<>--------------------------------oo--------------------------------<>
< e-Penulis >
(Menulis untuk Melayani)
Edisi 015/Januari/2006
<>------------------------------------------------------------------<>
MENULIS BIOGRAFI
<>------------------------------------------------------------------<>
= DAFTAR ISI =
* Dari Redaksi: Tahun Baru dan Sejarah Hidup Kita
* Artikel : Penulis Biografi dan "Kejelasan Makna"
* Tips : Bagaimana Menulis Biografi
* Biografi : Soe Hok Gie; Tragedi Sang Idealis
* Asah Pena : Fakta-fakta Menarik dan Unik tentang C.S. Lewis
* Surat Anda : Ralat Pojok Bahasa e-Penulis Edisi 13
<>------------------------------------------------------------------<>
= DARI REDAKSI =
Salam kasih,
Momen tahun baru yang telah kita lewati tentu saja bukan sekedar
penanda berlalunya masa 365 hari dalam hidup kita. Awal tahun baru
merupakan masa yang banyak dimanfaatkan orang sebagai masa refleksi
dan intropeksi diri. Namun proses intropeksi itu tak akan cukup jika
kita melihat ke sejarah hidup diri sendiri saja. Melihat dari
pengalaman dan sejarah hidup orang lain, baik yang sekarang telah
menggapai kesuksesan maupun yang menukik gagal, adalah cara lain
bagi kita untuk banyak belajar.
Di dalam dunia penulisan kita mengenal adanya tulisan biografi atau
memoar yang berisi kisah hidup seseorang yang mewakili pesan-pesan
tertentu yang ingin disampaikan penulisnya. Nah, kejelasan pesan
atau makna dalam sebuah biografi itulah yang menjadi tema Artikel
e-Penulis kali ini. Selain itu Tips singkat tentang bagaimana
menulis biografi diharapkan dapat menjadi semacam panduan bagi Anda
sebelum menuliskannya.
Tak lupa kami mengumumkan bahwa mulai edisi tahun 2006 ini,
e-Penulis menghadirkan kolom baru bernama "Asah Pena". Dalam kolom
yang rencananya akan muncul bergantian dengan kolom "Pojok Kata"
(dulu bernama Pojok Bahasa) ini, akan disajikan berbagai fakta dan
kisah inspiratif tentang para penulis-penulis dunia yang diharapkan
dapat semakin menumbuhkan motivasi kita dalam melayani dan
membagikan kasih Tuhan lewat tulisan.
Selamat menulis!
Redaksi e-Penulis,
(Ary)
<>------------------------------------------------------------------<>
= ARTIKEL =
Penulis Biografi dan "Kejelasan Makna"
======================================
Marjorie Rawlings, penulis buku "The Yearling", pernah berkata,
"Jika seorang penulis biografi tak memiliki interpretasi yang jelas
untuk diberikan kepada pembaca, yang dapat membuat bukunya tersebut
menjadi karya yang kreatif, menarik dan dapat berdiri dengan
nilainya sendiri, saya hanya akan dibuat kesal saat membaca
informasi-informasi tak penting mengenai hidup dan pikiran seorang
tokoh. Hal itu seperti cacing yang menggerogoti sebuah bangkai
saja."
Kutipan ini menjadi dasar pijakan saya ketika menulis buku pertama
saya "Tomie dePaola, Seni dan Kisahnya" dan muncul lagi dalam
pikiran ketika saya mengerjakan "Virginia Lee Burton: Sebuah
Kehidupan dalam Seni". Saat saya sedang berada di antara wawancara,
penelitian, dan tulisan, kata-kata Rawling memberikan fokus pada
misi saya: untuk menemukan esensi kemanusiaan dalam setiap subyek
tokoh saya dan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari sekedar
kumpulan fakta dan karya seseorang. Untuk memperlihatkan "makna yang
jelas" seperti yang dimaksud oleh Rawling tadi, saya akan mencari
catatan-catatan hidup menarik, menelusuri kejadian-kejadian yang
membawa perubahan hidup, mengumpulkan berbagai informasi yang jarang
diketahui dan melakukan penelitian untuk memahami jiwa tiap subyek
saya.
