__________________e-Penulis (Menulis untuk Melayani)__________________
Edisi: 061/November/2009
Tema: Menembus Media Massa
DARI REDAKSI__________________________________________________________
Shalom,
Para penulis yang menorehkan tinta di berbagai halaman media cetak
maupun yang berhasil menulis buku tidak serta merta mencapai
kesuksesannya dengan mudah. Mereka tidak lain adalah para pejuang
yang tak mengenal putus asa. Bukan hanya tenaga yang mereka
korbankan, namun juga waktu, uang, dan perasaan. Tak sedikit penulis
sukses yang harus bolak-balik ke kantor pos atau penerbit untuk
mengirimkan tulisannya. Alih-alih tulisannya dimuat, malah surat
penolakan yang datang. Lantas, apakah cukup sampai di sini? Tidak!
Kita harus memiliki ketekunan dan kesabaran jika kita ingin tulisan
kita menembus media massa. Ingat, selama ada keinginan pasti ada
jalan.
Edisi e-Penulis kali ini menyajikan artikel apik yang bisa mendorong
Sahabat Penulis untuk terus menulis bukan hanya untuk konsumsi
pribadi, tapi juga untuk khalayak umum. Temukan kiat-kiat kunci
menulis di media massa dan cara-cara menembus media massa. Nikmati
juga artikel khusus tentang lingkungan berkaitan dengan gerakan
cinta lingkungan Yayasan Lembaga SABDA dalam rangka memperingati
Hari Pohon yang jatuh pada 21 November ini. Jangan lewatkan pula
kabar baik tentang publikasi YLSA yang merambah Facebook, pojok
bahasa, dan info seputar Natal. Pastikan Sahabat Penulis memetik
manfaat dari edisi ini.
Staf Redaksi e-Penulis,
Sri Setyawati
http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
http://pelitaku.sabda.org/
http://fb.sabda.org/penulis/
______________________________________________________________________
Kemahiran menulis didapat dari kebiasaan, kesabaran, ketekunan, dan
keuletan untuk terus-menerus mencoba dan mencoba, menulis dan
menulis.
DAFTAR ISI____________________________________________________________
- Dari Redaksi
- Daftar Isi
- Artikel 1: Kiat Menulis di Media Massa
- Artikel 2: Bagaimana Caranya Agar Tulisanku Diterbitkan?
- Artikel Khusus: Umat Kristen dan Lingkungan
- Pena Maya: Publikasi YLSA Sudah Merambah Facebook
- Pojok Bahasa: Kecuali, Selain, dan Termasuk
- Info: Dapatkan Kumpulan Bahan Natal di natal.sabda.org
ARTIKEL 1 ____________________________________________________________
KIAT MENULIS DI MEDIA MASSA
"Ambisi tidak akan pernah menghasilkan apa-apa sampai ia dipadukan
dengan kerja keras." (NN)
Barangkali banyak orang beranggapan menulis di media massa (surat
kabar, majalah, tabloid, dll.) itu sulit. Sebaliknya, tidak sedikit
yang berpendapat menulis di media massa itu gampang. Tidak mudah
untuk menilai mana yang benar, mana yang salah. Sangat boleh jadi
keduanya benar. Atau, mungkin yang benar rumusannya: gampang-gampang
sulit; atau sulit-sulit gampang. Maksudnya, memang menulis di media
massa itu tidak mudah, namun bukan berarti sulit melulu sehingga
mustahil orang melakukannya. Kalau orang mau mengakui unsur
kesulitannya, mau mendekatinya, bersedia merangkulnya, dan tidak
henti-henti menjajalnya, maka lama-lama akan bisa atau terasa
menjadi gampang. Sebaliknya, kalau orang beranjak dengan anggapan
bahwa menulis di media massa itu gampang, bahkan karenanya lalu
menggampangkan (menganggap segalanya gampang, dengan nada congkak),
maka justru akan menjadi sulit, karena dia tidak bakal menghasilkan
apa-apa, alias berhenti di tempat, stagnan.
