Dear e-Reformed Netters,
Dari sejarah gereja, kita mengenal beberapa tokoh yang selalu berjuang
mereformasi ajaran-ajaran gereja yang tidak sesuai dengan Alkitab dan
berusaha mengembalikan ajaran kekristenan pada otoritas yang benar,
yaitu Alkitab yang adalah firman Allah, dan kedaulatan Allah atas
segala sesuatu. Salah satu tokoh yang kita kenal sebagai reformator
yang paling berpengaruh adalah John Calvin.
Teolog asal Perancis ini menjadi tokoh sentral dalam pengembangan dan
penyebaran Calvinisme, sebuah sistem teologi yang menekankan pada
otoritas Alkitab dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. "Oleh
pertobatan yang tiba-tiba terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada
kemauan (untuk menurut)," kata-kata yang beliau ucapkan inilah
yang mungkin menjadi titik awal perannya yang sangat besar dalam
gerakan reformasi gereja. Calvinlah yang membangun fondasi ajaran
Reformed secara sistematis dan paling lengkap. Bagaimana semua itu
terjadi? Tentunya semua ini tak lepas dari perjuangan hidup dan
pelayanan beliau yang tak kenal lelah itu.
Menyambut Hari Reformasi tanggal 31 Oktober ini, mari kita simak edisi
e-Reformed yang menyajikan riwayat hidup dan pelayanan John Calvin.
Kiranya perjuangan dan semangat yang Calvin tunjukkan, dapat memberi
inspirasi bagi kehidupan Kristen kita saat ini, khususnya semangat
untuk mereformasi gereja kita masing-masing.
Untuk melengkapi artikel ini, kami ajak Anda pula untuk menyimak
referensi seputar Reformasi, teologi Reformed, dan tokoh Reformasi
yang kami tambahkan di bagian bawah artikel ini. Kiranya menjadi
berkat.
Redaksi Tamu e-Reformed, Dian Pradana http://www.soteri.sabda.org/
====================================================================
SEKILAS HIDUP REFORMATOR JOHN CALVIN DI JENEWA DAN DI STRASBURG
Pendahuluan
Calvin dilahirkan pada tahun 1509 di Noyon, Perancis Utara. Tahun
1523, ia memulai studinya di sekolah menengah di Paris. Di sekolahnya,
ia diarahkan kepada humanisme dan tradisi Abad Pertengahan. Sesuai
dengan kemauan ayahnya, ia kemudian melanjutkan studinya di bidang
ilmu hukum di Orleans dan di Bourges. Ketika itu, pengaruh humanisme
di Perancis sangat besar. Di situ, Erasmus, humanis Belanda, sangat
dihormati dan dijunjung tinggi.
Sejak akhir Abad Pertengahan, hubungan antara gereja dan negara erat
sekali. Karena itu, orang-orang Perancis sangat memusuhi reformasi.
Mungkin dari kawan-kawannya, ia memeroleh bacaan yang
memperkenalkannya pada reformasi. Mula-mula, ia tidak merasa tertarik
pada "ajaran baru" itu. Tetapi pada akhir tahun 1533, tiba-
tiba terjadi perubahan di dalam hidupnya. Calvin sendiri tidak banyak
berbicara tentang hal ini. Hanya beberapa kali saja ia menulis tentang
pertobatannya. Ia katakan: "Oleh pertobatan yang tiba- tiba
terjadi, Allah menaklukkan jiwaku kepada kemauan (untuk
menurut)."
Secara teologis, hal ini berarti bahwa sejak saat itu, pengaruh
Lutherlah yang memimpin, bukan lagi Erasmus. Ia mau menggunakan
ilmunya untuk pelayanan Injil yang ia temukan kembali. Tidak lama
sesudah pertobatannya, "penyiksaan" terhadap orang-orang
Kristen Perancis yang mengikuti "ajaran baru" itu memaksanya
untuk meninggalkan tanah airnya. Mula-mula, Calvin pergi ke Strasburg.
Namun tidak lama kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Basel. Di
sini, ia berharap dapat melanjutkan studinya dengan tenang. Di sinilah
ia menyelesaikan karyanya, "Institutio" (edisi pertama).
