Salam,
Reformasi abad ke-16 yang dimotori oleh Martin Luther adalah momentum
Illahi. Sebuah gerakan pembaharuan rohani yang muncul tepat pada
puncak penduniawian gereja oleh Katolik Roma. Momen ini dapat
ditafsirkan sebagai sejarah yang terulang sejak Reformasi Ezra dan
Nehemia dalam sejarah umat Allah untuk pemurnian umat.
Dipublikasikannya 95 Tesis sebagai data akurat dan tidak terbantahkan
yang disusun oleh Martin Luther untuk menunjukkan bukti penyimpangan
ajaran dan korupsi gereja Katolik Roma di gerbang gereja Wittenburg
adalah titik penentu keefektifan Reformasi ini. Efektivitas Reformasi
yang terutama adalah revitalisasi religiusitas dan teologis. Reformasi
adalah awal babak baru pemurnian iman dan pengajaran dalam gereja
Tuhan dan menjadi penentu arah perkembangan teologi dan pengajaran di
kemudian hari.
Calvin, penerus Luther, adalah salah seorang reformator yang mampu
menafsirkan gerakan itu sebagai momen yang mampu merevitalisasi
kehidupan religius dan teologia pada zamannya dan berefek sampai hari
ini. Baginya, kebenaran ajaran dan teologi gereja ditentukan dan
didasarkan pada Alkitab dan interpretasinya yang benar. Prinsip Sola
Scriptura adalah penentu keberhasilan Reformasi. Dari prinsip ini akan
ditemui prinsip-prinsip yang menyertainya, seperti Sola Gratia dan
Sola Fide, termasuk Sola Gloria.
Tugas Calvin, khususnya sebagai penafsir Alkitab, telah berhasil
membawa Reformasi keluar dari mistikisme gereja; corak dominan
pengajaran dan teologia gereja abad pertengahan, dengan cara menolak
interpretasi Alkitab secara alegoris. Sebaliknya, Calvin, secara
realistis sanggup memadukan doktrin dan mengajarkannya dari sudut
pandang pembinaan untuk warga jemaat secara sistematis dan alkitabiah.
Calvin mampu mengajarkan kemuliaan Allah berdasarkan kebutuhan rohani
pada zamannya yang secara esensi tidak bisa dilepaskan dari prinsip
Alkitab. Gerakan Reformasi itu sangat biblikal karena menekankan
pentingnya penafsiran Alkitab secara literal dan historis.
Alkitab adalah dasar Reformasi dan kedaulatan Allah adalah segala-
galanya. Karena Reformasi sangat menekankan Alkitab dan kedaulatan
Allah sebagai pusat teologi, maka pada era-era sekarang, teologi
Reformasi cenderung menjadi "tolok ukur" untuk menguji teologia-
teologia lainnya. Teologi Reformasi "mampu mengukur" konsistensi dan
ketepatan, sekaligus mendeteksi penyimpangan berbagai aliran teologi.
Dari sinilah prinsip Calvin, "Speak where the Scriptures speak; be
silent where they are silent" menjadi terkenal. Bagi Calvin, Alkitab
dan Allah tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran dan teologia
alkitabiah. Inilah salah satu warisan Reformasi yang sangat
berpengaruh sampai saat ini di samping warisan-warisan besar lainnya.
Untuk memperingati Hari Reformasi Gereja, yang akan diperingati
tanggal 31 Oktober 2007 nanti, dan juga untuk mengingat kembali
efektivitas gerakan Reformasi abad ke-16 yang lalu dan menguji kembali
apakah kebenaran yang telah ditegakkan oleh para reformator, khususnya
Calvin, tentang pentingnya Alkitab sebagai sumber final pengajaran dan
teologi itu masih relevan, maka, tulisan Dr. Daniel Lucas Lukito di
bawah ini mencoba menganalisa kesinambungan esensi dan relevansi
gerakan tersebut dalam pengajaran iman dan teologi Kristen hari ini.
Selamat memperingati Hari Reformasi Gereja!
Sola Gratia,
Riwon Alfrey
======================================================================
ESENSI DAN RELEVANSI TEOLOGI REFORMASI
======================================
PENDAHULUAN
Menurut kronologi sejarah, gereja Protestan mulai bereksistensi pada
peristiwa Reformasi abad ke-16. Sekalipun saat itu Martin Luther --
juga kemudian John Calvin -- menentang ajaran gereja Katolik Roma,
mereka tidak bermaksud mendirikan gereja yang baru. Tujuan Reformasi
itu sendiri adalah untuk menyerukan sebuah amanat agar gereja kembali
kepada dasar ajaran dan misi yang sesungguhnya; gereja disadarkan dan
dibangunkan agar berpaling pada "raison d`etre" dan vitalitasnya di
bawah terang Injil.
