<>--------------------------------oo--------------------------------<>
< e-Penulis >
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 016/Pebruari/2006
<>------------------------------------------------------------------<>
MENYUNTING TULISAN
<>------------------------------------------------------------------<>
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi: Menyunting Tulisan
* Artikel : Swasunting; Sampai Sejauh Mana?
* Tips : Menyunting dan Menulis Ulang
* Asah Pena : 11 Fakta Pramoedya Ananta Toer
* Stop Press : Pembukaan Kelas Virtual PESTA Periode Apr-Mei 2006
<>------------------------------------------------------------------<>
= DARI REDAKSI =
Salam kasih,
Dengan tema yang menarik, ide segar, dasar dan sumber kuat, lengkap
dan dapat dipertanggungjawabkan, serta judul `provokatif`, membuat
tulisan Anda sekarang telah siap untuk dipublikasikan. Namun, ketika
rekan Anda datang untuk membacanya, mendadak keningnya berkerut.
Tulisan Anda tidak enak dibaca! Isinya sebenarnya bagus, tapi
penyajiannya terlalu berbelit-belit, penggunaan kata-katanya kurang
pas, banyak ejaan yang salah dan susunan kalimatnya kurang teratur.
Pendek kata, tulisan Anda ternyata belum siap untuk dipublikasikan,
karena masih perlu diedit.
Mengedit atau istilah lain yang sering dipakai adalah "menyunting",
merupakan langkah penting untuk menyiapkan suatu naskah yang siap
dikirim atau dipublikasikan. Apakah yang dimaksud dengan menyunting?
Langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menyunting suatu naskah?
Bisakah saya melakukan penyuntingan terhadap naskah saya sendiri?
Edisi e-Penulis kali ini, kami harap dapat membantu Anda untuk
mengetahui lebih banyak tentang masalah sunting-menyunting naskah.
Harapan kami pengetahuan yang Anda dapat ini akan menolong Anda
menghasilkan naskah yang lebih baik dan lebih siap terbit. Selain
itu, jangan lewatkan Kolom Asah Pena yang kali ini mengetengahkan
salah satu sosok penulis Indonesia terkemuka "Pramoedya Ananta
Toer".
Selamat menulis!
Redaksi e-Penulis,
(Ary)
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
SWASUNTING; SAMPAI SEJAUH MANA?
==============================
Swasunting itu sulit, karena menuntut kita agar obyektif dan kritis
terhadap hasil kerja sendiri. Untuk mampu berbuat begitu, dibutuhkan
disiplin, sedangkan imbalannya adalah produk yang meningkat mutunya.
Pertanyaannya ialah, berapa kali swasunting yang harus dilakukan
oleh seorang penulis?
Tidak ada jawaban yang gampang untuk pertanyaan itu. Sejauh
menyangkut tulisan saya sendiri, banyaknya swasunting yang saya
butuhkan ialah sebanyak yang saya lakukan sampai saya sendiri puas,
tetapi bahkan itu pun tidak sepenuhnya akurat. Meskipun demikian,
seperti kebanyakan penulis, saya tidak sepenuhnya merasa puas dengan
apa yang telah saya tulis. Saya tahu bahwa draft pertama saya tidak
pernah sudah cukup baik, dan draft kedua saya jarang sudah cukup
baik. Saya biasanya membuat beberapa draft, dan saya mungkin
menulis-ulang, merevisi, menata-ulang, dan memoles lagi beberapa
bagian tertentu dari naskah saya, terutama bagian pendahuluannya,
nyaris tanpa henti. Padahal, saya mungkin akhirnya jengkel dan
membuang semua itu dan menggantinya dengan tulisan baru yang segar.
Saya percaya bahwa kerelaan untuk melakukan ini merupakan bukti
integritas seseorang selaku penulis.
