Dear e-Reformed Netters,
Selamat bertemu kembali di publikasi e-Reformed. Kami berharap Anda
semua senantiasa bersyukur karena hidup dalam pemeliharaan Tuhan.
Kiriman artikel e-Reformed kali ini berjudul "Tanggung Jawab Seorang
Intelektual Kristen". Tapi kalau saya kutip seluruh bab akan terlalu
panjang, karena itu saya hanya ambil inti utamanya saja. Selebihnya,
silakan beli bukunya .... :)
Harapan saya, artikel ini akan memicu kita untuk semakin melihat
kepentingan intelektual yang Tuhan berikan kepada kita, sebagai manusia
yang diciptakan-Nya. Alangkah indahnya jika alat yang kecil dalam otak
kita ini kita gunakan untuk memikirkan tentang Kebenaran (yang mutlak)
dan bagaimana Kebenaran ini kita bagikan kepada manusia lain yang juga
sedang mencari kebenaran. Dengan demikian, kita akan ditantang untuk
hidup sungguh-sungguh dalam integritas yang utuh, apa adanya, dan penuh
tanggung jawab.
Selamat merenungkan.
Pimpinan Redaksi e-Reformed,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
< http://reformed.sabda.org/ >
======================================================================
Tanggung Jawab Seorang Intelektual Kristen
Mempelajari Kebenaran
---------------------------------------------------------------------
Ada banyak orang yang mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri:
itu adalah keingintahuan. Ada orang lainnya yang mencari pengetahuan
dengan tujuan agar mereka bisa dikenal: itu adalah keangkuhan. Orang
lainnya lagi mencari pengetahuan dengan tujuan menjualnya: itu tidak
terhormat. Tetapi ada lagi yang mencari pengetahuan agar bisa meneguhkan
orang lain: itulah kasih (caritas).
ST. BERNARD OF CLAIRVAUX
----------------------------------------------------------------------
Paruh pertama dari hidup di dalam kebenaran adalah mempelajari kebenaran.
Mempelajari kebenaran pada dasarnya adalah masalah menerima sesuatu
yang diberikan kepada kita. Kebenaran tidak direbut dari realitas, dan
seakan-akan kita berada dalam sebuah misi penyerangan. Ini adalah
gambaran khas dari Francis Bacon dan Rene` Descartes, tetapi bukan dari
Alkitab atau bahkan filsafat sebelum abad ketujuh belas. Sebaliknya,
filsafat, pencarian akan kebenaran tentang setiap hal, dimulai dengan
rasa ingin tahu. Kita dihadapkan dengan perikeberadaan dari keberadaan
(beingness of being). Kita menerima pengetahuan sebagai sebuah karunia
dari Allah melalui dunia alam atau dunia yang diciptakan ini, atau dari
dunia buku-buku, khususnya Alkitab. Pieper menyatakan hal ini dengan baik:
Bukan hanya pemikir-pemikir Yunani secara umum -- Aristoteles yang
tidak kalah dari Plato -- tetapi para pemikir besar di abad
pertengahan juga, semuanya berpendapat bahwa terdapat satu unsur
"penglihatan" yang secara murni reseptif, bukan hanya di dalam
indra persepsi, tetapi juga di dalam hal mengetahui secara
intelektual atau, seperti dikatakan Heraclitus, "Mendengarkan ke
dalam keberadaan perihal-perihal."
Para pemikir abad pertengahan membedakan antara intelek sebagai ratio
dan intelek sebagai intellectus. Ratio merupakan kemampuan pemikiran
diskursif, dari pencarian dan pencarian ulang, mengabstraksi, memurnikan,
dan menyimpulkan (bdk. Latin discurrere, "berlari mondar-mandir"),
sedangkan intellectus mengacu kepada kemampuan dari "sekadar melihat"
(simplex intuitus), yang kepadanya kebenaran menyatakan dirinya seperti
sebuah pemandangan menyatakan dirinya kepada mata. Kemampuan untuk
mengetahui yang rohani yang dimiliki akal budi manusia, sebagaimana
dipahami para pemikir kuno, sebenarnya adalah dua hal yang menjadi
satu: ratio dan intellectus: semua hal mengetahui meliputi keduanya.
