Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/313

e-Konsel edisi 313 (2-10-2012)

Tujuan Pernikahan Kristen

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

Edisi 313/Oktober 2012

DAFTAR ISI
CAKRAWALA: TUJUAN DAN HAKIKAT PERNIKAHAN KRISTIANI
ULASAN SITUS: YAYASAN PEDULI KONSELING NUSANTARA
INFO: INTERNATIONAL DAY OF PRAYER FOR THE PERSECUTED CHURCH (IDOP)

Salam sejahtera dalam Kristus,

Apakah Anda sudah menikah? Bagaimanakah kehidupan pernikahan Anda?
Semoga di dalam Yesus Kristus, pernikahan Anda semakin manis setiap
hari. Untuk bulan Oktober ini, e-Konsel mengangkat tema Pernikahan.
Dalam edisi ini, kami menyajikan artikel yang membahas tentang tujuan
dan hakikat pernikahan. Selain itu, ada juga ulasan situs konseling
yang dapat digunakan sebagai referensi dalam mencari bahan-bahan untuk
pelayanan konseling Anda. Dengan mengingat kembali tujuan dan hakikat
pernikahan Kristen, biarlah setiap rumah tangga Kristen semakin
dipakai Tuhan untuk menjadi alat-Nya. Amin.

Pemimpin Redaksi e-Konsel,
Sri Setyawati
< setya(at)in-christ.net >
< http://c3i.sabda.org/ >

          CAKRAWALA: TUJUAN DAN HAKIKAT PERNIKAHAN KRISTIANI

Pada umumnya, pasangan-pasangan yang akan menikah menjadi sibuk saat
mempersiapkan perayaan pernikahan. Agar acara pemberkatan dan resepsi
pernikahan berjalan lancar, mereka rela mengerahkan segenap daya,
tenaga, dan dana. Prosesi pemberkatan dan resepsi tersebut tentu akan
segera berlalu, namun mereka harus terus mempertahankan pernikahan
seumur hidup.

Untuk mempertahankan pernikahan, setiap pasangan harus memahami
hakikat dan tujuan pernikahan. Sayangnya, ada beberapa orang yang
tidak terlalu serius dalam mengerahkan segenap kemauan, akal budi,
daya, dan dana untuk memahami hakikat dan tujuan pernikahan Kristen
dengan baik dan jelas. Jika seseorang tidak memunyai visi dalam
pernikahan, maka sesungguhnya dia telah melakukan tindakan "bunuh
diri". Cepat atau lambat, pernikahan dan cintanya akan layu dan mati.
Untuk menghindari hal ini, saat berpacaran atau sebelumnya, sebaiknya
Anda menanyakan tujuan hidup dan pernikahan yang ada di benak orang
yang Anda sayangi. Diskusikan itu dengan konselor untuk membantu Anda
mengerti, apakah visi itu cukup jelas saat memasuki pernikahan Anda
atau tidak.

Hakikat Pernikahan

Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan
Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa
pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga
melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan
keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa.
Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan
di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan.

a. Pernikahan adalah Suatu Perjanjian ("Covenant")

Secara simbolis, orang yang menikah mengucapkan janji nikahnya di
gereja. Secara sederhana, perjanjian adalah suatu persetujuan antara
dua individu/kelompok atau lebih. Perjanjian pernikahan adalah
mengasihi ("to love") dan dikasihi ("to be loved"). Menurut Balswick,
ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari perjanjian yang Allah
tetapkan. Pertama, perjanjian itu sepenuhnya merupakan tindakan Allah,
bukan sesuatu yang bersifat kontrak. Komitmen Allah ini tetap
berlangsung, tidak bergantung pada manusia. Kedua, Allah menghendaki
respons dari manusia. Namun, ini bukan berarti perjanjian tersebut
bersifat kondisional. Perjanjian itu tetap menjadi satu perjanjian
yang kekal, terlepas dari apakah umat Tuhan melakukannya atau tidak.
Ketiga, Allah menyediakan berkat-berkat dan keuntungan bagi mereka
yang menuruti perjanjian tersebut. Manusia diberi kebebasan untuk
memilih, untuk hidup dalam perjanjian itu atau menolaknya.[1]