SASARAN SWASUNTING
Kekeliruan umum yang dilakukan oleh banyak penulis adalah salah
memahami sasaran-sasaran khusus yang seyogyanya dikejar dalam
menyunting karya tulisnya sendiri. Banyak penulis sudah puas dengan
penilaian subjektif semata-mata mengenai keelokan bahasa mereka.
Padahal, ada sejumlah sasaran dalam swa-penyuntingan yang menuntut
jauh lebih banyak analisis logis daripada apresiasi artistik.
Berikut ini sejumlah bidang masalah yang lazim:
1. Kesalahan Ketatabahasaan
---------------------------
Kesalahan-kesalahan yang paling lazim sudah dikenal dengan baik.
Sayang bahwa banyak di antaranya mencerminkan ungkapan yang
digunakan dalam percakapan sehari-hari. Demikianlah maka secara
kurang sadar kita jadinya menerima bentuk-bentuk infinitif terpisah,
kalimat yang berawal dengan konjungsi dan berakhir dengan kata
preposisi, dan participle yang menggantung. Hal yang sama terjadi
pula pada aturan mengenai tanda baca lainnya.
Semua itu bukan kesalahan besar. Sekarang ini, umumnya dipandang
lebih baik untuk memisah suatu kata kerja infinitif daripada membuat
konstruksi yang kaku. Dalam beberapa hal tertentu seorang penulis
melakukan kesalahan ketatabahasaan yang disengaja, misalnya ketika
membuat tiruan percakapan. Meskipun demikian, penting bagi kita
mewaspadai masalah yang muncul dan membetulkannya jika memang perlu.
2. Perpindahan yang Menyentak
-----------------------------
Jembatan haruslah disediakan untuk memuluskan perpindahan dari satu
topik, paragraf atau kalimat kepada yang berikutnya. Jika jembatan
itu tidak ada maka pembaca akan tersentak atau bahkan menjadi
bingung. Ini secara khusus berlaku ketika kita telah selesai
membahas suatu pokok masalah dan mulai beralih ke pokok masalah yang
baru. Di sini, kita perlu memberikan isyarat kepada pembaca agar
siap mengikuti perpindahan pokok bahasan kita itu. Kadang-kadang
peralihan itu segera kelihatan dengan sendirinya dari sifat-hakikat
bahan bahasan.
Kadang-kadang kata atau rangkaian kata sederhana seperti "akan
tetapi", "meskipun demikian", "pada sisi yang lain", "sebaliknya",
atau "di samping itu", sudah cukup untuk memperkenalkan unsur baru.
Dalam kasus lain, khususnya jika perpindahan atau peralihan itu
sangat tiba-tiba, dan pokok persoalan yang akan dikemukakan sama
sekali tidak berkaitan dengan pokok soal sebelumnya, kita mungkin
perlu menyatakannya dengan jelas dan menulis kalimat atau paragraf
pengantar agar pembaca tetap dapat mengikuti.
3. Ambiguitas
-------------
Inilah daerah atau bidang yang menuntut kewaspadaan istimewa karena
merupakan masalah umum dalam penulisan dan sering kali tidak mudah
dilacak atau dideteksi oleh penulis. Ambiguitas atau ketaksaan,
kekaburan makna, biasanya bersumber pada perumusan yang kurang jitu
dalam penulisan. Ketika Anda menghadapi suatu kalimat atau paragraf
yang mencurigakan, tanyakan pada diri sendiri: "Mungkinkah ini cukup
masuk akal untuk memancing lebih dari satu tafsir?" Jika kita
melatih diri sendiri untuk melakukan hal ini, kita akan terkejut
karena sangat sering kita perlu menulis-ulang bagian-bagian yang
mudah disalahpahami oleh pembaca umumnya.
4. Kata yang Betul dan yang Salah
---------------------------------
Kita semua mempunyai lebih dari satu kosakata. Kita sekurangnya
mempunyai tiga: kosakata untuk membaca, berbicara, dan menulis.