Tahun 1536, karyanya ini diterbitkan dalam bentuk buku. Edisi pertama
dari karyanya ini hanya berfungsi sebagai semacam
"katekismus" bagi orang- orang Perancis yang mengikuti
gereja reformasi.
Pada tahun 1536, Calvin pergi ke Italia. Beberapa waktu lamanya, ia
tinggal di istana seorang bangsawan wanita. Dari situ, ia pergi lagi
ke sebelah utara dan berencana tinggal di Strasburg atau di Basel.
Dalam perjalanannya itu, ia singgah dan bermalam di Jenewa. Pendeta
Farel dari Jenewa mendengar bahwa orang muda Perancis -- yang telah ia
dengar namanya sebagai seorang anak muda yang pandai -- sedang berada
di kotanya. Ia segera pergi mengunjungi Calvin dan meminta dengan
sangat agar ia tinggal di Jenewa, supaya keduanya bekerja sama untuk
memajukan reformasi di kota itu. Mula-mula, Calvin menolak karena ia
ingin belajar dengan tenang. Namun, Farel mendesaknya dengan kata-kata
yang keras, bahkan dengan ancaman kutuk. Hal itu melunakkan hatinya,
dan Calvin mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Farel.
I
Dalam pelayanannya yang pertama di Jenewa, Calvin bekerja dua tahun
lamanya (1536 -- 1538) bersama-sama dengan Farel. Ia mula-mula
diangkat oleh Dewan Kota sebagai lektor dan ditugaskan untuk mengajar
pengetahuan Kitab Suci di St. Pierre (gedung gereja St. Petrus).
Kemudian, Calvin diangkat menjadi pendeta. Tugas mengajar yang
dipercayakan kepadanya, ia tunaikan dengan membahas surat-surat Rasul
Paulus.
Pada bulan Oktober 1536, Calvin diundang menghadiri diskusi di
Lausanne, tempat Farel membela ajarannya tentang "pembenaran oleh
iman" serta penolakannya terhadap ajaran Gereja Katolik Roma
tentang transsubstansiasi dan seremoni-seremoni gereja itu serta
beberapa pokok yang lain.
Calvin juga mengambil bagian dalam diskusi itu. Banyak orang yang
hadir, kagum terhadap pengetahuannya akan ajaran bapa-bapa gereja,
seperti Tertulianus, Chrysostomus, dan Augustinus, mengenai pokok-
pokok yang dibicarakan. Oleh pengetahuannya yang mengagumkan itu,
banyak orang dimenangkan untuk reformasi. Nama Calvin segera tersebar
ke mana-mana hingga pada tahun 1537, ia dan Farel dapat memulai
pekerjaan reformasi mereka di Jenewa.
Pada tahun itu juga, Dewan Kota mengesahkan "Peraturan tentang
Pemerintahan (Pimpinan) Gereja". Dalam peraturan itu, antara lain
diatur perayaan Perjamuan Malam. Calvin berpendapat bahwa Perjamuan
Malam harus dirayakan tiap-tiap minggu. Sungguhpun demikian, ia dapat
menerima bahwa perayaan itu hanya diselenggarakan sekali sebulan,
yaitu di dalam salah satu dari tiga gedung gereja besar di Jenewa.
Untuk itu, perlu diadakan disiplin gerejawi yang dilakukan oleh
gereja, dan bukan oleh pemerintah, sama seperti yang terjadi di mana-
mana, karena orang mengikuti kebiasaan Luther dan Zwingli. Kita harus
ingat -- katanya -- bahwa Kristus adalah Tuhan gereja. Karena itu,
pemerintah tidak memunyai hak untuk mencampuri pelayanan -- soal-soal
-- intern gereja. Dengan jalan ini, Calvin menegaskan bahwa Kristuslah
yang memerintah gereja, juga hidup lahiriahnya. Dalam ibadah harus
dinyanyikan mazmur-mazmur.
Di dalam jemaat, timbul keberatan terhadap pandangan-pandangan di
atas. Calvin dituduh sebagai pengikut Arminianisme. Dewan Kota setuju
dengan keberatan itu karena Dewan Kota sendiri mau menjalankan
disiplin. Dengan demikian, Dewan Kota merendahkan disiplin gerejawi
menjadi semacam "pengawasan-polisi". Ketegangan ini mencapai
puncaknya pada tahun 1538. Ketika itu diadakan pemilihan Dewan Kota.
