Dear e-Reformed Netters,
Saya membeli sebuah buku kecil dengan judul yang sangat menarik,
"The Readable TULIP". Buku tersebut ditulis oleh seorang Pendeta
Gereja Covenant Evangelical Reformed di Singapura yang bernama Cheah
Fook Meng. Belum pernah terbayang dalam benak saya ada buku yang
membahas TULIP (Lima Inti Calvinisme), sekecil dan setipis itu.
Tentu menyenangkan sekali menemukan kenyataan bahwa itu bukan mimpi
lagi.
Saya kira kata "Readable" yang dipakai di sini bukan dimaksudkan
sebagai sindiran (kalau untuk sindiran, kata-katanya mungkin akan
seperti ini: "TULIP for the Dumies"), tapi sebagai pembelaan, bahwa
walaupun kebenaran iman Reformed memang tidak mudah (harus
berpikir), namun bukan berarti tidak bisa dijelaskan dengan
sederhana, khususnya bagi orang Reformed baru. Yang menjadi masalah
adalah, yang memersulitnya justru orang Reformed itu sendiri. Selain
bahasanya yang sederhana, cara penyampaian gagasan dalam buku ini
kelihatan bersahaja. Memang ada kesan tegas, solid, dan bertahan
pada pendirian, namun tidak sombong. Memang ada kesan elite, tapi
tidak eksklusif.
Bagian pertama buku ini menjelaskan tentang TULIP. Namun, saya
sengaja tidak mengambil bagian ini untuk saya bagikan kepada Anda
karena saya berasumsi bahwa kebanyakan dari Anda sudah tahu. Saya
justru mengambil dua artikel pendek lain sesudahnya karena bagi
saya, bagian ini lebih menarik. Dua bab yang saya ambil adalah:
- Why We are Reformed?
- What if We Reject the Reformed Faith?
Silakan menyimak. Jika Anda ingin memberi komentar, silakan
berkunjung (tapi harus mendaftar menjadi anggota dulu) ke situs
Soteri di:
==> http://www.soteri.sabda.org/
In Christ,
Yulia Oeniyati
< yulia(at)in-christ.net >
----------------------------------------------------------------------
GEREJA BERALIRAN TEOLOGI REFORMED
MENGAPA KAMI MENJADI JEMAAT REFORMED?
Gereja dan teologi Reformed tidak populer untuk banyak orang. Kalau
mau jujur, kalau saya bercita-cita ingin membangun gereja yang
nantinya akan dipenuhi dengan pengunjung, maka saya tidak akan
membangun gereja Reformed. Gereja-gereja kontemporer dengan musik
pop dan nada musik yang keras serta panggung/mimbar yang ditata
dengan apik, lebih populer. Gereja-gereja yang sangat menekankan
pemuridan (red: sel group), sedang digemari pada era milenium ini.
Gereja-gereja yang memfokuskan diri pada kebutuhan manusia juga
memiliki banyak jemaat. Namun, posisi gereja Reformed tidak terlalu
baik dalam popularitas kekristenan.
Citra umum gereja Reformed adalah bahwa gereja ini membosankan dan
banyak batasannya. Gaya penyembahannya yang kuno tidak relevan
dengan budaya modern berteknologi tinggi. Jemaatnya berpenampilan
terlalu tenang karena penekanannya pada kerusakan moral; hidup
mereka nampak pasif karena ajaran predestinasi. Dan lagi, usaha
penginjilannya tidak menarik untuk zaman sekarang. Namun meski
kurang populer, kami tetap ingin menjadi jemaat Reformed. Mengapa?
Pertama, menjadi jemaat Reformed bukanlah pilihan, namun pendirian.