Dengan perkataan lain, menulis di media massa bisa menjadi gampang,
bisa juga menjadi sulit, tergantung bagaimana masing-masing orang
menganggap atau menyikapinya. Satu hal yang pasti, memang tidak
mudah mengubah yang sulit menjadi gampang dalam sekejap. Membutuhkan
proses panjang dan waktu yang tidak sebentar. Mereka yang kini
berhasil menulis di media massa dengan gampang pasti pernah
mengalami kegagalan, menjumpai kesulitan, atau melewati masa-masa
sulit. Kemudahan yang didapatnya bukan hadiah gratis yang jatuh dari
langit bak durian runtuh, melainkan hasil kerja keras puluhan atau
belasan tahun yang tidak mengenal berhenti, alias kontinu. Kecuali
itu, juga berkat kemauan untuk membekali diri dengan perlengkapan
yang memadai berupa teknik penulisan, serta kejelian mencari bahan
untuk dijadikan isi atau muatan tulisannya. Ketiganya: teknik
penulisan, isi, dan kontinuitas, adalah hal-hal yang tidak boleh
dilewatkan kalau orang mau berhasil menulis di media massa.
Ketiganya adalah hal-hal yang harus diakrabi.
Teknik Penulisan
Menulis di media massa bisa diibaratkan seorang prajurit yang maju
ke pertempuran. Dia harus terjun di medan yang sulit dan berat:
lembah ngarai luas serasa tak berbatas, belantara lebat, tanah becek
berawa-rawa, bukit terjal dan jurang curam, sungai dalam berair
deras, atau padang rumput yang luas terbuka. Agar mampu menguasai
medan dan dapat menaklukkan musuh, dia harus membekali diri dengan
pengetahuan yang memadai tentang topografi dan karakter medan; serta
perlengkapan dan senjata yang nyaris lengkap, seperti: senapan laras
pendek, senapan laras panjang, granat tangan, belati atau sangkur
untuk pertempuran jarak dekat, dan sebagainya.
Perlengkapan dan senjata perang itu digunakan satu per satu secara
taktis seturut kebutuhan agar tercapai hasil maksimal. Demikian pula
halnya dengan penulis. Agar bisa menembus media massa dan
menenggerkan tulisan di sana, dia harus (bukan hanya seharusnya)
membekali diri dengan pengetahuan yang memadai tentang medan, yakni:
jenis media dan komunitas pembaca; serta perlengkapan dan senjata
yang memadai nyaris lengkap berupa teknik-teknik penulisan.
Jenis media, demi mudahnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan
besar, yakni: media umum dan media khusus. Masing-masing jenis sudah
barang tentu memiliki ciri-ciri dan karakter yang berbeda. Media
umum, seturut statusnya, bersifat umum, memuat hal-hal yang umum
(apa saja bisa masuk), dan ditujukan kepada pembaca umum (siapa pun:
tanpa batasan usia, jenis kelamin, ras, agama, status sosial, dsb.).
Karena statusnya yang demikian itu, media jenis ini pada umumnya
memacak tulisan yang sederhana dan lugas, sehingga bisa diterima
siapa pun.
Sebaliknya, media khusus, seturut statusnya yang khusus itu,
bersifat khusus, memuat hal-hal yang khusus (misalnya: ilmu
pengetahuan populer, interior, otomotif, keagamaan, dsb.), dan
ditujukan kepada pembaca yang khusus pula (pemuda: cowok-cewek;
wanita dewasa; anak-anak; orang lanjut usia, kelompok hobi;
komunitas keagamaan; dsb.). Karena statusnya yang demikian, kecuali
menuntut topik-topik khusus, media ini juga menuntut gaya tulisan
atau gaya bahasa khusus pula, yang khas.
