tidak bergantung pada Paus atau gereja untuk
menafsirkan Alkitab bagi dia. Bagaimanapun, para Paus telah berbuat
salah di masa lampau, dan otoritas spiritual diberikan kepada semua
rasul dalam Perjanjian Baru, bukan hanya kepada salah satu di antara
mereka. Setiap orang Kristen wajib memajukan iman mereka,
memahaminya, dan membelanya.
"Tembok" ketiga yang dibangun oleh para teolog Abad Pertengahan untuk
mempertahankan gereja agar berada di bawah kendali kaum rohaniwan
adalah ide bahwa hanya Paus yang dapat mengadakan konsili untuk
mereformasi gereja. Luther percaya bahwa gereja sangat membutuhkan
reformasi, dan karena kaum rohaniwan tidak bersedia untuk
melaksanakan tanggung jawab ini, maka ia mendesak para penguasa
sekuler, kaum ningrat Jerman, untuk meruntuhkan "tembok" ketiga
dengan mengadakan konsili umum untuk mengawali reformasi. Inilah
sebabnya mengapa tulisan itu ditujukan kepada kelas penguasa di
Jerman. Karena dua "tembok" pertama secara tak layak memberi kuasa
kepada Paus dan para imam, orang-orang Kristen tidak perlu menunggu
mereka untuk mendesak dilakukannya reformasi yang sangat dibutuhkan.
Penginterpretasian ulang tentang peran orang-orang percaya Kristen
dan posisi mereka dalam gereja ini memberi kesaksian tentang sifat
radikal dari bentrokan Luther dengan Roma.
Dalam tulisannya yang kedua, "The Babylonian Captivity of the
Church", Luther memfokuskan perhatiannya pada masalah-masalah lain
dengan kekristenan Abad Pertengahan. Jika tulisan pertamanya
menyerang struktur hierarki gereja, maka yang kedua adalah untuk
menentang penempatan sakramen gereja di bawah kendali total para
rohaniwan. Dengan melakukan hal ini, gereja berada di bawah tawanan
hierarki tersebut, sama seperti orang-orang Babel menawan orang-orang
Yahudi pada abad keenam SM. Luther berpendapat bahwa Kristus hanya
melembagakan dua sakramen selama pelayanannya di bumi, yaitu Baptisan
dan Perjamuan Kudus. Namun, para pemimpin gereja pada Abad
Pertengahan, tanpa dukungan alkitabiah, telah menambahkannya sampai
tujuh. Di samping itu, para teolog Abad Pertengahan menempatkan
hierarki pejabat gereja untuk memegang kendali atas sakramen-
sakramen. Lagipula, para rohaniwan telah menyalahgunakan otoritas ini
dengan menegaskan bahwa jasa yang menyelamatkan orang-orarg dari
dosa-dosa mereka diberikan hanya melalui sakramen-sakramen tersebut.
Luther juga menolak posisi Abad Pertengahan bahwa nilai satu-satunya
dari suatu sakramen terletak dalam hubungannya dengan jasa-jasa yang
terkumpul yang disalurkan melalui para rohaniwan yang melakukan
sakramen. Sebaliknya, Luther menegaskan, nilai dari sakramen-sakramen
terletak pada janji Allah. Dengan demikian, Allah sendiri, bukan kaum
rohaniwan, yang memberikan anugerah-Nya, bukan menurut perbuatan yang
berjasa, tetapi menurut iman orang percaya tersebut kepada janji
firman Allah. Karena itu, Luther setuju bahwa sakramen penting karena
mengomunikasikan anugerah Allah kepada orang-orang yang ambil bagian
dalam sakramen. Tetapi pengakuan dosa dan hidup saleh lebih penting
dari partisipasi ritualistis dalam sakramen-sakramen. Jadi, Luther
secara tajam menyingkirkan pandangan Abad Pertengahan tentang
kehidupan Kristen yang bertumpu terutama pada partisipasi dalam
kehidupan sakramen gereja institusional. Allah menetapkan sarana-
sarana anugerah yang lain di samping sakramen-sakramen yang harus
dipelihara oleh semua orang percaya dalam hubungan dengan Allah,
seperti doa dan pembacaan Alkitab.