Dalam pemilihan itu nyata bahwa jumlah terbesar dari anggota-anggota
Dewan Kota yang baru memihak kepada orang-orang yang menentang Calvin.
Dewan Kota menuntut supaya Jenewa hidup menurut seremoni-seremoni
Bern, supaya bejana-bejana baptisan yang dibuat dari batu digunakan
lagi, dan supaya dalam Perjamuan Kudus digunakan roti yang tidak
beragi.
II
Calvin dan Farel melawan tuntutan pemerintah tersebut. Mereka tidak
setuju karena menurut mereka pemerintah sudah bertindak melampaui
batas wewenangnya dan mencampuri hal-hal yang hanya boleh diatur oleh
gereja. Mereka berjuang memertahankan kebebasan gereja. Sebagai
jawaban atas sikap tersebut, pemerintah melarang mereka untuk
memberitakan firman dalam ibadah. Namun, mereka tidak menghiraukan
larangan itu. Akhirnya, pada bulan April 1538, pemerintah memecat
Calvin dan Farel dan menyuruh mereka meninggalkan Jenewa.
Farel pergi ke Neuchatel. Dari situ, ia mengikuti perkembangan-
perkembangan yang berlangsung di Jenewa. Calvin merasa tersinggung,
tetapi juga senang, sebab kini ia dapat melanjutkan studinya dengan
tenang.
Ia mula-mula pergi ke Bern dan sesudah itu ke Basel. Di kota ini,
Bucer mengirim surat kepadanya dan memintanya datang ke Strasburg
untuk memimpin jemaat Perancis yang terdiri dari orang-orang Perancis
yang melarikan diri dan mencari perlindungan di Strasburg. Mula-mula,
ia agak ragu. Namun, karena Bucer terus mendesaknya melalui surat-
suratnya, akhirnya ia memenuhi permintaan Bucer dan berangkat ke
Strasburg.
III
Di kota ini, Calvin bekerja tiga tahun lamanya (1538 -- 1541) sebagai
pendeta dari jemaat orang-orang pelarian yang tinggal di Strasburg.
Atas permintaan Capito, ia juga segera memulai suatu kursus teologi.
Sama seperti di Jenewa, ia juga bekerja keras di Strasburg. Ia
berkhotbah empat kali seminggu. Liturgi untuk ibadah, sebagian besar
ia ambil alih dari liturgi Jerman yang banyak digunakan di Strasburg.
Ciri khas liturgi ini ialah pengakuan dosa, pembacaan kesepuluh
firman, penggunaan mazmur-mazmur sebagai nyanyian jemaat dalam ibadah
Minggu pagi, dan berlutut ketika berdoa.
Di dalam gedung-gedung besar, Perjamuan Kudus dilayani setiap minggu,
tetapi dalam jemaat Perancis dilakukan sekali sebulan. Calvin
berpendapat bahwa dalam Gereja Katolik Roma, tugas jemaat di bidang
puji-pujian (nyanyian) telah diambil alih oleh paduan suara dan organ.
Karena itu, ia hendak mengembalikan tugas itu kepada jemaat. Tahun
1539, ia menerbitkan Kitab Nyanyian Mazmur yang memuat delapan belas
mazmur dalam bentuk sajak, tujuh mazmur berasal dari dia sendiri, dan
delapan mazmur dari Marot. Di samping itu, ditambahkan juga
"sepuluh firman", "nyanyian puji-pujian dari
Simeon", dan "Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum)".
Kemudian, di Jenewa, ia menugaskan Marot dan Beza untuk menerjemahkan
dan menuangkan seluruh kitab Mazmur dalam bentuk sajak, supaya dapat
dinyanyikan oleh jemaat. Sebagai melodi untuk mazmur-mazmur ini,
digunakan melodi-melodi dari Matthias Greiter, Louis Bourgeois, dan
Maitre Pierre. Mazmur-mazmur tersebut dinyanyikan tanpa iringan organ.
Selain Kitab Nyanyian Mazmur, Calvin juga menyusun suatu formulir
baptisan untuk memelihara jemaat dari ajaran kaum pembaptis ulang.