Gaya bahasa untuk media massa yang ditujukan kepada pemuda-pemudi,
misalnya: boleh sedikit bebas, longgar dari hukum-hukum
ketatabahasaan, menggunakan idiom-idiom atau istilah-istilah yang
populer di kalangan remaja -- yang lazim disebut "bahasa gaul", dan
agak "norak". Sedangkan tulisan yang ditujukan kepada pembaca
wanita dewasa, kecuali menampilkan tema di seputar kewanitaan, juga
disarankan menggunakan bahasa yang sedikit berbunga-bunga, banyak
kiasan, dan ... jangan lupa, romantis. Sementara itu, tulisan untuk
majalah teknologi, yang kebanyakan dibaca oleh para teknokrat dan
teknisi, selayaknya kalau menggunakan gaya bahasa yang
logik-matematik, tanpa banyak bunga-bunga, singkat-padat, "to the
point".
Sebelum memulai, penulis harus tahu betul jenis media dan karakter
pembaca yang disasar oleh media itu. Tanpa mengenali kedua hal ini,
tulisannya hampir bisa dipastikan bakal ditolak. Topik yang pas buat
wanita dewasa dengan gaya bahasa yang sangat bagus, misalnya, akan
dimasukkan ke keranjang sampah oleh redaktur manakala tulisan itu
dikirimkan ke sebuah media umum yang tidak memiliki rubrik
kewanitaan. Kerja kerasnya menjadi sia-sia alias mubazir.
Kecuali dituntut untuk mengenali jenis media dan karakter pembaca
yang disasar, penulis harus (sekali lagi, bukan hanya seharusnya)
memiliki keterampilan yang memadai berwujud teknik-teknik penulisan.
Dia, bukan saja sebatas harus bisa membedakan antara berita,
feature, dan artikel, melainkan lebih dari itu, harus bisa
menulisnya dengan sempurna karena tahu dan menguasai teknik-teknik
penulisannya dengan baik (menguasai kaidah-kaidah kebahasaan) dan
benar (menguasai kaidah-kaidah jurnalistik).
Isi atau Muatan
Keberhasilan menulis di media massa diawali dengan pemilihan isi
atau muatan tulisan. Kecuali mempertimbangkan jenis media dan
sasaran komunitas pembaca (lihat uraian di atas), isi atau muatan
tulisan harus mengandung pesan yang kuat, relevan, dan menarik. Isi
atau muatan tulisan itu harus mengandung pesan yang kuat karena
menyodorkan ide atau gagasan alternatif; relevan, karena cocok
dengan isu hangat yang tengah berlangsung; dan menarik, karena
menggugah atau menggelitik keingintahuan pembaca.
Isi atau muatan tulisan itu bisa diperoleh di mana saja, dan kapan
saja. Atau mendapat inspirasi dari mana saja. Umumnya, isi atau
muatan tulisan diperoleh dari peristiwa sehari-hari. Entah dalam
bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, atau seni. Isu "gender"
menjelang Pemilu 2004, yang melahirkan gagasan untuk menampilkan
anggota legislatif wanita sebanyak minimal 30% dari seluruh jumlah
anggota legislatif di DPR, misalnya, bisa menjadi isi yang relevan
dan menarik. Dengan mengetengahkan ide atau gagasan alternatif, yang
tidak sekadar mengulang-ulang ide atau gagasan orang lain yang sudah
kerap dikemukakan, penulis bisa menjadikan isi itu memiliki pesan
yang kuat.
Masih di sekitar bidang politik, isu politisi busuk yang dilansir
oleh beberapa tokoh atau komponen masyarakat juga merupakan bahan
menarik untuk dijadikan isi atau muatan tulisan. Setelah yakin bahwa
tema di seputar isu ini cukup relevan, menarik, dan ada pesan kuat
yang akan disampaikan, media dan pembaca yang disasar jelas, fakta
dan data-data yang terkumpul cukup memadai, penulis bisa mulai
merancang model tulisan. Dia bisa sekadar memberitakannya, sehingga
karyanya menjadi sebuah berita. Dia bisa menulisnya sebagai sebuah
berita, namun dengan mendalam dan dengan sentuhan manusiawi,
sehingga lahirlah sebuah tulisan khas atau feature. Kecuali itu, dia
juga bisa mengemukakan analisis, penilaian, kesetujuannya atau
ketidaksetujuannya dengan segala argumentasi, dan akhirnya
menyodorkan ide atau gagasan alternatif, sehingga lahirlah dari
tangannya sebuah artikel yang berbobot.
