Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/335

e-Konsel edisi 335 (14-3-2013)

Pengadilan Yesus

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

e-Konsel -- Pengadilan Yesus
Edisi 335/Maret 2013

Salam sejahtera,

Salah satu fase yang tidak bisa kita lupakan dalam peristiwa 
pengorbanan Yesus Kristus adalah ketika Ia ditangkap dan diadili. Pada 
saat itu, Yesus mendapatkan perlakuan yang sangat buruk, seolah-olah 
Ia adalah seorang penjahat yang berbahaya. Orang-orang Farisi dan para 
ahli Taurat terus berusaha mencari cara untuk membuat Yesus Kristus 
disalibkan. Mereka menghasut cukup banyak orang untuk mendesak Pilatus 
agar menyalibkan Yesus Kristus. Untuk mengetahui setiap babak yang 
dilalui Yesus ketika Ia diadili secara runtut sesuai ayat-ayat 
Alkitab, silakan simak artikel yang kami siapkan dalam edisi ini. 
Simak pula, landasan-landasan alkitabiah dari peristiwa ini. Sementara 
itu, untuk membuat peringatan Paskah keluarga semakin khusyuk dan 
penuh sukacita, kami juga menyajikan satu tip bagi Anda. Selamat 
menyimak.

Pemimpin Redaksi e-Konsel,
S. Setyawati
< setya(at)in-christ.net >
< http://c3i.sabda.org/ >


        BIMBINGAN ALKITABIAH: PROSES PENGADILAN YESUS

Sebagai Injil terawal, Markus memberikan narasi paling awal tentang 
penyaliban. Markus tentu saja bukan orang pertama yang 
menceritakannya. Kehormatan itu dimiliki Paulus, yang semua surat 
aslinya ditulis sebelum Injil mana pun. Paulus sering mengacu pada 
fakta tentang penyaliban Yesus: ia berulang kali membicarakan tentang 
kematian Yesus, salib, dan Kristus yang tersalib. Ini merupakan 
"hikmat dan kuasa Allah", meskipun hal ini menjadi "batu sandungan" 
bagi orang-orang Yahudi dan "kebodohan" bagi bangsa-bangsa yang tidak 
percaya kepada Tuhan. Penyaliban Yesus merupakan suatu perwujudan 
kasih Allah kepada kita, pengorbanan yang memungkinkan penebusan kita, 
dan jalur transformasi pribadi seperti kematian dan kebangkitan yang 
terletak pada inti kehidupan orang-orang Kristen (1 Korintus 1:23-24; 
Roma 5:8; Roma 3:24-25; Galatia 2:19-20; Roma 6:3-4).

Terkadang, Paulus mengatakan lebih banyak tentang apa yang terjadi. 
Dalam satu bagian, ia merujuk pada kematian dan penguburan Yesus: 
"Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 
... dan Ia telah dikuburkan." Di tempat lain, ia mengatakan bahwa para 
penguasa zaman ini ... menyalibkan Tuhan yang mulia. Dalam suratnya, 
ia atau seorang pengikut mengatakan bahwa pada kayu salib, Allah 
"telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan 
menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka." 
(1 Korintus 15:3-4, 2:8; Kolose 2:15)

Akan tetapi, surat-surat Paulus bukanlah narasi dan dengan demikian 
tidak termasuk dalam kisah Jumat Agung. Sebaliknya, seperti yang 
ditunjukkan pada contoh-contoh kalimatnya di atas, surat-surat Paulus 
berisi sejumlah tafsiran tentang makna kematian Yesus. Paulus, penulis 
paling awal dalam Perjanjian Baru, menggunakan banyak tafsiran yang 
mengarah pada poin penting: tidak ada cerita tentang kematian Yesus 
dalam Perjanjian Baru yang tidak ditafsirkan. Untuk mengetahui 
alasannya bukanlah hal yang sulit. Para pengikut Yesus, yang hidup 
beberapa tahun dan dekade setelah kematian-Nya, mencari tahu arti dari 
pelaksanaan hukuman mati yang mengerikan atas Guru terkasih mereka, 
yang mereka lihat sebagai Yang Diurapi Allah. Dengan melihat kembali 
peristiwa ini, mereka memahami tujuan yang sudah ditetapkan Allah di 
dalamnya.

Begitu juga dalam Injil Markus. Meskipun Markus menyajikan kisah 
paling awal tentang Jumat Agung, kita seharusnya tidak membayangkan 
bahwa ceritanya demikian bebas dari interpretasi pasca-Paskah. Narasi 
Markus menggabungkan penafsiran retrospektif (peninjauan kembali -
Red.) dengan sejarah yang diingat.

Markus menceritakan kisah Jumat Agung yang menunjukkan selang waktu 
tiga jam dengan tepat: dari fajar (pukul 6) sampai pukul 9 pagi, dari 
pukul 9 pagi sampai tengah hari, dari tengah hari sampai pukul 3 sore, 
dan dari pukul 3 sore sampai senja (jam 6 sore). Pertama-tama, kita 
akan meninjau ceritanya sebagai sebuah kombinasi sejarah dan 
penafsiran, kemudian mengeksplorasi kerangka penafsirannya yang lebih 
luas.