Tahun 1539, ia menerbitkan edisi kedua dari karyanya, Institutio, yang
tiga kali lebih tebal daripada edisi pertama. Dalam edisi kedua ini,
ia juga membahas pengetahuan tentang Allah dan manusia, inspirasi
Kitab Suci, kesaksian Roh Kudus, dan predestinasi kembar. Di samping
itu, ia juga menerbitkan suatu tafsiran tentang surat Rasul Paulus
kepada jemaat di Roma. Banyak ahli menganggap tafsiran ini sebagai
suatu contoh dari karya ilmiah dan praktis.
Tahun 1540, ia menikah dengan Idelette de Bure, janda Jean Stordeur
dari Luik, yang ia tobatkan dan mengikuti reformasi. Idelette membawa
dua anak dari perkawinannya yang pertama. Dari perkawinannya dengan
Calvin, ia memeroleh seorang anak laki-laki, tetapi anak itu meninggal
dalam usia muda.
Seperti kita ketahui, Calvin adalah seseorang yang mencintai kesatuan
gereja. Untuk mencapai kesatuan ini, diadakan diskusi antara teolog-
teolog Katolik Roma dan teolog-teolog Protestan. Upaya itu dilakukan
berturut-turut di Frankfurt (1539), di Hanegau (1540), di Worms (1540
--1541), dan di Regensburg (1541). Di Frankfurt, ia bertemu dengan
Melanchton dan menjalin persahabatan dengannya. Di Regensburg, ia
tidak puas dengan formulir-formulir "perdamaian" (antara
Gereja Katolik Roma dan gereja-gereja Protestan) yang dirumuskan oleh
Melanchton dan Bucer tentang ajaran Gereja Katolik Roma mengenai
transsubstansiasi. Menurut Calvin, formulir-formulir itu agak jauh
menyimpang dari ajaran reformasi.
IV
Sementara itu, pelayanan dalam jemaat di Jenewa tidak berjalan lancar.
Pelayanan itu menemui banyak kesulitan. Pendeta-pendeta baru yang
menggantikan Calvin dan Farel tidak memenuhi harapan Dewan Kota.
Mereka juga tidak sepandai Calvin dan Farel. Hal itu antara lain
terbukti dari surat Sadoletus, Uskup Carpentras. Ia menulis surat
kepada jemaat di Jenewa dengan isi yang menarik. Ia mengatakan bahwa
ia menolak perpecahan gereja -- maksudnya antara Gereja Katolik Roma
dan gereja-gereja Protestan -- dan menyetujui, malahan memuji, firman
Allah dan ajaran tentang pembenaran oleh iman. Karena itu, ia membujuk
jemaat di Jenewa untuk kembali ke Gereja Katolik Roma. Dewan Kota
berusaha untuk memeroleh bantuan dari berbagai pihak. Namun, usaha itu
tidak berhasil. Tidak ada orang yang dapat membantu. Karena itu,
sebagai usaha yang terakhir, Dewan Kota menulis surat kepada Calvin
untuk meminta bantuannya. Calvin setuju. Dalam waktu enam hari, ia
mengirim "jawaban" yang diminta oleh Dewan Kota di Jenewa
(1539). Jawaban itu begitu baik, sehingga Uskup Sadoletus menghentikan
bujukannya kepada jemaat di Jenewa.
Dewan Kota sangat berterima kasih atas surat itu. Karena itu, dalam
suatu rapat, mereka mengambil keputusan untuk meminta Calvin kembali
ke Jenewa, terutama karena timbulnya ketegangan-ketegangan politik di
kota itu. Ketegangan-ketegangan politik itu makin lama makin bertambah
besar. Mula-mula, permintaan Dewan Kota itu ditolak Calvin. Ia tidak
mau melibatkan dirinya dalam kekacauan politik di Jenewa. Tetapi, pada
tahun 1541, Farel menulis surat kepadanya dan meminta dengan sangat
supaya permintaan Dewan Kota Jenewa itu diterima. Menurut Farel,
Calvin harus melihat permintaan itu sebagai suatu panggilan Allah.
Surat Farel itu dapat melunakkan hati Calvin. Ia menulis surat kepada
Farel antara lain dengan kata-kata berikut: "Aku memersembahkan
hatiku kepada Allah sebagai kurban." Kata-kata ini kemudian ia
gunakan sebagai "semboyan" hidupnya.