Menurut R.C. Sproul, pernikahan bukanlah hasil dari satu perkembangan
kebudayaan manusia.[2] Institusi pernikahan ditetapkan seiring dengan
Penciptaan itu sendiri. Senada dengan itu, John Stott berkata,
"...perkawinan bukanlah temuan manusia. Ajaran Kristen tentang topik
ini diawali dengan penegasan penuh kegembiraan bahwa perkawinan adalah
gagasan Allah, bukan gagasan manusia... perkawinan sudah ditetapkan
Allah pada masa sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa."[3]

Jika demikian, pengertian di atas mengandung tiga implikasi penting.
Pertama, setiap orang yang mau menikah seharusnya memberikan atensi
pada pengenalan eksistensi Allah sebagai pendiri lembaga ini. Kedua,
memberikan Allah otoritas penuh dalam memimpin lembaga ini sehingga
komunikasi suami-istri bersifat trialog.[4] Artinya, Allah dilibatkan
dalam setiap proses pengambilan keputusan. Ketiga, pernikahan diikat
oleh komitmen seumur hidup, sebab perjanjian itu bukan kepada manusia,
melainkan kepada Allah sendiri. Dengan memahami pernikahan sebagai
satu ikatan perjanjian dengan Allah, maka calon suami istri disadarkan
agar senantiasa bergantung pada kekuatan Allah dalam menjalani
pernikahan.

b. Pernikahan adalah Kesaksian

Dalam Efesus 5:32, Paulus menggambarkan hubungan suami dan istri
seperti hubungan Allah dan jemaat-Nya. Artinya, dengan menikah, orang
Kristen dipanggil masuk ke dalam satu panggilan pelayanan khusus,
yakni menyaksikan Kristus melalui wadah keluarga. Implikasinya adalah
hubungan dan komunikasi suami istri menjadi wadah anak-anak belajar
mengenal kasih Tuhan.

Di samping itu, keluarga juga menjadi tempat persiapan dan latihan
anak-anak untuk menjadi suami atau istri dan menjadi orang tua.
Selanjutnya, model itu akan terus terbawa ke dalam pola mereka
mendidik anak-anak kelak. Pernikahan yang sehat dan berfungsi, pada
umumnya, akan menghasilkan anak-anak yang sehat pula. Jadi, setiap
mereka yang akan menikah dan menjadi orang tua perlu menyadari
konsekuensi ini -- dipanggil menjadi reflektor kasih Allah bagi
anak-anak. Dalam tulisannya, "Parenting: A Theological Model", Myron
Charter [5] menjabarkan tujuh dimensi dari kasih Allah Bapa yang harus
direfleksikan setiap orang tua, yakni: sikap yang penuh peduli,
tanggung jawab, disiplin, murah hati, respek, pengenalan, dan
pengampunan.

Tujuan Pernikahan

Tujuan pernikahan bukanlah kebahagiaan seperti yang diangan-angankan
banyak muda-mudi sebelum menikah, melainkan pertumbuhan. Kebahagiaan
itu justru ditemukan di tengah-tengah perjalanan (proses) pernikahan
yang dilandasi cinta kasih Kristus. Kalau tujuan kita menikah adalah
bahagia, maka pasangan kita akan kita peralat demi mencapai
kebahagiaan itu.[6] Itu sebabnya, orang yang menikah dengan tujuan
bahagia justru menjadi yang paling tidak bahagia dalam pernikahannya.
Bahkan, tujuan ini banyak mengakibatkan perceraian, dengan alasan ia
tidak merasa bahagia dengan pasangannya.

Heuken [7] menyebutkan beberapa tujuan lain yang tidak kuat sebagai
landasan untuk menikah. Pertama, demi keperluan psikologis, yakni
supaya merasa tidak sendirian atau kesepian. Kedua, demi kebutuhan
biologis, yakni agar dapat memuaskan nafsu seks secara wajar. Ketiga,
demi rasa aman, yakni supaya memunyai status sosial dan dihargai
masyarakat. Keempat, agar memunyai anak. Ini semua bukan merupakan
alasan atau tujuan yang kuat mengapa seseorang menikah.