Ada 4 langkah pendekatan yang selalu saya lakukan dalam menulis:
penelitian latar belakang, wawancara dan napak tilas ke tempat
kejadian, mengunjungi sumber-sumber yang bersejarah, dan melakukan
kajian lebih dalam dengan karya-karya sang artis.
Penelitian Latar Belakang
-------------------------
Untuk buku dePaola, lebih banyak lagi artikel terbaru, data diri dan
esai-esai biografi mengenai dirinya sangat membantu saya dalam
mengumpulkan pendapat dari para pustakawan, pengajar, kritikus dan
masyarakat umum. Sebagai seorang penulis kontemporer, karyanya
memerlukan analisa secara mendalam; di sini kritik selalu terlibat
di dalamnya. Membuat tulisan yang seimbang di antara berbagai
tanggapan tersebut adalah tantangan tersendiri bagi saya.
"Sebaliknya, karya saya tentang Virginia Lee Burton lebih lengkap
lagi. 8 buku yang pernah ia tulis, telah menyatakan dirinya sendiri
bertahun-tahun lalu; bukunya yang terakhir, "Life Story" diterbitkan
oleh Houghton Mifflin pada tahun 1962, sebelum ia meninggal pada
tahun 1968. Situasi ini memberikan tantangan tersendiri. Karena
dengan berlalunya waktu, karyanya akan lebih terbuka bagi lebih
banyak interpretasi, sementara kritik yang membangun juga lebih
banyak."
Wawancara
---------
Saya mengunjungi studio Tomie dePaola beberapa kali, dimana ia
membukakan file-file, buku-buku, karya-karya seni dan foto-foto
keluarganya pada saya. Yang lebih penting lagi, ia menyediakan waktu
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Meski saya juga menemui
editor dan teman-temannya, komentar yang ia buat untuk karyanya
sendiri adalah yang paling menarik. Untuk biografi Alm. Virginia Lee
Burton, saya harus bergantung pada pengamatan pihak kedua. Walau
pembicaraan dengan anak-anak, editor, kawan lama dan rekan-rekannya
memang membantu, saya tahu bahwa apa yang mereka sampaikan mungkin
sedikit banyak telah terkikis oleh waktu.
Sumber-sumber Bersejarah
------------------------
Banyak waktu berharga yang saya dapat saat berada di studio Tomie
dePaola untuk mempelajari bukunya serta tulisan-tulisannya. Tomie
dengan bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan
dengan teknik, pilihan media dan acuan artistik. Tulisan-tulisan dan
lukisan Virginia Burton tersebar di berbagai universitas dan
perpustakaan di banyak kota seluruh negara. Di sana saya sempat
takjub dengan lukisan asli karyanya, namun saya hanya dapat
berspekulasi mengenai berbagai perubahan, tanda serta berbagai versi
lukisannya yang pernah saya temukan.
Kajian Mendalam
---------------
Dalam kedua kasus ini, waktu yang saya lalui bersama buku-buku si
artis sangatlah memuaskan diri saya. Misalnya, saya mendapati bahwa
mengurutkan buku-buku sang artis secara kronologis dapat membawa
pemahaman baru mengenai perkembangan kepribadiannya sebagai artis.
Pemahaman baru juga muncul ketika saya mempelajari buku-buku itu
berdasar tema, inovasi artistik dan tekniknya.
