Dear e-Reformed Netters,
Artikel yang saya kirimkan ke mailbox Anda ini sudah cukup panjang.
Jadi, saya tidak perlu menambah dengan komentar lagi. Saya hanya ingin
menegaskan bahwa artikel ini akan menjadi jawaban dari dua pertanyaan
yang banyak ditanyakan oleh orang awam.
1. Mengapa Tuhan menempatkan saya di dunia "sekular" (di mana Tuhan
dianggap tidak ada)?
2. "Bagaimana saya membawa Tuhan ke dunia "sekular" (di mana Tuhan
dianggap tidak ada?)
Selamat menemukan jawabannya.
In Christ,
Yulia
< yulia(at)in-christ.net >
======================================================================
PENTINGNYA PEKERJAAN ANDA DI MATA TUHAN
=======================================
"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita
telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya
sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yoh.
1:14)
Sebelum kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana memahami dunia
kerja melalui sudut pandang alkitabiah, kita perlu mempertimbangkan
bagaimana Tuhan memandang pekerjaan kita. Jika kita tidak tahu apa
arti pekerjaan kita dan dampaknya bagi Tuhan dan kerajaan-Nya, kita
berisiko memandang iman dalam bekerja sebagai sesuatu yang tak
penting. Topik ini menghadirkan dua pertanyaan pokok dan kemudian kita
akan melihat sekilas apa yang dikatakan Alkitab mengenai sikap yang
Tuhan inginkan dalam kita bekerja.
Apa istimewanya pekerjaan saya?
Kita akan membahas beberapa prinsip berkenaan dengan pekerjaan secara
mendalam dan praktis sembari kita berusaha mencari jawaban atas
pertanyaan utama: "Pekerjaan siapakah ini sebenarnya?" Sangat mudah
bagi kita untuk terjebak dalam rutinitas sehari-hari -- keasyikan
dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu, pentingnya
menanggapi tekanan, dan tuntutan kerja yang berubah-ubah -- sehingga
kita tidak lagi bepikir bahwa sebenarnya pekerjaan kita berarti untuk
Tuhan. Orang Kristen dianjurkan untuk memulai harinya bersama Tuhan
dan menegaskan kembali tujuan dan misinya dalam bekerja. Namun,
kedisiplinan untuk melakukan anjuran itu sangat mudah sekali dilindas
oleh semangat dan kesibukan dalam bekerja. Kedisiplinan itu memang
penting, tapi itu saja tidak cukup untuk membuat kita sadar bahwa
pekerjaan yang kita lakukan, demikian halnya dengan sikap kita saat
bekerja, benar-benar berarti bagi Tuhan. Jika saya dapat memahami
tujuan Tuhan dalam pekerjaan saya, sejauh manakah saya dapat
memahaminya? Dengan segala aspeknya, pekerjaan dapat membuat kita
sangat sibuk saat jam kerja (dan jam di luar jam kerja) sehingga kita
melupakan rencana indah di balik posisi yang Tuhan berikan kepada kita
sekarang ini. Malahan, banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa ada
rencana di balik semua hal yang kita lakukan.
Ada banyak orang (termasuk orang Kristen) yang akan membuat Anda bosan
selama berjam-jam saat mereka menceritakan segala rincian tentang apa
yang istimewa dari pekerjaan mereka. Mereka bisa dengan kesungguhan
menjawab pertanyaan, "Apa istimewanya pekerjaan saya?". Sisi
negatifnya, jenis pembicaraan seperti ini menyingkapkan keistimewaan
diri, kekuasaan, status profesional, permainan kekuasaan, dan
sebagainya. Sedangkan sisi positifnya, semua orang perlu memiliki
pemikiran bahwa pekerjaan mereka berarti dan berperan dalam kebutuhan
mereka dan dalam masyarakat. Walaupun kenyataannya ada orang-orang
yang tidak suka membicarakan pekerjaan mereka. Kita mencari jawaban
untuk pertanyaan yang sedikit berbeda, yaitu "Apa istimewanya
pekerjaan saya bagi Tuhan?" Untuk menjawabnya, kita perlu memahami
kehendak Tuhan atas para murid-Nya. Sangat tidak mungkin jika Tuhan
yang memanggil kita untuk mengikut-Nya, tidak memiliki tujuan saat
menempatkan kita pada tempat di mana kita menghabiskan dua pertiga
waktu kita dan setengah dari hidup kita. Menyangkali tujuan Tuhan
berarti menganggap panggilan itu hanya setengah-setengah dan pemuridan
itu adalah palsu. Untuk memahami arti pemuridan, kita perlu
mempertimbangkan semangat dan sikap kita dalam bekerja. Doa John
Oxenham sangat menantang: "Tuhan, ubahlah rutinitas pekerjaan menjadi
perayaan kasih". Saya menyadari bahwa saya takkan pernah dapat
melakukan hal itu sampai saya bisa menjawab pertanyaan utama kita.
