Edisi Desember 2007
==================================**==================================
Milis Publikasi e-LEADERSHIP
****
Topik: Inisiatif
==================================**==================================
MENU SAJI
EDITORIAL : Inisiatif
ARTIKEL NATAL : Kepemimpinan Ala Bintang dari Timur
ARTIKEL 1 : Inisiatif: Kunci Sukses Seorang Pemimpin
ARTIKEL 2 : Inisiatif: Tanpanya, Anda Takkan ke Mana-mana
INSPIRASI : Tuhan, Jadikan Aku Seperti Petrus
STOP PRESS : Undangan untuk Merayakan Ulang Tahun
e-Leadership
==================================**==================================
EDITORIAL
-*- INISIATIF -*-
Anda tentu pernah mendengar kisah tokoh-tokoh besar yang mengubah
dunia, bukan? Martin Luther yang menjadi penggerak arus reformasi;
Johann Gutenberg yang menghadirkan revolusi dalam dunia literatur di
Eropa dengan mesin cetaknya; Eleanor Roosevelt yang berjasa besar
dalam mencetuskan Universal Declaration of Human Rights; dan masih
banyak yang lainnya. Masing-masing mereka bergerak dengan inisiatif
untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik.
Inisiatif yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh tersebut merupakan hal
terpenting yang juga perlu dimiliki oleh seorang pemimpin. Meskipun
seseorang memiliki berbagai karakter kepemimpinan, tapi tanpa
inisiatif, seorang pemimpin akan sulit untuk mengembangkan dirinya,
apalagi pengikutnya. Sebaliknya, inisiatif pulalah yang akan
menjadikan seorang pemimpin sebagai panutan. Dan karena
topik ini tak kalah pentingnya dibandingkan topik-topik yang sudah
diangkat sepanjang tahun ini, Redaksi berinisiatif menghadirkan
sejumlah artikel yang tidak hanya membantu Anda mengenal lebih dalam
makna inisiatif dalam kepemimpinan, tapi juga memberi inspirasi
untuk berinisiatif.
Dalam rangka menyambut Natal, Redaksi juga menyiapkan sebuah tulisan
pendek mengenai kepemimpinan dari peristiwa Natal yang terjadi lebih
dari dua ribu tahun lalu. Lalu karena kita juga akan mengakhiri
tahun 2007, kami berharap persembahan penutup pada tahun 2007 ini
dapat berguna dan memberkati Anda sekalian, sebagaimana
sajian-sajian terdahulu.
Selamat Natal 2007 dan selamat menyambut Tahun Baru 2008, Tuhan
memberkati.
Redaksi Tamu e-Leadership,
R.S. Kurnia
Tetapi orang yang berbudi luhur merancang hal-hal yang luhur,
dan ia selalu bertindak demikian. (Yesaya 32:8)
< http://sabdaweb.sabda.org/?p=Yesaya+32:8 >
==================================**==================================
I HAD RATHER DO AND NOT PROMISE THAN PROMISE AND NOT DO.
(Arthur Warmick)
==================================**==================================
ARTIKEL NATAL
-*- KEPEMIMPINAN ALA BINTANG DARI TIMUR -*-
Oleh: Dian Pradana
Natal adalah sebuah momen yang penting; momen di mana kita sekali
lagi diingatkan bahwa seorang bayi telah lahir, seorang bayi yang
menjadi Juru Selamat bagi kita semua.
Seperti kita lihat pada umumnya, ada banyak cara untuk memperingati
momen spesial ini. Sebut saja pementasan drama natal yang diadakan
di gereja-gereja dan sekolah minggu, ibadah Natal, atau bahkan
permainan-permainan yang berhubungan dengan kelahiran Yesus. Semua
itu diadakan dan dijalankan setiap tahun untuk memeriahkan suasana
Natal, terkhusus untuk kembali menghayati apa makna Natal
sebenarnya.
Terlebih daripada itu semua, sebenarnya ada suatu teladan
kepemimpinan yang dapat kita ambil dan pelajari dari apa yang
terjadi lebih dari dua ribu tahun yang lalu saat Yesus lahir.