Akhirnya, bahan yang saya perlukan sudah ada di tangan dan saya
sudah bisa mulai menulis. Karena ingin mengindari "info-info tak
penting" mengenai kehidupan dan pikiran si artis, saya berusaha
menampilkan sebuah kesatuan gambaran yang informatif dan membawa
pencerahan. Saat menunjukkan karya-karya sang artis sesuai dengan
konteks kehidupannya, dalam hati saya selalu terngiang sebuah
kalimat bahwa menulis biografi adalah untuk menciptakan sebuah
"makna yang jelas" bagi pembaca. (t/ary)
Bahan diterjemahkan dari:
Situs : http://www.cbcbooks.org/cbcmagazine/perspectives/writing_biography.html
Penulis : Barbara Elleman
<>------------------------------------------------------------------<>
= TIPS =
Bagaimana Menulis Biografi
==========================
Biografi, secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kisah
riwayat hidup seseorang. Biografi dapat berbentuk beberapa baris
kalimat saja, namun juga dapat berupa lebih dari satu buku.
Perbedaannya adalah, biografi singkat hanya memaparkan tentang
fakta-fakta dari kehidupan seseorang dan peran pentingnya sementara
biografi yang panjang meliputi, tentunya, informasi-informasi
penting namun dikisahkan dengan lebih mendetail dan tentunya
dituliskan dengan gaya bercerita yang baik.
Biografi menganalisa dan menerangkan kejadian-kejadian dalam hidup
seseorang. Lewat biografi, akan ditemukan hubungan, keterangan arti
dari tindakan tertentu atau misteri yang melingkupi hidup seseorang,
serta penjelasan mengenai tindakan dan perilaku hidupnya. Biografi
biasanya dapat bercerita tentang kehidupan seorang tokoh terkenal
atau tidak terkenal, namun demikian, biografi tentang orang biasa
akan menceritakan mengenai satu atau lebih tempat atau masa
tertentu. Biografi seringkali bercerita mengenai seorang tokoh
sejarah, namun tak jarang juga tentang orang yang masih hidup.
Banyak biografi ditulis secara kronologis. Beberapa periode waktu
tersebut dapat dikelompokkan berdasar tema-tema utama tertentu
(misalnya "masa-masa awal yang susah" atau "ambisi dan pencapaian").
Walau begitu, beberapa yang lain berfokus pada topik-topik atau
pencapaian tertentu.
Biografi memerlukan bahan-bahan utama dan bahan pendukung. Bahan
utama dapat berupa benda-benda seperti surat-surat, buku harian,
atau kliping koran. Sedangkan bahan-bahan pendukung biasanya berupa
biografi lain, buku-buku referensi atau sejarah yang memaparkan
peranan subyek biografi itu.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam menulis sebuah biografi antara
lain:
- Pilih seseorang yang menarik perhatian Anda.
- Temukan fakta-fakta utama mengenai kehidupan orang tersebut.
- Mulailah dengan ensiklopedia dan catatan waktu.
- Pikirkan, apa lagi yang perlu Anda ketahui mengenai orang itu,
bagian mana dari hidupnya yang ingin lebih banyak Anda tuliskan.
Beberapa pertanyaan yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan
misalnya:
1. Apa yang membuat orang ini istimewa atau menarik?
2. Dampak apa yang telah ia lakukan bagi dunia atau orang lain?
3. Kata sifat apa yang mungkin akan sering Anda gunakan untuk
menggambarkan orang ini?
4. Contoh apa yang dapat dilihat dari hidupnya yang menggambarkan
sifat tersebut?
5. Kejadian apa yang membentuk atau mengubah kehidupan orang itu?
6. Apakah ia mampu mengatasi rintangan tersebut? Apakah ia
mengatasinya dengan mengambil resiko? Atau dengan keberuntungan?
7. Apakah dunia akan menjadi lebih baik atau lebih buruk jika orang
ini tidak pernah hidup? Bagaimana bisa dan mengapa?
8. Lakukan juga penelitian lebih lanjut dengan bahan-bahan dari
perpustakaan atau internet untuk membantu Anda menjawab
pertanyaan-pertanyaan di atas serta supaya cerita Anda lebih
menarik. (t/ary)
Bahan diterjemahkan dari:
Situs : http://www.infoplease.com/homework/wsbiography.html
<>------------------------------------------------------------------<>
= BIOGRAFI =
Berikut adalah contoh biografi singkat mengenai sekelumit aspek
dalam hidup salah seorang pelaku sejarah Indonesia.