Jadi, saya harus menanyakan apa sebenarnya keistimewaan pekerjaan saya
bagi Tuhan? Sikap seperti apa yang Tuhan ingin saya lakukan dalam
bekerja? Empat sikap ilahi berikut akan menuntun kita kepada
jawabannya.
Menjadi saksi
-------------
Kita bisa menerapkan Amanat Agung Yesus hanya jika kita bersedia
menerima dan menaati perintah-Nya. "Karena itu pergilah, jadikanlah
semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak
dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman" (Mat. 28:18-20). Karena ayat ini tidak
menjelaskan secara gamblang mengenai pekerjaan sekular, sulit untuk
melihat bagaimana murid yang potensial bisa dijangkau atau diajar
tanpa perlu melibatkan diri dengan mereka dalam situasi kerja. Yesus
tidak hanya bekerja sebagai tukang kayu, Ia juga mengunjungi orang-
orang di tempat kerja mereka (di perahu, kantor pemungut pajak, dsb.)
dan menantang serta mengajar mereka menerapkan iman mereka dalam
situasi kerja.
Amanat Agung meliputi perintah untuk mengajar semua bangsa "segala
sesuatu" yang diperintahkan Yesus -- dan Ia mengajarkan banyak hal
tentang sikap dalam bekerja! Sikap Yesus terhadap pekerjaan kita
adalah kunci mengapa pekerjaan kita penting dan yang akan
menghancurkan pemikiran kita bahwa iman dan pekerjaan itu harus
dipisahkan. Mungkin tempat kerja kita adalah satu-satunya tempat di
mana rekan kerja kita bisa mengenal kekristenan. Tapi apakah itu
berarti kita harus memprioritaskan penginjilan di tempat kerja kita?
Jika memang demikian, pekerjaan yang kita lakukan sekarang akan
menjadi pekerjaan sambilan yang tidak terlalu penting. Mungkin
kemudian kita menganggap pekerjaan kita "hanyalah sebuah pekerjaan"
dan sebuah sarana untuk mencapai tujuan akhir. Dengan sikap seperti
itu, kita tidak akan memuliakan Tuhan melalui performa dan sikap kita
dalam bekerja. Pekerjaan kita kemudian akan tidak sesuai dengan
beberapa aturan standar yang ada di Alkitab. Efesus, misalnya,
mendorong murid untuk "... dengan rela menjalankan pelayanannya
seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. Kamu tahu,
bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah
berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan"
(Ef. 6:7-8). Ayat tersebut jelas-jelas menyatakan bahwa Tuhan
mengharapkan sebuah pekerjaan yang dikerjakan dengan sangat baik
karena dari situlah kesaksian yang efektif akan muncul. Kombinasi
pekerjaan yang seperti itulah yang Ia inginkan. Kekristenan akan
bekerja saat kita menjadi teladan yang hidup.
Dibentuk oleh Tuhan
-------------------
Saya memerlukan beberapa waktu untuk bisa melihat bagaimana Tuhan
telah memakai pengalaman kerja saya yang beragam -- yang baik dan yang
buruk -- guna membentuk saya untuk kepentingan pelayanannya. Terkadang
sulit untuk kita pahami bagaimana Tuhan membentuk hidup kita ketika
atasan kita selalu dipuji atau selalu dapat menghadapi konflik dalam
semua hubungan kerjanya, atau ketika rekan kerja kita bersikap sinis
terhadap agama kita. Pengalaman seperti itu nampaknya bukanlah suatu
pembentukan yang positif. Namun, bagi kebanyakan orang, tempat di mana
kita bekerja dan menghabiskan sebagian besar hidup, berperan penting
bagi perkembangan iman kita kepada Tuhan. Dan setiap kita telah
dibentuk dengan cara yang berbeda. Terkadang, semakin buruk situasi
kerja kita, semakin teguh kita memegang iman kita. Tuhan tidak selalu
mengubahkan pekerjaan, tapi Ia mengubah pekerja-Nya. Paulus mengaitkan
proses ilahi itu dalam frasa "kita adalah ciptaan Tuhan" (Ef.2:10) --
secara harafiah, ini berarti kita adalah hasil karya-Nya yang hidup,
dengan segala keterampilan dan keunikan yang terpancar darinya.
