<>--------------------------------oo--------------------------------<>
< e-Penulis >
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 017/Maret/2006
<>------------------------------------------------------------------<>
MEMBERKATI LEWAT PUISI
<>------------------------------------------------------------------<>
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi
* Artikel : Ah, Puisi?
* Artikel : Syairmu Penabalmu, yang Menahbiskanmu Jadi Penyair
* Asah Pena : Biografi Kahlil Gibran (1883-1931)
<>------------------------------------------------------------------<>
= DARI REDAKSI =
Salam kasih,
Sebagai karya tulis yang ditengarai dengan bahasanya yang sulit
dipahami, banyak orang enggan membaca, lebih-lebih menulis puisi.
Namun, metamorfosa yang terjadi pada puisi dalam segi kemasan dan
gaya bahasa agar lebih komunikatif dan menjadi milik semua orang
bisa mengubah pandangan tersebut. Selain itu, kekhasan sifat dari
puisi juga membuka kemungkinan untuk memakainya sebagai media dalam
menyampaikan pendapat dan pikiran.
Nah, pada edisi kali ini, secara khusus kami menyajikan artikel yang
mengulas tentang puisi. Diharapkan sajian ini bisa semakin
membukakan mata dan pikiran setiap orang yang terkait di pelayanan
literatur Kristen bahwa puisi pun bisa dipakai sebagai sarana yang
efektif untuk menyampaikan kebenaran Tuhan. Simak pula biografi
Kahlil Gibran dan juga sebuah artikel singkat yang bisa menjadi
inspirasi tentang bagaimana caranya memublikasikan puisi kita kepada
khalayak. Akhir kata, mari berkarya dan menjadi terang melalui
puisi. Selamat menulis!
Staf Redaksi e-Penulis,
(Puji)
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
AH, PUISI?
==========
Apakah yang ada di benak kita saat menyebut kata "puisi"? Apakah
syair-syair cinta seperti yang ada di Kidung Agung? Ataukah untaian
kalimat indah, sebagaimana di kartu-kartu ucapan, yang memakai gaya
bertutur ala Shakespeare, Gibran, atau bahkan Rangga? Ataukah bait-
bait kalimat yang diucapkan dengan suara lantang seperti orang
berorasi? Mungkin kita malah menganggap setiap kalimat yang tidak
umum dan disusun secara berirama sebagai puisi? Gambaran tiap orang
tentang sebuah puisi memang bisa berbeda-beda. Semua tergantung
pengalaman pribadinya dengan apa yang disebut puisi itu. Meski
begitu, tentunya puisi bukanlah suatu bentuk tulisan yang asing bagi
kita.
Secara pribadi, saya menyetujui hakikat puisi sebagai suatu bentuk
tulisan yang bersifat sangat pribadi/personal. Sebuah puisi biasanya
dan mungkin juga hanya akan berisi cerminan pemahaman sang penulis
puisi (penyair) akan sesuatu hal di dunianya. Ini tentu jauh lebih
pribadi dari artikel yang bisa lebih banyak mengutip pendapat orang
lain daripada pendapatnya sendiri; juga lebih personal dari karya
seorang novelis yang tidak selalu mewakili dirinya sendiri.
Sedemikian privasi dan subyektifnya sebuah puisi sehingga memiliki
makna tersendiri. Hal ini menjadi salah satu alasan yang menyebabkan
sebagian orang menganjurkan agar puisi tidak diterjemahkan.
Puisi, untuk satu dan lain hal, bentuknya juga cenderung mudah
dikenali, baik ketika masih berbentuk aksara maupun setelah
dibacakan. Kata-kata yang tidak biasa, penggunaan metafor, hingga
ketidaklengkapan kalimatnya memberi ciri tersendiri bagi puisi.
Ribut Wijoto malah berpendapat bahwa salah satu ciri mendasar dari
puisi menyerupai gaya bertutur pengidap skizofrenia.
Apakah itu alasan yang menimbulkan pendapat bahwa menulis puisi
adalah sulit? Bisa ya bisa tidak. Apakah itu yang membuat orang suka
menulis puisi? Bisa ya bisa tidak.