Menjadi jemaat Reformed berarti menjadi alkitabiah. Semua doktrin
iman Reformed -- predestinasi, kerusakan moral total, penebusan dosa
yang absolut, anugerah yang luar biasa, dan ketekunan orang percaya
--merupakan kebenaran yang ada dalam Injil. Meskipun istilah-istilah
yang kami gunakan untuk menyimpulkan iman Reformed, tercipta dari
panasnya debat teologi, namun kebenarannya berakar dalam pada
pengajaran Alkitab. Seperti yang dikatakan sang pengkhotbah, Charles
Spurgeon, "menjadi Calvinis berarti menjadi alkitabiah".
Kedua, menjadi Reformed berarti menjadi apostolik. Kami tidak
percaya pada rangkaian apostolik seperti agama Katolik Roma
memercayainya. Mereka percaya pada rangkaian jasa para santo. Namun,
kami percaya pada rangkaian doktrin orang kudus. Iman Reformed
bukanlah suatu ajaran baru. Iman Reformed muncul pada era Reformasi
abad ke-16. Meskipun namanya diambil dari kata Reformasi, doktrin
iman Reformed diajarkan oleh Agustinus bahkan sebelum Martin Luther
melontarkan 95 tesisnya. Iman Reformed dan penekanannya pada
kedaulatan anugerah Allah, bersumber pada wahyu Injil.
Ketiga, iman Reformed memuliakan Allah. Gereja superbesar
(megachurch) pada zaman sekarang menyembah Allah dengan musik
kontemporer dan aksi panggung yang terus berkembang. Gereja Reformed
memuliakan Allah dengan pengagungannya yang dalam pada kedaulatan
dan kekudusan Allah. Allah berdaulat atas karya penciptaan dan
pemeliharaan. Kedaulatan Allah adalah sebuah kebenaran yang sangat
diakui oleh iman Reformed. Namun iman Reformed mengatakan lebih dari
itu. Karena saat kami mengakui bahwa Allah berdaulat atas karya
penebusan, kami mengatakan bahwa keselamatan adalah murni karena
anugerah. Kami tidak mulai bertobat dengan sendirinya. Allah
mengubahkan kami oleh anugerah-Nya. Dengan kuasa-Nya, Ia membuat
kami berkehendak untuk berubah. Respons iman adalah sebuah anugerah
yang Allah kerjakan dalam hati orang-orang pilihan-Nya. Hal ini
bertentangan dengan teologi populer. Dalam banyak presentasi Injil,
karya keselamatan dinyatakan sebagai sebuah kerja sama. Allah
mengerjakan 50% dalam anugerah-Nya dan menunggu tak berdaya untuk
manusia mengerjakan 50% sisanya dalam kehendak bebasnya. Charles
Spurgeon pernah mengatakan bahwa jika ada satu persen kehendak
manusia dalam selubung kebenaran-Nya, ia akan selamanya tersesat.
Keempat, iman Reformed memberikan jaminan sejati bagi gereja dan
jemaatnya dalam masa pencobaan dan krisis. Iman Reformed bukanlah
sebuah doktrin teoritis alternatif. Iman Reformed merupakan teologi
dengan kebenaran yang secara praktis sangat berkuasa. Saat seorang
anak Allah mengalami pencobaan hebat, ia memandang pada kasih
pemeliharaan Allah dan mengakui bahwa Allah berkuasa atas segalanya.
Ia mengakui bahwa Allah berkuasa memberikan kelepasan. Lebih
daripada mengharapkan datangnya kelepasan, orang itu akan berpegang
pada imannya yang percaya bahwa Allah sanggup membawa kebaikan
bahkan, dalam situasi yang paling buruk sekalipun.
Orang Reformed tidak pernah putus asa. Bandingkan iman sederhana ini
dengan pengakuan arogan beberapa pendoa kesembuhan. Mereka
mengatakan kepada kita bahwa Allah ingin menyembuhkan penyakit kita.