Kontinuitas
Ada orang yang berpendapat bahwa menulis itu bukan masalah bakat,
apalagi warisan atau keturunan, melainkan masalah kemauan dan
kesetiaan. Yang lain lagi berpendapat, menulis adalah ramuan yang
terdiri dari 1% bakat dengan 99% kerja keras dan semangat pantang
menyerah. Barangkali tidak sepenuhnya pendapat ini benar. Namun,
juga tidak salah. Sebab kenyataan menunjukkan tidak sedikit penulis
yang lahir bukan dari keluarga penulis. Kemahirannya didapat dari
kebiasaan, kesabaran, ketekunan, dan keuletan untuk terus-menerus
mencoba dan mencoba, menulis dan menulis.
Demikianlah hendaknya yang harus dilakukan orang kalau dia ingin
tulisannya terpacak di media massa. Dia tidak boleh hanya merasa
puas dengan sekali dua kali menulis. Apalagi kemudian patah arang
atau putus asa kalau tulisannya tidak dimuat. Bila tulisannya yang
kelima belum berhasil dipacak, dia harus mengirimkan tulisan keenam.
Bila di suatu media massa tulisannya ditolak, dia bisa mencoba
mengirimkan ke media massa yang lain. Bila model artikel tulisannya
belum berhasil menembus suatu media, dia harus mengubah model
tulisannya, misalnya, menjadi tulisan khas atau feature.
Demikian seterusnya, sampai redaktur merasa "jengkel", karena nama
penulis itu melulu yang selalu muncul, atau "tidak tega menolak",
atau alasan lain yang berbau belas kasihan, kemudian bersedia
meloloskannya. Tidak mengapa. Sebab, alasan-alasan bernada
permisif-sinis menyakitkan hati ini pada suatu ketika tidak mustahil
akan berubah menjadi sambutan dengan penuh sukacita. Sehingga,
begitu nama penulis itu muncul, dengan serta merta redaktur akan
menyambutnya dengan tangan terbuka dan anggukan tanda setuju untuk
meloloskannya, karena nama penulis itu telah akrab di mata dan
hatinya.
Singkat kata, bagi penulis yang ingin tulisannya terpacak di media
massa, dengan kata lain berhasil, hendaknya membuang jauh-jauh sikap
patah arang, semangat cepat menyerah, dan hasrat untuk berputus asa
dari lembaran hidupnya. Hendaknya dia gantikan dengan kesetiaan yang
tahan uji untuk terus-menerus menulis, konsisten pada cita-cita atau
tujuan yang ingin dicapai, serta disiplin pada rencana yang sudah
dibuat -- rencana menulis. Baik kiranya kalau dia goreskan, bukan
hanya pada dinding kamar kerjanya, melainkan di dalam sanubarinya
semboyan: Tiada hari tanpa menulis!
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Menulis di Media Massa Gampang!
Penulis: St. S. Tartono
Penerbit: Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta 2005
Halaman: 1 -- 6
ARTIKEL 2_____________________________________________________________
BAGAIMANA CARANYA AGAR TULISAN SAYA DITERBITKAN?
Kebanyakan penulis pasti berharap tulisannya diterbitkan karena
melihat tulisan sendiri dicetak dan dijual merupakan dukungan yang
luar biasa atas panggilan, dan (sepertinya) dapat menambah
pendapatan. Saya ingin memberitahukan kepada Anda bagaimana caranya
sehingga tulisan saya diterbitkan dan memberikan komentar umum
berdasarkan pengalaman saya.
Saya selalu ingin menulis. Saya senang menciptakan tokoh dan alur
cerita dan saya suka dengan ide pengembangan orang yang menarik dan
menempatkannya dalam situasi yang tak biasa atau menantang.
Kira-kira 10 tahun yang lalu, saya membaca cerita pendek tentang
malaikat penjaga. Gagasan tersebut membangkitkan minat dan saya
mulai berpikir tentang malaikat-malaikat, khususnya menurut
pandangan Kristen.
