<>--------------------------------oo--------------------------------<>
< e-Penulis >
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 019/Mei/2006
<>------------------------------------------------------------------<>
MENULIS FIKSI ATAU NONFIKSI?
<>------------------------------------------------------------------<>
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi
* Artikel : Fiksi atau Nonfiksi, Itulah Pertanyaannya
* Tips : Antara Fiksi dan Nonfiksi
* Pojok Kata : Engdonesian
* Stop Press : "Aksara" -- Kursus Menulis Seni Visual
<>------------------------------------------------------------------<>
= DARI REDAKSI =
Salam damai dalam kasih Kristus,
Redaksi e-Penulis kali ini sengaja mengangkat tema "Fiksi atau
Nonfiksi" untuk menyoroti dua bentuk tulisan yang bisa menjadi
pilihan untuk para penulis Kristen. Simaklah artikel utama yang
diharapkan dapat memberi gambaran mengenai perbandingan kedua jenis
tulisan ini. Jangan lewatkan juga tips yang dapat menolong Anda yang
ingin mencoba ataupun mendalami teknik-teknik penulisan fiksi maupun
nonfiksi. Kolom Pojok Kata yang sudah dijanjikan akan tampil
bergantian dengan Asah Pena kali ini juga kembali menyapa Anda
dengan tulisan tentang fenomena "Engdonesian" (English-Indonesian).
Selamat menulis!
Redaksi e-Penulis,
Ary
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
FIKSI ATAU NONFIKSI, ITULAH PERTANYAANNYA
=========================================
Fiksi atau nonfiksi? Barangkali tak sedikit penulis pemula yang
masih mengalami kebimbangan dalam menentukan jenis tulisan yang akan
mereka tekuni. Seperti sebuah katalog belanja, tulisan ini
diharapkan dapat membantu Anda untuk dapat memperoleh sedikit
gambaran mengenai keduanya, meskipun hanya Anda sendirilah yang
dapat menentukan pilihan untuk diri Anda sendiri.
Tulisan fiksi dan nonfiksi memiliki pendukungnya masing-masing. Di
sini yang disebut sebagai `pendukung` tulisan fiksi meliputi
novelis, cerpenis, dramawan, dan kadang penyair pun sering
dimasukkan ke dalamnya. Sementara `pendukung` tulisan nonfiksi
meliputi para jurnalis, esais, penulis biografi, feature, peneliti,
dsb. Tentu tidak begitu sulit bagi kita untuk mengenali mereka.
Lalu apakah yang disebut dengan tulisan fiksi dan nonfiksi? Satu
ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa
kisah rekaan. Kisah rekaan itu dalam praktik penulisannya juga tidak
boleh sembarangan. Unsur-unsur seperti penokohan, plot, konflik,
klimaks, seting, dsb. adalah hal-hal penting yang memerlukan
perhatian tersendiri. Meski demikian, dengan kisah (bisa juga data)
yang asalnya dari imajinasi pengarang tersebut, tulisan fiksi
memungkinkan kebebasan bagi seorang pengarang untuk membangun sebuah
`kebenaran` yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan yang ingin
ia sampaikan kepada pembacanya. Di lain pihak, kebebasan yang
dimiliki pengarang fiksi tadi juga memungkinkan adanya kebebasan
bagi pembaca untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam
tulisan tersebut. Artinya, fiksi sangat memungkinkan adanya multi
interpretasi makna. Bagi satu orang, novel JD Salinger yang berjudul
"Catcher in the Rye" bisa dinilai sebagai sebuah novel yang dapat
memperkaya pengetahuan tentang lika-liku kejiwaan manusia dan
lingkungannya. Namun, novel yang sama juga dapat menginspirasi
seorang bernama Mark David Chapman untuk membunuh pujaannya, John
Lennon.
Berkebalikan dengan fiksi, tulisan nonfiksi mengutamakan data dan
fakta yang tidak boleh dibumbui oleh imajinasi atau rekaan penulis.