Namun, penggunaan berbagai metafor atau kata-kata yang tidak biasa
dalam puisi sendiri pada dasarnya adalah bagian dari proses
berkomunikasi dan berbahasa. Sama seperti jika ada orang Indonesia
yang lebih suka mengungkapkan beberapa hal (rasa sakit, rasa
terkejut, rasa senang, dsb) dalam bahasa Inggris karena ia merasa
kata itu lebih tepat dan efektif dalam menggambarkan apa yang ada di
pikirannya. Karenanya, seorang penyair tentu saja orang yang pandai
mengolah bahasa. Inilah sifat puisi yang lain, yakni efektif dalam
memakai kata-kata untuk menyampaikan pendapat dan pikiran. Oleh
karenanya, tak heran jika kita mengenal genre puisi yang berasal
dari Jepang bernama haiku, yang hanya terdiri dari 14 suku kata.
Bahkan dalam dunia puisi modern, kita juga bisa menjumpai sebuah
puisi yang hanya berisi satu atau dua kata saja.
Dalam konteks sejarah, puisi juga termasuk salah satu bentuk tulisan
yang usianya sangat tua. Mungkin bisa disebut sebagai nenek moyang
dalam dunia penulisan. Keberadaan syar-syair tua seperti Kidung
Agung, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, serta syair-syair mitologi
Yunani sebagaimana terdapat dalam Iliad dan Odyssey karya Homerus
adalah buktinya. Demikian juga dengan kitab-kitab kebijaksanaan Tao
dan Konfusius, atau tradisi sastra lokal seperti pantun, gurindam,
seloka, dsb., semuanya disajikan dalam syair-syair yang indah.
Seiring perkembangan sejarah peradaban manusia, puisi (sastra) juga
terus-menerus mengambil semakin banyak peran dan pengaruh dalam
kemajuan kehidupan manusia. Kemajuan peradaban Tiongkok (yang juga
mempengaruhi Vietnam, Jepang, dll.) tentu tak bisa dilepaskan dari
budaya mereka yang sangat menjunjung tinggi sajak-sajak dan para
penyair. Sementara dalam dunia sosial dan politik telah berkali-kali
pula dicatat peran para penyair misalnya, Pablo Neruda, Wiji Thukul,
Nikolai Vaptsarov, Fransisco Borja da Costa, juga Chairil Anwar yang
lewat puisi mereka memimpin bangsanya ke arah perubahan. Pemimpin
politik seperti Ho Chi Minh dan Mao Zedong pun merasa bahwa puisi
adalah sarana yang cocok untuk mengekspresikan pikirannya. Karena
puisi pulalah hati dan gairah dapat menyala dan berkobar, dan puisi
pulalah yang sanggup memerahkan telinga wapres kita sampai akhirnya
marah-marah di acara HUT PGRI ke-60 di Solo beberapa waktu lalu.
Sejarah puisi terlihat indah dan penuh kemenangan. Namun, bagaimana
dengan kenyataan yang ada sekarang? Puisi sukar dipahami. Bahasanya
terlalu `ndakik-ndakik`, kata kritikus. Seperti telah disinggung di
atas, bisa jadi itulah yang membuat orang malas menulis atau membaca
puisi. Di dunia di mana budaya konsumerisme semakin menjadi pilihan
untuk menjalani hidup, keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu
secara instan adalah yang utama. Posisi puisi dengan bahasa yang
sepertinya sengaja `dipersulit` untuk bisa dimengerti dan hanya
berkutat pada masalah pribadi si penyair (apalagi yang belum
terkenal) tentu akan semakin tersingkirkan atau menjadi terlalu
eksklusif. Slogan seni untuk seni (l`art pour l`art) yang mungkin
masih diyakini oleh beberapa penyair sampai saat ini hanya
menempatkan puisi sebagai menara gading. Puisi hanya semata masalah
keindahan. Bagi perkembangan masyarakat, ia tidak membawa dampak
apa-apa. Akibatnya masyarakat sendiri menjadi apatis dengan puisi.