V
Calvin kembali lagi ke Jenewa pada bulan September 1541 setelah hampir
3,5 tahun lamanya ia meninggalkan kota itu. Masa pelayanan Calvin yang
kedua kali di Jenewa ini lamanya 23 tahun. Masa 14 tahun yang pertama
(1541 -- 1555) penuh dengan perjuangan. Ia segera mulai dengan
"peratuan-peraturan gerejanya". Di situ -- seperti yang
telah kita dengar -- tercipta empat macam jabatan: pendeta (untuk
pemberitaan firman), pengajar (untuk katekisasi dan pengajaran
teologis), penatua (untuk penggembalaan dan disiplin), dan diaken
(untuk pelayanan orang miskin dan orang sakit).
Pendeta-pendeta dan penatua-penatua merupakan "konsistori"
yang memimpin jemaat dan melayani penggembalaan dan menyelenggarakan
disiplin. Untuk pertama kalinya, gereja di Jenewa menjalankan
pimpinannya sendiri. Maksud Calvin lebih jauh daripada itu. Ia mau
supaya Kristus saja yang memunyai kuasa mutlak di dalam gereja. Dengan
kata lain, "kristokrasi" ia jalankan dengan perantaraan
pejabat- pejabat-Nya yang tunduk kepada firman-Nya. Dengan jalan itu,
terhindarlah setiap campur tangan dari luar. Disiplin diselenggarakan
dengan hukuman. Tiap-tiap penatua memunyai wilayahnya sendiri dan
berhak mengunjungi tiap-tiap rumah tangga. Ia menciptakan berbagai
alat disiplin: nasihat, pengakuan dosa, larangan untuk menghadiri
perayaan Perjamuan, dan ekskomunikasi. Kalau semuanya ini tidak
membantu, orang-orang yang bersangkutan diserahkan kepada pemerintah.
Pemerintah menghendaki perayaan Perjamuan Malam hanya dilayani empat
kali setahun, juga bahwa dalam beberapa hal pemerintah lebih banyak
memunyai hak daripada yang dikehendaki Calvin. Tetapi Calvin tidak
setuju, juga waktu pemerintah berusaha untuk menguasai dan
menyelenggarakan disiplin.
Calvin tidak berkata-kata lagi tentang keharusan untuk menandatangani
pengakuan iman. Sebagai gantinya, ia meletakkan dasar yang kuat untuk
pengajaran katekisasi dengan jalan menulis sendiri Katekismus Jenewa.
Di situ dibahas tentang iman, perintah, doa, dan sakramen. Buku ini
kemudian ditiru oleh gereja-gereja lain dan besar sekali pengaruhnya
atas Katekismus Heidelberg. Bukan saja pengajaran katekisasi, ia juga
menyusun liturgi-liturgi untuk ibadah jemaat. Dalam pekerjaan
penyusunannya, ia menggunakan liturgi- liturgi yang ada pada waktu itu
sebagai bahan. Namun, ia mengubahnya sesuai dengan liturgi yang
digunakan di Strasburg. Dapat kita katakan bahwa Strasburg adalah
tempat lahirnya bentuk "liturgi Reformed". Tetapi bentuk itu
mula-mula jauh lebih kaya daripada bentuk yang digunakan pada saat
ini.
Tadi kita telah mendengar tentang nyanyian jemaat (mazmur-mazmur) yang
diusahakan oleh Calvin dan kawan-kawannya, yakni penyair mazmur
Perancis, Clement Marot, dan Theodorus Beza (yang melanjutkan
pekerjaan Marot). Melodi-melodi untuk nyanyian jemaat itu mula-mula
diambil alih Calvin dari melodi-melodi yang digubah oleh Matthias
Greiter dari Strasburg. Salah satu di antaranya ialah Mazmur 68 yang
kita miliki sampai sekarang. Kemudian, di Jenewa, Calvin menugaskan
Louis Bourgeois untuk melengkapi melodi-melodi yang telah ada. Ada 104
melodi yang berasal darinya. Kadang-kadang, ia mengubah lagu rakyat
menjadi melodi gerejawi. Ketika Louis Bourgeois berselisih dengan
Calvin dan meninggalkan Jenewa, tugasnya diambil alih oleh Maistre
Pierre. Strasburg bukan saja tempat lahirnya bentuk "liturgi
Reformed", melainkan juga tempat lahirnya "nyanyian
Reformed". Nyanyian-nyanyian yang mereka susun memunyai nilai
yang sangat besar bagi jemaat, bahkan hingga saat ini. Calvin juga
menyuruh agar segala sesuatu yang dapat mengingatkan jemaat kepada
gereja Katolik Roma -- seperti mazbah-mazbah, patung- patung, salib-
salib, dan organ -- dikeluarkan dari gedung gereja.