Dalam tulisan nonfiksi berbentuk jurnalistik, penyampaian fakta
bahkan harus memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam satu pakem
yang disebut 5W1H (What, Who, When, Where, Why, How). Walau tidak
sama, referensi data juga menjadi syarat dalam tulisan yang lebih
`bebas` seperti esai, feature, memoar, atau kesaksian. Namun, ini
tidak berarti bahwa tulisan nonfiksi sama sekali tidak memberikan
kebebasan bagi penulisnya. Seorang penulis nonfiksi tentu saja dapat
menuliskan apa pun tema yang ia inginkan. Hanya saja ia harus
menyampaikannya dengan data yang dapat dipertanggungjawabkan,
minimal oleh dirinya sendiri. Bahkan dalam praktiknya, bisa dibilang
topik untuk tulisan nonfiksi berbentuk opini atau feature juga lebih
mudah ditemukan. Cukup dengan mengamati, menilai, atau memiliki
usul, sebuah topik akan cepat didapat. Satu hal lagi yang membedakan
tulisan nonfiksi dengan fiksi adalah kejelasan makna yang ingin
disampaikan penulis dalam karyanya. Dengan menulis sebuah nonfiksi
yang baik dan sistematis, pembaca akan lebih mudah digiring ke
sebuah opini atau pesan yang ingin disampaikan penulis tanpa perlu
mengartikan simbolisasi atau metafora pesan yang ingin disampaikan
seperti yang terjadi pada cerita fiksi.
Pada perkembangan selanjutnya, fiksi zaman sekarang juga sudah
berbeda dengan kisah fiksi lama yang sering identik dengan dongeng.
Tulisan fiksi saat ini tidak melulu berisi hal-hal atau cerita
imajinatif dan penuh khayalan. Kita bisa melihat contohnya pada
fiksi-fiksi yang ditulis dengan gaya realis. Tak jarang sebuah fiksi
yang ditulis dengan gaya realis yang baik mampu membuat banyak
pembaca mengidentifikasikan kisah tersebut dengan kondisi nyata di
sekeliling mereka. Fiksi (biasanya cerpen) yang ditulis dengan cara
bertutur seperti sebuah jurnal atau laporan juga ada. Termasuk
disini adalah novel klasik "Poor People" karangan Fyodor Dostoyevsky
yang ditulis dengan gaya surat-menyurat. Selanjutnya ada juga genre
fiksi-ilmiah yang memadukan dasar-dasar ilmu sains ilmiah dengan
kisah-kisah khayalan. Fiksi-fiksi yang antara lain dipopulerkan oleh
penulis seperti HG Wells dan Isaac Asimov itu pada perkembangannya
juga sering mengilhami penemuan-penemuan yang kita kenal saat ini.
Berkebalikan dengan fiksi ilmiah yang biasanya mengemukakan hal-hal
yang belum terjadi, kita pun mengenal adanya novel-novel sejarah.
Mulai dari novel-novel Pramoedya Ananta Toer yang menyajikan cerita-
cerita yang dilengkapi referensi sejarah sampai novel "Da Vinci
Code" dengan pemaparan data yang sebegitu `meyakinkan` hingga
membuat banyak pemimpin Kristen kalang kabut dan orang Kristen
bimbang akan fakta sejarah kekristenannya.
Hal sebaliknya juga terjadi dalam penulisan nonfiksi. Tulisan
nonfiksi saat ini tidak selalu bergaya laporan yang kaku yang penuh
kutipan data serta referensi yang membuatnya `kering`. Tulisan
demikian bisa dilihat dari sejumlah tulisan bercorak jurnalisme
sastrawi, yaitu jurnalisme yang memakai estetika layaknya sastra
dengan isi yang menguak satu topik secara lebih dalam dan kadang
juga disajikan dengan gaya sebuah narasi karya sastra. Jadi,
jurnalisme macam ini bukan saja melaporkan apa yang dilakukan
seseorang, tapi juga psikologi yang bersangkutan dan menerangkan
mengapa ia melakukan hal tersebut. Hal serupa juga bisa kita lihat
dari tulisan-tulisan feature, biografi, otobiografi, memoar, yang
kini semakin banyak yang bisa kita nikmati seperti halnya membaca
karya fiksi atau sastra.
Seorang penulis memang bebas untuk menulis apa pun, baik fiksi
maupun nonfiksi. Tak ada yang melarang seorang sastrawan menulis
tulisan ilmiah dan tak ada yang melarang seorang wartawan menulis
novel. Tidak jarang pula kita mengenal penulis-penulis terkenal yang
bisa menulis keduanya dengan sama baik, namun biasanya seorang
penulis tetap memiliki kecenderungan untuk memilih salah satunya.
Faktor-faktor yang memengaruhi pilihan ini bisa bersumber dari
beberapa hal. Yang paling berpengaruh adalah faktor bacaan.