Dari Pukul 6 -- 9 Pagi (Markus 15:1-21)

Saat pagi merekah, para pemuka masyarakat lokal -- imam-imam kepala, 
tua-tua, dan ahli-ahli Taurat -- menyerahkan Yesus kepada Pilatus, 
perwakilan kaisar di daerah. Pilatus menginterogasi Yesus. Markus 
tidak memberi tahu kita di mana hal ini terjadi, tetapi hampir bisa 
dipastikan bahwa ini terjadi di istana almarhum Raja Herodes Agung, 
tempat tinggal para Gubernur Romawi ketika mereka berada di Yerusalem. 
Kemudian, Markus secara eksplisit mengacu pada "halaman istana" 
(Markus 15:16). Sebagaimana adegan itu terungkap, jelas bahwa 
pemerintah daerah juga hadir.

Pilatus bertanya kepada Yesus, "Apakah Engkau Raja orang Yahudi?" Kita 
mungkin mendengar penekanan yang mengejek pada kata "Engkau" dalam 
pertanyaan Pilatus. "Engkau" -- seorang petani Yahudi, yang baru saja 
dipukuli, berdarah-darah, terbelenggu, dan yang berdiri lemas di 
hadapanku -- "adalah raja orang Yahudi?" Demikian juga yang mungkin 
kita dengar dari jawaban Yesus, ada penekanan yang mengejek pada kata 
yang sama: "Engkau sendiri mengatakannya."

Karena mendengar bahwa itu bukanlah jawaban, Pilatus menegaskan 
pertanyaannya: "Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa 
banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!" Tetapi, Markus memberi tahu 
kita, "Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi." (Markus 15:5) 
Dengan menolak menanggapi sang penguasa, tindakan Yesus mencerminkan 
keberanian dan juga penghinaan. Para penguasa tidak menyukainya. 
Pilatus pun heran. Bahkan, Yesus tidak berbicara lagi dalam cerita 
Markus sampai seruan terakhir-Nya dari atas kayu salib di kemudian 
hari: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" 
(Markus 15:34).

Selanjutnya, muncullah episode yang membingungkan ketika Pilatus 
menawarkan untuk melepaskan tahanan yang diinginkan oleh orang banyak. 
Membingungkan karena sulit dibayangkan bahwa ada kebiasaan semacam itu 
di provinsi yang menyusahkan seperti Yudea. Seperti yang Markus 
katakan, cerita ini melibatkan seorang pemberontak yang bernama 
Barabas, yang telah melakukan pembunuhan saat terjadi "huru-hara". 
Pilatus bertanya, "Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja 
orang Yahudi ini?" [yaitu Yesus]?" Akan tetapi, Markus memberi tahu 
kita, para imam Bait Allah "menghasut orang banyak untuk meminta 
supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka" (Markus 15:11).

Hampir pasti, orang banyak tersebut bukanlah kerumunan orang yang 
sama, yang mendengar Yesus dengan senang hati selama seminggu 
sebelumnya. Markus tidak memberi kita alasan untuk berpikir bahwa 
orang-orang itu telah berbalik melawan Yesus. Selain itu, sangat tidak 
mungkin bahwa orang-orang pada awal pekan itu diizinkan masuk ke 
istana Herodes, tempat adegan ini terjadi. Kerumunan ini, kerumunan 
yang dihasut oleh imam-imam kepala, jumlahnya pasti jauh lebih sedikit 
dan lebih tepat dipahami sebagai kerumunan yang dikumpulkan oleh 
penguasa (orang yang dapat mengizinkan mereka masuk ke istana). Ketika 
Pilatus bertanya kepada kerumunan ini, "Jika begitu, apakah yang harus 
kuperbuat dengan orang yang kamu sebut Raja orang Yahudi ini?" Maka, 
mereka berteriak lagi, katanya, "Salibkanlah Dia!" (Markus 15:13) 
Maka, Pilatus melepaskan Barabas dan menyerahkan Yesus kepada 
prajurit-prajuritnya untuk disalibkan.

Sebagaimana sejarah diingat, cerita tentang Barabas ini sulit. Akan 
tetapi, jika kita menempatkannya dalam konteks sejarah Markus, seperti 
yang ia tuliskan sekitar tahun 70, cerita itu cukup masuk akal. Baik 
Barabas maupun Yesus adalah revolusioner. Keduanya menentang kekuasaan 
kaisar. Namun, yang pertama membela revolusi kekerasan, sedangkan yang 
kedua membela anti kekerasan. Pada tahun 66, orang-orang Yerusalem 
(dan banyak orang lain di daerah orang Yahudi) telah memilih cara 
Barabas, bukan cara Yesus. Peristiwa tahun 66 -- 70 tersebut membuat 
cerita ini bisa dipahami.