Puisi hanya menjadi milik mereka yang `paham`. Penulisan puisi
kemudian terbatas di kartu-kartu ucapan yang hanya dibaca sekali
lalu lebih sering dibuang. Apresiasi masyarakat atas puisi atau
sastra atau seni menjadi seperti apresiasi penduduk Yunani akan
Allah yang Tak Dikenal (Kis. 17:23); tahu bahwa Ia ada, namun terasa
jauh, sukar dipahami, dan seringkali mengakibatkan `pengetahuan` itu
menjadi milik segelintir orang saja (seniman, kritikus, kurator,
dsb.).
Paradigma dan keadaan seperti itu tentulah bukan sesuatu yang harus
dipertahankan. Dalam lingkungannya sendiri, seni dan sastra realis,
baik realisme sosialis, realisme magis, dan sejenisnya, yang menolak
bentuk eksklusif dan tidak menyuarakan apa-apa selain nilai
estetika, sempat dan masih sering dipakai untuk mengatasi masalah
itu. Sementara dalam segi kemasan, sastra, khususnya puisi mulai
mengalami metamorfosanya sendiri. Film seperti "Ada Apa dengan
Cinta", milis-milis, juga komunitas-komunitas penggemar jenis
tulisan puisi (anggotanya bahkan umumnya anak muda, yang beberapa di
antaranya malah sudah menerbitkan buku antologi puisi karya mereka
sendiri), menjadi media yang subur bagi pengembangan puisi. Gaya
bahasa puisi kontemporer yang semakin sederhana, pembawaan puisi
dengan gaya teatrikal, meledak-ledak seperti orasi, dsb. menjadi
beberapa cara yang telah ditempuh guna mengubah puisi agar lebih
komunikatif dan menjadi milik semua orang.
Anggapan bahwa pembaca puisi hanyalah kalangan yang terbatas saat
ini juga mulai menyurut. Setidaknya lihatlah betapa banyak buku
Kahlil Gibran yang beredar di toko buku saat ini. Dalam literatur
Kristen, tengok pula berapa banyak orang terinspirasi oleh puisi
berjudul "Footprints". Begitu juga fakta bahwa banyak orang telah
mendapat inspirasi dan hidupnya berubah setelah membaca ayat dalam
Kitab Suci yang ditulis dengan gaya bersyair. Namun, sekali lagi
harus diakui bahwa mengubah paradigma masyarakat yang menganggap
berpuisi dan membaca puisi sebagai kegiatan tak berguna merupakan
perjuangan tersendiri.
Dunia penulisan Kristen tampaknya juga mengalami masalah yang kurang
lebih serupa. Tanpa mengurangi penghargaan kepada penulis Kristen
yang mungkin selama ini telah mendedikasikan dirinya dalam dunia
puisi, kita tentu tak dapat membohongi diri bahwa saat ini tak
banyak orang Kristen yang mau menulis puisi untuk menyuarakan
pendapatnya dan pendapat-Nya untuk dunia ini. Mengingat kekhasannya,
semestinya mereka juga dapat memanfaatkan puisi sebagai sarana
penyampaian pendapat sebagaimana tulisan khotbah, kesaksian dan
renungan. Lagi pula, sebagai bagian dari seni dan budaya, puisi juga
dengan sendirinya dapat lebih mudah diserap oleh kalangan luas,
sehingga menyebabkan para pemimpin negara atau juga para penjajah
dulu begitu memperhatikan gerakan para penyair dan seniman. Mereka
menyadari bahwa puisi juga menjadi salah satu sarana penyebaran
ideologi yang efektif.
Lalu pertanyaannya sekarang adalah mungkinkah kita bisa benar-benar
serius memakai puisi sebagai media penyataan terang-Nya? Semua
memang kembali kepada diri kita sendiri. Saya sendiri yakin bahwa
militansi para penulis Kristen tentu tak kalah dengan seorang buruh
pelitur mebel asal Solo bernama Wiji Thukul yang rela menanggung
risiko dilenyapkan oleh militer sampai sekarang. Bahkan kerelaan
hati kita tentu juga bisa lebih dari yang dimiliki penyair sekuler
macam W.S. Rendra yang pada masa-masa awal karirnya rela hanya makan
nasi dan garam demi tekad untuk hidup dari seni (puisi) dan tidak
lagi memandang seni sebagai kegiatan pengisi waktu saja.