Mengingat proses pembelajaran manusia pada awalnya selalu dengan
meniru, seorang penulis pemula yang lebih banyak membaca tulisan-
tulisan berbentuk jurnal atau opini (nonfiksi) biasanya cenderung
akan membuat tulisan-tulisan bergaya serupa. Hal sebaliknya juga
terjadi pada penulis nonfiksi.
Faktor selanjutnya bisa berasal dari lingkungan, budaya, dan sistem
pendidikan. Disadari atau tidak, ini adalah faktor yang cukup
berpengaruh. Misalnya pada budaya yang menganggap pengungkapan
pendapat secara langsung dan terus terang sebagai sesuatu yang tidak
sopan atau bahkan subversif, tulisan fiksi yang memungkinkan
penyampaian pendapat atau kritik lewat simbol-simbol biasanya akan
dipilih. Demikian juga dengan metode pendidikan. Apa yang terjadi
pada metode pengajaran di Indonesia adalah contoh yang mudah
dilihat. Fakta bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia diubah
menjadi pelajaran yang hanya mementingkan penghafalan nama dan data-
data saja, bahwa para pengajarnya sendiri ternyata gagal menunjukkan
bagaimana membuat sastra menjadi sesuatu yang menarik dan penting
bagi kehidupan, menulis fiksi (atau bahkan menulis saja) pun bisa
dipandang sebagai aktivitas yang tidak ada gunanya.
Faktor yang lain tentunya aspek psikologis penulis itu sendiri.
Sebagaimana masing-masing manusia selalu memiliki salah satu belahan
otak yang lebih dominan dalam bekerja, demikian pula seorang penulis
selalu memiliki kecenderungan pilihan antara menulis fiksi atau
nonfiksi.
Melihat beberapa hal ini (terutama faktor-faktor luar), paling tidak
kita dapat mengetahui, atau juga mengarahkan pilihan kita atau orang
lain dalam belajar menulis.
Sebagai penutup, tulisan ini sekali lagi memang tidak dimaksudkan
untuk mengunggulkan atau menjelek-jelekkan tulisan fiksi maupun
nonfiksi. Sebagaimana menulis pada akhirnya lebih banyak berurusan
dengan panggilan hati, menentukan fiksi atau nonfiksi juga tidak
dapat dipaksakan. Tentunya menyuarakan kebenaran menjadi hal yang
terpenting. Menulis dan menulislah!
Sumber diedit dari:
Milis : Kesasarpetra
Penulis : Tadeus <mahardica(at)>
Alamat milis : kesasarpetra <kesasarpetra(at)yahoogroups.com>
<>------------------------------------------------------------------<>
= TIPS =
ANTARA FIKSI DAN NONFIKSI
=========================
Sastrawan menulis buku nonfiksi? Bukan hal aneh. Ilmuwan atau
wartawan yang menulis cerpen atau novel juga banyak. Umberto Eco
menulis novel "The Name of Rose" sebaik ia menulis teori-teorinya
tentang semiologi. Jean Paul Sartre dikenal sebagai tokoh filsafat,
namun dinobatkan juga sebagai pemenang Nobel Sastra atas karya
novelnya. Tahun lalu, Sihar Ramses Simatupang yang berprofesi
sebagai wartawan Sinar Harapan juga turut berkarya dengan
meluncurkan sebuah novel berjudul Lorca.
Menekuni satu bidang memang baik karena keterbiasaan akan membuat
kualitas tulisan kita lebih bagus. Namun, tak ada salahnya jika
sesekali kita mencoba bentuk tulisan lain.
Bagi penulis pemula, terutama yang sudah merasa `nyaman` dengan
jenis tulisan yang ia geluti (fiksi maupun nonfiksi), membuat suatu
tulisan yang berbeda dengan yang biasa ia tulis bisa menimbulkan
kesulitan tersendiri. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa Anda
coba untuk mengatasi kesulitan tersebut.
1. Anda perlu menyesuaikan referensi bacaan. Sebagaimana bahan
bacaan sering memengaruhi cara atau kecenderungan menulis kita,
banyak membaca tulisan tertentu juga akan mampu mengubah apa yang
kita tulis. Jadi, jika ada orang yang ingin membuat sebuah
tulisan fiksi yang baik, saya yakin dia tidak akan mampu
melakukannya kalau hanya membaca buku-buku teori yang berjudul
"Bagaimana Cara Menulis Fiksi yang Baik" sekalipun. Pelajaran
paling baik adalah dengan terjun langsung ke kancah bacaan fiksi
itu sendiri, bukan hanya menjadi pengamat dari luar. Hal yang
sama juga terjadi pada kasus sebaliknya. Seorang yang ingin mampu
menulis karya nonfiksi atau merancang sebuah jurnal ilmiah akan
sulit untuk menyampaikan idenya secara sistematis, analitis, dan
jelas jika ia malah membaca karya Shakespeare yang memakai bahasa
yang penuh metafora.