Melalui proses "berjalan dalam Roh" (Gal. 5:25), kita telah menjadi
seperti itu.
Sayangnya, tidak semua orang Kristen teguh ketika melalui ujian itu.
Saya mengenal begitu banyak profesional Kristen muda yang dibentuk
oleh ambisi, uang, dan kekuasaan daripada oleh iman. Hubungan mereka
dengan Tuhan adalah hubungan yang salah. Sebaliknya, lihatlah bagimana
kemampuan Yusuf dalam memimpin Mesir diasah oleh pengalamannya dibuang
dan diperbudak. Proses hidup yang menyakitkan itu membawanya ke dalam
istana dan posisi istimewa dalam kepemimpinan. Daniel juga berubah
dari seorang tawanan menjadi seorang pemimpin yang memimpin sepertiga
kerajaan Babilonia. Dari awal, perannya sebagai saksi dalam pekerjaan
sangat luar biasa. Dalam hal performa kerja, dia dan teman-temannya
lebih baik sepuluh kali lipat daripada mereka yang tidak mengenal
Tuhan (Dan. 1:20). Kebanyakan dari kita sudah merasa senang bila kita
lebih baik dua kali lipat daripada orang lain. Jika kita mengizinkan
Tuhan membentuk kita sesuai keinginan-Nya, Ia akan memiliki pelayan-
pelayan handal di tempat kita bekerja. Terkadang ada kehampaan dalam
kita bekerja -- kehampaan yang muncul akibat penolakan kita terhadap
tujuan-Nya.
Prinsip bagaimana kita memandang pekerjaan dalam konteks hubungan yang
benar dengan Tuhan mencakup banyak bidang pekerjaan. Kita semua perlu
mengetahui jawaban pertanyaan "pekerjaan siapakah ini sebenarnya?"
Dalam kitab Kolose, misalnya, dikatakan untuk budak (kelas masyarakat
yang paling rendah): "taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala
hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,
melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga yang
kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan
bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima
bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. (Kol. 3:22-24)" Kita
jarang membayangkan pekerjaan kasar, rendah, dan buruk yang dilakukan
oleh budak-budak pada masa itu. Namun, Tuhan sendiri menghargai
pekerjaan itu karena pekerjaan itu dilakukan untuk-Nya. Sebaliknya,
anggota masyarakat yang paling berkuasa yang telah menjadi Kristen
diminta untuk bersikap lain dari pada yang biasa mereka lakukan di
masa lalu. Di dunia di mana budak tidak memiliki suatu hak apapun
juga, Tuhan memerintah para penguasa: "berlakulah adil dan jujur
terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga" (Kol.
4:1). Sungguh suatu cerminan dampak Roh Kudus dalam hidup mereka!
Kristus memperkenalkan dua kelas masyarakat itu kepada dimensi
pekerjaan mereka yang lebih tinggi, kepada apa yang menjadi kewajiban
mereka dalam bekerja. Yesus Kristus mengingatkan mereka bahwa Ialah
penguasa lingkungan kerja mereka. Mungkin mengejutkan bahwa asumsi
dari ayat itu adalah Tuhan mendominasi pekerjaan kita. Mungkin kita
bisa membatasi-Nya, tapi itu jelas bukan rencana-Nya. Kita harus masuk
dalam rencana-Nya!
Menyaksikan kasih Tuhan dalam tindakan
--------------------------------------
Menyaksikan kasih Tuhan memang berkaitan dengan peran khusus kita
sebagai saksi, lebih spesifik dengan sikap kita dalam pekerjaan. Kini
kita berada dalam bagian yang sulit. Perilaku kerja orang Kristen
banyak yang tidak menunjukkan keilahian Tuhan. Beberapa orang Kristen
cenderung dikarakterisasi oleh kekakuan, kearoganan, kepicikan, dan
mulut besar mereka daripada keilahian Tuhan. Kelemahan gereja yang
paling besar adalah kehidupan jemaatnya yang tidak mencerminkan
Kristus. C.H. Spurgeon pernah menyatakan, "Jika pengetahuan teologi
Anda tidak bisa mengubah Anda, maka nasib Anda juga tidak bisa
berubah." Ketika ditanya tentang perintah Allah yang terbesar, Yesus
menjawab, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." ... Dan yang kedua
adalah: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat.