Tulisan Luther yang ketiga, "Freedom of the Christian Man",
barangkali adalah yang terbaik dalam meringkaskan teologinya. Tulisan
ini adalah suatu pernyataan klasik Reformasi tentang natur kehidupan
Kristen, khususnya tentang hubungan antara hukum dan iman dalam
pengalaman Kristen. Orang-orang Kristen bebas dalam pengertian bahwa
mereka tidak lagi terikat untuk menaati Perjanjian Lama untuk
menegakkan suatu hubungan yang benar dengan Allah. Sebaliknya, orang-
orang Kristen dibenarkan melalui iman kepada Kristus, yang diberi
oleh Allah sebagai suatu karunia yang cuma-cuma. Perbuatan seseorang
sama sekali tidak ada nilainya untuk memperoleh keselamatan. Manusia
ditebus bukan karena perbuatan baik mereka sendiri, tetapi karena
kematian Kristus bagi mereka di atas salib. Orang-orang yang mengakui
bahwa Kristus menanggung dosa mereka dan menerima Kristus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat mereka memunyai kebenaran Kristus yang
diimputasikan kepada mereka. Pada saat yang sama, setiap orang
Kristen terikat pada sesamanya oleh hukum kasih. Perbuatan baik tidak
membenarkan seseorang dalam pemandangan Allah. Namun, perbuatan baik
adalah hasil dari pembenaran, yang dilakukan orang-orang Kristen dari
keinginan spontan untuk menaati kehendak Allah. Jadi, Luther
menyajikan suatu pandangan Reformed tentang hubungan antara Taurat
dan Injil, yang secara tajam berbeda dengan pandangan dominan yang
diekspresikan dalam penjualan surat indulgensi dan iman kepada
perbendaharaan jasa.
Kontribusi besar Luther bagi Reformasi adalah usahanya menghidupkan
kembali interpretasi Augustinus tentang kekristenan yang alkitabiah.
Luther menegaskan jurang pemisah antara Allah dan manusia berdosa dan
menekankan pada keniscayaan anugerah dan rahmat Allah bagi
keselamatan manusia. Dengan melakukan hal ini, ia menolak Semi-
Pelagianisme dan Aristotelianisme dari para pendahulunya. Dengan
menyuarakan kembali ajaran Paulus, dengan menyatakan bahwa tanpa
Allah manusia tersesat, dan penalaran serta pengetahuan sedikit
gunanya kecuali mereka didasarkan pada Alkitab. Orang-orang Katolik
menyatakan bahwa Luther terlalu berlebihan dalam menekankan kerusakan
manusia dalam reaksinya terhadap optimisme kaum Thomis dan Renaisans
tentang manusia natural dan kemampuannya. Para pengikut Luther
menjawab bahwa dalam hal menjadi tawanan firman Allah, Luther,
seperti Augustinus sebelum dia, hanya menyatakan kembali dan
menerangkan pengajaran alkitabiah tentang Allah dan manusia.
Untuk Bacaan Lebih Lanjut
Althaus, P. "The Theology of Martin Luther". Philadelphia: Fortress,
1966.
Bainton, Roland H. "Here I Stand: A Life of Martin Luther". New York:
Abingdon Cokesbury, 1950.
Bangs, C. D. Arminius. "A Study in the Dutch Reformation". Nashville:
Abingdon, 1971.
______. "The Reformation of the Sixteenth Century". Boston: Beacon,
1952.
Chadwick, Owen. "The Reformation". Baltimore: Penguin, 1968.
Dickens, A. G. "The Counter Reformation". New York: Harcourt Brace
Jovanovich, 1963.
Duffield, John, ed. "John Calvin". Grand Rapids: Eerdmans, 1966.
Leith, John. "An Introduction to the Reformed Tradition". Atlanta:
John Knox Press, 1977.
McNeill, John T. "The History and Character of Calvinism". New York:
Oxford University Press, 1954.
McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. "John Calvin: Institutes
of the Christian Religion". Philadelphia: Westminster Press, 1960.
Niesel, W. "The Theology of Calvin". London, 1956.
Ozment, Steven. "The Age of Reform: An Intellectual and Religious
History of Late Medieval and Reformation Europe". New Haven: Yale
University Press, 1980.
Parker, T. H. L. "John Calvin: A Biography". Philadelphia: Westminster
Press, 1975.
Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther`s Works. "55 vol". St.
Louis: Concordia, 1955-76.
Schwiebert, E. G. "Luther and His Times". St. Louis: Concordia, 1950.
Wendel, Francois. "Calvin: The Origin and Development of His Religious
Thought". New York: Oxford, 1954.
=====================================================================
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Membangun Wawasan Dunia Kristen,
Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan
Judul buku asli: Building Christian Worldview,
Vol. 1: God, Man, and Knowledge
Penulis: W. Andrew Hoffecker
Penerjemah: Peter Suwandi Wong
Penerbit: Momentum, Surabaya 2006
Halaman: 129 -- 137
|