2. Tulisan jenis nonfiksi menuntut kata-kata yang dapat menjelaskan
makna dengan efektif. Karenanya, Anda perlu berlatih menulis
kalimat-kalimat bermakna tunggal, tidak bersayap, atau dengan
prinsip satu paragraf satu ide. Karenanya kata-kata yang
digunakan hendaknya lugas, jelas, dan sebisanya menghilangkan
metafora atau simbol-simbol yang sering terdapat di bacaan
sastra. Sebaliknya, bagi yang ingin menulis fiksi. Memperluas
pengetahuan kosakata, kiasan, dan melatih penempatannya dalam
kalimat menjadi sangat penting untuk narasi maupun dialog dalam
fiksi.
3. Tulisan fiksi menuntut daya imajinasi tinggi, sementara nonfiksi
dibatasi oleh fakta dan aturan-aturan atau hukum tertentu. Jadi
bagi yang ingin menulis fiksi, kreativitas, daya imajinasi, dan
kemampuan mendramatisasi suatu adegan perlu dilatih. Sementara
itu, bagi yang ingin menulis nonfiksi, berlatihlah menulis dengan
selalu memerhatikan unsur-unsur seperti 5W1H, cara mengutip dan
menempatkan referensi, logika berpikir dalam tulisan, dsb.
4. Berlatih dan terus berlatih. Seperti halnya setiap masa belajar
dan penyesuaian, proses ini juga membutuhkan banyak latihan. Tak
jarang ketika mencoba menulis nonfiksi, seorang yang terbiasa
menulis fiksi akan dikritik bahwa tulisannya berbelit-belit,
tidak fokus dan membingungkan pembaca. Bagi seorang yang terbiasa
menulis nonfiksi, cerpen buatannya pada awalnya mungkin juga akan
dikritik karena terlalu kering, bahasanya kaku dan kurang
ekspresif. Ini adalah wajar, jadi tidak perlu putus asa.
5. Pada akhirnya, niat dan ketekunan adalah kuncinya. Tanpa niat
untuk melengkapi referensi data-data yang dapat mendukung sebuah
ide, tulisan yang dimaksudkan sebagai jurnal ilmiah hanya akan
berakhir sebagai sebuah komentar sambil lalu yang mudah
disanggah. Sementara tanpa ketekunan untuk melatih teknik narasi
dan dramatisasi, sebuah tulisan yang dimaksud sebagai cerpen
hanya akan menjadi sebuah berita bohong belaka.
Penulis: Ary Cahya Utomo
<>------------------------------------------------------------------<>
= POJOK KATA =
ENGDONESIAN
===========
Bahasa Indonesia, seperti bangsa Indonesia, sejak dari sono-nya
merupakan gado-gado alias campuran atawa indo bin blasteran binti
hibrid. Dalam bahasa kita, mengalir lancar istilah Melayu, Jawa,
India, China, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, dan seterusnya. Ini
sama sekali bukan cela, noda, atau bencana. Tapi juga bukan barang
unik atau berkah istimewa. Itu ciri milik semua bahasa dan bangsa
mutakhir.
Di mata para peneliti, masuk-keluar dan nongkrong-nya istilah yang
semula asing ke tubuh bahasa Indonesia itu tidak kebetulan atau
acak-acakan. Ada pola yang tidak sama dari zaman ke zaman.
Yang namanya Soempah Pemoeda 1928 lahir dari sebuah kongres yang
membahas makalah-makalah berbahasa Belanda yang ditulis pemuda-
pemudi Indonesia. Di kalangan orang sekolahan pada generasi itu,
bahasa-bahasa Eropa perlu dikuasai sebaik-baiknya. Bukan hanya
untuk kepentingan karir pribadi, tapi juga kepentingan bangsa dan
"kemajuan" alias modernitas masyarakat ini.