22:37,39). Hal tersebut adalah sebuah mandat yang menantang --
mengasihi Tuhan, sesama, dan diri kita sendiri. Makna praktis mandat
tersebut sangat luas. Mengasihi Tuhan memerlukan ketaatan. Seberapa
sering kita merenungkan pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja?
Seberapa sering kita bertanya apakah dan di mana kasih Tuhan nyata
dalam sikap kita? Haruskah kasih kita kepada Tuhan tampak dalam cara
kita memperlakukan orang, cara kerja, kinerja, motivasi kita, dsb.?
Misalnya, bagaimana kasih itu bisa tampak ketika melayani pelanggan
yang merepotkan di toko? Bagaimana kasih itu bisa nampak dalam
hubungan seorang manajer dengan pegawai yang kaku? Dalam kehidupan
seorang perawat yang kelelahan merawat pasien yang tidak tahu terima
kasih? Kita mungkin tergoda untuk menanyakan, "Apa hubungan kasih
dengan pekerjaanku?" Jawaban Alkitabiah untuk pertanyaan itu adalah --
segalanya.
Namun ada sebuah misteri dan kenyataan dalam hal ini. Tuhan bisa saja
dengan mudah mengkloning kita saat Ia memanggil kita. Namun ternyata
Ia memanggil kita dengan segala kesalahan kita. Dan melalui kuasa Roh
Kudus, Tuhan mampu mengubah kita sehingga kita bisa mengekspresikan
kasih-Nya dalam tindakan dan pekerjaan kita. Seperti itulah seharusnya
seorang tukang kayu, bankir, sopir truk, dokter, tukang ledeng, atau
guru dalam mengerjakan pekerjaan Tuhan. Sebagian dari kasih ini
dinyatakan melalui hubungan di tempat kerja. Selain itu, kasih juga
harus terlihat nyata melalui bentuk pelayanan kita yang lain seperti
membantu sesama dan peduli kepada keluarga dan mereka yang
membutuhkan. Meskipun William Tyndale mengatakan beberapa abad yang
lalu, namun perkataannya itu sepenuhnya alkitabiah dan tidak
ketinggalan zaman dalam penerapannya. "Tidak ada pekerjaan yang lebih
baik dalam menyukakan Tuhan; menuangkan air, mencuci piring, menjadi
tukang sepatu, atau rasul, semuanya sama; mencuci piring dan
berkhotbah adalah sama, semuanya untuk menyenangkan Tuhan."
Untuk memuliakan Tuhan
----------------------
Dalam hal yang penting ini, kita menghadapi tantangan besar. Dalam
pekerjaan, kita dituntut untuk memimpin orang-orang yang berinteraksi
dengan kita untuk bersyukur dan memuliakan-Nya. Mungkin Anda bertanya,
untuk apa? Untuk mereka melihat Kristus dalam diri kita; untuk mereka
melihat perbedaan yang disebabkan oleh Roh dalam hidup kita, untuk
mereka melihat perbuatan kita yang menyatakan kasih Kristus; untuk
mereka melihat penyataan iman kita; untuk mereka melihat integritas
kita, untuk mereka melihat kepedulian kita terhadap orang lain, dsb..
Kalimat "supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada
Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya" (Ef. 1:12)
menyiratkan hal itu, bahkan lebih. Sangat mudah untuk menyerah dan
mengatakan bahwa panggilan ini adalah mustahil karena beberapa alasan.
"Saya bekerja dengan orang-orang yang tidak mengenal atau memuji
Tuhan"; "tidak ada seorang pun di sini yang berpikiran seperti itu --
jika saya seorang yang baik, mereka tidak akan tahu kepada siapa
mereka harus berterima kasih (itupun jika mereka terpikir untuk
berterima kasih)"; "orang-orang memerhatikan perbedaan, namun hanya
dalam hal yang umum -- baik atau buruk, ramah atau kasar, dll. --
mengapa mereka perlu sebuah alasan?"; "situasi kerja di sini sangat
tidak menyenangkan, Tuhan tidak mungkin akan dimuliakan di sini".
Semua tanggapan ini mengarah kepada satu jawaban yang masuk akal. Saya
harus hidup sebagai pengikut Kristus dan berbicara tentang-Nya.
Bagaimana lagi orang Kristen harus bersikap? Orang Kristen terpanggil
untuk menjadi lebih dari sekadar "orang yang baik". Hal itu
menghadirkan masalah untuk beberapa orang Kristen. Mereka berpendapat,
lebih baik bertindak daripada berbicara. Sebenarnya, keduanya penting.