Jika sekarang Anda ditanya ingin menjadi apa saat Tuhan Yesus lahir
(Natal pertama), apakah jawaban Anda? Tentu ada banyak pilihan
jawaban atas pertanyaan ini. Jawaban Anda pun pasti berbeda dengan
jawaban orang lain. Anda bisa saja menjawab pertanyaan itu dengan
jawaban seperti Maria, Yusuf, orang Majus dari Timur, para gembala,
kandang domba, dan hal-hal lain yang menyertai saat Yesus lahir.
Tentunya ada alasan tersendiri dalam memilih salah satu jawaban
tersebut. Namun, saya akan memilih menjadi bintang; bintang yang ada
saat Yesus lahir dan menjadi penuntun bagi para orang Majus dari
Timur kepada Juru Selamat (Mat. 2:1-12).
Alasannya, ada teladan kepemimpinan dalam peran yang dilakonkan oleh
bintang tersebut. Setidaknya, ada dua teladan kepemimpinan yang
diperlihatkannya.
1. BINTANG ITU BERSINAR TERANG
Alkitab memang tidak menyebutkan bahwa bintang itu bersinar
terang. Namun, marilah kita sedikit berlogika. Orang-orang Majus
bisa melihat bintang itu karena bintang itu bersinar terang. Jika
tidak demikian, bagaimana mungkin orang-orang Majus itu bisa
melihatnya dan menjadikannya sebagai penuntun?
Dalam hal ini, kita bisa meneladani terang yang dipancarkan oleh
bintang tersebut. Saat kita bersinar terang, kita akan menjadi
panutan dan penuntun bagi sesama kita. Nah, bagaimanakan kita
bisa memancarkan terang sehingga kita dapat menjadi seorang
pemimpin yang dapat menuntun orang lain? Jawabannya mudah. Terang
akan secara otomatis bersinar jika kita memperlihatkan
pikiran-pikiran dan perilaku-perilaku yang seharusnya dimiliki
oleh seorang pemimpin: memiliki kredibilitas, komitmen,
integritas, kompetensi, kerendahan hati, kedisiplinan, pikiran
positif, dan keberanian untuk berinisiatif.
Memang tidak mudah untuk dapat memiliki semua karakter tersebut,
bahkan pada faktanya, tidak mungkin kita dapat memiliki semua
karakter tersebut sekaligus. Namun, kepemilikan salah satu
karakter tersebut sudah dapat menjadikan Anda sebagai panutan;
sebagai seorang yang diikuti dan diteladani. Anda tidak perlu
menjadi orang yang populer dan sukses terlebih dahulu agar
diikuti. Saat Anda mulai mempraktikkan dan menerapkan salah satu
karakter tersebut dalam hidup dan lingkungan Anda, orang lain
akan mengerti bahwa Anda layak diikuti dan dijadikan panutan.
Seperti yang Albert Einsten katakan: "Try not to become a man of
success but rather try to become a man of value." Berusahalah
bukan untuk menjadi orang yang sukses, namun orang yang bernilai.
2. BINTANG ITU MENUNTUN KEPADA KEBENARAN
Matius 2:9 menyebutkan, "Setelah mendengar kata-kata raja itu,
berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di
Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas
tempat, di mana Anak itu berada." Jelas sekali dikatakan di ayat
tersebut bahwa bintang itu membawa orang-orang Majus kepada
Kebenaran Sejati; Yesus Kristus.
Demikian juga sebaiknya kita bersikap seperti bintang itu. Saat
kita menjadi pemimpin dan panutan bagi orang lain yang mengikuti
kita, kita tidak boleh membawa mereka pada jalan yang salah.
Sebaliknya, kita harus membawa mereka kepada kebenaran. Hikmat
bijaksana diperlukan untuk menuntun orang lain menuju kepada
kebenaran. Dan hikmat bijaksana itu dapat diperoleh dengan
mendekatkan diri kepada Tuhan, baik dengan berkomunikasi melalui
doa maupun dengan tekun mendalami firman-Nya. "Karena Tuhanlah
yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan
kepandaian" (Ams. 2:6).
Saat Anda mampu membawa orang-orang yang Anda pimpin menuju
kepada kebenaran, Anda akan membawa mereka kepada sebuah
kebahagiaan dan sukacita, seperti halnya orang-orang Majus yang
bersukacita saat mereka menemukan kebenaran yang sejati (Mat.