Menurut ajaran gereja Katolik Roma pada zaman itu, gereja memiliki
"gudang" penyimpanan anugerah berlimpah yang diperoleh dari orang-
orang kudus yang perbuatan baiknya melampaui tuntutan kewajiban bagi
keselamatan mereka. Itulah sebabnya, bagi mereka yang kekurangan
anugerah, gereja sebagai sumber dapat menyalurkannya. Dari konsep
pemikiran tersebut, meluncurlah ajaran tentang "surat penghapusan
siksa" (indulgences) yang dapat diperjualbelikan. Bahkan Paus Sixtus
IV, pada ca. 1460 mendeklarasikan bahwa khasiat dari surat penghapusan
itu dapat ditransferkan kepada orang Kristen yang jiwanya "tersangkut"
dalam purgatori atau (tempat) api penyucian.
Karena itulah, pada 31 Oktober 1517 Luther memakukan 95 tesis atau
keberatan pada pintu sebuah gereja di Wittenberg. Ia mengajukan
keberatan sekaligus protes yang isinya sebenarnya ditujukan kepada
penyimpangan ajaran dan korupsi gereja, khususnya dalam hal penjualan
"surat penghapusan siksa" di mana seakan-akan pengampunan dosa itu
sendiri dapat diperoleh secara kontribusional atau komersial.[1] Jadi,
tujuan Luther yang sepolos-polosnya dan semurni-murninya ialah
mengembalikan gereja pada esensi yang sesungguhnya dari iman Kristen.
Memang secara umum, istilah "reformasi" menunjuk pada adanya suatu
penyimpangan atau penyelewengan yang dienyahkan serta adanya suatu
usaha penataan kembali terhadap hal-hal yang esensial. Singkatnya,
terdapat koreksi dan perbaikan dari sebuah keadaan. Sebagai contoh,
Raja Hizkia (2Raj. 18:1-18) jelas mengadakan suatu reformasi berupa
pemberantasan terhadap penyimpangan di dalam ibadah, serta perpalingan
kembali untuk menyembah Yahweh. Demikian pula yang dilakukan oleh Raja
Yosia (2Raj. 23:4-20); ia mengoreksi peribadatan bangsa Israel yang
korup, sekaligus mengembalikan bangsanya pada penyembahan yang benar
(ay. 21-23).
Dalam sejarah gereja, Reformasi (dengan huruf "r" kapital) menunjuk
pada pembaruan terhadap gereja melalui usaha yang tidak jauh berbeda
dengan dua kejadian di atas. Gereja seolah-olah direvitalisasikan atau
dihidupkan kembali agar kembali pada sumber pemberi hidupnya, yaitu
Allah dan firman-Nya. Jadi, Reformasi terhadap gereja pada abad 16
merupakan usaha pembaruan, bukan pemberontakan (It was a reform, not a
revolt). Alasannya, kontinuitas terhadap sumber ajaran yang esensial
itu tetap dipelihara. Kalaupun pada akhirnya berdiri gereja Protestan
sebagai gereja yang baru, gereja itu sendiri sebenarnya adalah gereja
yang lama dari zaman para rasul. Inti permasalahannya hanyalah gereja
yang ada saat itu (gereja Katolik Roma) menolak usaha pengoreksian
tersebut, bahkan menolak usaha pengembalian pada ajaran gereja yang
rasuli. Hal ini juga berarti bahwa semua faktor (seperti kaitan
sosial, politik, dan intelektual) yang menyertai peristiwa Reformasi
abad 16 itu bukanlah faktor yang utama karena asal-usul dan maksud
Reformasi itu sendiri bersifat religius dan teologis.