Alur penalaran yang diskursif disertai dan dipenetrasi oleh visi
intellectus yang tak pernah berhenti, yang bukan bersifat aktif tetapi
pasif, atau lebih tepat lagi bersifat reseptif -- suatu kemampuan
intelek yang beroperasi secara reseptif.
Maka, pengejaran yang aktif akan kebenaran melibatkan resepsi yang
pasif atas apa yang diberikan kepada kita dan kerja aktif akal budi
kita, apa yang disebut John Henry Newman sebagai "kekuatan rasio yang
elastis."
Memberitakan Kebenaran
Paruh kedua dari hidup dalam kebenaran melibatkan memberitakan kebenaran.
Tukang sayur di dalam esai Havel mengambil cara yang sederhana untuk
hidup dalam kebenaran. Dia sekadar menolak untuk terus hidup di dalam
kebohongan. Dia berhenti memajang slogan-slogan ideologis. Setiap orang
Kristen -- intelektual atau bukan -- bisa melakukan hal yang serupa.
Publikasi bukan hal yang perlu untuk hidup di dalam kebenaran. Ketika
sebuah keluarga Kristen memutuskan untuk tidak memiliki TV di rumah
atau membatasi penggunaan TV secara ketat, keluarga itu mulai hidup di
dalam kebenaran. Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak tetangganya
untuk mengetahui bahwa tidak ada TV di dalam keluarga itu (atau bahwa
tidak seorang pun yang diperkenankan untuk menggunakan TV itu untuk
program-program yang mengandung unsur yang destruktif secara eksplisit
atau implisit); mereka akan bertanya mengapa, dan pewartaan kebenaran
akan dimulai. Siapa pun dapat menambahkan contoh-contoh lain.
---------------------------------------------------------------------
Yesus akan merasa sepenuhnya nyaman di dalam konteks profesional di
mana kebaikan sedang dilakukan hari ini. Tetapi Dia sudah pasti akan
terus mengecam semua bentuk pengembangan diri yang angkuh dan perlakuan
yang tidak benar terhadap sesama yang terus terjadi di dalam lingkungan-
lingkungan profesional. Di dalam hal ini dan yang lainnya, profesi-
profesi kita sangat merindukan kehadiran-Nya.
DALLAS WILLARD
"Jesus The Logician"
---------------------------------------------------------------------
Tetapi cukup kiranya contoh di atas bagi orang Kristen. Apa maksudnya
seorang intelektual Kristen memberitakan kebenaran? Setidaknya ini
berarti seorang intelektual Kristen melakukan komunikasi sehari-harinya
dengan integritas yang tinggi, tidak perlu menutup-nutupi apa pun yang
relevan terhadap situasi yang ada terhadap siapa pun. Itu dinyatakan
dengan sangat umum. Yang dimaksudkannya dalam praktik memiliki perbedaan
yang sangat beragam dengan peran yang dimainkan orang tersebut dalam
masyarakat. Apa yang biasanya dituliskan oleh orang tersebut? Surat
bisnis, laporan hukum, laporan ilmiah, analisis finansial? Dengan siapa
dia biasanya berbincang-bincang? Para klien, siswa, majikan, karyawan,
tetangga, sesama penumpang di dalam sebuah pesawat? Itu adalah konteks
untuk memberitakan kebenaran.
Mari kita ambil satu contoh dari sebuah bidang di mana saya telah
menghabiskan sebagian besar kehidupan saya: riset dan mengajar di
universitas. Para intelektual sekuler di univesitas-universitas jelas
tidak pernah bosan untuk memberitahukan kita apa yang telah mereka
yakini sebagai hal yang benar atau apa yang baru-baru ini sedang mereka
konstruksikan untuk ditampilkan sebagai kebenaran. Para intelektual
Kristen juga tidak kalah aktif. Tetapi banyak pihak yang berada di dalam
maupun di luar dunia Kristen yang tidak mengetahui hal ini, atau
setidaknya berpura-pura tidak tahu.
Sebagai contoh, konferensi-konferensi akademis diadakan, tetapi
melampaui studi-studi filsafat, agama, dan alkitabiah. Keberadaan
koran-koran Kristen dengan isi yang khas Kristen begitu sedikit. Saya
curiga bahwa ada jauh lebih banyak akademisi Kristen daripada mereka
yang makalah-makalah akademisnya merefleksikan wawasan dunia Kristen.