Ketika Roland Barthes memproklamirkan "Kematian Pengarang",
mengingat pada masa ini pembacalah yang lebih dominan menilai dan
memahami satu karya daripada sang pengarang, penulis Kristen tak
perlu jera dan gentar menghadapinya. Sejarah membuktikan, kenyataan
di sekitar menunjukkan, dan Roh Kudus yang akan memampukan, bahwa
puisi bukanlah sebuah kesia-siaan. Puisi dapat menjadi alat
komunikasi yang efektif dalam menyatakan kebenaran-Nya. Bahkan jika
ditulis dan dikemas dengan baik ia akan sanggup melewati sekat-sekat
yang selama ini membatasi tulisan-tulisan Kristen untuk diterima
masyarakat luas. Ah, puisi ternyata memang tidak melulu masalah
puitis atau tidak.
Beberapa Sumber Bacaan:
1. JJ Kusni, Esai Ketika Dicemoohkan, Puisi Terus Ditulis
http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/viewesai.cgi?category=5&id=1030351856
2. Percy Bysshe Shelley, A Defence of Poetry (dalam bentuk ebook
dari Project Gutenberg)
3. Ribut Wijoto, Artikel Skizofrenia pada Gejala Estetik Puisi
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2003/014/bud3.html
Penulis: Ary Cahya Utomo
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
Syairmu Penabalmu, yang Menahbiskanmu Jadi Penyair
==================================================
Mau jadi penyair? Ya, berkaryalah. Memangnya siapa yang memberi
status penyair kepada Raja Ali Haji? Kepada Amir Hamzah? Kepada
Sutardji Calzoum Bachri? Atau kepada Hasan Aspahani? Karyalah yang
menjadikan seseorang itu jadi penyair atau bukan. Memangnya Dolorosa
Sinaga disebut pematung kalau dia tidak membuat sebuah karya patung
pun? Memangnya, Amri Yahya itu disebut pelukis kalau dia tidak
melukis sebidang kanvas pun? Memangnya GM Sudarta itu mau disebut
kartunis kalau dia tidak menciptakan tokoh Oom Pasikom?
Tentu berkarya saja tidak cukup, dan lantas kau disebut sebagai
penyair. Kalau karyamu hanya kau simpan di map dan diselipkan di
laci, siapa yang tahu bagus tidaknya karyamu? Sosialisasikan karyamu
setelah kau yakin itu layak disebut sebagai karya bermutu, dan bisa
pula mendukung niatmu untuk disebut sebagai penyair. Eit, jangan
putus asa kalau redaktur menolak karyamu. Jangan memaki bahwa
redaktur sastra itu penguasa yang otoriter.
Sosialisasi kan tidak harus lewat satu majalah, satu surat kabar,
atau jurnal saja. Kenapa tidak kau bukukan saja sendiri? Seperti Dee
dengan Supernova-nya. Kenapa tidak mencari cara sosialisasi lain
yang lebih kreatif, tidak cengeng, dan bahkan cara sosialisasi itu
bersama karya hebatmu bisa dengan cepat mengangkat kau ke singgasana
penyair, kalau memang itu yang benar-benar hendak kau duduki. Kau
bisa ikut lomba cipta puisi, kau juga bisa kirim ke situs-situs
sastra.
Mau contoh? Buatlah brosur puisi, buatlah pembacaan puisi keliling
dari sekolah ke sekolah, dari terminal ke terminal, atau buatlah
majalah sastra sendiri. Kamu pikir Taufik Ikram Jamil itu siapa
kalau tidak ketekunannya berkarya dan membina sejumlah majalah
sastra seperti Berdaulat, Menyimak, dan Sagang.
Kau pikir D. Zawawi Imron itu mengemis-ngemis ke redaktur sastra
supaya karyanya dimuat? Kau pikir siapa yang menerbitkan buku puisi
Subagio Sastrowardoyo pertama kali? Bukan penerbit tapi seorang
pelukis bernama Jeihan. Lalu apakah Jeihan yang mengangkat almarhum
sebagai penyair? Bukan, tapi karyanya itu.