Setelah waktu-waktu perjuangan, kini tibalah saatnya Calvin dapat
bekerja dengan tenang (1555 -- 1564). Pengaruhnya saat itu makin
bertambah besar, juga di bidang politik. Terhadap Bern dan lawan-
lawannya, Calvin mengambil sikap bijaksana dan penuh perdamaian.
Sebagian besar pengaruh Calvin diperoleh dari karya-karyanya, terutama
dari bukunya, Institutio, juga dari tafsiran-tafsirannya yang mencakup
hampir seluruh Kitab Suci, dan kuliah-kuliahnya. Di samping itu, kita
juga harus menyebut korespondensinya dengan pemimpin-pemimpin
reformasi di hampir seluruh Eropa, terutama dengan orang-orang
Perancis yang seiman dengannya. Buku-bukunya ia persembahkan kepada
raja-raja dan orang-orang yang ternama di Inggris, Polandia, Swedia,
Denmark, dan di tempat-tempat lain. Dengan jalan itu, ia sering
menjalin hubungan baik dengan mereka.
Satu hal lagi yang menyebarkan pengaruh Calvin ke mana-mana, yakni
Akademi Teologi yang ia dirikan di Jenewa. Mula-mula, akademi itu
dipimpin oleh Castellio. Ia tidak bisa diangkat menjadi pendeta karena
tidak mengakui Kidung Agung sebagai bagian dari Kitab Suci dan tidak
mau menerima pengakuan mengenai "turunnya Yesus ke dalam kerajaan
maut". Ketika ia ditegur oleh Dewan Kota, ia tidak terima. Ia
lalu meninggalkan Jenewa. Hal itu menyebabkan mutu pendidikan di
akademi itu makin lama makin merosot.
Pada tahun 1559, Dewan Kota di Bern mengusir pengajar-pengajar
calvinis yang bertugas di Akademi Lausanne. Mereka pergi ke Jenewa,
tempat akademi teologi baru dibuka. Yang menjabat sebagai rektor dari
akademi itu ialah Theodorus Beza, teman Calvin, yang juga datang dari
Lausanne. Akademi itu -- menurut rencana Calvin -- berfungsi sebagai
alat untuk mendidik suatu generasi yang baru, yang saleh, dan yang
berani berjuang. Bentuk humanitas di sini diisi dengan suatu esensi
teokratis yang ketat. Akademi ini merupakan suatu pusat internasional.
Banyak tokoh reformasi terkenal pernah belajar di akademi ini, antara
lain John Knox (dari Skotlandia), Marnix St. Aldegonde (dari Belanda),
dan Caspar Olevianus (salah satu dari penyusun Katekismus Heidelberg
yang terkenal juga di Indonesia). Murid-murid ini kemudian menyebarkan
reformasi -- sesuai dengan ajaran Calvin -- ke seluruh Eropa.
Calvin menghendaki agar seluruh rakyat di Jenewa ditempatkan di bawah
hukum Allah. Untuk itu, bagi tiap-tiap golongan ditetapkan
"kemewahannya". Bahkan, orang tidak bebas dalam pemilihan
makanan dan pakaian. Maksud Calvin ialah untuk mendidik rakyat agar
hidup hemat dan rajin bekerja. Untuk mencapai hal itu, pengaturan
disiplin diterapkan secara ketat. Juga perselisihan dalam keluarga,
kekerasan dalam pendidikan anak-anak, penipuan dalam perdagangan, dan
sebagainya, dikenakan disiplin gerejawi. Dalam hal ini, tidak ada
orang yang dikecualikan, juga keluarga Calvin sendiri. Demikianlah
gaya hidup yang diciptakan Calvin di Jenewa. Melalui gaya hidup ini,
lahirlah suatu generasi baru yang rajin bekerja. Hal itu menambah
kesejahteraan hidup di Jenewa. Di mana-mana di Eropa, orang berusaha
untuk mengikuti gaya hidup ini.