Dan saat kesembuhan tidak terjadi, kesalahan ditimpakan kepada
orang percaya dengan alasan bahwa ia tidak cukup beriman untuk dapat
sembuh. Namun, orang Kristen Reformed lebih dewasa dalam
pandangannya. Pertama-tama, ia menginginkan kesembuhan jiwa. Saat ia
memohon kesembuhan fisik, ia tahu bahwa Allah mungkin akan
mengabulkannya, tapi mungkin juga tidak, sesuai dengan kedaulatan
tujuan-Nya. Dan saat kesembuhan tidak juga datang, itu bukan karena
ia kurang beriman, namun karena Allah ingin ia percaya bahwa Ia
sanggup memberikan kebaikan, bahkan dalam hal buruk sekalipun. Orang
Kristen Reformed mensyukuri kekayaan dan kebahagiaan, tapi juga
dalam penderitaan. Ia tahu bahwa Allah berkuasa atas dua hal ekstrim
yang ada dalam kehidupan itu.
Kelima, iman Reformed selalu memperbaiki. Iman Reformed tidak pernah
mandek (stagnan). Meski mengakui iman yang sudah kuno, namun iman
ini selalu bekerja keras memahami lebih banyak kebenara-Nya dari
firman Tuhan. Kita tidak akan pernah dapat memahami segalanya
tentang Allah. Meski Allah dapat dikenali, Ia juga tidak terpahami.
Pengetahuan kita akan Allah akan semakin dalam, khususnya pada
saat-saat Ia mencobai kita dengan kesulitan-kesulitan. Dari
pencobaan-pencobaan itulah kami biasanya melihat lebih banyak
keindahan dan kemuliaan-Nya. Iman Reformed tidak berkembang dari
perenungan di tempat tinggi dengan suasana yang tenang. Kebenaran
iman Reformed diformulasi saat ada pertumpahan darah, ancaman, dan
kontroversi. Kebenaran-kebenaran itu dikembangkan untuk memenuhi
perjuangan umat Allah sehari-hari. Katekisme Heidelberg, yang jelas
merupakan iman Reformed paling disukai, diawali dengan pertanyaan
yang benar-benar praktis dalam instruksinya, "Apa yang menjadi
satu-satunya penghiburan bagi Anda dalam kehidupan dan kematian?"
Yang terakhir namun tak kalah pentingnya, iman Reformed selalu
konsisten. Dispensasionalisme memiliki banyak variasi. Karismatisme
memiliki banyak jemaat. Arminianisme mengubah Allah dan membuatnya
makin terbuka dan mudah dikecam. Namun, iman Reformed konsisten
dalam pengakuannya atas anugerah kedaulatan Allah. Apa yang diakui
iman Reformed kini sama dengan yang diakui pada generasi yang akan
datang. Setiap generasi mungkin memerluasnya. Namun presuposisi dan
prinsip dasarnya tetap sama -- Allahlah yang berkuasa. Dan karena
kekonsistenannya ini, hanya iman Reformedlah yang dapat membawa
gereja melalui masa depan yang terus berubah. Kebenaran-Nya tidak
pernah berubah. Allah berkuasa kemarin. Ia berkuasa sekarang ini.
Dan Ia berkuasa selamanya.
BAGAIMANA JADINYA JIKA KITA MENOLAK IMAN REFORMED?
Menyepelekan Allah adalah Konsekuensi dari Menolak Iman Reformed
----------------------------------------------------------------
"Aku percaya padamu". Siapa yang mengucapkannya? Itulah yang pertama
kali terlintas di benak saya saat melewati sebuah gereja yang
memasang spanduk bertuliskan kalimat itu. Filsuf, psikologis,
humanis, atau ahli manajemen mana yang telah mengatakan sesuatu yang
sangat berpusat pada manusia itu? "Apakah filsuf besar Yunani,
Socrates, yang mengatakannya?" tanyaku. Ia adalah orang yang
bersikeras bahwa Anda harus "mengenal diri Anda sendiri". Apakah
Narcissus, seorang pemikir sombong yang jatuh cinta dengan citra
dirinya sendiri dan memuji kebajikannya sebagai manusia dan
keterlibatan pribadinya?