Kebanyakan dari kita tinggal dalam dunia yang maju, di tengah
masyarakat yang mungkin post-Kristen. Banyak orang yang lupa akan arti
mengikut Kristus. Menurut mereka, menjadi orang Kristen bukanlah
menjadi sesuatu yang berbeda, sama saja. Orang lain membutuhkan
penjelasan mengapa kita melakukan hal tertentu, dan kita harus
menjelaskannya kepada mereka.
Penulis Perjanjian Baru dengan konsisten mengatakan kepada kita bahwa
kemuliaan sifat, karakter, kekuasaan, dan tujuan Allah terlihat dalam
diri Yesus. Seperti yang dikatakan penulis kitab Ibrani, misalnya, "Ia
adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang
segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibr. 1:3).
Yohanes menulis sabda Allah melalui Alkitab dengan kuasa Roh Kudus.
Yesus ada dalam diri kita melalui Roh Kudus -- dan saat ini kita
memang menjadi bagian dari sabda-Nya. Dalam segala hal, pekerjaan
"memuliakan" tetap diteruskan melalui kita. Tapi bagaimana kita tahu
bahwa kita memuliakan Tuhan? Mungkin kita tidak akan pernah
menyadarinya. Memang ada alat untuk mengetahui tingkat kolesterol,
tekanan darah, atau keadaan jantung kita, namun tidak ada yang namanya
"alat pengukur kemuliaan". Namun, kita diyakinkan bahwa Tuhan senang
karena kita menaati panggilan-Nya, dan ketaatan itu akan dengan
sendirinya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tugas kita adalah mengatur
pekerjaan kita, dan Tuhan yang akan menilai hasilnya.
Namun begitu, ada aspek lain yang juga penting dalam memuliakan Tuhan.
Dalam Alkitab, pekerjaan dan penyembahan sangat berkaitan. Bahkan,
kata "bekerja" dalam bahasa Ibrani terkadang diartikan sebagai
`penyembahan`. Mark Greene mengaitkannya setelah mengamati bahwa
"bekerja adalah kata yang dibentuk oleh tujuh huruf"[1]. Ketika
seorang Kristen bekerja, dia juga sedang menyembah. Apakah Anda merasa
sudah melakukannya setiap hari? Cara kerja dan cara menyikapi
pekerjaan yang buruk akan mengarah kepada penyembahan yang berkualitas
buruk pula -- atau tidak menyembah sama sekali. Jika itu terjadi,
kemuliaan Allah sedang dirampok sebanyak dua laki lipat -- karena kita
tidak mendorong orang lain untuk memuliakan-Nya karena kita sendiri
pun tidak memuliakan-Nya.
Doa Daud, ketika dia mempersiapkan Bait Allah yang kelak akan dibangun
oleh anaknya, Salomo, menyiratkan pola penyembahan dalam Alkitab: "Ya
TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan
keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya
TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi
segala-galanya sebagai kepala" (1Taw. 29:11).
Yesus mengambil inti dari doa itu yang kemudian Dia ajarkan kepada
murid-murid-Nya (Mat.6:9-13). Seperti yang dikatakan William Barclay,
"Saya tidak bisa mengatakan amin (untuk doa itu) kecuali saya bisa
mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun juga itu
adalah doa saya." Sungguh-sungguh suatu tantangan yang besar untuk
memuliakan Tuhan dalam hidup dan pekerjaan kita [2].
Aksi:
Kita telah membahas empat cara agar pekerjaan kita bisa memuliakan
Tuhan. Periksa dan nilailah pekerjaan Anda sekarang berdasar empat
prinsip ini. Berdoalah agar Anda mampu bersikap jujur dan objektif.
Kita semua perlu belajar banyak dan mencoba menerapkannya dengan lebih
baik. Bagaimana Anda menjawab pertanyaan, "Apa pentingnya pekerjaanku
bagi Tuhan?"
Apakah Tuhan tercermin dalam sikap kerjaku?
-------------------------------------------
Sikap kerja kita berperan penting dalam menentukan peran unik kita
nantinya. Ketika Anda mengerjakan beberapa aksi di atas, Anda mungkin
merasakan kepedihan akan sikap Anda yang sekarang. Saya sendiri
merasakan seperti itu. Mari kita bahas hal ini lebih dalam dengan
melihat "semangat zaman" ini. Bagaimana dan di mana semangat zaman ini
bisa memengaruhi kerja kita yang begitu dipedulikan Tuhan? Saya
mencari profil seseorang atau perusahaan untuk mengetahui sikap yang
umum dilakukan dalam bekerja. Saya tidak butuh waktu lama untuk
menemukan apa yang saya cari -- profil-profil seperti itu banyak
terdapat dalam media massa dan pelatihan yang ada di seluruh dunia.