Ini mungkin tidak terlalu bermasalah di bidang matematika dan ilmu-ilmu
pengetahuan alam, seperti kimia, fisika, dan sebagian besar biologi.
Tetapi di dalam studi tentang asal usul biologi, dan yang pasti di dalam
psikologi, sosiologi, dan antropologi, seperti juga di dalam sejarah,
sastra, dan seni, sejumlah kebenaran yang dinyatakan tentang wawasan
dunia Kristen juga begitu relevan sehingga jika kita tidak membawa
kebenaran-kebenaran ini ke dalam gambaran kehidupan, kita hidup dalam
kebohongan.
---------------------------------------------------------------------
Di dalam kasus para intelektual, satu-satunya perkara spesifik yang
menjadi tanggung jawab mereka secara profesional adalah penggunaan kata
yang baik -- yaitu penggunaan yang benar dan paling tidak, tidak
menyesatkan. Hal ini lebih merupakan perkara semangat kebenaran daripada
perkara kebenaran, karena tidak seorang pun yang bisa menjanjikan bahwa
dia tidak akan pernah membuat kekeliruan; tetapi adalah mungkin untuk
memelihara semangat kebenaran, yang berarti tidak pernah meninggalkan
kecurigaan dan selalu waspada terhadap perkataan dan identifikasinya
sendiri, mengetahui bagaimana menarik kembali kesalahannya sendiri,
dan mampu mengoreksi diri sendiri. Hal itu mungkin secara manusiawi,
dan orang mengharapkan hal demikian ada pada diri-diri para intelektual
karena, untuk alasan yang jelas, kualitas-kualitas manusia yang lazim
berupa keangkuhan dan ketamakan akan kuasa di antara para intelektual
mungkin memiliki akibat-akibat tertentu yang sangat merusak dan
membahayakan.
LESZEK KOLAKOWSKI
"Modernity on Endless Trial"
---------------------------------------------------------------------
Bukankah fakta yang paling penting tentang diri kita adalah bahwa kita
dijadikan menurut gambar Allah? Akan tetapi, buku teks mana, atau
publikasi akademis mana, atau program riset di dalam teori psikologi,
sosiologi, dan antropologi, sejarah, serta sastra mana yang pernah
menyebut ide tersebut? Ide tersebut jika bukan serta-merta dianggap
salah, maka akan dianggap sama sekali tidak relevan dengan bidang yang
bersangkutan. Makalah-makalah mana yang dipublikasikan jurnal-jurnal
akademis yang terhormat atau buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-
penerbit akademis yang bisa kita tunjukkan sebagai contoh kesarjanaan
Kristen dalam bidang-bidang tersebut? Ada beberapa. Saya bisa
menunjukkan dua: "The Political Meaning of Christianity" oleh Glenn
Tinder, seorang guru besar bidang ilmu politik di University of
Massachusetts di Boston; dan "The American Hour: A Time of Reckoning
and the Once and Future Role of Faith" oleh Os Guinness, seorang
sosiolog dan rekanan senior di Trinity Forum. Guinness mungkin paling
tepat dideskripsikan sebagai seorang Kristen dan seorang intelektual
publik yang independen.
Atau dalam ilmu-ilmu alam, bukankah fakta yang paling penting mengenai
apa yang disebut tatanan alam, di dalam satu maknanya yang terpenting,
sama sekali bukan "alamiah"? Tantangan John Henry Newman sangat tepat:
Akuilah seorang Allah maka Anda memasukkan di antara bidang-bidang
pengetahuan Anda sebuah fakta yang meliputi, yang membatasi,
menyerap setiap fakta lain yang bisa dipikirkan. Bagaimana kita
bisa menginvestigasi suatu bagian dari suatu tatanan pengetahuan,
tetapi tidak menginvestigasi fakta yang menyeruak ke dalam setiap
tatanan itu? Semua prinsip yang benar berlimpah dengannya, semua
fenomena mengarah kepadanya.
Di manakah di dalam literatur ilmiah, suatu bagian yang lumayan besar
yang dituliskan oleh orang-orang Kristen di dalam bidang ilmu
pengetahuan, terdapat suatu pengakuan akan fakta tentang penciptaan
dan imanensi Allah?