Dengan demikian, kita dapat mengerti bahwa kelanjutan dari Reformasi
yang dikerjakan oleh Calvin, Melanchthon, Zwingli, Bucer,
Oecolampadius, Farel, Beza, Bullinger, Knox, Ursinus, Olevianus, dan
lainnya, semuanya tidak jauh berbeda dari Luther bila ditinjau dari
esensi pemikiran dasarnya. Tulisan ini mencoba melihat teologi
Reformasi dari segi hakikat/esensinya serta kaitan/relevansinya dengan
iman Kristen pada masa kini. Karena keterbatasan ruang, penulis lebih
banyak memfokuskan pembahasan pada pandangan J. Calvin (1509 -- 1564)
tentang esensi Reformasi itu sendiri karena di dalam pemikiran
Calvinlah kita dapat menemukan pemikiran dasar teologi Reformasi dalam
struktur yang lebih mendalam dan sistematis.
ESENSI TEOLOGI REFORMASI
Calvin lebih dikenal sebagai juru sistematisir dari Reformasi yang
dimulai oleh Luther. Meskipun ia adalah tokoh generasi kedua, ternyata
ia sanggup memadukan doktrin dari Alkitab secara sistematis. Bila
dilihat dari karyanya yang agung seperti "Institutes of the Christian
Religion",[2] komentari, dan karya-karya tulis lainnya, tampaknya
tidak ada seorang reformator pun baik sebelum atau sesudah Calvin yang
sanggup melampaui karya-karyanya tersebut. Penulis sendiri merasa
"iri" kepada kejeniusannya yang pada usia 27 tahun (tahun 1536) telah
menghasilkan karya monumental (Institutio) untuk pertama kali.[3]
Mungkin ada sebagian orang mengira Calvin adalah seorang teolog yang
aktivitasnya kebanyakan hanya di belakang meja tulis (zaman sekarang,
di belakang meja komputer) dan menjadi seorang "scholar" yang
nongkrong di atas "menara gading." Perkiraan seperti itu benar-benar
keliru. Calvin pertama-tama adalah seorang gembala atau pendeta yang
melayani di gereja. Di dalam pelayanan tersebut, ia berpikir dan
menulis karya-karya teologinya selalu dari sudut pandang pembinaan
untuk warga jemaat.[4] Ia sendiri mengatakan hal ini dengan jelas di
dalam edisi perdana dari "Institutio"-nya bahwa karya tersebut
ditujukan "terutama untuk masyarakat awam Prancis, di mana banyak di
antara mereka yang lapar dan haus akan (pengenalan pada) Kristus. Buku
ini sendiri boleh dikata merupakan bentuk pengajaran yang sederhana
dan elementer." Di dalam karya tersebut kita melihat catatan-catatan
yang bersifat pastoral, pembinaan gereja, pendidikan agama Kristen di
rumah dan gereja, bahan katekisasi, dan sejenisnya. Itu sebabnya,
tidak mengherankan jika gereja yang dilayani oleh Calvin di Geneva
menjadi gereja model bagi gerakan Reformasi.
Sekarang, bila kita hendak meninjau ciri-ciri teologi Reformasi satu
per satu, ini tentu merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin. Dari
satu sisi, seseorang dapat mengembangkan ajaran tentang teosentrisitas
Allah atau tentang kedaulatan Allah dalam teologi Reformasi. Dari sisi
yang berbeda orang yang lain dapat menekankan keajaiban kasih karunia
(sola gratia), atau tentang satu-satunya iman yang ajaib (sola fide).
Dari sisi yang lebih spesifik, bisa saja orang yang lain lagi
membicarakan epistemologi dari teologi Reformasi, atau tentang
keunikan manusia, tentang keselamatan, tentang "covenant",
predestinasi, kerajaan Allah, gereja, perjamuan kudus, kebudayaan, dan
seterusnya. Apabila kesemuanya itu hendak dibahas atau ditinjau satu
per satu, tidaklah menjadi masalah. Hanya saja, apabila seseorang mau
menelusuri teologi Reformasi secara konsisten, ia harus mengakui bahwa
esensi atau "benang merah" dari Reformasi itu sendiri tidak bisa
dilepaskan dari ajaran atau prinsip yang berakar pada Alkitab (the
Scriptural principle).[5]
Sebagai contoh, Calvin sendiri membahas siapa Allah, siapa manusia,
dan kaitan antara kedua tema itu. "True knowledge of man is
unattainable without knowledge of the living God."[6] Namun, ia
senantiasa menimba ajaran-ajaran tersebut dari prinsip dasar Alkitab.