Dalam berumah tangga, kita akan mengalami begitu banyak keadaan dan
situasi yang tidak diharapkan. Misalnya, pasangan Anda gagal dalam
pekerjaan. Pasangan Anda menyeleweng. Pasangan Anda sakit atau cacat.
Kondisi itu pasti tidak menyenangkan. Tetapi kalau Tuhan mengizinkan
hal-hal tersebut terjadi, kita perlu belajar dari hal-hal tersebut.
Lewat situasi dan keadaan itulah cinta kita diuji, apakah kita tetap
berpegang teguh pada janji pernikahan kita dan setia kepada pasangan
kita sampai kematian memisahkan. Untuk itu, mari kita pahami tujuan
pernikahan Kristen yang akan menguatkan tiang pernikahan kita.

1. Pertumbuhan

Pertumbuhan yang diharapkan adalah agar suami istri dapat melayani
Allah dan menjadi saluran berkat bagi sesamanya. Agar pernikahan itu
bertumbuh, maka ada dua syarat yang harus dimiliki setiap pasangan.

a. Masing-masing sudah menerima pengampunan Kristus, sehingga mampu
saling mengampuni selama berada dalam rumah tangga, yang masing-masing
penghuninya bukanlah orang yang sempurna. Usaha diri sendiri pasti
akan gagal.

b. Kemampuan beradaptasi, artinya masing-masing tidak memaksa atau
menuntut pasangannya, sebaliknya mampu saling memahami dan memberi.
Masing-masing menjalankan peran dengan baik, serta mampu menerima
kelemahan dan kekurangan pasangannya.

2. Menciptakan Masyarakat Baru Milik Allah

John Stott mengatakan bahwa pernikahan dibentuk Allah dengan tujuan
untuk menciptakan satu masyarakat baru milik Allah ("God`s new
society") -- satu masyarakat tebusan yang dapat menjadi berkat dan
membawa kesejahteraan bagi sesamanya.[8] Wadah yang Allah pilih
sebagai sarana menyejahterakan manusia tebusan-Nya di dunia ini adalah
keluarga. Rencana ini telah Allah tetapkan jauh sebelum manusia jatuh
ke dalam dosa. Untuk itu, Allah pertama-tama memilih keluarga Abraham,
Ishak, Yakub, dan seterusnya sampai akhirnya dalam keluarga Yusuf dan
Maria yang melahirkan Yesus. Demikianlah sampai hari ini, rencana
Tuhan bagi setiap pasangan Kristen adalah agar pasangan itu
menghasilkan anak-anak perjanjian (anak-anak Tuhan) yang memunyai
tanggung jawab untuk merawat dan mengurus bumi ciptaan-Nya ini.[9]
(Kejadian 1:26,28)

Di samping itu, melalui setiap keluarga, Allah menghendaki agar setiap
suami istri melahirkan keturunan ilahi (anak-anak tebusan Kristus.
Baca Maleakhi 2:14-15).[10] Karena itu, berdasarkan prinsip di atas,
saya berkeyakinan bahwa setiap anak dalam pernikahan kami adalah
anak-anak (karunia/titipan) Tuhan. Mereka bukan baru menjadi
anak-anak Tuhan saat mereka dibaptis atau sesudah besar, tetapi sejak
dalam kandungan mereka adalah benih ilahi yang Allah percayakan kepada
keluarga kami.

Keyakinan ini sangat memengaruhi sikap kita dalam menghargai dan
mendidik anak-anak. Juga akan membuat kita memprioritaskan keluarga
dengan benar. Tujuan kita adalah mendidik mereka agar menjadi
anak-anak Tuhan yang tidak hanya menaati bapak dan ibu mereka secara
daging, tetapi juga taat kepada Bapa di surga. Kita juga
sungguh-sungguh berusaha membangun kehidupan anak-anak kita, baik
secara fisik, mental, maupun spiritual. Tetapi jika Tuhan mengizinkan
keluarga kita tanpa seorang anak, rencana Tuhan pun tetap sama
indahnya. Dia mempunyai rencana tersendiri bagi keluarga yang tidak
dikaruniai anak. Keluarga yang demikian perlu bergumul, mencari tahu
apa yang dapat diperbuat untuk menyenangkan hati Tuhan, meski belum
ada buah hati. Jika ingin mengadopsi anak, sebaiknya berkonsultasi
terlebih dulu dengan konselor.