Para sarjana Kristen di universitas-universitas sekuler, dan tragisnya
banyak pula yang di universitas-universitas Kristen, telah terjebak
oleh ideologi naturalisme. Seperti penjual sayur di dalam esai Havel,
banyak guru, secara sadar atau tidak, telah memajang berbagai plakat
naturalis yang cocok dengan disiplin akademis mereka, mengubah plakat-
plakat ini seiring perubahan ideologi yang spesifik dalam disiplin
mereka:
# "Semua sejarah ditulis oleh para pemenang."
# "Sejarah paling baik dituturkan dari bawah ke atas."
# "Pandangan-pandangan yang terpolarisasi -- ini benar, itu salah --
tidak terlalu serius memikirkan pertanyaan-pertanyaan sejarah.
# "Di dalam ilmu pengetahuan, hanya faktor-faktor materi yang masuk ke
dalam penjelasan-penjelasan kita; kita tidak bisa berbicara tentang
rancangan."
# "Literatur adalah sebuah ideologi."
# "Tidak ada teks yang memiliki penulis."
# "Amati fungsi dari gambar-gambar Kristus di dalam kisah ini; jangan
bertanya tentang Kristus itu sendiri."
# "Theologi sistematika adalah studi tentang apa yang telah dituliskan
dan dipercayai oleh para teolog sistematika; ini bukan mengenai objek
kepercayaan."
# "Efek-efek kebenaran dihasilkan di dalam wacana-wacana yang pada
dirinya sendiri tidak benar dan juga tidak salah."
# "Umat manusia mengonstruksi natur mereka sendiri."
Pada dasar semua plakat ini mungkin terdapat prinsip yang paling
dekaden dari semuanya (hal ini kebetulan terdengar di sebuah konferensi
akademis tentang agama): "Tidak satu pun dari kita yang memercayai hal
apa pun yang tengah kita bahas, tetapi dengan cara inilah kita
mendapatkan penghasilan." Di dalam sebuah arena akademis seperti itu,
tidak mudah untuk memajang sebuah plakat iman Kristen yang gamblang.
Ahli ilmu politik, John C. Green, menuliskan:
"Jika seorang guru besar berbicara mengenai mempelajari sesuatu
dari sebuah sudut pandang Marxis, pihak lain mungkin tidak setuju,
tetapi tidak akan mengesampingkan ide tersebut. Tetapi jika
seorang guru besar berbicara tentang mempelajari sesuatu dari
sudut pandang Katolik atau Protestan, dia akan diperlakukan
seakan-akan dia mengatakan untuk mempelajari sesuatu dari sudut
pandang makhluk dari planet Mars."
Pastilah sangat mengejutkan ketika mendengar Charles Habib Malik
menyampaikan Pascal Lectures mengenai "Kekristenan dan Universitas"
di University of Waterloo, Ontario, Kanada. Kredibilitas akademis
Malik meliputi posisi sebagai guru besar di Harvard, Dartmouth, dan
Catholic University of America; kredibilitas politisnya meliputi
kedudukan sebagai presiden dari General Assembly of the United Nations
dan Security Council. Sekarang, bayangkan dia berbicara kepada
pendengar yang akademis di sebuah universitas sekuler. Siapakah
kritikus final atas universitas? Dia bertanya:
"Kritikus itu, dalam analisis terakhirnya, adalah Yesus Kristus
sendiri. Kami tidak sedang menawarkan opini kami; kami sedang
mencari penghakiman-Nya atas universitas .... Yesus Kristus eksis
di dalam diri-Nya sendiri dan menopang seluruh dunia, termasuk
universitas, di telapak tangan-Nya. Kami sedang memohon, mencari,
mengetuk untuk menemukan apa tepatnya pendapat Yesus Kristus
tentang universitas."
Ceramah Malik adalah satu kekuatan yang mengejutkan karena retorikanya
memberikan kekuatan bagi analisisnya yang tajam atas sains dan
kemanusiaan. Pada saat itu, suaranya mungkin adalah satu-satunya suara
yang terdengar.