Saya mengembangkan karakter malaikat penjaga versi saya, dan
kemudian saya menciptakan seseorang untuk dia jaga. Saya menamainya
Alex. Alex memiliki kisah pribadi yang traumatis dan pekerjaan yang
menantang. Saya juga menciptakan tokoh-tokoh lain, beberapa tokoh
yang menyukai dan mendukungnya sementara yang lainnya memiliki niat
jahat. Dari perpaduan ini muncullah satu novel yang berjudul "Urban
Angel".
Awalnya saya memberi judul "The Father of Orphans". Saya
mengirimkannya ke beberapa penerbit dan balasannya saya mendapat
surat penolakan singkat. Lalu saya mengirimkan naskah tersebut ke
anak cabang penerbit Vineyard Churches Worldwide dan mereka berkata
mereka akan menerbitkannya dengan syarat saya membeli beberapa buku.
Saya terima tawaran mereka, beberapa buku terjual, dan saya senang
melihat tulisan saya dicetak dan dijual.
Selanjutnya ada hal menarik yang terjadi. Saya rasa Tuhan
menginginkan saya untuk menyampaikan sesuatu dalam pertemuan
kesenian pinggiran di Greenbelt, dan membawa beberapa buku saya
untuk dijual. Saya harus memikirkannya masak-masak karena untuk
pergi ke Greenbelt perlu biaya banyak dan acara tersebut bersamaan
dengan liburan keluarga kami ke Lake District. Akhirnya saya
memutuskan untuk pergi. Saya menyampaikan pendapat saya dalam
pertemuan itu kemudian saya duduk di dekat toko buku dan menawarkan
buku-buku yang saya tanda tangani.
Saya menjual 6 buku!
Saya bisa apa? Saya rasa sepertinya Tuhan menghendaki saya untuk
pergi ke acara itu, jadi saya pergi.
Yang tidak saya mengerti saat itu adalah salah satu dari orang yang
membeli buku saya membacanya dan memberikannya kepada pemilik toko
buku di gerejanya. Si pemilik toko buku itu pun akan membacanya dan
mengirimnya ke Authentic Media, anak cabang penerbit STL.
Authentic Media menyukainya dan memutuskan untuk menerbitkannya
untuk alasan komersial pada tahun 2004 dengan judul "Urban Angel".
Hal apa yang dapat Anda ambil dari kisah ini? Berikut adalah tiga
pengamatan yang bisa diambil.
1. Ketekunan
Anda perlu ketekunan saat Anda menulis cerita. Saya menulis
"Urban Angel" selama 1 tahun, sebagian besar pada waktu malam
saat saya masih memiliki banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan
sekuler. Anda juga perlu ketekunan untuk mengirimkannya ke
penerbit. Jika Anda sudah selesai menulis dan Anda rasa tulisan
Anda pantas dibaca, maka jangan menyerah. Tulislah sebaik yang
Anda bisa dan terus tunjukkan tulisan Anda kepada orang lain.
2. "Kehendak-Mu yang Jadi"
Saya tidak dapat merancang karier kepenulisan saya; Tuhanlah yang
bertanggung jawab, saya berusaha mengikuti petunjuk-Nya -- sebaik
yang bisa saya mengerti. Saya dorong Anda untuk melakukan hal
yang sama.
3. Pergunakan Kesempatan
Saya berhasil mengirimkan naskah asli saya ke grup penerbit
Vineyard. Kelebihan apa yang Anda miliki? Manfaatkan itu dan
semoga Tuhan memberkati usaha keras Anda.