2:10).
Nah, bagaimana dengan Anda, Apakah Anda telah atau siap menjadi
bintang dari Timur yang memancarkan terang dan menuntun orang-orang
pada kebenaran sejati?
==================================**==================================
ARTIKEL 1
-*- INISIATIF: KUNCI SUKSES SEORANG PEMIMPIN -*-
Salah satu faktor yang menentukan sebuah kesuksesan adalah
inisiatif. Seorang pemimpin yang berinisiatif tidak akan menunggu
sampai sesuatu terjadi; ia ikut andil dalam membuat sesuatu terjadi.
Ia tidak tinggal diam, melainkan melakukan sesuatu. Itulah salah
satu alasan mengapa beberapa orang memilih untuk mengikuti pemimpin.
Salah satu nilai penting yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah
inisiatif.
Dalam Alkitab, terdapat banyak sekali contoh orang yang berinisiatif
dalam menuntaskan tujuan Allah dalam hidup mereka. Misalnya, Daud
memilih Yoab sebagai jendral karena ia memiliki inisiatif. "Daud
telah berkata: `Siapa lebih dahulu memukul kalah orang Yebus, ia
akan menjadi kepala dan pemimpin.` Lalu Yoab, anak Zeruya, yang
menyerang lebih dahulu, maka ia menjadi kepala." (1Taw. 11:6).
Yesaya juga berinisiatif untuk memberitakan Injil kepada
generasinya. "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: `Siapakah yang
akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?` Maka sahutku:
`Ini aku, utuslah aku!`" (Yes. 6:8).
Inisiatif jelas merupakan sebuah kualitas dasar kepemimpinan.
Bayangkan jika ada sebuah badai salju di malam sebuah persekutuan
doa. Beberapa orang yang beriman datang ke gereja, membuka pintu
gereja, menyalakan lampu, dan menunggu pendetanya datang. Tanpa
sepengetahuan mereka, ternyata pendetanya terhambat oleh badai salju
dan berusaha keras agar mobilnya dapat bergerak. Ia meminjam sekop
dan menggali salju yang menutupi roda-roda mobilnya. Ia minta tolong
dua anak muda untuk membantu mendorong mobilnya, namun tak berhasil
jua. Mobilnya tak bergerak, dan ia semakin terlambat.
Sementara itu, di gereja orang-orang bertanya-tanya apa gerangan
yang terjadi pada pendeta mereka, dan duduk melingkar menunggu
persekutuan doa dimulai. Akhirnya, salah satu dari orang-orang itu
berdiri dan mengusulkan untuk menaikkan satu atau dua lagu pujian
sambil mereka menunggu. Ia pun kemudian memimpin pujian. Dalam
ilustrasi itu, tidak penting apakah orang itu pernah memimpin pujian
sebelumnya atau tidak; ia telah menjadi pemimpin saat itu. Ia
mungkin saja tidak kompeten dalam memimpin pujian. Ia juga mungkin
tidak tahu bagaimana memimpin pujian. Dengan mengambil inisiatif
untuk berdiri saja, ia sudah menjadi seorang pemimpin. Tidak peduli
ia memimpin pujian dengan baik atau dengan buruk, ia adalah
pemimpinnya. Inisiatif adalah salah satu tanggung jawab besar dalam
kepemimpinan.
Tentu saja, setiap orang Kristen harus berinisiatif dalam melayani
Tuhan. Tokoh-tokoh Alkitab yang tidak pernah dikenal sebagai
pemimpin, sangat diberkati dan dipakai Tuhan hanya karena mereka
melayani Tuhan secara spontan.
Ribka menjadi suami Ishak dan "ibu jutaan orang" karena ia
berinisiatif untuk melayani pelayan Abraham. Ia menawarkan air yang
ada di buyung, tidak hanya untuk pelayan Abraham, tapi juga untuk
onta-ontanya, yang dilakukannya adalah sebuah pekerjaan besar; dan
sikapnya itu membuatnya menjadi istri pilihan bagi Ishak (lihat Kej.
24:14-21).