Kualitas karya. Itulah pemaknaan tunggal. Tapi, ingat kualitas tidak
dilihat dari dimuat tidaknya sebuah karya di media. Karena belum
tentu yang dimuat itu bagus, dan sebaliknya yang tak dimuat belum
tentu jelek. Tak ada jalan pintas. Karena seorang redaktur itu orang
yang makan gaji. Itu hanya sebuah jabatan struktural di sebuah
media. Ia bisa dan kadang sangat subjektif.
Eh, kira-kira di mana posisi seorang kritikus, ya? Apa pedulinya
kita? Dulu memang ada HB Jassin yang tak bisa ditampik telah
membesarkan dan menemukan seorang Chairil Anwar. Tapi, kembalilah
tengok karyanya. Jassin mungkin tak akan pasang badan membela
Chairil (apa untungnya?) kalau karyanya memang tak bermutu? Terbukti
toh Jassin benar sampai sekarang, puisi-puisi Chairil tetap saja tak
kehilangan kebaruannya.
Jadi kembali lagi ke karyamu. Kalau memang mutiara, kritisi akan
tahu meskipun ia menyelam dalam dan kau berada dalam cangkang yang
keras tebal pejal.
Selamat jadi penyair, eh, selamat membuat syair.
Diedit dari sumber:
Website: http://cybersastra.net/cgi-bin/naskah/arsipesai.cgi?category=5&view=3.09.02-5.17.02
Penulis: Hasan Aspahani
<>------------------------------------------------------------------<>
= ASAH PENA (Artikel Sejarah Penulis Dunia) =
BIOGRAFI KAHLIL GIBRAN (1883-1931)
==================================
Kahlil Gibran lahir pada tanggal 6 Januari 1883 di Beshari, Lebanon.
Beshari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa
serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa
menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya
banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran
pindah ke Boston, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran
kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh
para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada
akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston,
diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk
oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran
hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali
ke Bairut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat (School of
Wisdom) sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa
depannya mulai terbentuk. Tirani kerajaan Ottoman, sifat munafik
organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar
sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian
dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun,
namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah
menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu
untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya
kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda
menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga
1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya,
"Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York,
yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang
meyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran
menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronite. Akan
tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai
harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran
menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi
telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda
berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan
toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga
meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga
telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna,
yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan
keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu
terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya
lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan
berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai
penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil
menjahit di Miss Teahan`s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu,
Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang
masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup
senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell,
seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun
dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di
Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux
Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah
studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga
mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran
bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah
bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa
Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang
muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya
sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang
uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai
otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di
sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan
mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang
memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam
perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk
Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada
tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga
terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan
kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran
menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat
Syria yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup.
Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan
dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat
mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk
mengagumi kehebatan Barat.
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya
dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems".
Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman".
Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah
"Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada
tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami
dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di
Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan
kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris
pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran
mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha
kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah
dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau
hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai
pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka,
namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang
berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan
dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas
telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima
Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang
dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini
merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya
reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah
Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi".
Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang
sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di
New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son
of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya,
"Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran
menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain
"The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan
tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya
yang lain "The Garden of the Propeth".
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia.
Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hati dan TBC, tapi
selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari
terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent`s Hospital di Greenwich
Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk
mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya
yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri
untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Ma Sarkis,
sebuah biara Carmelite di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk
studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas
yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk
membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."
Bahan dirangkum dari:
Buku : 10 Kisah Hidup Penulis Dunia
Judul : Khalil Gibran
Editor : Anton WP dan Yudhi Herwibowo
Penerbit : Katta Solo, 2005
Halaman : 63 - 70
<>------------------------------------------------------------------<>
Staf Redaksi : Ary, Puji, dan Endah
Berlangganan : Kirim email ke <subscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Berhenti : Kirim email ke <unsubscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Kirim bahan : Kirim email ke <staf-penulis(at)sabda.org>
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
<>------------------------------------------------------------------<>
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2006
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
<><-------------------------------oo-------------------------------><>
|