Gagasan populer bahwa luasnya kosakata merupakan hal penting untuk
penulisan adalah gagasan yang keliru. Memang kosakata yang luas akan
membantu kita karena hal itu menolong dalam menyusun dan mencerna
gagasan, sementara keterbatasan kosakata membatasi lingkup jangkauan
kita. Akan tetapi, jika kita menginginkan agar pembaca mudah
memahami kita, kosakata itu perlu kita jaga agar tetap sederhana.
Satu di antara persoalannya adalah menemukan dan menggunakan kata
yang betul dengan tepat untuk menyampaikan maksud Anda. Misalnya,
kata `keras kepala` pada masa sekarang dapat digunakan untuk memuji
atau untuk mengecam. Akan tetapi, ada kata-kata tertentu yang
memiliki siratan makna tersendiri, semuanya tergantung bagaimana
cara kita menggunakannya.
Kamus tidak membantu dalam hal tersebut. Kamus memang menyebutkan
definisi lengkap, tetapi tidak menjelaskan segala-galanya mengenai
konotasinya. Yang lebih dibutuhkan hanya kepekaan kita terhadap
penggunaan dan nuansa makna yang membedakan kata yang satu dengan
padanannya.
Kita harus pula mempertimbangkan kata-kata yang "betul" dan yang
"salah" dalam kaitan dengan penerimaannya atau penafsirannya oleh
pembaca terutama yang berkaitan dengan budaya dan sejarah yang
dialami oleh pembaca berkenaan dengan kata tersebut.
TUJUAN MENYELURUH SWASUNTING
Ada yang mengatakan bahwa suatu tujuan pokok dalam penyuntingan
adalah mengurangi banyaknya kata. Gagasan ini didasarkan pada
pemikiran bahwa para penulis umumnya suka berpanjang-panjang, sering
mengulang-ulang, dan berlebihan kata. Selaku penulis yang telah
menerbitkan jutaan kata, saya akui kesalahan saya atas tuduhan itu.
Bahkan setelah saya menanggung jerih payah dan kesedihan karena
membuang jutaan kata tulisan saya sendiri, penyunting saya pun masih
membuang lebih banyak lagi, dan saya pun hanya bisa mengakui bahwa
saya memang terlalu banyak mengobral kata.
Tujuan keseluruhan swa-penyuntingan ialah menekan pengobralan kata
itu dan hasilnya adalah teks yang lebih ketat, dengan gaya yang jauh
lebih hidup dan gesit, serta lebih enak dibaca.
Bahan disunting dari sumber
Buku : Memulai dan Mengelola Bisnis Penulisan dan Penyuntingan
Penulis : Herman Holtz
Penerbit : Grasindo, Jakarta, 2000
Halaman : 226 - 231
<>------------------------------------------------------------------<>
= TIPS =
MENYUNTING DAN MENULIS ULANG
============================
Penulis yang baik harus selalu dan selalu menyunting tulisannya
serta memperhatikan alur dan ritme tulisan mereka. Dan mereka juga
harus mengetahui apa makna dari tiap kata yang mereka pakai.
Anda menyunting tulisan dengan tujuan untuk menyingkat, mempertajam,
menyederhanakan dan menjelaskan, untuk meningkatkan urutan dan
logika pikiran, dan untuk menguji semuanya dari sudut pandang
seorang pembaca. Saat Anda mengedit, tanyakan pada diri sendiri
pertanyaan berikut:
- Sudahkah saya memakai kata kerja dalam kalimat aktif?
- Sudahkah saya menempatkan subyek saya di dekat kata kerja?
- Sudahkah saya memilih kata-kata yang benar-benar menerjemahkan
maksud saya dengan tepat?
- Sudahkah saya menghindari kalimat yang panjang dan sulit dipahami?
- Sudahkah saya menghapus kata-kata yang tak perlu, terutama kalimat
bercabang?
- Sudahkah saya menghindari perpindahan nada kalimat yang menyentak
-- dari gaya percakapan ke khotbah, dari santai ke formal?