Cendekia pribumi lulusan sekolah kolonial pada masa itu lazimnya
menguasai dua atau tiga bahasa Eropa sekaligus. Namun bagaimanapun
fasihnya, bagi mereka bahasa-bahasa Eropa itu merupakan bahasa
asing. Semacam alat yang bisa dipakai bila diperlukan atau dilepas
bila tidak diperlukan. Mereka tetap menggunakan bahasa-bahasa daerah
di Nusantara sebagai bahasa ibu.
Di sinilah ironisnya. Berbagai bahasa asing dan Nusantara
berhamburan setiap kali Presiden Soekarno berpidato. Tapi dia juga
presiden yang paling galak menentang politik imperialisme Barat
pimpinan Amerika Serikat. Ia menentang masuknya musik pop Barat dan
memenjarakan musikus Indonesia yang ikut-ikutan musikus pop Barat.
Pada masa Orde Baru, ironi berlanjut, tetapi secara terbalik. Sejak
revolusi kemerdekaan, terlebih-lebih lagi sejak berjayanya
pemerintahan Orde Baru, terjadi banjir modal dan budaya pop dari
Barat, khususnya Amerika Serikat. Bukan cuma Coca-Cola, tetapi juga
slogan dan iklannya. Bukan cuma banjir film Hollywood, tapi juga
jazz, rock, pop top 40, soul, reaggae, punk, dan hiphop. Bertolak
belakang dengan semangat revolusioner pemerintahan sebelumnya,
pemandangan kota-kota Indonesia pada masa Orde Baru dipadati istilah
Inggris. Kursus bahasa Inggris versi Amerika hiruk-pikuk
menggantikan serunya pawai partai di zaman sebelumnya.
Ironisnya, bersamaan dengan semua itu terjadi kemerosotan yang
mencolok pada rata-rata kemampuan cendekiawan negeri ini dalam
berbahasa Inggris secara formal. Yang lebih parah, para pemimpin
nasional Orde Baru bahkan tampak kerepotan berbicara, apalagi
menulis dalam bahasa Indonesia sekalipun.
Maka tidak aneh kalau sepuluh tahun setelah merasakan enaknya
kekuasaan negara, di tahun 1975 pemerintah Orde Baru menyediakan
modal besar-besaran untuk program pengembangan dan pembinaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Hasilnya? Sampai di akhir masa
kekuasaannya, Soeharto si "Bapak Pembangunan Indonesia" kesusahan
berbicara bahasa Indonesia secara "baik dan benar". Apalagi
berbahasa asing!
Bagaimana dengan bahasa anak-anak gaul Indonesia di kedua zaman
tersebut? Para sarjana asing (misalnya, Ben Anderson, Krishna Sen,
dan David Hill) mencatat pergeseran yang serupa. Sebelum bangkitnya
Orde Baru, istilah-istilah Inggris berhamburan dalam komik,
karikatur, atau juga grafiti. Semuanya tampil sebagai bahasa milik
bangsa asing yang ditolak, namun digairahi. Hal serupa masih
berlanjut dalam film nasional Indonesia di zaman Orde Baru. Dalam
film di masa itu, bahasa Inggris, seperti wajah Indo berperan sama
dengan gambar adegan film yang diambil di negeri-negeri bermusim
empat. Semuanya hiasan tempel pemikat konsumen. Semuanya serba asing
dan tidak menjadi bagian terpadu dari kisah yang dituturkan.
Itu terjadi pada film. Lain pula ceritanya pada bacaan pop. Sejak
berjayanya Orde Baru, bahasa Inggris menjadi bagian yang tidak bisa
dihindari oleh generasi novelis Lupus, majalah Hai, atau Gadis.
Apalagi sejak mengudaranya RCTI yang disusul dengan MTV Asia.
Sekarang generasi gaul Orde Baru dan pasca-Orde Baru kesusahan
menyelesaikan satu kalimat berbahasa Indonesia tanpa menggunakan
istilah Inggris. Maka, suka atau tidak suka, Engdonesian menjadi
lingua franca generasi gaul Indonesia di kota-kota: "Hei bebi, long
time no see. Lho apa ini? Oh, ngasih oleh-oleh? For mi? Repot-repot
aja. Waduh, so lovely! Ai laf yu. Tengkyu ya. Nanti malam bisa
ikutan diner ama kita-kita? Aku sudah buking-in buat kamu. Plis join
as. Gitu dulu, ya. Bai-bai."