Singkatnya, "worldview" dan "lifeview"-nya selalu memiliki referensi
yang tepat di dalam Alkitab. Sebagai gembala, pengkhotbah, ekseget dan
teolog, ia selalu tidak terlepas relasinya dengan Alkitab. "Holy
Scripture contains a perfect doctrine, to which one can add nothing
.... "[7] Dengan demikian, dari satu segi, Calvin boleh dikata
pertama-tama adalah seorang "biblical theologian", oleh karena ia
memang betul-betul terlatih dan menguasai teknik-teknik eksegese yang
berhubungan dengan penelitian sejarah dan tata bahasa Alkitab.
Melalui karya-karyanya, Calvin jelas menolak metode interpretasi dari
teolog abad pertengahan yang cenderung mengalegorikan, merohanikan,
dan memolarisasikan Alkitab. Ia menegaskan bahwa penafsiran Alkitab
yang benar harus kembali pada arti yang literal dari perkataan Alkitab
dan sesuai konteks historisnya. Maksudnya, apa yang orang Kristen
katakan tentang Allah haruslah sejauh yang Alkitab katakan tentang
Allah. Oleh karena itu, di dalam pikirannya setiap orang Kristen harus
sampai pada pengakuan bahwa pengenalannya akan Allah memiliki batas
dan di dalam pengenalan itu senantiasa terdapat suatu misteri. Batas
dan misteri tersebut tidak dapat ditembus oleh pikiran manusia. Itulah
sebabnya, Calvin kerap mengutip Ulangan 29:29 di dalam karyanya.
Penekanan pada prinsip bahwa Alkitab menjadi sumber satu-satunya
tersebut membuat Calvin "tertawan" pada pikiran bahwa Alkitablah satu-
satunya otoritas terakhir yang menentukan kepercayaan, tindakan, dan
kehidupan Kristen. Pandangan tersebut barangkali terkesan naif,
simplistis, dan tidak cocok bagi kalangan atau aliran modern tertentu
dewasa ini. Bagi orang yang berteologi liberal, Alkitab tidak terlalu
berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya. Bagi orang yang berteologi
neo-ortodoks, Alkitab tidak mungkin dijadikan otoritas satu-satunya
karena Alkitab tidak identik dengan firman Allah. Kalaupun kedua
kalangan tersebut mengatakan bahwa mereka menerima otoritas Alkitab,
esensi dari pandangan tersebut berbeda dengan posisi Calvin.
Sedangkan bagi kalangan yang "gemar" berglosolalia, menikmati
penglihatan, sampai kepada mereka yang senang bertumbangan dalam Roh,
dibedah oleh Roh, muntah-muntah di dalam Roh, bahkan cekikikan dalam
Roh, Alkitab menurut pandangan Calvin di atas hanyalah "pelengkap
penderita" atau "catatan kaki" bagi usaha pelegitimasian atau
pengesahan pengalaman mereka. Tidak heran kalau pada akhirnya Alkitab
sebenarnya tidak atau kurang dihargai di kalangan tersebut.
Esensi teologi Reformasi, sekali lagi, terletak pada kesetiaan
terhadap prinsip Alkitab tersebut. Menurut Calvin, Alkitab ialah
sumber wahyu satu-satunya di dalam kekristenan, dan karena itu,
"message" atau berita dari berita Injil hanya dapat ditemukan di dalam
atau di balik teks Alkitab. Maksudnya, kebenaran apa pun yang Allah
ingin sampaikan kepada manusia (apalagi hal yang penting seperti
keselamatan), arti sesungguhnya hanya ditemukan di dalam Alkitab.
Karena itulah, di dalam seluruh "Institutio"-nya ia menulis dengan dua
tujuan yang jelas: pertama, memperjelas Alkitab pada seluruh
bagiannya. Hal ini dapat dibuktikan bahwa selama bertahun-tahun ia
menulis komentari untuk setiap kitab dalam Alkitab (walaupun ternyata
pada akhir hidupnya tidak semua kitab dalam Alkitab berhasil
diselesaikan penafsirannya). Kedua, menyusun berita Alkitab secara
sistematis dengan penjudulan yang tepat.[8] Hal ini tidak
mengherankan, sebab "Institutio" bukan karya yang ia tujukan bagi para
teolog atau guru besar di bidang penelitian iman Kristen, melainkan
untuk pembaca Alkitab dan para pemula dalam iman Kristen.
Bersamaan dengan itu, perlu dimengerti bahwa bagi Calvin bukan hanya
bagian tertentu dari Alkitab saja yang menjadi otoritas iman Kristen.