Seorang bocah laki-laki memiliki peran penting dalam sebuah mujizat
besar karena ia berinisiatif menawarkan makan siangnya untuk
membantu memberi makan banyak orang yang kelaparan (lihat Yoh.
6:9-11).
Namun, teladan terbesar dalam Injil adalah Allah sendiri. "Simon
telah menceritakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya
kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari
antara mereka bagi nama-Nya" (Kis. 15:14). Jika Allah diam saja,
bangsa-bangsa itu tidak akan datang kepada-Nya, jadi Tuhan mengambil
inisiatif. "Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena
Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Rm. 5:8).
Mengambil inisiatif adalah sebuah karakter yang ilahi.
Pemimpin harus siap untuk berinisiatif di banyak bidang. Salah
satunya adalah dalam bidang pelayanan. Rasul Paulus memperlihatkan
hal tersebut dengan jelas. Kapal yang ditumpanginya menuju Roma
terdampar di Pulau Malta. Penduduk asli pulau itu ramah, "Mereka
menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah
mulai turun hujan dan hawanya dingin. Ketika Paulus memungut
seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah
seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit
tangannya" (Kis. 28:2-3). Di sini Paulus, seorang yang lebih tua,
mencari kayu untuk yang lainnya. Tidak diragukan lagi bahwa ia juga
sama lelahnya seperti yang lain, namun ia berinisiatif untuk
melayani yang lain, seperti yang Kristus telah lakukan saat Ia
menjadi manusia.
Pembimbing kelas Alkitab remaja di kota kami, seorang pemuda bernama
Mark Sulcer, adalah orang yang spesial. Ia mengantar para remaja ke
gereja dan acara-acara sekolah dengan mobilnya. Ia kemudian
membimbing mereka di kelas Alkitab. Ia selalu ada bagi para remaja
itu siang dan malam. Saya dapat melihat bahwa para remaja itu belum
pernah bertemu orang sepertinya dan sangat terkesan.
Ketika Natal tiba, dua remaja berencana memberi Mark sebuah hadiah.
Diam-diam mereka pergi ke pusat perbelanjaan dan mengatur semuanya.
Saat malam Natal, mereka memberikan hadiah yang telah mereka
persiapkan kepada Mark. Ia membuka kotak hadiah dan menemui sebuah
cangkir perak dengan tulisan: "Untuk pelayan teragung kedua di
dunia".
Teladan dan hidup Mark tertular kepada murid-muridnya dan memberikan
suatu pertumbuhan di daerahnya. Inisiatifnya berbuah.
Cara kedua mengambil inisiatif adalah mengambil langkah awal
rekonsiliasi. Ada dua contoh jelas dalam Alkitab mengenai hal ini.
"Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah
dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu
terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan
pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk
mempersembahkan persembahanmu itu" (Mat. 5:23-24). "Apabila
saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia
mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali" (Mat.
18:15). Jika Anda menyinggung saudara Anda dan Tuhan mengingatkan
Anda akan hal itu, Anda harus berinisiatif untuk mencari dan
kemudian meminta maaf kepadanya. Jika sebaliknya, seseorang
menyinggung Anda, Anda tetap harus berinisiatif untuk menemuinya dan
meluruskan masalahnya. Dalam kedua situasi itu, Anda harus menjadi
orang pertama pertama mengambil inisiatif!
Tentu saja hal itu adalah salah satu hal yang paling sulit untuk
dilakukan. Apalagi jika yang harus melakukannya adalah seorang
pemimpin. Beberapa misionaris bercerita kepadaku tentang perjuangan
mereka untuk melakukan hal itu selama mereka berada di ladang misi.
Gengsi adalah halangan terbesar. Saat mereka mau mengesampingkan
gengsi mereka dan mengambil inisiatif, Tuhan memberi mereka
sukacita, kelegaan, dan berkat.
Salah satu taktik setan adalah membuat pemimpin bepikir bahwa jika
ia merendahkan hatinya dan menghampiri bawahannya untuk meminta maaf
atau meluruskan masalah, bawahan itu akan memandang rendah dirinya.