Anak merupakan upah atau berkat Tuhan bagi keluarga yang dikenan-Nya
untuk menerima berkat itu. Tidak memiliki anak bukan berarti dikutuk
atau tidak mendapat berkat Allah. Suami istri yang tidak memiliki anak
pun, tetap merupakan keluarga yang di dalamnya Allah memiliki rencana
tersendiri.

[1] Balswick & Balswick. "The Family: A Christian Perspectiveon the
    Contemporary Home." Grand Rapids, Michigan: Baker Book House,
    1991, p.23.
[2] Sproul, R.C., "Discovering the Intimate Marriage." Minnesota:
    Bethany Fellowship, Inc., 1975, p. 113-114.
[3] Stott, John. "Isu-Isu Global: Menantang Kepemimpinan Kristiani."
    Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 1984, hal. 368.
[4] Scheunemann, D., "Romantika Kehidupan Suami-Istri."
    Malang: YPPII, 1984.
[5] Charter, Myron. "Parenting: A Theological Model", Journal
    Psychology and Theology. Vol.6, No.1 (1977), p.54.
[6] Heuken, "Persiapan Perkawinan." Hal. 24-25.
[7] Heuken, "Persiapan Perkawinan." (Yogjakarta: Kanisius),
    hal. 18-19.
[8] Stott, John. "Isu-Isu Global: Menantang Kepemimpinan Kristiani."
    Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1984.
[9] Yakub, Susabda. "Pastoral Konseling" - jilid 2. (Malang: Gandum Mas)
[10] Bukan berarti tanpa anak, keluarga tidak lengkap.
     Pernikahan yang dimaksud di sini adalah suami dan istri.

Diambil dan disunting dari:
Judul buku: Surat Izin Menikah: Bimbingan Memilih Teman Hidup dan
            Memperkaya Pernikahan
Judul bab: Tujuan dan Hakikat Pernikahan Kristiani
Penulis: Julianto Simanjuntak dan Roswitha Ndraha
Penerbit: Layanan Konseling Keluarga dan Karier (LK3), Jakarta 2008
Halaman: 39 -- 48

            ULASAN SITUS: YAYASAN PEDULI KONSELING NUSANTARA

Apakah Anda seorang konselor? Atau, Anda sedang dalam studi untuk
menjadi seorang konselor? Selain melalui buku-buku konseling, Anda
dapat menambah wawasan dengan bahan-bahan yang tersedia di internet.
Salah satu situs konseling berbahasa Indonesia yang perlu Anda
kunjungi adalah situs Yayasan Peduli Konseling Indonesia, asuhan Bapak
Julianto Simanjuntak -- konselor, pendidik, dan penulis buku yang
kompeten.

Situs ini menyediakan banyak artikel (parenting, konseling, dan
artikel bebas), tip, jadwal seminar, dan kegiatan yang bisa Anda ikuti
untuk menambah bekal Anda sebagai seorang konselor. Selain itu, dalam
situs ini Anda juga bisa membaca informasi tentang buku-buku konseling
yang ditulis oleh Pdt. Julianto Simanjuntak. Meskipun tampilan situs
ini sederhana, namun bahan-bahan yang tersedia cukup banyak dan
penting untuk dibaca. Penasaran dengan isinya? Segera kunjungi situs
ini. (SS)

Tanggal akses: 26 Juli 2012

==> < http://www.pedulikonseling.or.id/PELIKAN/ >

                   INFO: INTERNATIONAL DAY OF PRAYER FOR
                        THE PERSECUTED CHURCH (IDOP)

Pada bulan kegiatan IDOP, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh
dunia berdoa bersama bagi gereja Tuhan yang teraniaya. Tahun ini,
kegiatan IDOP akan dilaksanakan secara serempak pada bulan November
2012.

Kami mengajak Anda, para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum
muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya untuk dapat bergabung
dalam acara doa bersama ini. Informasi lebih lanjut tentang acara
IDOP, bisa di lihat di < www.persecutedchurch.org >

Kontak: < konsel(at)sabda.org >
Redaksi: Sri Setyawati, Tatik Wahyuningsih, dan Berlian Sri Marmadi
Tim Editor: Davida Welni Dana, Berlian Sri Marmadi, dan
         Santi Titik Lestari
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/konsel >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org