Sebaliknya, Alkitab secara keseluruhan (tota Scriptura), kanon
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ialah firman Allah yang utuh.[9]
Sekalipun ia cenderung menggemari kitab Kejadian, Mazmur, Matius,
Yohanes, Roma, dan 1 Korintus, ia justru terlihat mengupayakan
pengajarannya secara menyeluruh dari Alkitab.[10] Meskipun Calvin
adalah seorang ekseget Alkitab yang terkemuka dalam teologi Reformasi,
ia menegaskan berulang-ulang: "Speak where the Scriptures speak; be
silent where they are silent."[11] Sungguh, zaman sekarang ini banyak
aliran yang telah bergeser terlalu jauh dari diktum di atas.
Ada kalangan yang begitu berani menceritakan pengalamannya mondar-
mandir ke surga. Yang lain, sepertinya tidak ingin kalah dengan
pengalaman tersebut, menceritakan tentang "darmawisata"-nya ke neraka.
Masih ada lagi yang tidak mau kalah menceritakan pengalaman hebat-
hebat lainnya, yang intinya kebanyakan dari pengalaman itu sudah atau
berusaha melampaui apa yang ada di dalam Alkitab. Teologi Reformasi
seakan-akan menegaskan proposisi ini: "Dengarlah, taatilah Alkitab,
dan hindarkan spekulasi." Dengan demikian, prinsip tersebut
menempatkan manusia di bawah kebenaran (mengaktualisasikan kebenaran),
dan bukan manusia di atas kebenaran (mengakomodasikan kebenaran).[12]
Karena Alkitab yang adalah firman Tuhan adalah kebenaran, Alkitab
harus menjadi satu-satunya sumber di dalam pengajaran iman Kristen dan
satu-satunya patokan atau standar bagi doktrin Kristen.
Lebih lanjut, di dalam tafsirannya terhadap Injil Yohanes, Calvin
menegaskan bahwa Kristus tidak dapat dikenal secara benar dengan cara
apa pun kecuali melalui Alkitab. Maksudnya, bila seseorang menolak
ajaran Alkitab sebagai ajaran yang berotoritas penuh, ia sebenarnya
menolak Kristus. Apabila kita bertanya kepada Calvin, bagaimana
seharusnya seseorang atau gereja membaca Alkitab, ia akan menjawab
dengan tegas: kita harus membaca Alkitab secara kristologis dan
kristosentris. "First then, we must hold that Christ cannot be
properly known from anywhere but the Scriptures. And if that is so, it
follows that the Scriptures should be read with the aim of finding
Christ in them."[13] Perhatikan bagaimana esensialnya keberadaan dan
kepentingan Alkitab di mata Calvin; baginya Alkitab dan Kristus tidak
dapat dipisahkan.
Jadi dapat disimpulkan, bagi gereja Reformasi yang ada dan melayani di
zaman modern ini, pengakuan dan disposisi Calvin tersebut harus tetap
berlaku. Esensi pengajarannya adalah: gereja tidak boleh mengabaikan,
apalagi membuang, pengajaran Alkitab karena Alkitab merupakan otoritas
satu-satunya yang menentukan hidup matinya pengajaran gereja. Bukan
itu saja, Alkitab menentukan pengenalan gereja akan Juru Selamat satu-
satunya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Maka pada waktu seseorang
menyimpang dari Alkitab, saat itu juga hidupnya menyimpang dari
Kristus.
RELEVANSI TEOLOGI REFORMASI
Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat bahwa Calvin bukanlah
seorang teolog yang berbicara "di atas angin," melainkan ia pertama-
tama adalah seorang gembala, pengkhotbah, pengajar yang sangat "down
to earth" (realistis). Di sinilah kita melihat relevansi yang paling
pertama dan utama bagi gereja Reformasi zaman modern, yaitu gereja
harus menerapkan pendidikan dan pengajaran yang sederhana kepada para
anggotanya persis seperti yang pernah dilakukan oleh Calvin sendiri
karena tradisi Reformasi yang paling menonjol adalah perhatian yang
serius terhadap pendidikan Kristen bagi anggota jemaat.