Soe Hok Gie: Tragedi Sang Idealis
=================================
Soe Hok Gie telah meninggalkan bangsa ini empat puluh tahun silam.
Tepatnya pada 15 Desember 1969. Namanya masih terus dikenang hingga
sekarang. Bahkan pernah menjadi sumber inspirasi gerakan mahasiswa
dasawarsa 70-80-an. Pamornya hampir tenggelam pada dasawarsa ini,
namun sebuah film tentangnya karya Riri Riza dengan judul GIE
mengangkat kembali namanya di pentas politik dan budaya bangsa ini.
Soe Hok Gie memang tidak pernah mati, setidaknya hingga saat ini.
Lahir dari sebuah keluarga Cina perantauan yang bersahaja, Soe Hok
Gie tumbuh menjadi manusia patriotis dan idealis serta punya jiwa
pemberontak. Tidak seperti kebanyakan etnis Cina di negeri ini yang
berkelimpahan materi dan karenanya menjadi materialis, Soe Hok Gie
jauh dari kesan seperti itu. Dia lebih mirip seorang filsuf
penganjur kebajikan. Cita-citanya sangat mulia: keadilan dan
idealisme di seluruh negeri Indonesia. Karena cita-citanya itu, ia
sering bergesekan dengan kelompok-keompok kepentingan di negeri ini
yang sangat marak di zaman Orde Lama. Bahkan dengan sang Proklamator
Indonesia, Bung Karno, dia bersikap sangat keras menentang
kebijakannya yang dianggap jauh dari keadilan. Soekarno dianggapnya
sebagai tokoh golongan tua yang korup dan borjuis serta tidak
mempedulikan nasib rakyat Indonesia. Kritik-kritik tajamnya terhadap
pemerintahan Soekarno banyak tersebar di media massa pada masa itu.
Tulisan-tulisannya jujur, kritis dan terkadang menyerang pihak
tertentu tanpa tedeng aling-aling. Namun di balik itu, dia seorang
yang humanis yang rendah hati. Bahkan penyayang binatang. Gaya
hidupnya sebagai mahasiswa fakultas sastra Universitas Indonesia
tahun 60-an sangat merakyat. Tidak pernah mengendarai motor atau
menyopir mobil sendiri. Kuliah kadang-kadang hanya memakai sandal
dan baju yang dipakainya jauh dari kesan modis. Hobinya adalah
mendaki gunung dan menonton film, hobi rakyat kebanyakan.
Kematiannya di penghujung dasawarsa 60-an tepatnya Desember 1969
mengejutkan banyak pihak. Dia terlalu muda untuk mati. Usianya baru
27 tahun. Segudang cita-cita dan idealismenya terbang bersama
hidupnya. Indonesia berduka karena kehilangan seorang intelektual
pejuang demokrasi yang pernah menghidupkan semangat perjuangan
menentang tirani Orde Lama. Dia mati dalam keadaan gelisah melihat
banyaknya penyimpangan dalam kehidupan bernegara di bawah rezim Orde
Baru yang baru saja berkuasa. Teman-teman seperjuangannya yang
tergabung dalam Angkatan 66 banyak menjadi pengkhianat Ampera dan
menjadi oportunis di pemerintahan Orde Baru Soeharto. Soe Hok Gie
gelisah karena praktik kehidupan bernegara menyimpang jauh dari
cita-cita perjuangan para demonstran Angkatan 1966. Militer telah
mengkhianati perjuangan para mahasiswa Angkatan 1966.
Orde Baru berkuasa di Indonesia selama 32 tahun dan selama itu pula
rakyat Indonesia hidup dalam penindasan rezim totaliter Orde Baru.