Saat saya melihat di bagian bawah tulisan yang dicetak tebal itu
untuk mencari sumbernya, saya benar-benar kaget. Allah yang
mengatakannya. Allah? Saya segera membaca cepat seluruh Perjanjian
Lama dan Baru untuk mencari firman Allah yang mengatakan, "Aku
percaya padamu." Saya tidak bisa menemukannya. Kalimat itu tidak ada
dalam Alkitab.
"Sejak kapan Allah menempatkan manusia sebagai objek
kepercayaan-Nya," pikirku. Kalimat itu mungkin terlihat keren bagi
generasi modern, namun tidak sesuai dengan teologi yang saya tahu di
Alkitab.
Alkitab menjelaskan kejatuhan manusia sebagai "maut dalam
pelanggaran dan dosa". Alkitab mengatakan kepada kita bahwa
"keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah". Alkitab
mengatakan bahwa setiap manusia telah berdosa dan kehilangan
kemuliaan Allah. Dan bahkan Alkitab dengan berani mengatakan bahwa
kita "diperanakkan dalam kesalahan dan dikandung ibu kita dalam
dosa.
Dengan pernyataan-pernyataan tegas tentang keadaan manusia yang
tersesat seperti itu, hal baik apa yang membuat manusia yang sudah
berdosa dan rusak itu menjadi objek kepercayaan-Nya?
Pernyataan itu memang tegas. Seperti kebanyakan tipu muslihat iklan,
pernyataan itu ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat modern.
Dan dalam usahanya menarik massa, bahkan ada juga yang cukup berani
menulis ulang pokok-pokok iman Kristen.
Mereka menulis ulang apa yang Injil katakan tentang manusia, dan
membuatnya menjadi seseorang dengan bawaan lahir ilahi yang
disenangi Allah. Namun, Injil menegaskan bahwa manusia jasmani tidak
dapat menyenangkan Allah (Roma 8:6-8). Mengatakan Allah percaya pada
manusia berarti menyatakan secara tak langsung bahwa manusia
memiliki kebaikan dan keterampilan spiritual yang terhadapnya Allah
berkenan. Hal baik apa yang ada dalam manusia berdosa yang dapat
membuat Allah mengatakan padanya, "Aku percaya padamu?"
Mungkin Allah terkesan dengan intelegensi kita. Lagipula, kita
adalah manusia yang berpendidikan tinggi dan inovatif. Kita telah
menghasilkan sarjana-sarjana dan menciptakan sistem yang memiliki
kontribusi besar dalam membentuk masyarakat global.
Mungkin Allah terkesan dengan budaya populer kita. Pada 1960-an,
kita memiliki Beatles dan kemudian, Bee Gees, dan kini kita punya
Westlife dan Britney Spears. Mungkin Allah senang dengan bagaimana
kita memakai musik untuk menghilangkan stres dan membuat jiwa kita
menari.
Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita saling mencintai satu
sama lain sebagai manusia. Karena kasih adalah hal yang terpenting,
mungkin Allah tergerak oleh bagaimana kita mengasihi tanpa
penilaian, pernikahan, etika, dan tanggung jawab. Mungkin Ia
terkesan dengan bagaimana kita dapat dengan mudah terlibat dan
melakukan pernikahan sesama jenis.
Mungkin Allah terkesan dengan bagaimana kita dapat lebih maju dalam
memandang kehidupan. Ada yang bilang kita berasal dari kera. Yang
lain berkata bahwa materialisme dan kesenangan hidup adalah yang
terpenting. Namun, yang lain lagi berkata bahwa kita harus
memutuskan etika kita berdasarkan perasaan kita -- jika dirasa baik,
lakukan. Dan mungkin Allah terkesan dengan bagaimana pandangan-
pandangan ini mampu bertahan dalam pasar publik tanpa persaingan.