Kebanyakan pihak setuju bahwa penginjilan dan usaha misionaris yang
memenangkan banyak jiwa adalah usaha yang esensial; tetapi pendidikan
dan pembinaan terhadap warga gereja adalah usaha yang tidak kalah
pentingnya. Usaha tersebut tidak terbatas pada pengajaran di kelas
katekisasi, sekolah minggu, kelas pembinaan khusus, melainkan lebih
jauh lagi sampai menjangkau pembinaan di kampus, sekolah teologi,
lembaga Kristen, bahkan yang lebih penting lagi, pembinaan melalui
literatur Kristen.[14] Dengan demikian, "Christian scholarship"
seperti yang pernah diupayakan oleh Abraham Kuyper, dapat merambah ke
segala bidang. Gereja tidak boleh melupakan usaha besar yang pernah
dilakukan oleh tokoh-tokoh besar seperti J. H. Bavinck, Herman
Dooyeweerd, D. H. Th. Vollenhoven, James Orr, J. Gresham Machen, C.
Van Til, Pierre Marcel, dan yang lainnya, yang pernah mengabdikan diri
serta memperkembangkan suatu pendekatan yang tetap setia kepada
tradisi Reformasi di dalam berbagai bidang. Usaha besar seperti inilah
yang perlu dihidupkan kembali pada zaman sekarang.
Bagi gereja di Asia pada umumnya, dan gereja di Indonesia khususnya,
tampaknya penerapan terhadap pendidikan agama Kristen dan gerakan
penghargaan terhadap Alkitab tidaklah terlalu sulit. Mengapa? Karena
kita melihat bangsa Timur lebih mudah beradaptasi dengan hal-hal yang
bersifat panutan dan tradisi. Orang Timur juga lebih mudah
menyesuaikan diri dengan pola pengajaran yang bersifat patriarkat dan
seminal. Selain itu, kebanyakan gereja di Indonesia dimulai dan
bertumbuh melalui pekerjaan misi dari Eropa yang menekankan tradisi
Reformasi. Hanya pertanyaannya, apakah tradisi yang baik itu
(penekanan pada pendidikan Kristen dan penghargaan terhadap Alkitab)
tetap mendapatkan prioritas utama di dalam agenda pelayanan gereja?
Pertanyaan mendasar ini perlu dijawab oleh gereja-gereja di Indonesia
yang menerima landasan teologi Reformasi sebagai azas beriman dan azas
bergerejanya.
Kedua, hal lain yang tidak kalah penting dengan di atas ialah, selain
pendidikan Kristen, tradisi Reformasi juga menjunjung tinggi
sentralitas pemberitaan firman Allah, baik untuk penginjilan,
pengajaran, maupun aplikasi pastoral. Gereja di Asia dan Indonesia
yang bertumbuh dengan benar dan baik pastilah merupakan gereja yang
menghargai pemberitaan firman dengan pengupasan yang tepat tentang isi
Alkitab. Sebaliknya, bila pemberitaan gereja hanya mengumandangkan
ajaran-ajaran moral yang umum, ideologi-ideologi politis, atau terapi-
terapi sosiologis, psikologis, dan seterusnya, dan tidak memberitakan
ajaran Alkitab yang adalah firman Allah, gereja tersebut akan
mengalami kemerosotan di dalam pemahaman yang benar dan tepat terhadap
firman Allah.
Ketiga, teologi Reformasi yang sehat bukan menekankan pemberitaan
kerugma saja, tetapi juga memberi penekanan yang benar tentang
tanggung jawab sosial yang berdasarkan pada pengajaran Alkitab.[15]
Calvin jelas pernah mengajarkan bahwa jabatan dan fungsi seorang
diaken adalah untuk maksud seperti itu, yakni untuk menjadi
administrator dan pelayan sosial. Memang benar bahwa menjadi seseorang
yang setia kepada ajaran Reformasi haruslah menerapkan keyakinan
tersebut di dalam segala bidang kehidupan. Dengan perkataan lain,
ketuhanan Kristus yang diajarkan dalam Alkitab harus bergema di dalam
setiap aspek kehidupan, baik itu aspek sosial, ekonomi, politik, seni
dan lainnya.[16] Boleh dikata keberadaan gereja Reformasi di dalam
dunia adalah untuk berinteraksi dengan setiap aspek dari ciptaan
Tuhan. Misinya yang utama adalah untuk mengubah dunia, yaitu agar
dunia mengenal, menjalani hidup, dan mempraktikkan kasih karunia Allah
yang bekerja secara ajaib di dalam Yesus Kristus. Singkatnya, gereja
Reformasi tidak hanya terpanggil untuk sekadar memiliki iman
kepercayaan atau komitmen yang kuat, ia juga terpanggil untuk menaati
dan melaksanakan misi Allah sesuai dengan ajaran Alkitab.