Soe Hok Gie telah pergi dan cita-citanya belum terwujud hingga saat
ini. Teman-teman seperjuangannya di Angkatan 1966 banyak yang
menjadi menteri atau pengusaha sukses yang banyak menikmati
fasilitas dari pemerintahan Soeharto. Cita-cita dan idealisme Soe
Hok Gie menjadi tragedi Angkatan 1966 karena tidak pernah terwujud
dan dikhianati oleh teman-teman seperjuangannya sendiri.
Bahan diambil dari:
Milis : #sastra-pembebasan# < sastra-pembebasan<at>yahoogroups.com >
Penulis : Tutus Handoyo
<>------------------------------------------------------------------<>
= ASAH PENA =
Meriahnya sambutan terhadap film "Chronicles of Narnia; the Lion,
the Witch and the Wardrobe" telah semakin membuat nama C.S. Lewis
(1898-1963) sebagai penulis kisah tersebut semakin banyak
dibicarakan. Di kalangan penulis Kristen, C.S. Lewis barangkali bisa
dibilang sebagai penulis Kristen paling terkenal di zaman modern
ini, namun barangkali tak banyak orang yang mengetahui beberapa sisi
unik dari hidup seorang C.S. Lewis. Berikut beberapa di antaranya.
Fakta-fakta Menarik dan Unik tentang C.S. Lewis
===============================================
Jago menulis berbagai genre
---------------------------
Clive Staples (juga biasa dipanggil Jack) Lewis barangkali adalah
pengarang yang paling tenar, karyanya paling banyak dibaca dan
paling sering disebut di dunia literatur Kristen modern ini.
Sepanjang tahun 1931-1962 ia telah menuliskan 34 buku, belum
termasuk yang diterbitkan setelah kematiannya. Bakat menulisnya juga
bisa disimak dalam berbagai genre tulisan seperti puisi (Dymer),
novel mitos (The Pilgrim`s Regress), teologi populer (Mere
Christianity), filsafat (The Abolition of Man), fiksi luar angkasa
(The Ransom Trilogy), dongeng anak-anak (The Chronicles of Narnia),
legenda yang diceritakan kembali (Till We Have Faces), kritik sastra
(The Discarded Image), surat (Letters to Malcolm) dan otobiografi
(Surprised by Joy). Walau menulis dalam bermacam genre, pesan dan
pokok pikiran Lewis selalu konsisten ada di setiap tulisannnya.
Komunitas
---------
Sepanjang pertengahan tahun 1930-an sampai akhir 1940-an, setiap
hari Selasa dan Kamis, Lewis selalu mengadakan pertemuan dengan
sesama rekan penulisnya untuk minum bir dan mengobrol sambil
mengkritisi tulisan masing-masing. Pertemuan yang dinamai "The
Inklinks" itu melibatkan penulis-penulis seperti J.R.R. Tolkien,
Charles Williams, dan saudara Lewis sendiri, Warnie. Dalam diarinya
Warnie pernah menulis "Kami bukan orang-orang yang selalu saling
memuji satu sama lain. Membacakan karya di depan kelompok The
Inklinks membutuhkan keberanian tersendiri." Karya-karya yang turut
ditempa oleh kritik dari para sahabat di Inklinks antara lain adalah
The Screwtape Letters, Narnia, dan The Hobbit. "Namun selama
keberadaan Lewis," seperti yang dikatakan Tolkien pada Clyde Kilby
pada tahun 1965, "Saya rasa saya belum sempat menyelesaikan atau
memperlihatkan The Lord of The Rings kepadanya."