Atau mungkin terkesan dengan bagaimana kita percaya terhadap diri
kita sendiri. Manusia adalah tolok ukur segala sesuatu. Ia adalah
kapten dari takdirnya sendiri. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk
dunia tanpa Allah. Dan karena semua yang dapat dilakukan manusia
itu, Allah percaya padanya.
"Aku percaya padamu?" Sebaliknya, saya menemukan di Alkitab kalimat
yang jauh lebih menenangkan. Allah mengatakan kepada setiap orang
yang memusatkan diri pada manusia bahwa jika Anda hidup dalam
daging, Anda akan mati (Roma 8:13).
Pernyataan itu mengubah apa yang sudah dituliskan Allah, karena
merendahkan kedaulatan Allah dan menjadikan Allah sekadar sebagai
penonton, motivator, "Aku percaya padamu, kamu pasti bisa!"
Allah, dalam kepercayaan Protestan tradisional, disembah sebagai
Pencipta dan Penebus. Ia memutuskan hidup semua manusia. Ia
menentukan bagaimana segala sesuatu akan terjadi. Ia melakukan
segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Tidak seorang pun dapat
menggagalkan rencana-Nya. Tak seorang pun mampu menentang perkataan-
Nya. Dan tak seorang pun yang menyarankan-Nya bahwa rencana B jauh
lebih baik. Salah satu pernyataan paling indah tentang Allah ada di
Yesaya 46.
"... Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak
ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang
kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang
berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan
Kulaksanakan." (Yesaya 46:9-10)
Allah tidak perlu percaya kepada siapa pun. Ia sendiri adalah Yang
Mahakuasa. Tak ada yang seperti-Nya. Tak seorang pun memiliki kuasa
membentuk masa depan. Tak seorang pun dapat menebus kejatuhan
manusia. Tak seorang pun dapat melakukan sesuatu tanpa Allah. Tanpa
Allah, manusia dan segala ciptaan bahkan tidak dapat hidup barang
sesaat. Mengapa Allah mengatakan kepada manusia, "Aku percaya
padamu?"
"Aku percaya padamu" hanyalah satu dari banyak peryataan yang dapat
Anda temukan di www.lovesingapore.org.sg. Pernyataan lain di
antaranya: "Aku berpikir akan membuat dunia hitam dan putih. Lalu
Aku berpikir ... naaaah." "Aku benci aturan. Itulah sebabnya mengapa
aku hanya membuat sepuluh aturan." Dan semua pernyataan itu
dipertautkan dengan Allah.
"Golden rules" seperti itu dimaksudkan untuk menempatkan Allah di
jantung kota, untuk membuat-Nya nampak keren, jenaka, tak
ketinggalan zaman, dan dapat diterima. Namun sungguh, hal ini
merupakan sesuatu yang menjelaskan bagaimana gereja modern sudah
melangkah terlalu jauh. Gereja masa kini telah kalah oleh budaya
populer. Jika sesuatu tidak modern, maka sesuatu itu tidak relevan.
Karena itu gereja yang memakai metode iklan baru ini memutuskan
untuk membuat Allah lebih modern.
Namun dengan membuat Allah menjadi lebih relevan, mereka tidak
menghormati Allah. Kini, Allah menjadi seperti produk konsumen. Ia
harus didikte untuk berkata sesuatu yang tampak keren di budaya
populer kita. Jadi, perkataan-Nya harus dinyatakan ulang, status-Nya
diposisikan ulang, dan kedaulatan-Nya direndahkan dalam rangka
membuat-Nya lebih relevan dengan keadaan masa kini. Allah harus
mengatakan apa yang para pembuat iklan inginkan untuk Dia katakan.