Satu trik untuk penyuntingan adalah dengan memikirkan kembali apa
yang telah Anda tulis sehingga keesokan harinya Anda dapat
`merevisinya` dengan pikiran yang segar. Apa yang Anda banggakan
hari ini mungkin akan memalukan Anda keesokan harinya. Samuel
Johnson memahami trik tersebut. "Baca kembali tulisanmu," katanya,
"dan ketika mendapati satu bagian yang menurutmu bagus, kembangkan
bagian itu!"
Penulis Kurt Vonnegut juga mengatakan hal serupa: Miliki keberanian
untuk menghapus. "Kefasihan bicara Anda harus dapat menjadi pelayan
pikiran di kepala Anda," katanya. "Anda dapat memiliki patokan: Jika
sebuah kalimat, tak peduli seberapa bagusnya, ternyata tak dapat
menerangkan subyek Anda dengan cara yang baru dan bermanfaat, hapus
saja!"
Saat Anda merasa bahwa Anda telah selesai melakukan proses
penyuntingan, periksa kembali file tulisan itu ke mesin pengecek
tata bahasa sekali lagi, meski Anda mungkin sudah pernah
melakukannya. Jangan langsung mengabaikan semua anjuran yang muncul.
Tetap perhatikan peringatan seperti "kalimat pasif" atau "kalimat
panjang" sebagai kesempatan untuk melakukan penyuntingan secara
kasar. Apakah ada alternatif cara lain untuk menuliskan topik Anda?
Saat menyunting tulisan, ujilah semuanya dari sudut pandang pembaca,
pastikan tak ada yang terlewat, periksa keakuratannya dan cobalah
untuk mempersingkat, mempertajam, mengembangkan dan menyederhanakan
tulisan tersebut.
Tanyakan pada diri Anda pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apakah susunannya sudah teratur? Apakah pembaca dapat mengetahui
mana awal, pertengahan dan akhir tulisan saya? Apakah saya telah
memberikan pembaca sebuah alur yang jelas dan mudah dimengerti?
Apakah semua sudah terdengar logis?
- Apakah sudah jelas? Apakah tulisan saya sudah tidak lagi terlalu
abstrak atau lebih membumi?
- Bagaimana nada kalimat saya? Dalam membuat percakapan, apakah saya
terlalu `cerewet` atau terlalu `basa-basi`? terlalu resmi? kasar?
terlalu lembut?
- Apakah usaha saya untuk menyisipkan humor berhasil? Jika memang
mendukung, permainan kata atau sebuah kisah lucu mungkin akan bisa
cocok dan bagus dipakai. Namun jika Anda sendiri masih ragu,
lupakan saja! Humor yang gagal akan menghasilkan kegagalan.
Selera humor akan membantu -- baik untuk tulisan Anda atau opini
mengenai diri Anda. Nat Schmulowitz adalah seorang yang sederhana,
yang juga seorang pengacara, sejarawan, dan penulis. Dia mengatakan
bahwa humor bisa lebih menarik daripada sejarah, dan untuk
menjelaskan lebih lanjut pernyataannya tersebut, ia menulis:
"Orang sombong, orang picik atau orang yang sedang marah tidak
dapat menertawakan dirinya sendiri, atau ditertawai. Namun
seseorang yang dapat menertawakan dirinya sendiri, atau
ditertawai, telah selangkah lebih maju ke kewarasan yang sempurna
yang membawa kedamaian di bumi dan perbuatan yang baik kepada
sesama."