Pikiran untuk hal-hal yang lebih tinggi
---------------------------------------
Owen Barfield, salah satu teman dekat Lewis, dimana ia
mempersembahkan buku "The Allegory of Love" kepadanya adalah juga
pengacaranya. Suatu saat Lewis menyuruh Barfield untuk mendirikan
sebuah badan amal ("The Agape Fund") yang didanai oleh hasil
penjualan bukunya. Diperkirakan 90 persen dari pendapatan Lewis
disalurkan kepada badan amal itu. Kemurahan hatinya ini bertentangan
dengan pendapat George Sayer yang mengatakan bahwa Lewis mewarisi
sifat ayahnya yang `takut bangkrut`, dan bahwa ayah dan anak itu
`paling enggan menginvestasikan uangnya.` Tukang kebun Lewis yaitu
Fred Paxford (yang menjadi inspirasi karakter Puddlegum dalam buku
The Silver Chair), mendapati bahwa dalam wasiatnya, Lewis hanya
mewariskan uang senilai 100 pounds. "Hmm, memang sepertinya jumlah
itu tak akan mampu membawa saya kemana-mana ya?" komentar Paxford.
"Tuan Jack", lanjutnya "Dia memang tak pernah banyak memikirkan
tentang uang. Pikirannya selalu untuk hal-hal yang lebih tinggi
lagi."
Jarang bicara blak-blakan
-------------------------
Lewis menulis buku "Surprised by Joy" (1955) untuk menerangkan
sebagian dari pengaruh masa kecilnya terhadap tulisan dan
pertobatannya. Dokter pribadi sekaligus rekannya dalam komunitas
Inklink, Robert E. Havard mengatakan bahwa buku itu seharusnya
diberi judul "Yang tak terucapkan dari Jack" karena sebelumnya Lewis
sangat jarang menceritakan tentang kisah hidupnya.
Panggil saya si "Pantat babi kecil"
----------------------------------
Lewis sering memberi nama julukan. Dia dan saudaranya Warnie selalu
memanggil satu sama lain "Smallpigiebotham atau SPB" (si pantat babi
kecil) dan "Archpigiebotham atau APB" (si pantat babi lancip) karena
mengingat pengasuh mereka yang sering memukul "pantat babi" mereka
waktu kecil. Bahkan setelah kematian Lewis, Warnie masih memanggil
dia dengan sebutan "SPB-ku terkasih." Mereka juga menjuluki Albert,
ayah mereka dengan sebutan "Pudaitabird" karena aksen Irlandianya
ketika menyebut kentang (potato). Tolkien disebut "Tollers," Ny.
Moore disebut "Minto," dan dokter Lewis, Robert E. Havard biasa ia
panggil "Humprey" namun kadang juga "The Useless Quack atau U.Q
(pembual tak berguna)." Lewis juga menjuluki rekannya A.C. Harwood
"The Lord of the Walks (Dewa Pejalan)" karena gaya berjalannya.
Novelis yang berkembang
-----------------------
Sebagai anak yang tumbuh di Belfast, Irlandia, ketika hari hujan
Lewis dan Warnie menghabiskan banyak waktunya di dalam rumah untuk
mengarang-ngarang cerita. "Jacks" atau "Jack", sebagaimana ia
menyebut dirinya sendiri sejak usia 3 tahun, menggambar untuk
membuat ilustrasi cerita tentang hewan-hewan yang bisa bicara, yang
idenya banyak diambil dari cerita-cerita karya Beatrix Potter,
Kenneth Graham dan kisah-kisah kepahlawanan para ksatria. Cerita-
ceritanya kelak menjadi bagian dari imajinasi yang lebih luas dari
saudaranya tentang dunia "Boxen." Dialog-dialog antar karakter
cerita mereka biasanya memuat pembicaraan orang dewasa yang sering
mereka dengar -- biasanya tentang politik. Lewis pernah menulis
mengenai perbandingan kisah-kisah masa kanak-kanaknya tersebut
dengan cerita Narnia: "Kisah `Animal Land` tidak ada hubungannya
dengan Narnia selain kesamaan adanya hewan yang bertingkah seperti
manusia. Kisah Animal Land, dengan segala kelebihan kekurangannya,
tidak banyak memberikan rasa ketakjuban." Walau demikian, dia juga
berkomentar bahwa "Dengan menciptakan dan mengarang Animal Land,
saya sedang melatih diri untuk menjadi novelis."