Catatan: Andrew Chamberlain adalah tokoh pemimpin di gereja
Cambridge Vineyard. Dia juga seorang penulis artikel. Novelnya yang
berjudul "Urban Angel" diterbitkan oleh Authentic Media. (t/Setya)
Diterjemahkan dari:
Nama Situs: Christian Writer
Judul asli artikel: Get published! Or, How I Got Published
Penulis: Andrew Chamberlain
Alamat URL: http://www.christianwriter.co.uk/Articles/59500/Christian_
Writer/Writers_Resources/Getting_Published/Get_published_Or.aspx
ARTIKEL KHUSUS________________________________________________________
UMAT KRISTEN DAN LINGKUNGAN
Oleh: Susanto
Saat ini perhatian masyarakat kita kembali mengarah kepada masalah
lumpur di Porong, Sidoarjo. Kebocoran tanggul pada titik 42 yang
sulit tertanggulangi memaksa Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur
di Sidoarjo (BPLS) kembali membuat kolam penampungan seluas 60
hektar. Ini artinya kolam penampungan terus meluas. Menurut data
harian Kompas sampai akhir Juni 2007, luas endapan lumpur sudah
mencapai 575 hektar, setara dengan 575 buah lapangan sepak bola
(Jumat, 19 Oktober 2007). Banyak pihak telah mengalami kerugian
akibat aliran lumpur yang tidak kunjung -kunjung berhenti.
Kerugian akibat masalah lumpur Lapindo ini seharusnya bisa menjadi
pelajaran berharga bagi kita. Seharusnya manusia lebih bijaksana
dalam mengolah alam. Tindakan eksplorasi dengan tidak memerhatikan
pemeliharaan telah menimbulkan kerusakan lingkungan. Tidak
disangkali bahwa proses modernisasi telah membentuk manusia menjadi
makhluk konsumtif yang berupaya meraup keuntungan sebesar-besarnya
tanpa peduli dengan kondisi sekitarnya. Hal demikian berpeluang
memperparah merosotnya kondisi alam.
Sebagai kaum kristiani, kita memiliki tanggung jawab untuk terlibat
dalam pemeliharaan lingkungan. Perintah Allah kepada umat Yahudi
untuk mengolah tanah mereka selama 6 tahun dan pada tahun ke-7 tanah
tersebut harus diistirahatkan total -- lih. Imamat 25:1-6 -- bisa
menjadi inspirasi tentang keseimbangan antara memanfaatkan alam dan
pemeliharaannya. Istirahat bagi lahan pada tahun ke-7 selama setahun
tentunya penting bagi pemulihan kondisi tanah. Dalam Kejadian
1:28-29 terdapat mandat Allah kepada Adam agar berkuasa atas segala
binatang, dan tumbuhan-tumbuhan yang ada di bumi adalah makanan bagi
Adam. Bagi saya, implikasi kedua ayat tersebut bukanlah eksplorasi
tidak bertanggung jawab yang akhirnya membuat alam ini rusak. Kita
adalah ciptaan yang membutuhkan alam. Dari alam manusia menerima
banyak manfaat. Bila ingin hal tersebut dapat terus berlangsung maka
pemanfaatan alam haruslah diimbangi dengan pemeliharaan. Sebagai
ciptaan tertinggi, manusia memiliki kapasitas untuk menjaga kondisi
lingkungan.
Maka, jadilah pengguna-pengguna hasil alam yang bertanggung jawab,
sebab ketika alam ini bergolak, manusialah yang akan menjadi korban.
Seperti halnya kasus di Sidoarjo, karena ulah manusialah sehingga
lumpur lapindo terus mengalir tanpa bisa dihentikan, dan manusia
pula yang terkena imbasnya. Kepedulian terhadap kondisi lingkungan
dapat dimulai dari lingkup yang kecil, rumah dan perkarangan sekitar
kita misalnya. Jangan sampai kasus-kasus seperti lumpur Lapindo atau
kerusakan-kerusakan alam lainnya terjadi lagi, karena manusia adalah
salah satu yang menderita kerugian karena kerusakan alam.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: SABDA Space
Penulis: Susanto
Alamat URL: http://www.sabdaspace.org/umat_kristen_dan_lingkungan
PENA MAYA_____________________________________________________________
PUBLIKASI YLSA SUDAH MERAMBAH FACEBOOK
Kerinduan YLSA (lihat http://blog.sabda.org/2009/09/18/ylsa-merambah-ke-facebook/)
untuk merambah ke Facebook akhirnya terlaksana juga. Sekarang,
hampir semua publikasi YLSA sudah memiliki sebuah halaman di
Facebook. Berikut adalah daftar halaman Facebook publikasi YLSA
beserta alamat URL-nya.