Demikianlah. Kerja keras Anda telah selesai. Namun masih ada satu
langkah lagi. Perlihatkan tulisan Anda pada beberapa orang yang Anda
hormati dan lihat seperti apa Anda kelihatannya. Selanjutnya tulis
kembali. (t/ary)
Bahan diterjemahkan dari:
Buku : Secrets of Succesful Writing
Judul Artikel : Rewriting and Editing
Pengarang : Dewitt H. Scott
Penerbit : Reference Software International, USA, 1989
Halaman : 129 - 131
<>------------------------------------------------------------------<>
= ASAH PENA =
Satu-satunya penulis Indonesia yang pernah berkali-kali menjadi
kandidat pemenang Nobel Sastra. Seorang penulis yang begitu dihargai
di luar negeri namun justru dianiaya oleh pemerintah di negerinya
sendiri. Itulah Pramoedya Ananta Toer (biasa disebut Pram saja) yang
bulan ini merayakan ulang tahunnya yang ke 81 tahun. Apa saja yang
bisa kita pelajari dari kehidupan sastrawan yang karyanya, kata
banyak orang, adalah `bacaan wajib` bagi setiap orang Indonesia yang
ingin menjadi penulis ini? Simak saja beberapa hal berikut:
11 Fakta mengenai Pramoedya Ananta Toer
=======================================
1. Pendidikan
-------------
Sebagai putra sulung tokoh Institut Boedi Oetomo, Pram kecil malah
tidak begitu cemerlang dalam pelajaran di sekolahnya. Tiga kali tak
naik kelas di Sekolah Dasar, membuat ayahnya menganggap dirinya
sebagai anak bodoh. Akibatnya, setelah lulus Sekolah Dasar yang
dijalaninya di bawah pengajaran keras ayahnya sendiri, sang ayah,
Pak Mastoer, menolak mendaftarkannya ke MULO (setingkat SLTP). Ia
pun melanjutkan pendidikan di sekolah telegraf (Radio Vakschool)
Surabaya atas biaya ibunya. Biaya pas-pasan selama bersekolah di
Surabaya juga hampir membuat Pram gagal di ujian praktik. Ketika
itu, tanpa mempunyai peralatan, ia tetap mengikuti ujian tersebut
namun dengan cara hanya berpura-pura sibuk di samping murid yang
terpandai. Walau begitu, secara umum nilai-nilai Pram cukup baik dan
ia pun lulus dari sekolah meski karena meletusnya perang dunia II di
Asia, ijazahnya yang dikirim dari Bandung tak pernah ia terima.
2. Asmara
---------
Kisah asmara Pram juga tidak lepas dari pengaruh realitas kemiskinan
yang bahkan masih jamak menghinggapi kehidupan para penulis dan
seniman masa kini. Perkawinan pertamanya berakhir dengan perceraian
dan diusirnya Pram dari rumah mertuanya karena hasil yang ia peroleh
dari menulis yang belum menentu tak dapat menafkahi keluarganya.
Sementara ia masih hidup tak menentu, suatu hari, meski tak memiliki
uang sepeser pun, ia mengunjungi sebuah pameran buku pertama di
Indonesia dan melihat salah seorang wanita penjaga stan yang menarik
perhatiannya. Ia pun nekad datang dan berkenalan dengan wanita yang
ternyata bernama Maemunah tersebut. Setiap hari ia berlama-lama
menemani Maemunah duduk di stan itu layaknya seorang penjaga. Bahkan
sampai ketika Presiden Soekarno juga mengunjungi dan melihat
gadisnya tersebut, dengan bercanda ia gambarkan adegan itu sebagai
"buaya kedahuluan buaya." Keteguhan dan pendekatannya pun membawa
hasil, Maemunah terbukti adalah istri yang selalu tetap setia
mendampinginya dalam segala suka duka mereka sampai sekarang.
3. Penjara
----------
Penjara adalah tempat yang cukup akrab dengan kehidupan Pram. Dalam
tiga periode (zaman Belanda, Orde Lama dan Orde Baru), ia selalu
sempat mencicipi penjara. Alasannya pun beragam, mulai dari
keterlibatannya dalam pasukan pejuang kemerdekaan pada zaman
penjajahan Belanda, masalah bukunya "Hoa Kiau di Indonesia" yang
merupakan pembelaan terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia namun
tidak disukai pemerintah Orde Lama, sampai akibat tuduhan terlibat
dalam Gerakan 30 September 1965 oleh rezim Orde Baru yang dijalani
tanpa melewati proses peradilan. Namun justru di dalam penjara
itulah, lahir beberapa karyanya, termasuk masterpiece "Tetralogi
Buru" dan juga roman "Arus Balik".