Namun, hal seperti itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Saat
pemimpin mau merendahkan hatinya dan mengambil inisiatif, pemimpin
telah melakukan hal yang terbaik, dan orang lain tahu itu. Biasanya,
pemimpin yang seperti itu akan memiliki pengikut setia, sahabat, dan
penolong yang setia dalam pekerjaan.
Bidang ketiga di mana kita bisa berinisiatif adalah saat kita
mencari pengetahuan. "Rancangan di dalam hati manusia itu seperti
air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya" (Mzm.
20:5). Pekerjaan seorang pemimpin itu kompleks dan ia tidak mungkin
tahu semuanya. Maka dari itu, ia harus mencari orang yang pandai dan
belajar dari mereka.
Lagi-lagi, gengsilah yang menjadi penghalang. Saya ingat hal seperti
ini pernah saya alami. Saya dipindahtugaskan dari ladang misi ke
sekretariat pusat organisasi misi. Saya tidak berpengalaman bekerja
di sekretariat pusat, jadi saya tidak yakin akan sanggup. Saya ada
dalam sebuah rapat komite yang mendiskusikan hal yang tak banyak
saya ketahui. Namun, saya ragu untuk mengakuinya dan bertanya. Saya
pikir orang-orang yang di sana mengira saya adalah orang yang
pandai. Saya sangat yakin pada saat itu bahwa bertanya hanya akan
membuat saya tampak bodoh. Jadi, saya tidak bertanya.
Dari waktu ke waktu, saya terus diundang ke pertemuan komite
keuangan. Setelah berbulan-bulan, saya baru menyadari bahwa saat
mereka mengatakan I.R.S., mereka sedang membicarakan orang-orang
pajak! Bayangkan saja, peran saya pasti penting dalam komite itu.
Seandainya dari dulu saya mengesampingkan gengsi saya dan
berinisiatif untuk bertanya, saya mungkin dapat lebih berguna.
Pemimpin tidak boleh melakukan hal seperti yang saya lakukan.
Pemimpin harus mengesampingkan gengsi dan dengan aktif mencari
informasi yang ia butuhkan untuk dapat mengerjakan tugasnya dengan
baik. Ia harus bertanya. Ia harus mau belajar dari orang lain.
Inisiatif diartikan sebagai semangat yang dibutuhkan untuk memulai
sesuatu. Bagaimana seorang pemimpin bisa mendapatkan semangat
seperti itu? Bagaimana seseorang bisa menjadi seseorang yang memulai
sesuatu? Satu-satunya hal yang dapat ia lakukan hanyalah melatih
dirinya untuk berpikir ke depan. Seorang pemimpin digambarkan
sebagai seseorang yang melihat lebih banyak, melihat lebih jauh
daripada orang lain, dan mereka juga melihat sesuatu sebelum orang
lain melihatnya.
Jika seseorang melatih dirinya untuk berpikir ke depan, ia akan
mendapat dua dampak positif bagi pekerjaannya. Pertama, ia akan
terhindar dari masalah. Ia akan menghindari perangkap dan lubang
dalam jalannya. Ia dapat bertanya kepada dirinya sendiri, "Jika kita
melakukan hal itu, apa yang akan terjadi? Lalu, apa hasilnya? Saat
kita melakukan hal itu, apakah yang kita lakukan akan menghasilkan
sesuatu yang kita harapkan? Jika tidak, lebih baik kita tidak usah
melakukannya." Kedua, dengan berpikir ke depan, seseorang dapat
menentukan tujuannya dan kelompoknya. Ia kemudian dapat
menimbang-nimbang cara terbaik untuk meraih tujuannya itu dan mulai
bertindak untuk mencapai tujuan.