PENUTUP
Dunia kita sekarang ini, dengan segala ajaran yang pluralis di
dalamnya, tampaknya sedang mengalami keguncangan karena manusia lebih
cenderung menerima hal-hal yang bersifat relatif. Cukup banyak orang
Kristen dan gereja cenderung meninggalkan paham dan tradisi lama yang
kebanyakan dianggap bersifat anakronistis atau sudah ketinggalan
zaman. Hal ini disebabkan oleh munculnya ideologi, -isme, dan
keyakinan baru yang menyaingi kepercayaan yang lama. Lebih daripada
itu, kepercayaan yang baru seakan-akan lebih mengena dan pragmatis
sifatnya dalam memberikan jawaban untuk mengatasi kebingungan manusia
modern. Bahkan banyak ajaran yang baru seolah-olah telah sanggup
secara total mengatasi problema manusia di dalam hal dosa, sakit
penyakit, dan memberikan arti kehidupan yang baru.
Pada saat seperti inilah dunia kekristenan memerlukan tuntunan dan
pengarahan yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Pengajaran dan pelayanan
gereja yang berbobot sangat esensial serta menentukan sekali untuk
memberi arah kepada manusia agar tidak dibingungkan oleh rupa-rupa
angin pengajaran yang palsu. Itu sebabnya, pandangan dari teologi
Reformasi yang diterapkan menjadi program yang sistematis untuk
pendidikan, pemberitaan firman, dan pengajaran melalui gereja adalah
sesuatu yang integral dengan konsepsi dari Calvin tentang kehidupan
Kristen yang benar. Mengabaikan hal ini berarti sama saja dengan
melepaskan sebuah kesempatan yang tak ternilai untuk menggarami
kehidupan jemaat di gereja dan umat manusia di dunia ini.
Footnote: --------- *Artikel ini pernah diterbitkan dalam buku
"Perjuangan Menantang Zaman" (ed. Hendra G. Mulia; Jakarta: Reformed
Institute, 2000) 3-16, dan dimuat dengan izin tertulis dari Reformed
Institute Press tanggal 5 Juni 2001.
1. Untuk melihat ringkasan sejarah Reformasi, lih. J. E. McGoldrick,
"Three Principles of Protestantism," Reformation & Revival Journal
1/1 (Winter 1992) 13-15; W Stevenson, The Story of the Reformation
(Richmond: John Knox, 1959) 29-49; H. J. Hillerbrand, The
Protestant Reformation (NY: Harper Torchbooks, 1968) xi-xxvii.
Mengenai Luther dan sejarah hidupnya, lih. H. A. Oberman Luther:
Man Between God and the Devil (New Haven: York University Press,
1982) 3-206; M. Brecht, Martin Luther: His Road to Reformation
1483-1521 (Minneapolis: Fortress, 1985).
2. Calvin: Institutes of the Christian Religion (ed. J. T McNeill;
LCC; 2 vols.; Philadelphia: Westminster, 1960).
3. Lih. pujian dan deskripsi terhadap Institutio oleh W Cunningham,
The Reformers and the Theology of the Reformation (Edinburgh: Banner
of Truth, 1989) 294-296.
4. Menurut J. L. Mays, ketika menuliskan tafsiran Mazmur pun, Calvin
menulisnya guna kepentingan jemaat Tuhan, bukan untuk para scholars
("Calvin`s Commentary on the Psalms: The Preface as Introduction"
dalam John Calvin and the Church: A Prism of Reform [ed. T George;
Louisville: Westminster/John Knox, 1990] 197).
5. Istilah ini diadopsi dari artikel F. H. Klooster, "The Uniqueness
of Reformed Theology," Calvin Theological Journal 14/1 (April 1979)
39; bdk. J. F. Peter, "The Place of Tradition in Reformed
Theology," Scottish Journal of Theology 18/3 (1965) 294-307. (Dalam
beberapa segi pemikiran dasar untuk artikel ini penulis berhutang
banyak pada kedua tulisan tersebut.) Perlu dicatat bahwa istilah
"the Scriptural principle" di atas berbeda pengertiannya dengan K.
Barth ("The Scripture Principle" dalam The Gottingen Dogmatics:
Instruction in the Christian Religion [Grand Rapids: Eerdmans,
1991] I: 201-226).
6. J. D. Gort, "The Contours of the Reformed Understanding of
Christian Mission," Calvin Theological Journal 15/1 (April 1980) 49.