Mereka inilah yang membentuk opini yang memengaruhi kita dalam
menetapkan konteks mengenai bagaimana orang Kristen harus bekerja.
Inilah sepuluh pandangan mereka tentang diri mereka sendiri atau orang
lain yang mereka kagumi.
1. Ia selalu memiliki sikap bersaing tanpa pikir panjang.
2. Orang ini selalu ingin menjadi penguasa setiap saat.
3. Ia penuh dengan ambisi.
4. Agar berhasil, semua orang harus dipandang sebagai musuh.
5. Pekerjaan adalah mesin promosi untuk diri sendiri.
6. Dalam segala hal, moralitas tidak penting -- yang penting adalah
hasil akhir.
7. Rahasia sukses adalah pertama-tama menemukan cara bagaimana
menghasilkan uang dengan cepat.
8. Budaya kerja 24-7 sangat cocok; berkeluarga tidak penting.
9. Selalu penuh dengan adrenalin, selalu melakukan sesuatu dengan
semaksimal mungkin.
10. Seorang pembentuk tim dikenal karena pendelegasian atau
kepercayaannya -- tapi tidak keduanya.
Anda akan melihat betapa tegas dan kerasnya pernyataan-pernyataan di
atas. Ada beberapa pernyataan yang sangat ekstrem, dan kebanyakan
terkesan negatif. Ambisi dan persaingan memang dibutuhkan agar kinerja
seseorang baik -- pada tingkat tertentu, hal itu akan membawa
kemuliaan bagi Tuhan. Tapi bagian-bagian lain, seperti meniadakan
moral atau tidak ingin berkeluarga, tidak bisa disebut sebagai prinsip
orang Kristen. Anda mungkin mengenal banyak orang seperti itu atau
jangan-jangan Anda sendiri memiliki pemikiran seperti itu, tergantung
dari jenis pekerjaan yang Anda lakukan. Mungkin Anda baru saja memulai
karir dan mengabaikan hal ini, atau mungkin Anda berada di pertengahan
karier dan semua ini terdengar seperti "memang seperti itulah bisnis".
Bukan hanya "pemimpin dunia industri" yang menggunakan pernyataan-
pernyataan seperti itu. Saya sudah bertemu dengan orang-orang seperti
ini dalam jalan kehidupan yang sangat berbeda. Banyak dari mereka yang
mengganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu kehormatan.
Meskipun ada yang melecehkan sikap-sikap seperti itu, tapi pada
kenyataannya banyak yang memercayai dan melakukannya. Dan sebagian
dari mereka adalah orang-orang Kristen.
Kini kita tahu bahwa pekerjaan kita berarti untuk Tuhan -- setidaknya
itulah yang diharapkan Tuhan. Namun, berarti atau tidaknya pekerjaaan
kita tergantung dari sikap dan perilaku kita. Cermati lagi kesepuluh
perilaku di atas. Pikirkanlah kesepuluh hal itu sebagai tempat kita
bercermin, yang mana yang ada pada diri Anda dan lingkungan kerja
Anda.
Tanggapan:
Apakah Anda mengekpresikan salah satu dari karakteristik ekstrem di
atas ketika Anda bekerja? Jika ya, pikirkanlah bagaimana sikap itu
mempengaruhi peran pekerjaan yang Tuhan inginkan. Jika Anda cukup
berani, mintalah pendapat dari rekan kerja untuk melihat bagaimana
mereka menanggapi Anda. Apa yang akan Anda lakukan untuk mengubah
sikap yang tidak ilahi ini? Jika Anda memiliki karakteristik-
karakteristik seperti itu, berdoalah agar Anda dilepaskan dari
pencemarannya.
Sikap dalam pekerjaan yang Tuhan inginkan
-----------------------------------------
Sang Pencipta tahu semua kelemahan dan kelebihan kita -- dan
diberikan-Nyalah Alkitab sebagai penuntun hidup kita. Karena etika
Kristen tidak dikembangkan dalam gereja atau untuk gereja, John Stotts
kemudian meneliti, "... konteks Perjanjian Baru bagi kehidupan Kristen
adalah ramai, sibuk, dan menantang di tempat kerja dan lingkungan
bisnis." [3] Apa yang kita lakukan di sini adalah mengaitkan apa yang
telah lama terpisahkan. Kita bisa dengan yakin mengatakan Tuhan tidak
bermaksud untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan dari iman. Dan
untuk itu, Alkitab memiliki banyak pandangan yang sangat membantu
untuk mengetahui sikap yang diperlukan untuk dapat bersaksi tentang
Tuhan melalui pekerjaan kita. Segera, kita akan membahas ketiga sikap
itu.