Dalam hidup dan pekerjaannya, Calvin -- di sana-sini -- dipengaruhi
oleh reformator-reformator yang lain, juga oleh Bucer, terutama saat
mereka bekerja sama di Strasburg. Ia menghargai Bucer. Bucer juga
menghargainya. Bukan hanya Bucer, juga pendeta-pendeta di Strasburg.
Hal itu mereka ungkapkan dalam "surat kesaksian" yang mereka
berikan kepadanya ketika ia berpisah dengan mereka dan akan kembali ke
Jenewa. Dalam "surat kesaksian" itu, mereka antara lain
mengatakan bahwa Calvin adalah "suatu alat yang sangat berharga
dari Kristus, suatu alat ... yang tidak ada bandingannya, kalau
ditinjau dari sudut kerajinannya yang luar biasa untuk membangun
jemaat dan dari kemampuannya untuk membela dan menguatkannya melalui
tulisan- tulisannya".
====================================================================
Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul buku: Bucer & Calvin:
Suatu Perbandingan Singkat Penulis: Dr. J.L.Ch. Abineno Penerbit: PT
BPK Gunung Mulia, Jakarta 2006 Halaman: 1 -- 5
====================================================================
Referensi
SEPUTAR REFORMASI, TEOLOGI REFORMED DAN TOKOH REFORMASI
TEOLOGIA REFORMED
1. Reformasi
http://reformed.sabda.org/reformasi
2. Semangat Reformasi
http://reformed.sabda.org/semangat_reformasi
3. Perubahan-perubahan Radikal, Sebagai Akibat Reformasi
http://reformed.sabda.org/perubahan_perubahan_radikal_sebagai_akibat _
reformasi
4. Permulaan Pembaharuan Gereja (Reformasi)
http://reformed.sabda.org/permulaaan_pembaharuan_gereja_reformasi
5. Calvin dan Tuduhan Skisma dari Katolik Roma Terhadap Para
Reformator: Sebuah Studi Tentang Kesatuan Gereja (Bag. 1 & 2)
http://reformed.sabda.org/calvin_dan_tuduhan_skisma_dari_katolik_rom
a_terhadap_para_reformator_sebuah_studi_tentang_kesatuan_gereja_bag_1
http://reformed.sabda.org/calvin_dan_tuduhan_skisma_dari_katolik_rom
a_terhadap_para_reformator_sebuah_studi_tentang_kesatuan_gereja_bag_2
6. Alkitab dan Reformasi
http://reformed.sabda.org/alkitab_dan_reformasi
7. Doktrin Sola Scriptura
http://reformed.sabda.org/doktrin_sola_scriptura
8. Tak Ada Kebangunan Rohani Tanpa Reformasi
http://reformed.sabda.org/tak_ada_kebangunan_rohani_tanpa_reformasi
9. Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi
http://reformed.sabda.org/esensi_dan_relevansi_teologi_reformasi
10. Gereja Beraliran Teologi Reformed
http://reformed.sabda.org/gereja_beraliran_teologi_reformed
11. Teologia Reformed dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini
http://reformed.sabda.org/teologia_reformed_dan_relevansinya_bagi_ge
reja_masa_kini
12. Bagaimana Theolog Reformed Bertheologi pada Masa Kini (I & II)
http://reformed.sabda.org/bagaimana_theolog_reformed_bertheologi_pad
a_masa_kini_i
http://reformed.sabda.org/bagaimana_theolog_reformed_bertheologi_pad
a_masa_kini_ii
TOKOH REFORMASI
1. Martin Luther (1483--1546)
http://biokristi.sabda.org/martin_luther_1483_1546
2. Johanes Calvin: Pelopor Gerakan Reformasi Gereja
http://biokristi.sabda.org/johanes_calvin
3. Philip Melanchthon
http://reformed.sabda.org/philip_melanchthon
4. John Wycliffe dan John Hus
http://reformed.sabda.org/john_wycliffe_dan_john_hus
=====================================================================
|