7. Dikutip dari J. H Leith, Introduction to the Reformed Tradition
(Atlanta: John Knox, 1977) 101.
8. Institutes 4, Intro. ix; bdk. pendapat R. C. Gamble, "Exposition
and Method in Calvin," Westminster Theological Journal 49 (1987)
153- 165, khususnya kesimpulan h. 164.
9. Menurut D. H. Kelsey (The Uses of Scripture in Recent Theology
[Philadelphia: Fortress, 1975]), hampir setiap teolog Protestan
modern (seperti B. B. Warfield, K. Barth, R. Bultmann, P. Tillich)
selalu ingin menyesuaikan teologinya dengan isi Alkitab dalam
batas-batas tertentu; tetapi menurut Kelsey, masing-masing dari
mereka hanya menampilkan aspek tertentu saja dari Alkitab yang
dianggap berotoritas; jadi, bukan Alkitab secara menyeluruh.
10. Leith, Introduction 103.
11. Dikutip dari Klooster, "The Uniqueness" 39.
12. Istilah H. Thielicke, The Evangelical Faith (Grand Rapids:
Eerdmans, 1977) 1:27.
13. J. Calvin, The Gospel According to St. John 1-10 (repr. ed.; Grand
Rapids: Eerdmans, 1961) 139, yaitu tafsiran terhadap Yoh. 5:39;
lih. juga K. Runia, "The Hermeneutics of the Reformers," Calvin
Theological Journal 19/2 (November 1984) 144; dan W Niesel, The
Theology of Calvin (Philadelphia: Westminster, 1956) 27. Sama
dengan hal itu, Calvin juga menegaskan bahwa Alkitab harus menjadi
otoritas yang manunggal dengan kehidupan gereja. Hal ini bukan
hanya bertalian dengan pemberitaan gereja semata-mata, tetapi juga
bersangkutan dengan seluruh aspek kehidupan dan pelayanan gereja.
14. Lih. juga penekanan yang mirip dengan di atas dari D. K. McKim,
"Reformed Perspective on the Mission of the Church in Society,"
Reformed World 38/8 (1985) 405-421; bdk. D. H. Bouma "Sociological
Implications for Reformed Christianity," Reformed Review 2/2
(1966) 50-63; O. Fourie, "Thinking Biblically; Education: Whose
Responsibility?," Calvinism Today 3/1 (January 1993) 24-29; R. S.
Wallace, Calvin, Geneva and the Reformation: A Study of Calvin as
Social Reformer, Churchman, Pastor and Theologian (Grand Rapids:
Baker, 1988) 131-218; E. H. Harbison, "Calvin" dalam The Christian
Scholar in the Age of the Reformation (New York: Charles
Scribner`s Sons, 1956) 145-146.
15. Perh. himbauan dari K. Runia, "Evangelical Responsibility in A
Secularized World," Christianity Today 14/19 (1970) 851-854; bdk.
P. F. Scotchmer, "Reformed Foundations for Social Concern,"
Westminster Theological Journal 40/2 (1978) 318-349; W. J.
Bouwsma, John Calvin: A Sixteenth Century Portrait (NY: Oxford
University Press, 1988) 191- 203, dan R. M. Kingdon, "Calvinism
and Social Welfare," Calvin Theological Journal 17/2 (November
1982) 212-230.
16. Ketuhanan Kristus dalam gereja Reformasi bukan hanya menuntut
gereja terus-menerus diperbarui secara internal (ecclesia
reformata semper reformanda), melainkan juga memperbarui
masyarakat dunia dan kebudayaan (sempersocietas reformanda); lih.
J. Verkuyl, Theology of Transformation, or Towards a Political
Theology (Johannesburg: The Christian Institute of Southern
Africa, 1973) 2.
======================================================================
Diambil dari:
Judul majalah: Veritas; Jurnal Teologi dan Pelayanan (Vol. 2 No. 2)
Judul artikel: Esensi dan Relevansi Teologi Reformasi
Penulis : Daniel Lucas Lukito
Halaman : 149 -- 157
------------------------- ><> e-Reformed <>< -------------------------
Anda terdaftar dengan alamat: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Kontak Redaksi : < reformed(a t)sabda.org >
Untuk mendaftar: < subscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Untuk berhenti : < unsubscribe-i-kan-untuk-Reformed(a t)hub.xc.org >
Arsip e-Reformed: < http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed >
><> e-Reformed -------------------------------------- e-Reformed <><
|