Tentu saja sudah ada beberapa orang Kristen yang berani untuk mengakui
iman Kristen mereka di tengah-tengah arena akademis sekuler. Pertama-
tama, orang akan terpikir kepada C. S. Lewis. Kemudian orang harus
bergumul untuk memikirkan siapa lagi yang juga berani mengakui iman
mereka. Pada kenyataannya, baru pada tahun-tahun terakhir inilah para
sarjana Kristen telah berpikir secara serius tentang peran publik mereka,
relevansi terbuka dari iman Kristen mereka kepada disiplin-disiplin
akademis mereka. Di antara sosok yang paling menonjol adalah trio
akademisi yang berakar di Calvin College: Nicholas Wolterstorff, Alvin
Plantinga, dan George Marsden. Ketiganya menjabat posisi pengajar
tingkat doktoral di institusi-institusi utama. Dua nama pertama adalah
filsuf dan telah berada di garis depan dari terbentuknya kehadiran
nyata orang Krissten dalam kesarjanaan di bidang filsafat. Nama terakhir
adalah seorang sejarawan, dengan dua bukunya, "The Soul of the American
University" dan "The Outrageous Idea of Christian Scholarship",
diterbitkan oleh Oxford University Press. Marsden bahkan dihormati
dengan foto sampul di The Chronicle of Higher Education, dengan latar
mural Yesus yang terlihat di TV oleh banyak orang di setiap Sabtu
petang di musim gugur, yaitu di atas stadion sepak bola Notre Dame.
Akan sangat luar biasa jika semua akademisi Kristen berpikir dan
bertindak seakan-akan Yesus benar-benar tengah mengawasi gerak-gerik
mereka. (Dan Yesus memang melakukannya, Anda tahu itu.)
---------------------------------------------------------------------
(Siswa-siswa Harvard di tahun 1880-an:) Ini merupakan eksistensi yang
malas, tak berarah, dan humoris, tanpa imajinasi yang halus, tanpa
suatu isi kesarjanaan yang umum, tanpa agama yang nyata: kepekaan
inteligensi dalam kekaburan, terbang menuju permainan yang remeh,
dengan tujuan kembali, segera setelah masa kuliah berakhir, kepada
kegiatan-kegiatan yang membosankan.
GEORGE SANTAYANA
"Character and Opinion in the United States"
---------------------------------------------------------------------
Akan tetapi, secara umum para intelektual Kristen telah menjadi sorotan
karena ketidakhadiran mereka dalam koridor pendidikan dan kuasa politis.
Mereka sering mengetahui kebenaran tetapi mungkin tidak memiliki
platform politis untuk menyatakannya, atau mereka menyia-nyiakan
peluang mereka karena takut akan semakin dipinggirkan.
"Tetapi tunggu dulu," mungkin Anda mendengar teman-teman Anda berkata,
"Apakah Anda melupakan ratusan buku yang ditulis orang-orang Kristen
yang justru persis melakukan apa yang Anda bicarakan? Apakah Anda sebagai
editor InterVarsity Press tidak mendorong dan menerbitkan banyak buku
seperti itu? Bukankah Zondervan dan penerbit-penerbit lainnya juga
telah mengikuti penerbit Anda? Perhatikan saja daftar panjang di bagian
daftar pustaka buku Anda sendiri, `Discipleship of the mind`."
Poin yang disampaikan memang sangat baik. Ya, semuanya itu benar.
Tetapi sebenarnya ini membuktikan poin saya. Buku-buku ini -- adalah
buku-buku yang sangat baik -- diterbitkan oleh penerbit-penerbit Kristen
yang Injili. Eerdmans, dan IVP setelahnya, baru muncul sebagai penerbit-
penerbit buku yang layak dibaca oleh pembaca yang akademis di luar
batasan-batasan sempit dunia Kristen Injili. Selain itu, sebagian besar
penerbitan mereka mengenai topik-topik yang khusus bersifat religius.
Masih tetap begitu sedikit buku-buku bermutu yang didasarkan kepada
premis-premis yang khas Kristen dalam disiplin-disiplin psikologi,
sosiologi, antropologi, ekonomi atau humanitas, dan seni.