Bait Allah
----------
Dalam 1Korintus 3:16, Paulus mengemukakan pertanyaan, "Tidak tahukah
kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam
kamu?" (1Kor 3:16). Maksudnya adalah bahwa bait Allah itu sangat suci
dan "Anda adalah bait itu. Ini adalah metafora yang sangat luar biasa
dan memandang manusia dengan sangat tinggi. Bagi sebagian dari kita,
pandangan ini mungkin terlalu tinggi. Apa yang dikatakan dalam ayat
itu, mungkin sulit untuk kita penuhi -- terutama dalam lingkungan
kerja. Meski begitu, nilai yang dimiliki orang Kristen di dunia ini
terletak pada hubungan istimewa mereka dengan Tuhan. Itulah pekerjaan
yang dimaksudkan Alkitab. Untuk itulah Kristus mati. Lebih jauh lagi,
kita perlu bertanya pada diri sendiri mengenai kegiatan yang dilakukan
dalam bait ini, di tempat yang sebenarnya adalah milik Tuhan. Siapa
lagi yang tinggal di dalamnya? Apakah bait kita hanyalah sekadar
bangunan sejarah atau tempat untuk menyembah dan bersaksi? Lebih dalam
lagi, ini berarti bahwa Anda membawa serta Roh Kudus saat Anda
bersikap tanpa kasih, mencaci maki orang lain atau bawahan Anda. Roh
Kudus ada ketika Anda berbohong kepada seorang pelanggan tentang
permasalahan produk yang Anda miliki. Roh Kudus melihat Anda sedang
berbohong saat mengajukan klaim. Roh Kudus di sana, menunggu, ketika
sebenarnya Anda memiliki kesempatan untuk bersaksi, namun tidak pernah
menyatukan iman dan pekerjaan sebagai sebuah prinsip. Jika hal itu
membuat Anda menangis, menangislah. Kadangkala, inilah fakta
menyedihkan kehidupan seorang Kristen di tempat kerjanya. Masalahnya
bukanlah bagaimana saya dapat hidup seperti Kristus, melainkan
bagaimana saya mengizinkan Kristus hidup di dalam saya. Tubuh saya
adalah rumah -- apakah Roh Kudus sudah tinggal di dalamnya?
Partner Allah
--------------
Bersekutu dan berbagi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dari
kehidupan Kristen. Prinsip bersekutu mengakar dalam bidang bisnis dan
komersial. Namun, hal ini sangat relevan dengan pembahasan kita. Tidak
akan ada persekutuan jika kedua belah pihak tidak memiliki tujuan yang
sama; harus ada alasan kuat untuk terlibat dalam hubungan tersebut,
dan alasan itu harus mampu bertahan dalam keadaan baik ataupun buruk.
Persekutuan jarang dapat bertahan lama jika salah satu pihak "tidur",
atau bersikap pasif. Apakah Anda pernah "bersekutu dengan Kristus"?
Apakah Anda pernah berpikir untuk melakukan (atau tak melakukan)
pekerjaan Tuhan? Tanpa terkecuali, semua orang Kristen disebut sebagai
rekan dalam anugerah Tuhan. Paulus mendapat gagasan ini saat ia
bersyukur pada Tuhan karena "persekutuanmu dalam Berita Injil mulai
dari hari pertama sampai sekarang ini. Akan hal ini aku yakin
sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu,
akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus (Fil.
1:5-6)." Sungguh melegakan karena Alkitab ternyata mengerti kebutuhan
kita yang selalu membutuhkan bantuan untuk menjalankan peran kita.
Selain kekuatan, persekutuan juga memerlukan semangat yang benar. Hal
itu tidak bisa dijalankan bila saya merasa terpaksa membawa masuk
Tuhan dalam kerja saya. Anda bisa beranggapan bahwa Tuhan memunyai
suatu pekerjaan untuk Anda lakukan bersama-sama di tempat kerja Anda;
namun terkadang Anda tidak selalu menjadi rekan yang mau bekerja
dengan-Nya.