Peristiwa yang terjadi tiga jam pertama hari itu terus berlanjut. 
Setelah diserahkan kepada prajurit Pilatus, Yesus, seperti banyak 
tahanan politik sebelum dan sesudah Dia, disiksa dan dipermalukan. Dia 
dicambuk. Kemudian, prajurit melepas pakaian-Nya (tindakan itu sendiri 
merupakan tanda ketidakberdayaan-Nya di tangan mereka) dan membuat 
upacara penobatan yang mempermalukan Dia: mereka mengenakan jubah ungu 
kepada-Nya, meletakkan mahkota (duri) di atas kepala-Nya, menyebut-Nya 
sebagai "Raja Yahudi", menyerang-Nya, dan meludahi-Nya. Lalu, mereka 
menanggalkan jubah ungu itu dan mengenakan lagi pakaian Yesus sendiri 
kepada-Nya, dan membawa-Nya keluar untuk disalibkan.

Para tahanan yang dihukum mati dengan cara disalib, biasanya 
diwajibkan untuk memikul balok kayu salib horizontal sampai ke tempat 
eksekusi. Sementara, balok yang vertikal sudah menjadi tiang permanen 
yang ditancapkan di tanah tempat eksekusi. Namun, Markus memberi tahu 
kita bahwa tentara memaksa seorang pejalan kaki, Simon dari Kirene, 
untuk memikul salib Yesus. Meskipun Markus tidak mengatakan mengapa, 
sepertinya itu bukan tindakan kebaikan terhadap Yesus, melainkan 
karena Yesus sudah terlalu lemah untuk memikul balok kayu itu sendiri. 
(t/Jing-jing)

Diterjemahkan dari:
Judul asli buku: The Last Week
Judul bab: Friday
Judul asli artikel: Mark`s Story of Good Friday
Penulis: Marcus J. Borg & John Dominic Crossan
Penerbit: HarperCollins Publisher, New York 2006
Halaman: 140 -- 145


            TIP: CARA MERAYAKAN PASKAH BERSAMA KELUARGA

Paskah merupakan peristiwa yang penting bagi umat Kristen, baik di 
Indonesia ataupun di luar negeri. Berbagai acara dan cara digelar 
secara khusus untuk merayakan Hari Raya Paskah. Tradisi membagi telur 
Paskah kepada saudara dan keluarga juga tidak ketinggalan. Cara 
merayakan Paskah setiap orang tentu berbeda-beda. Ada yang 
merayakannya dengan teman, sahabat, pacar, dan ada juga yang memilih 
merayakan dengan keluarga. Bagi Anda yang ingin merayakan Paskah 
dengan keluarga, beberapa cara berikut mungkin bisa menjadi pilihan.

 1. Gunakanlah lilin khusus saat acara makan keluarga untuk mengingat 
    terang Kristus.
 2. Rencanakanlah kegiatan keluarga yang menyenangkan, satu kegiatan 
    setiap Minggu Paskah.
 3. Mainkanlah kisah Paskah. Anda juga bisa mengundang kerabat dan 
    rekan-rekan Anda untuk menampilkannya.
 4. Kunjungilah tetangga yang kesepian atau lakukan tindakan 
    kekeluargaan lainnya, yang menunjukkan kebaikan untuk 
    mengekspresikan ucapan terima kasih atas kebangkitan Kristus.
 5. Buatlah kue yang bentuknya seperti simbol-simbol Paskah. Bekukan 
    beberapa di antaranya untuk disajikan sepanjang musim Paskah.
 6. Dengarkanlah musik-musik Paskah.
 7. Jika keluarga Anda suka bernyanyi dan memainkan instrumen, 
    usahakan 
    diadakannya sebuah perayaan musik Paskah secara kekeluargaan.
 8. Bacalah kisah Paskah secara bergantian dengan seluruh anggota 
    keluarga.
 9. Buatlah gantungan kunci atau gantungan untuk hiasan HP dengan tema 
    Pentakosta, yang dilengkapi dengan burung merpati dan lidah-lidah 
    api.
10. Temukanlah cara untuk membuat makanan khusus setiap hari Minggu 
    selama Minggu Paskah. Lalu, lanjutkan dengan menghidangkan 
    "makanan khusus pada hari Minggu" untuk merayakan kebangkitan 
    Yesus, sepanjang tahun.

Sekarang, Anda tinggal pilih cara mana yang akan digunakan untuk 
merayakan Paskah bersama keluarga. Selamat mencoba dan semoga Paskah 
Anda menyenangkan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: Ciri Cara.com
Alamat URL: http://ciricara.com/2012/04/04/ciricara-cara-merayakan-paskah-bersama-keluarga/
Penulis: Tidak dicantumkan
Tanggal akses: 1 Maret 2013


Kontak: konsel(at)sabda.org
Redaksi: S. Setyawati, Santi T., dan Doni K.
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/e-konsel/arsip/
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2013 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org