Semua itu harus diiringi dengan doa dan pembacaan firman Tuhan. Jika
tidak, seorang pemimpin mungkin saja dipimpin oleh pemahamannya
sendiri atau merencanakan sesuatu menggunakan hikmat duniawi sebagai
penuntunnya. Pemimpin harus ingat bahwa kebenaran itu ada pada Yesus
Kristus. Buku-buku manajemen kepemimpinan sekular memang membantu,
namun sumber dasar kita adalah Allah. "Sebab yang bodoh dari Allah
lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah
lebih kuat dari pada manusia" (1Kor. 1:25). (t/Dian)
Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
Judul buku: Be The Leader You Were Meant To Be
Judul bab : Why Some Leaders Excel
Penulis : LeRoy Eims
Penerbit : SP Publications, Inc., Illinois 1975
Halaman : 52 -- 56
==================================**==================================
ARTIKEL 2
-*- INISIATIF: TANPANYA, ANDA TAKKAN KE MANA-MANA -*-
Dalam buku 21 Hukum Kepemimpinan Sejati, saya tunjukkan bahwa para
pemimpin itu bertanggung jawab untuk menginisiatifkan hubungan
dengan para pengikutnya. Namun, bukan hanya dalam bidang itu saja
para pemimpin harus memperlihatkan inisiatif. Mereka harus selalu
mencari peluang dan siap mengambil tindakan.
Kualitas apakah yang dimiliki para pemimpin, yang memungkinkan
mereka membuat segalanya menjadi kenyataan? Setidaknya, saya lihat
ada empat.
1. Mereka Tahu Apa yang Mereka Inginkan
Pemain piano yang senang humor, yaitu Oscar Levant, pernah bergurau,
"Begitu sudah mengambil keputusan, saya malah tidak tahu apa
keputusannya." Sayangnya, demikianlah keadaan sesungguhnya dari
banyak orang. Namun, tak seorang pun bisa efektif jika sulit
mengambil keputusan. Seperti yang dikatakan oleh Napoleon Hill,
"Titik awal dari setiap prestasi adalah keinginan yang besar." Jika
Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang efektif, Anda harus
mengetahui apa yang Anda inginkan. Itulah satu-satunya cara bagi
Anda untuk mengenali peluang yang datang.
2. Mereka Mendorong Diri Sendiri untuk Bertindak
Ada pepatah lama yang mengatakan: "Anda bisa jika Anda mau". Para
inisiator tidak menunggu orang lain untuk memotivasinya. Mereka tahu
bahwa tanggung jawab mereka sendirilah untuk mendorong diri sendiri
ke luar dari wilayah nyamannya. Dan mereka membiasakan diri
melakukannya. Itulah sebabnya, mengapa seseorang seperti Presiden
Theodore Roosevelt, salah seorang pemimpin besar yang berinisiatif
di abad kedua puluh, dapat mengatakan, "Tak ada yang brilian atau
menonjol dalam rekor saya, kecuali mungkin satu hal: saya melakukan
hal-hal yang saya percaya harus dilakukan .... Dan setelah mengambil
keputusan untuk melakukan sesuatu, saya pun bertindak."
3. Mereka Lebih Berani Mengambil Risiko
Jika para pemimpin mengetahui apa yang mereka inginkan dan dapat
mendorong diri sendiri untuk bertindak, mereka masih memiliki satu
hambatan, yaitu kesediaan mengambil risiko. Orang-orang proaktif
selalu mengambil risiko. Namun, salah satu alasan mengapa para
pemimpin yang baik bersedia mengambil risiko adalah karena mereka
sadar bahwa tidak mengambil inisiatif juga ada harganya. Presiden
John F. Kennedy menyatakan, "Setiap program tindakan itu ada resiko
dan harganya, namun jauh lebih kecil daripada risiko dan harga
jangka panjang jika kita tidak mengambil tindakan apa-apa, walaupun
terasa nyaman."
4. Mereka Membuat Lebih Banyak Kekeliruan
Kabar baiknya bagi para inisiator adalah bahwa mereka membuat
segalanya menjadi kenyataan. Kabar buruknya adalah bahwa mereka
membuat banyak kekeliruan. Pendiri IBM, Thomas J. Watson menyadari
hal ini ketika ia berkomentar, "Cara meraih sukses adalah
melipatgandakan tingkat kegagalan Anda."
Sekalipun para pemimpin yang berinisiatif mengalami lebih banyak
kegagalan, mereka tidak merasa terganggu karenanya. Semakin besar
potensinya, semakin besar kemungkinan gagalnya. Senator Robert
Kennedy merangkumnya begini: "Hanya mereka yang berani gagal
besarlah yang dapat mencapai sukses besar". Jika Anda ingin mencapai
hal-hal besar sebagai pemimpin, Anda harus bersedia mengambil
inisiatif dan mengambil risiko.