4. Tetralogi Buru
-----------------
"Tetralogi Buru" (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah,
Rumah Kaca) adalah karya yang ia buat selama masa pembuangan di
Pulau Buru. Seri novel yang mengisahkan tentang Minke, yang pada
dasarnya adalah kisah hidup seorang jurnalis pribumi Indonesia
pertama R.M. Tirto Adi Soerjo, itu pada awalnya dikisahkan secara
lisan kepada sesama tahanan di Buru karena tidak adanya fasilitas
alat tulis. Titik terang mulai muncul 10 tahun kemudian saat Pram
yang selalu berada di bawah sorotan dunia internasional (yang
karenanya membuat ia tidak mengalami siksaan seberat tahanan lain,
meski gendang telinganya tetap rusak akibat siksaan aparat) mendapat
sebuah mesin tik kiriman penulis Prancis Jean Paul Sartre. Namun,
mesin tik yang masih baru itu sendiri tak pernah sampai ke
tangannya, Angkatan Darat malah menggantinya dengan mesin tik
bobrok, yang pitanya harus dibuat sendiri oleh para tahanan itu
dengan bahan seadanya. Karya Tetralogi Buru juga hampir saja tak
dapat diselamatkan seperti banyak karya-karya Pram lainnya yang
dibakar oleh tentara. Tetapi jasa-jasa orang asing seperti seorang
pastor Jerman dan seorang warganegara Australia bernama Max Lane
yang berhasil menyelundupkan keluar dan akhirnya menerbitkan
Tetralogi Buru itu di luar negeri. Tak heran jika Pram pernah
berkata, "Karya saya sudah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa, tapi
saya tidak pernah dihargai di dalam negeri Indonesia."
5. Pandangan dan Ideologi
-------------------------
Berbeda dengan pemerintah Orde Baru yang menudingnya sebagai
komunis, Pram sendiri mengaku bahwa ia tak pernah memihak ideologi
apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan,
kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya
tentang ideologi yang dianutnya. Walau demikian, dalam berbagai
kesempatan, ia sering mengatakan bahwa salah seorang tokoh yang
paling ia kagumi adalah Bung Karno. Meski begitu, Bung Karno sendiri
tidak begitu menyukai Pram. Bermula ketika Pram menghadap Bung Karno
untuk membicarakan mengenai hidup para seniman, Pram mengatakan
bahwa akan baik jika diadakan konferensi pengarang Asia Afrika. Usul
itu disambut oleh Presiden dan ia pun lantas menunjuk Pram sebagai
ketua panitianya. Pram menolak dan mengatakan kalau saat ini ia
masih terlalu sibuk. Penolakan ini membuat Bung Karno marah. Sejak
itu Bung Karno pun tak pernah menyukainya, ia menganggap Pram
sebagai sosok yang angkuh.
6. Sejarah
----------
Dalam banyak tulisannya seperti novel "Arok Dedes", "Tetralogi
Buru", "Di Tepi Kali Bekasi", "Jalan Raya Pos Jalan Daendels", dll.,
Pram terbukti sebagai seorang sejarawan handal yang menawarkan cara
pandang sejarah yang berbeda. Sementara sejarah yang ada selama ini
menurutnya hanyalah sejarah para penguasa dan peperangan, ia pun
selalu berusaha memotret dan menggali sejarah dari sudut pandang
rakyat dan kaum jelata. Saat ini, ketika kesehatan membuatnya tak
dapat menulis lagi, kegiatannya adalah mengumpulkan kliping untuk
proyek ensiklopedia Nusantara yang tebalnya bahkan telah mencapai 4
meter! Proyek itu sendiri rencananya akan mulai dikerjakan dengan
uang honor yang akan diterima jika ia menerima penghargaan Nobel.