Menggambar Narnia
-----------------
Lewis sebenarnya ingin menggambar sendiri ilustrasi dalam buku
Narnia, namun ia kemudian memutuskan bahwa sepertinya ia tak punya
cukup kemampuan dan waktu untuk melakukannya. Karenanya, ia memilih
seorang seniman muda, Pauline Baynes, yang juga telah menggambar
ilustrasi untuk kisah "Farmer Giles of Ham" karangan J.R.R. Tolkien
pada tahun 1948. Lewis tak pernah benar-benar puas dengan cara
Baynes menggambar anak-anak dan binatang, walaupun ia tetap memuji
bagian yang memang layak dipuji. "Dia tak bisa menggambar singa,"
katanya pada George Sayer, "namun dia sangatlah baik, cantik dan
sensitif sehingga saya tak tega mengatakan hal ini kepadanya."
Ketika "The Last Battle" memenangkan penghargaan Carnegie untuk
kategori buku anak-anak terbaik di tahun 1956, Baynes menulis surat
pada Lewis untuk menyelamatinya. Dan Lewis menjawab, "Bukankah ini
penghargaan untuk kita berdua?"
Lewis dan gedung bioskop
------------------------
Pada tahun 1933, Lewis menulis surat untuk temannya Arthur Greeves:
"Kau akan terkejut kalau mendengar bahwa aku mau pergi ke bioskop
lagi! Jangan takut, ini tak akan menjadi satu kebiasaan." Di luar
keberatannya dengan bioskop, ia memang kadang-kadang masih pergi ke
sana. Film King Kong menimbulkan beragam reaksi: "Saya rasa sebagian
dari film itu (terutama ketika para penduduk asli memberi sambutan
setelah ia merusak jembatan) sangatlah menakjubkan," komentarnya
pada kawannya yang menulis cerita itu, "namun bagian ketika di New
York itu tidak saya sukai."
Apologetis dan evangelis
------------------------
Pada tahun 1955, C.S. Lewis diundang untuk bertemu Billy Graham,
yang memimpin sebuah misi yang disponsori oleh Cambridge Inter-
Collegiate Christian Union. Graham mengenang pertemuan itu dengan
mengatakan: "Saya merasa bahwa dia bukan hanya sosok yang pintar dan
ceria namun juga lembut dan penuh syukur; dia terlihat sangat
tertarik dengan pertemuan (misi) kami. `Anda tahu,` katanya saat
kami akan berpisah, `Anda mungkin banyak dikritik, namun saya belum
pernah melihat ada di antara kritikus itu yang benar-benar mengenal
Anda secara pribadi`."
Penggemar bertemu penggemar
---------------------------
Ketika Lewis mengirimkan naskah "The Allegory of Love" ke penerbit
Oxford`s Clarendon Press, naskah itu diberikan kepada Charles
Williams untuk dianalisa. Waktu itu Lewis dan Williams masih belum
mengenal satu sama lain, namun Lewis baru saja membaca novel
Williams "The Place of the Lion." Williams sedang menuliskan surat
pada Lewis ketika ia menerima surat dari Lewis yang memuji novelnya.
Surat Williams pada Lewis sendiri mengatakan bahwa Allegory of Love
"praktis adalah satu-satunya karya sejak masa Dante yang mampu
menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang makna tak biasa dari
cinta dan agama."
Melintasi perbedaan
-------------------
Banyak orang yang membaca buku pertama Lewis setelah bertobat "The
Pilgrim`s Regress", mengira bahwa ia adalah seorang Katolik, apalagi
kenyataannya edisi kedua buku ini diterbitkan oleh sebuah penerbit
Katolik. Lewis juga menyatakan pada tahun 1940 bahwa "2 orang (Dom
Bede Griffiths dan George Sayer) karena pengaruh saya juga bertobat
menjadi Katolik!" Popularitas dan pengaruh yang ia miliki di antara
orang Katolik juga tetap muncul hingga kini. Paus Yohanes Paulus II
pernah mengatakan bahwa "The Four Loves" adalah salah satu buku
favoritnya.