- Bio-Kristi (http://fb.sabda.org/biokristi)
- e-BinaAnak (http://fb.sabda.org/binaanak)
- e-Buku (http://fb.sabda.org/buku)
- e-Doa (http://fb.sabda.org/doa)
- e-Humor (http://fb.sabda.org/humor)
- e-JEMMi (http://fb.sabda.org/misi)
- e-Konsel (http://fb.sabda.org/konsel)
- e-Penulis (http://fb.sabda.org/penulis)
- e-Reformed (http://fb.sabda.org/reformed)
- e-Wanita (http://fb.sabda.org/wanita)
- Kisah (http://fb.sabda.org/kisah)
- e-Leadership (http://fb.sabda.org/lead)
- ICW (http://fb.sabda.org/icw)
Melalui sarana Facebook ini, tentu saja Anda dapat semakin akrab
berinteraksi dengan YLSA. Diharapkan, hadirnya publikasi-publikasi
YLSA di Facebook dapat mewarnai Facebook dengan persekutuan
antaranak-anak Tuhan yang menjadi berkat bagi banyak orang.
POJOK BAHASA__________________________________________________________
KECUALI, SELAIN, DAN TERMASUK
"Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 005/PUU-IV/2006 menyuratkan bahwa
hakim konstitusi tidak termasuk hakim yang berada di bawah
pengawasan Komisi Yudisial. Dengan kata-kata lain dapat disimpulkan
bahwa "Komisi Yudisial (KY) berwenang mengawasi hakim, kecuali hakim
Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, ada juga media massa memberitakan
bahwa "KY berwenang mengawasi hakim selain hakim MK."
Pemakaian kata-kata "kecuali" dan "selain" oleh penutur bahasa
Indonesia memang ada kalanya keliru atau tertukar. Padahal
ketidakcermatan begini berpotensi menimbulkan salah tafsir amat
hakiki dan riskan, sebab kedua kata sesungguhnya memiliki fungsi
saling berlotak belakang. Kata "kecuali" bersifat mempersempit
(eksklusif dan disintegratif), sedangkat kata "selain" bersifat
memperluas (inklusif atau komplementaris).
Perhatikan pemakaian kedua kata dalam contoh-contoh kalimat berikut.
1. Semua murid hadir, kecuali Ali.
2. Semua murid hadir, selain Ali.
Kalimat pertama mengandung makna "semua murid hadir, tetapi Ali
tidak hadir", sedangkan kalimat kedua menyiratkan arti "semua murid
hadir, (termasuk) Ali juga hadir". Kekeliruan yang paling sering
terjadi adalah pada penggunaan kata "selain". Maka perlu diingat
bahwa kata selain bersifat mempergabungkan, bukan mempersisihkan.
Demi menghindari kekeliruan penggunaan kata "selain", sangat
disarankan selalu memasangkan kata "selain" dengan kata "juga" atau
"pula", serta menjadikan pola tersebut sebagai acuan buku. Maka,
kalimat kedua pantas diubah menjadi: "Semua murid juga hadir, selain
Ali." Atau, "Semua murid hadir pula, selain Ali."
Untuk menggantikan kata "selain" dapat dipakai kata "termasuk"
tetapi hanya untuk beberapa kasus. Simak kalimat-kalimat berikut.
3. Semua murid hadir, termasuk Ali.
4. Selain pandai, dia juga sopan.
5. Termasuk pandai, dia juga sopan.
6. Selain memasak, saya mencuci pula.
7. Termasuk memasak, saya mencuci pula.
8. Saya juga memasak, selain mencuci.
9. Saya juga memasak, termasuk mencuci.
Kalimat No. 5, 7, dan 9 adalah kalimat janggal/rancu. Kalimat No. 2
dapat digantikan dengan kalimat No. 3. Di sini benar, kata "selain"
dapat disubtitusi denan kata "termasuk". Tetapi kata "selain" dalam
kalimat No. 4, 6, dan 8 tidak serta merta dapat diisi dengan kata
"termasuk" sebagaimana tersinyalir merancu pada kalimat No. 5, 7,
dan 9.