Murid-murid Allah
-----------------
Karakter orang Kristen sesungguhnya adalah sebagai murid. Ini
merupakan tujuan hidup -- berdasar sikap rendah hati yang rindu untuk
mengenal dengan lebih dalam tentang orang yang diikutinya. Bagi
sebagian besar dari kita, kerja bisa menjadi lingkungan yang keras --
serta merupakan tempat di mana kita semua melakukan kesalahan. Aturan
pertama untuk semua murid adalah mengakui bahwa orang lain mungkin
benar dan dia bisa saja salah. Perkataan spontan, situasi yang tak
terduga, rekan kerja yang tidak mau menolong adalah beberapa hal yang
bisa menyebabkan perilaku kita tidak mencerminkan Kristus. Kita perlu
ingat bahwa apa yang sedang kita pelajari adalah tentang kebesaran dan
kemampuan Tuhan dalam mengatasi setiap tantangan-tantangan hidup kita.
Orang lain perlu (beberapa orang ingin) untuk belajar dari kita.
Banyak orang tidak membaca Alkitab. Dalam kehidupan kerja kita, kita
tidak selalu mendengarnya dalam perkataan yang ditujukan untuk
Filipus, "Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus" (Yoh. 12:21). Para
pencari kebenaran dari Yunani ini menggambarkan kehausan akan Tuhan
yang tidak selalu dimiliki sesama kita. "Permintaan" itu terkadang
tidak diekspresikan; situasi kantor biasa-biasa saja, terkadang muncul
pertanyaan yang sinis dan mencemooh, ada juga kata-kata celaan. Namun
pada kenyataannya, orang-orang memang mencari fakta dari pembelajaran
dan kepengikutan kita akan Tuhan. Apa yang mereka lihat? Jika mereka
mencatat di buku harian, apakah yang akan mereka tulis tentang
"kehidupan seorang Kristen"?
Tantangan
---------
Bahasan dalam artikel ini meliputi beberapa materi yang agak pribadi
mengenai keinginan Tuhan, sikap kita, dan pekerjaan kita. Luangkanlah
beberapa menit untuk merenungkan hal-hal berikut.
1. Tentukan apa yang menurut Anda istimewa bagi Tuhan mengenai peran
Anda dalam pekerjaan Anda saat ini. Sangat penting untuk menentukan
sikap itu sekarang karena sikap inilah yang akan mempengaruhi
hidup Anda selanjutnya.
2. Selama beberapa tahun terakhir ini, apakah pekerjaan Anda lebih
memberi pengaruh kepada diri Anda daripada Tuhan? Atau apakah Anda
merasa bahwa Tuhan ikut bekerja sehingga Anda mampu mengatasi
beragam sikap yang ada dalam lingkungan kerja Anda?
3. Bagaimana Anda mengaitkan pekerjaan Anda yang sekarang ini sebagai
"penyembahan"? Bandingkan dengan bagaimana Anda mempersiapkan dan
keterlibatan Anda dalam penyembahan, dampaknya terhadap Anda,
sikap Anda saat menyembah, seberapa fokus Anda, dsb..
4. Bagaimana Anda bisa lebih memuliakan Tuhan melalui pekerjaan
Anda? Atau apakah yang harus Anda mulai ubah agar Anda dapat lebih
memuliakan-Nya?
5. Saat Anda merenungkan tentang bait Allah, persekutuan, dan
pemuridan, pikirkanlah mana yang paling relevan untuk Anda
kaitkan dengan pekerjaan Anda?
6. Satu kesimpulan yang bisa diambil oleh seorang Kristen dari
bahasan di atas adalah: "Saya bekerja untuk Tuhan". Bisakah Anda
mengatakan kalimat itu? (t/Lanny dan Dian)
Tambahan Catatan Kaki
---------------------
[1] Mark Greene, `Thank God It`s Monday; Ministry in the Workplace
(London: Scripture Union, 1994), hal. 36.
[2] William Barclay, The Plain Man Looks at the Lord`s Prayer (London:
Collins, 1964.
[3] John Stott, The Incomparable Christ (Leicester: IVP, 2001), hal 96-97.
=====================================================================
Diterjemahkan dari:
Judul buku : God`s Payroll: Whose Work is It anyway?
Judul bab : The Importance of Your Work in God`s Eyes.
Penulis : Neil Hood
Penerbit : Bell and Bain Ltd, Glasgow 2003
Halaman : 17 -- 26
------------------------- ><> e-Reformed <>< -------------------------
Anda terdaftar dengan alamat: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Kontak Redaksi : < reformed(a t)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti : < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: < http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed >
><> e-Reformed -------------------------------------- e-Reformed <><
|