Jelas inilah saatnya untuk menaati slogan kampanye di mana saudara ipar
saya yang adalah seorang politisi mendukung seorang kandidat yang
melawan koleganya, yaitu gubernur negara bagian: "Katakan kebenaran,
Terry!" Dengan menyesal saya harus melaporkan bahwa kampanye itu tidak
berhasil. Terry dipilih kembali. Tetapi keberhasilan dalam memberitahukan
kebenaran, seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak diukur oleh hasil-
hasilnya. Siswa tingkat pascasarjana yang memberitahukan kebenaran mungkin
membahayakan kesempatannya untuk menerima gelar Doktor. Asisten guru
besar mungkin mengurangi kesempatan untuk menerima jabatan penuh. Sarjana
Kristen mungkin tidak mendapati makalahnya dimuat di dalam jurnal-jurnal
ternama dalam bidangnya.
---------------------------------------------------------------------
Poin dari kesarjanaan Kristen bukan pengakuan oleh standar-standar yang
mapan di dalam kultur yang lebih luas. Poinnya adalah memuji Allah
dengan akal budi. Upaya-upaya seperti itu akan membawa pada sejenis
integritas intelektual yang kadang menerima pengakuan, tetapi bagi
orang Kristen tersebut pengakuan ini hanya produk sampingan yang tidak
terlalu penting. Poin yang sebenarnya adalah menghargai apa yang telah
Allah jadikan, memercayai bahwa pcnciptaan adalah se"baik" yang
dikatakan-Nya, dan mengeksplorasi dimensi-dimensi terpenuh dari maksud
Anak Allah untuk "menjadi daging dan diam di antara kita". Dan yang
terutama, karya intelektual jenis ini adalah imhalan bagi dirinya
sendiri, karena ia terfokus hanya kepada Dia yang pengakuan-Nya penting,
Dia yang di hadapan-Nya semua hati terbuka.
MARK NOLL
"The Scandal ofthe Evangelical Mind"
---------------------------------------------------------------------
Tetapi Noll benar: "Karya intelektual jenis ini adalah imbalan bagi
dirinya sendiri, karena terfokus hanya pada Dia yang pengakuan-Nya
terpenting, Dia yang di hadapan-Nya semua hati terbuka."
Sayangnya Camus juga benar -- secara figuratif dan harfiah: "Ide-ide
yang keliru selalu berakhir dengan sebuah pertumpahan darah, tetapi di
dalam setiap kasusnya itu adalah darah orang lain. Darah yang ditumpahkan
oleh ide-ide yang keliru yang dicetuskan orang lain -- seperti mereka
yang ingin mencegah tersebarnya kesarjanaan Kristen, misalnya -- mungkin
adalah darah para sarjana Kristen sendiri. Memberitahukan kebenaran
mungkin benar-benar berbahaya bagi kesehatan profesional seseorang.
Tetapi ingatlah bahwa keberanian merupakan salah satu kebajikan dari
intelek. Kebajikan ini niscaya secara mutlak bagi orang Kristen yang
ada di dunia akademis sekarang ini.
Tanggung Jawab Kepada Allah
Meskipun kita bertanggung jawab untuk hidup di dalam kebenaran --
mempelajari kebenaran dan memberitahukan kebenaran, kepada Allah-lah
kita bertanggung jawab. Melampaui tanggung jawab kita kepada keluarga
kita, komunitas iman kita, tetangga kita, negara kita, dunia di sekitar
kita, kita secara utama bertanggung jawab kepada Pencipta kita, Tuhan
kita, Juru Selamat kita -- Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Tanggung jawab umum untuk memuliakan Allah mendahului semua tanggung
jawab spesifik lain yang kita miliki sebagai intelektual atau calon
intelektual, karena memuliakan Allah merupakan tugas penuh waktu yang
melibatkan keseluruhan keberadaan kita. Doa ini mungkin akan sangat
baik dinaikkan untuk memulai dan menutup setiap hari Anda:
"Biarlah aku menggunakan segala hal hanya untuk satu alasan saja:
untuk menemukan sukacitaku di dalam memberikan kepada-Mu kemuliaan
yang besar."
======================================================================
Diambil dan disesuaikan dari:
Judul buku: Kebiasaan Akal Budi
Judul asli buku: Habits of The Mind
Penulis: James W. Sire
Penerjemah: Irwan Tjulianto
Penerbit: Momentum, Surabaya 2007
Halaman: 273 -- 297
|