Diperlukan sedikit pemahaman logika matematika di sini. Kata
"termasuk" hanya berfungsi menggabungkan satu kata kepada kata lain
yang bermakna lebih luas (sesuai dengan konsep "himpunan bagian"
dalam matematika), tetapi tidak dapat mempersatukan dua kata yang
berbeda maknanya. Sedangkan kata "selain" dapat dipergunakan untuk
mempertautkan sebuah kata, baik kepada kelompok makna lebih besar
maupun terhadap kata lain yang bermakna berbeda (sebagaimana hakikat
irisan dua himpunan dalam matematika).
Kalimat No. 5 janggal, sebab kata "pandai" dan "sopan" merupakan dua
kata dengan makna berbeda, sehingga tidak dapat dipersatukan oleh
kata "termasuk". Kalimat No. 7 dan No. 8 juga demikian. Arti kata
"memasak" dan "mencuci" tidak saling terkait dan makna kata yang
satu tidak lebih sempit atau lebih luas daripada makna kata yang
lain. "Memasak" dan "mencuci" adalah dua kata yang sama sekali
berbeda maknanya.
Berikut penggunaan kata "termasuk" yang afdol.
10. Termasuk bertutur halus, ia juga sopan.
11. Saya juga mengurus rumah, termasuk mencuci.
"Bertutur halus" merupakan salah satu kelakuan yang tergolong
"sopan" dan "mencuci" adalah bagian dari keseluruhan pekerjaan
"mengurus rumah", maka kata-kata tersebut dapat disiasati membentuk
kalimat dengan memanfaatkan kata "termasuk".
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama majalah: Intisari, Edisi April 2007
Penulis artikel: Lie Charlie
Halaman: 90 -- 91
INFO__________________________________________________________________
DAPATKAN KUMPULAN BAHAN NATAL DI NATAL.SABDA.ORG
Bulan November telah tiba. Kami yakin Anda yang aktif di pelayanan
pasti sudah mulai berpikir untuk mempersiapkan Natal, bukan? Nah,
dengan gembira kami menginformasikan bahwa Yayasan Lembaga SABDA
telah menyediakan wadah di situs "natal.sabda.org" bagi setiap
pelayan Tuhan agar bisa saling berbagi bahan-bahan Natal dalam
bahasa Indonesia. Ada banyak bahan yang bisa didapatkan, seperti
Renungan Natal, Artikel Natal, Cerita/Kesaksian Natal, Drama Natal,
Puisi Natal, Tips Natal, Bahan Mengajar Natal, Blog Natal, Resensi
Buku Natal, Review Situs Natal, e-Cards Natal, Gambar/Desain Natal,
Lagu Natal, dan bahkan sarana diskusi tentang topik Natal.
Yang istimewa adalah situs "natal.sabda.org" dirancang sebagai
situs yang interaktif, sehingga pengunjung dapat mendaftarkan diri
untuk berpartisipasi aktif dengan mengirimkan tulisan, menulis
blog, memberikan komentar, dan mengucapkan selamat Natal kepada
rekan pengunjung lain. Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi situs
"natal.sabda.org". Mari berbagi berkat pada perayaan hari
kedatangan Kristus ke dunia 2000 tahun yang lalu ini dengan menjadi
berkat bagi kemuliaan nama-Nya.
==> http://natal.sabda.org/
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana
Staf Redaksi: Sri Setyawati
Kontak redaksi/kirim bahan: penulis(at)sabda.org
Berlangganan: Kirim e-mail ke subscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Berhenti: Kirim e-mail ke unsubscribe-i-kan-penulis(at)hub.xc.org
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs PELITAKU: http://pelitaku.sabda.org/
Facebook: http://fb.sabda.org/penulis/
Forum Penulis: http://pelitaku.sabda.org/forum
Network Literatur: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_literatur
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
______________________________________________________________________
Melayani sejak 3 November 2004
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2009 / YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog SABDA: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
|