Dan orang-orang yang mendanainya sepertinya tidak merasa bahwa
menggunakan nama Allah dengan begitu sembarangan dan tidak
menghormati adalah pelanggaran perintah yang ketiga, "Jangan
menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan." Nama Allah, yang
adalah kemuliaan-Nya, kini direduksikan menjadi label komersial,
untuk mempromosikan produk baru Injil masa kini.
Penyepelean Allah ini adalah sesuatu yang serius. Perhatikan
komentar Warren Wiersbe, seorang pengkhotbah Kristen yang terkenal,
"Kita tidak perlu mengutuk atau bersumpah untuk menyebut nama Allah
dengan sembarangan. Kita hanya perlu menggunakan nama-Nya dalam hal-
hal sepele, maka kita pun sudah menghina nama Allah. Tak semestinya
familiaritas dapat merendahkan nama ilahi layaknya penghinaan nama
Allah yang jelas-jelas diucapkan. Mengucapkan hal-hal spiritual yang
berharga dengan cara seadanya dan terkesan menyepelekan merupakan
sebuah dosa dan sekaligus menyangkal kebenaran-Nya.
Menyepelekan Allah sama dengan menyingkirkan Allah dari kekristenan
historis. Pernyataan "Aku percaya padamu" bukanlah pernyataan yang
netral dan tak berbahaya. Pernyataan itu adalah perusakan teisme dan
humanisme. Pernyataan itu merupakan sebuah paduan yang jelas
antialkitabiah. Pernyataan itu lebih buruk daripada Arminianisme
yang membawa masalah bagi gereja pada era Reformasi. Arminianisme
bersifat sinergis. Paham ini mengatakan bahwa Allah membutuhkan
kerja sama manusia. Namun pernyataan "Aku percaya padamu" nampak
seperti sinkretisme, yang membawa suara humanistis yang halus namun
tegas. Manusia memiliki masa depan yang dapat ia atur sendiri.
Manusia dapat melakukan apapun menurut kehendaknya untuk
menyenangkan Allah. Dan saat manusia itu berhasil, Allah bertepuk
tangan untuknya dan berkata, "Benar, kan, kamu pasti bisa
melakukannya. Aku selalu percaya padamu." Pernyataan ini menempatkan
Allah dan manusia pada derajat yang sama.
Allah yang dipromosikan dalam iklan-iklan itu bukanlah Allah yang
ada di dalam Injil. Saya yakin gereja-gereja yang mendukung slogan
ini tidak bermaksud untuk merendahkan dan menyingkirkan Allah dari
kekristenan historis. Namun pernyataan itu jelas membuktikannya. Hal
ini membawa saya kepada pertanyaan yang perlu diselidiki: "Sudahkah
kita menjadi sedemikian acuh secara teologis sampai-sampai kita
tidak lagi mampu membedakan dasar kekristenan dari humanisme dan
ketidakpercayaan?"
Memasang tulisan-tulisan seperti itu di dalam dan di luar gereja
tidak akan membuat kekristenan menjadi keren dan relevan. Pernyataan
itu hanya menunjukkan seberapa jauh komunitas Kristen secara
teologis sudah sangat tersesat. Fakta banyaknya gereja terkemuka
memasang spanduk seperti itu telah mencerminkan tidak adanya
kepemimpinan teologis dalam komunitas Kristen lokal. Warisan
Protestan di Singapura telah kalah oleh roh zaman ini. Allah
alkitabiah tidak ada lagi dalam spanduk-spanduknya. Segera, Ia akan
hilang dari aula suci kita ... kecuali kita kembali kepada kesehatan
rohani alkitabiah dan mulai menghormati Allah serta menyadari
kemuliaan-Nya. (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
Judul buku: The Readable TULIP
Judul asli artikel: 1. Why We are Reformed?
2. What if We Reject Reformed Faith?
Penulis: Cheah Fook Meng
Penerbit: Genesis Books, Singapura 2003
Halaman: 62 -- 71
|