7. Nobel
--------
Selain berkali-kali dinominasikan untuk meraih penghargaan Nobel
Sastra, sampai saat ini, telah berbagai penghargaan ia terima dari
banyak penjuru dunia. Dari penghargaan Ramon Magsaysay di Filipina
yang sempat menimbulkan polemik di Indonesia sampai Pablo Neruda
Award di Chili. Mengenai belum berhasilnya ia merebut Nobel Sastra
itu, seorang tokoh sastra Indonesia pernah mengatakan bahwa
sebenarnya dulu Pram pernah hampir dapat meraih penghargaan
tersebut, sebelum seorang tokoh yang berpengaruh di Indonesia
mendatangi juri-juri penilai nobel tersebut dan membisikkan kalimat
"Pramoedya is ...."
8. Reputasi Internasional
-------------------------
Sekitar 200 buku Pram telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa:
dari Yunani, Spanyol, Belanda, Jerman, Korea, Jepang, Turki, sampai
bahasa Malayalam -- suatu bahasa etnis di India. Dari pameran sampul
karya Pram yang baru-baru ini diadakan di Teater Kecil Taman Ismail
Marzuki, Jakarta, banyak sampul depan terjemahan ini memakai aksara
non-Latin, seperti aksara Thailand, Turki, Jepang, Korea, Rusia.
Dari semua ini, terjemahan novel Pram ke bahasa Rusia memang paling
awal. Sebelum karya berjudul "Sekali Peristiwa di Banten Selatan",
pada tahun 1957 misalnya telah terbit edisi Moskwa untuk karya
berjudul "Cerita dari Blora", dan kemudian pada 1959 terbit "Cerita
dari Blora" dalam bahasa Turkmengozidat, Ashkabad. Tahun 1962 juga
terbit "Na Brehu Reky Bekasi", yang merupakan edisi Chek untuk "Di
Tepi Kali Bekasi.
9. Panjang Umur
---------------
Apa resep rahasia panjang umur menurut Pram? Sering tersenyum, atur
pernafasan, makan bawang putih dan minum anggur merah, demikian yang
selalu dikatakan Pram di berbagai kesempatan. Sebelum terkena
serangan stroke pada tahun 2000, karena terpengaruh kebiasaannya
selama berada di Pulau Buru, Pram selalu menghabiskan waktu dan
menjaga kesehatannya dengan mencangkul. Sedikit bergurau waktu itu
ia mengatakan bahwa mungkin ia tak akan hidup sampai selama ini jika
tak menjalani kamp kerja paksa di Buru. Namun di luar semuanya,
memang tak ada yang tahu nasib dan umur seseorang selain
Penciptanya.
10. Film
--------
Meski beberapa karyanya terdahulu telah difilmkan di beberapa negara
asing, walau masih cenderung ke film non-komersil dan peredarannya
dilarang di Indonesia. Berita terakhir mengabarkan bahwa beberapa
karya utama Pram seperti "Tetralogi Buru" serta beberapa karyanya
seperti "Gadis Pantai", "Mangir", dll. telah disetujui untuk
difilmkan atas kerjasama beberapa sineas dan rumah produksi lokal
dengan biaya miliaran rupiah. Jumlah ini sendiri adalah tawaran
paling rendah, karena sebelumnya ia bahkan telah menolak sutradara
tenar Amerika Oliver Stone yang kabarnya berani membeli hak
memfilmkan "Bumi Manusia" sekitar US$ 1,5 juta (sekitar 15 miliar
rupiah). Menurut putrinya, Astuti Ananta Toer, Pram menginginkan
orang Indonesia yang menjadi produsernya.