Tadinya, selama berpuluh tahun di sekitar kita hanya ada Taglish
(Tagalog English) dan Singlish (Singaporean English). Lain halnya di
negeri kita. Belanda enggan mengajarkan bahasa Eropa pada kaum
terjajah di Hindia Belanda. Maka, sesudah puluhan tahun Belanda
pergi, Indonesia tidak pernah mengalami gejala poskolonial. Yang
ada hanya gejala kolonial dan antikolonial berkelanjutan.
Sebagai orang yang bertahun-tahun mengkritik propaganda "Bahasa
Indonesia Baik dan Benar" dua puluh tahun lalu, saya sempat
terperangah oleh maraknya gejala Engdonesia. Seakan-akan wilayah
publik urban di Indonesia saat ini telah menjadi lembaran-lembaran
majalah Hai, Gadis, novel Lupus, atau studio MTV Asia. Patut
disesalkan? Tidak untuk saya. Itulah budaya pop urban.
Tapi sejujurnya, Engdonesia membunuh selera baca saya ketika ramai-
ramai dipakai wartawan untuk menyampaikan laporan jurnalistik resmi
atau oleh penulis kolom di media cetak.
Saya kagum akan kreativitas anak-anak muda sekarang yang menciptakan
istilah-istilah baru untuk berkirim SMS. Seperempat abad lalu,
generasi saya punya padanannya berkat adanya telegram. Waktu itu
belum ada internet atau faksimile. Kini kening saya berkerut ketika
ada mahasiswa menggunakan istilah-istilah SMS dalam menuliskan tugas
kuliahnya.
Tulisan diambil dan diedit dari:
Judul artikel: Engdonesian
Penulis : Ariel Heryanto
Alamat URL : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0510/30/naper/2163906.htm
<>------------------------------------------------------------------<>
= STOP PRESS =
"AKSARA" -- KURSUS MENULIS SENI VISUAL
======================================
Sebagai upaya membantu tetap tumbuhnya penulis-penulis bidang seni
visual, Yayasan Seni Cemeti mulai bulan Mei 2006 mendatang mempunyai
program kursus menulis seni visual. Program ini dirancang bagi Anda
yang berusia maksimal 24 tahun. Kursus ini untuk setiap angkatan
berlangsung per 3 bulan (10 kali pertemuan), dengan instruktur-
instruktur yang telah berkompeten di bidangnya. Hanya tersedia
maksimal 15 kursi untuk setiap angkatan.
1. Biaya pendaftaran: Rp 50.000, - (lima puluh ribu rupiah)
2. Fasilitas:
- snack dan minum
- sertifikat
3. Syarat peserta:
- menguasai bahasa Indonesia
- tertarik untuk menulis tentang seni visual
- tidak buta huruf
- menguasai alat ketik/komputer
- bersedia mengikuti kursus hingga selesai
* Angkatan I: Mei - Juli 2006
Instruktur: Kris Budiman
Setiap hari Rabu pukul 19:00 - 21:00 WIB
Kelas dimulai pada 10 Mei 2006
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
NB: Pendaftaran paling lambat 9 Mei 2006.
* Angkatan II: Agustus - Oktober 2006
Instruktur: Antariksa
Setiap hari Rabu pukul 19:00 - 21:00 WIB
Kelas dimulai: (informasi menyusul)
Tempat: Yayasan Seni Cemeti
* Angkatan III: November 2006 - Januari 2007
(info lebih lengkap menyusul*)
* Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad dan Puthut E A
* Angkatan IV: Februari - April 2007
(info lebih lengkap menyusul*)
* Calon instruktur lainnya adalah: Ugoran Prasad dan Puthut E A
Bagi Anda yang benar-benar tertarik dan serius ingin mengikuti
program ini silakan hubungi:
Yayasan Seni Cemeti
c.p. Agustina Tri W [Tina]
Cemeti Art Foundation | Yayasan Seni Cemeti
Jalan Patehan Tengah No. 37
Yogyakarta 55133, INDONESIA
Tel. +62.274.375 247, Tel./Fax. +62.274.372 095
Email: artysc<at>indosat.net.id
doc<at>cemetiartfoundation.org
URL : http://www.cemetiartfoundation.org
<>------------------------------------------------------------------<>
Staf Redaksi : Ary, Puji, dan Raka
Berlangganan : Kirim email ke <subscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Berhenti : Kirim email ke <unsubscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Kirim bahan : Kirim email ke <staf-penulis(at)sabda.org>
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
Situs Pelitaku : http://www.sabda.org/pelitaku/
<>------------------------------------------------------------------<>
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2006
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
<><-------------------------------oo-------------------------------><>
|