MERENUNGKANNYA
Anda seorang inisiator? Apakah Anda selalu mencari peluang ataukah
Anda menunggu hingga peluang datang kepada Anda? Apakah Anda
bersedia mengambil langkah-langkah menurut naluri Anda yang terbaik?
Atau apakah Anda tiada habis-habisnya menganalisa segalanya? Mantan
pimpinan puncak Chrysler, Lee Iacocca, mengatakan, "Bahkan keputusan
yang benar pun menjadi keliru jika terlambat". Kapankah terakhir
kalinya Anda menginisiatifkan sesuatu yang penting dalam hidup Anda?
Jika sudah lama Anda tidak mendorong diri sendiri dan keluar dari
wilayah nyaman Anda, mungkin Anda perlu memicu inisiatif Anda.
MENERAPKANNYA
Untuk meningkatkan inisiatif Anda, lakukanlah yang berikut ini.
- Ubahlah cara berpikir Anda. Jika Anda kurang inisiatif, sadarilah
bahwa persoalannya adalah dari dalam, bukannya dari orang lain.
Tentukanlah mengapa Anda ragu-ragu mengambil tindakan. Apakah Anda
takut pada resiko? Apakah Anda berkecil hati karena banyaknya
kegagalan pada masa lalu? Tidakkah Anda melihat potensi peluang
yang ada? Carilah sumber keraguan Anda dan atasilah itu. Anda
takkan dapat maju jika tidak mulai maju dari dalam diri sendiri.
- Jangan menunggu hingga peluang mengetok pintu Anda. Peluang tidak
datang mengetok pintu. Anda harus mencarinya. Inventarisasikanlah
aset Anda, talenta Anda, dan sumber daya Anda. Dengan melakukan
itu, Anda akan mendapatkan gagasan tentang potensi Anda. Nah,
lewatkanlah setiap harinya selama satu minggu untuk mencari
peluang. Di manakah Anda melihat adanya kebutuhan? Siapakah yang
sedang mencari keterampilan yang Anda miliki? Kelompok manakah
yang mati-matian membutuhkan apa yang dapat Anda tawarkan? Peluang
itu ada di mana-mana.
- Ambillah langkah berikutnya. Melihat peluang itu satu hal.
Melakukan sesuatu karenanya adalah hal lain lagi. Seperti yang
pernah disindir oleh seseorang, semua orang memiliki gagasan besar
jika sedang mandi. Namun, hanya sedikit yang keluar, mengeringkan
tubuhnya, dan melakukan sesuatu untuk menindaklanjutinya. Pilihlah
peluang terbaik yang Anda lihat dan tindak lanjutilah semampu
Anda. Jangan berhenti hingga Anda telah melakukan segalanya untuk
membuatnya menjadi kenyataan.
MELATIHNYA SETIAP HARI
Pada tahun 1947, Lester Wunderman dipecat begitu saja dari
pekerjaannya di sebuah agen periklanan di New York. Namun, pemuda
ini tahu bahwa ia dapat belajar banyak dari pemimpin agen tersebut,
yaitu Max Sackheim. Keesokan harinya, Wunderman kembali ke kantornya
dan bekerja seperti biasanya -- tanpa dibayar.
Sackheim tidak menggubrisnya selama satu bulan, namun akhirnya
menghampiri Wunderman dan berkata, "Baiklah kamu menang. Saya tidak
pernah melihat seseorang yang begitu menginginkan pekerjaannya
ketimbang uangnya."
Wunderman akhirnya menjadi salah seorang paling sukses dalam sejarah
periklanan. Ia dikenal sebagai bapa pemasaran langsung. Dibutuhkan
langkah berani dari Anda hari ini untuk mencapai potensi Anda besok.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati
Judul bab : Inisiatif: Tanpanya, Anda Takkan ke Mana-mana
Penulis : John C. Maxwell
Penerbit : Interaksara, Batam Centre 2001
Halaman : 101 -- 106
==================================**==================================
INSPIRASI
-*- TUHAN, JADIKAN AKU SEPERTI PETRUS -*-
Kitab Suci memuat aspek yang baik dan yang buruk dari kepemimpinan
Petrus. Walaupun ada banyak hal di dalam diri Petrus yang perlu
dihindari oleh kita para pemimpin, namun banyak juga yang patut
dikagumi. Saat saya sedang memikirkan kesediaan Petrus untuk maju
dan bertindak, saya berdoa, "Tuhan, jadikan aku tipe pemimpin yang
tahu betapa pentingnya mengambil inisiatif."