Penyair dari Oxford
-------------------
Sampai usia 30-an, Lewis berkeinginan menjadi penyair. Berlawanan
dengan munculnya arus penyair-penyair modernis seperti T.S. Elliot,
Lewis memilih menulis puisi-puisinya dengan gaya campuran.
Tulisannya dalam "Till We Have Faces" yang menceritakan ulang
legenda Cupid dan Psyche dimulai dengan gaya penulisan puisi sebelum
lama kelamaan berubah membawa kesan sebagai novel.
Bukan sebuah perumpamaan namun "sebuah misal"
---------------------------------------------
Tolkien tidak begitu menyukai sebagian kisah Narnia karena ia merasa
bahwa makna kekristenannya terlalu jelas, namun Lewis bersikeras
bahwa ia tidak sedang menulis perumpamaan dalam arti kata yang kaku.
Dalam suratnya, Lewis menjelaskan bahwa Aslan tidak dimaksudkan
untuk "mewakili" karakter Yesus dalam arti sederhana: "Mari kita
bayangkan seandainya ada dunia seperti Narnia, bahwa Anak Allah,
yang menjadi manusia di dunia, kemudian menjadi singa di sana,
bayangkan apa yang akan terjadi kemudian." (t/ary)
Bahan diterjemahkan dari sumber:
Situs : http://www.christianitytoday.com/ch/2005/004/2.02.html
Penulis : Robert Trexler dan Jennifer Trafton
<>------------------------------------------------------------------<>
= SURAT ANDA =
Dari: P.C. Wattimena < pcw (at) ...>
>Salam Sejahtera,
>e-Penulis edisi 13 (23-11-2005)
>POJOK BAHASA
> EYD DAN SUSAHNYA BERBAHASA INDONESIA
>
>Dalam kolom di atas terdapat penulisan "bagaimana pun"
>-----
>Tanggapan:
>"bagaimana pun" seharusnya ditulis "bagaimanapun".
>(Sumber: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen
>Pendidikan Nasional Republik Indonesia dan Kamus Besar Bahasa
>Indonesia).
>
>Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
>Misalnya: apa pun; ini pun; itu pun; adik pun; bapak pun; seorang
>pun; kami pun; dia pun; engkau pun; mereka pun; saya pun;
>siapa pun; iblis pun; pulang pun; satu kali pun; kecuali yang
>lazim dianggap padu, misalnya: adapun, andaipun, ataupun,
>bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun,
>sekalipun, sungguhpun, dan walaupun, yang harus ditulis serangkai.
>
>Maaf kalau kami sendiri yang keliru.
>
>Wassalam,
>P.C. Wattimena
Redaksi:
Yth. Sdr. P.C. Wattimena,
Anda benar. Terima kasih banyak atas koreksi yang Anda berikan.
Semoga di lain waktu kami bisa lebih teliti, konsisten dan selektif
dalam mengedit. Kami tunggu kritik dan saran lainnya untuk
perkembangan pelayanan publikasi e-Penulis dan kemajuan pelayanan
literatur Kristen Indonesia pada umumnya.
[Dengan dimuatnya surat di atas, maka kiranya dapat dipakai sebagai
ralat untuk Kolom Pojok Bahasa di Publikasi e-Penulis Edisi 13
(23-11-2005).]
<>------------------------------------------------------------------<>
Staf Redaksi : Ary, Hardhono, Puji, dan Endah
Berlangganan : Kirim email ke <subscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Berhenti : Kirim email ke <unsubscribe-i-kan-penulis(at)xc.org>
Kirim bahan : Kirim email ke <staf-penulis(at)sabda.org>
Arsip e-Penulis: http://www.sabda.org/publikasi/e-penulis/
Situs CWC : http://www.ylsa.org/cwc/
<>------------------------------------------------------------------<>
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Penulis 2006
YLSA -- http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
<><-------------------------------oo-------------------------------><>
|