11. Kabar Terakhir
------------------
Di usianya yang ke 81 tahun, Pram dikabarkan sedang sakit. "Bapak
sakit karena sedih mendengar berita berbagai bencana yang menimpa di
Indonesia," kata keluarganya. Kesehatannya berangsur membaik setelah
rombongan cucunya datang ke kediamannya di Bojong membawa gitar dan
organ. Pram kini memang selalu menunggu dengan harap kedatangan
Cindy, Vicky, Aditya, Angga, Cynthia, Rofa, dan Gitra -- para
cucunya dari generasi MTV. Pram, yang pada dasarnya seorang
penyendiri itu, kangen mendengar para cucunya yang berusia SMP
sampai SMA itu bernyanyi riang apa saja -- dan karenanya selalu
bangkit daya hidupnya. "Pram suka banget dinyanyikan itu, lho, lagu
Amor, amor, juga Ave Maria. Pernah cucu-cucu menyanyikan lagu Peter
Pan, Pram tidak ngerti, tapi ia seneng banget," kata Titik putrinya.
Tulisan dirangkum oleh Ary Cahya Utomo dari sumber-sumber:
- Kurniawan, Eka, 2002, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme
Sosialis, Jendela, Yogyakarta
- Teeuw, Arnold, 1997, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Pramoedya
Ananta Toer, Pustaka Jaya, Jakarta
- Toer, Pramoedya Ananta, 2006, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels,
Lentera Dipantara, Jakarta
- Toer, Pramoedya Ananta, 1995, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Lentera,
Jakarta
- Sumber-sumber media cetak, elektronik, dan lisan
<>------------------------------------------------------------------<>
= STOP PRESS =
Informasi berikut ini sangat berguna bagi para penulis Kristen yang
melayani Tuhan melalui dunia literatur. Dengan memiliki dasar-dasar
iman Kristen yang teguh maka hasil karya Anda dapat sekaligus
menjadi alat untuk menyebarkan kasih Tuhan dan melakukan misi Tuhan
di dunia ini.
Pembukaan Kelas Virtual PESTA Periode April - Mei 2006
======================================================
PESTA (Pendidikan elektronik Studi Teologia Awam) kursus Online yang
diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga SABDA untuk membekali orang-
orang Kristen awam, khususnya yang ada di `market place` untuk
diperlengkapi dengan pengetahuan teologia. Kursus yang dibuka adalah
adalah Kelas "DASAR-DASAR IMAN KRISTEN (DIK). Bahan DIK ini terdiri
dari 10 Pelajaran yang akan mempelajari tentang pokok-pokok
pengajaran penting dalam iman Kristen, khususnya tentang penciptaan
manusia, kejatuhan manusia dalam dosa, rencana keselamatan Allah
melalui Yesus Kristus dan hidup baru.
Waktu Pelaksanaan:
Tgl. 1 Maret - 31 Maret 2006 : Waktu pendaftaran kursus.
Tgl. 1 April - 25 April 2006 : Waktu bagi peserta untuk mempelajari
materi kursus serta mengumpulkan
Tugas menjawab pertanyaan dari
10 Pelajaran.
Tgl. 1 Mei - 31 Mei 2006 : Waktu berdiskusi (via milis) tentang
bahan DIK bagi peserta yang telah
mengumpulkan semua Tugas.
Biaya: GRATIS!
Jika Anda tertarik, segeralah menulis email ke:
==> < staf-PESTA(at)sabda.org >
Atau langsung mengisi Formulir Pendaftaran yang tersedia di Situs
PESTA Online di alamat:
==> http://www.pesta.org/formulir.php?jenis=kelas
Untuk mendownload bahan kursus:
==> http://www.pesta.org/kursus.php?modul=dik
<>------------------------------------------------------------------<>
Staf Redaksi : Ary, Puji, dan Endah
Berlangganan : Kirim email ke <subscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Berhenti : Kirim email ke <unsubscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Kirim bahan : Kirim email ke <staf-penulis(at)sabda.org>
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
<>------------------------------------------------------------------<>
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2006
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
<><-------------------------------oo-------------------------------><>
|