Meskipun Petrus lalu ketakutan dan tenggelam ketika ia mencoba
berjalan di atas air, tidaklah paling sedikit ia layak menerima
pujian karena hanya dialah satu-satunya murid yang melangkah keluar
dari perahu? Untuk itu dibutuhkan inisiatif.
Dan tentu saja, kita semua tahu bahwa ia sedikit keterlaluan di
Getsemani dan menebas telinga seseorang. Tetapi Petrus tidak bisa
hanya duduk-duduk dan tidak melakukan apa-apa sementara Juru Selamat
dan sahabatnya ditangkap. Ia harus melakukan sesuatu!
Sebagai seorang aktivis, saya masih tetap menolak mengambil
Inisiatif dari waktu ke waktu. Dan saya mengamati para pemimpin
gereja lain melakukan hal yang sama. Kami bersembunyi di ruang kerja
kami saat gereja menyimpang atau kondisinya memburuk. Atau kami
duduk-duduk di kafe menganalisa dan mengkritik para pemimpin lain
yang berani mengambil resiko. Tentu, mungkin mereka sesekali
melakukan kesalahan, tetapi paling tidak mereka berusaha membuat
perbedaan. Betapa lebih baiknya kita jika kita, seperti Petrus,
bergabung dengan mereka yang mengambil inisiatif untuk bertindak,
mencoba melakukan sesuatu yang baru, dan mencari cara-cara baru
untuk menghentikan musuh.
Betapa baiknya jika kita semua berdoa meminta keberanian untuk
mengambil inisiatif seperti Petrus.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: Kepemimpinan yang Berani
Judul bab : Doa Seorang Pemimpin
Penulis : Bill Hybells
Penerbit : Gospel Press, Batam Centre 2004
Halaman : 256 -- 257
==================================**==================================
STOP PRESS
-*- UNDANGAN UNTUK MERAYAKAN ULANG TAHUN E-LEADERSHIP -*-
Tak terasa sudah hampir dua tahun publikasi e-Leadership masuk
secara rutin ke e-mail Anda setiap bulannya. Dalam kurun waktu
tersebut, pastilah Anda, para pelanggan publikasi e-Leadership,
memiliki kesan terhadap publikasi ini.
Oleh karena itu, dalam rangka memperingati hari ulang tahun
e-Leadership yang kedua pada bulan Januari nanti, redaksi
mengharapkan kesediaan Anda untuk memberikan kesan selama
berlangganan publikasi ini, atau bahkan pesan yang pasti berguna
bagi perkembangan dan kemajuan publikasi e-Leadership.
Kami sangat menantikan kesan dan pesan Anda sebelum 3 Januari 2008
ke:
< leadership(at)sabda.org >
Kiriman Anda itu akan kami sunting seperlunya dan akan kami muat
dalam edisi khusus Januari 2008 yang akan terbit terpisah dari edisi
pembuka tahun 2008 yang bertema "Mempersiapkan Seorang Pemimpin".
Partisipasi Anda, tanda kasih Anda kepada e-Leadership.
Tuhan memberkati!
==================================**==================================
Berlangganan : subscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Berhenti : unsubscribe-i-kan-leadership(at)hub.xc.org
Kontak e-Leadership: leadership(at)sabda.org
Arsip e-Leadership : http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/arsip
Situs Indo Lead : http://lead.sabda.org/
----------------------------------------------------------------------
Redaksi e-Leadership: Dian Pradana
Redaksi Tamu: R.S. Kurnia
e-Leadership merupakan kerja sama antara Indo Lead, YLSA, dll.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Bahan ini dapat dibaca secara on-line di situs:
http://www.sabda.org/publikasi/e-leadership/
Copyright(c) 2007 oleh YLSA
http://ylsa.sabda.org/ ~~ http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
==================================**==================================
|