Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/263

e-Konsel edisi 263 (11-10-2011)

Pentingnya Nasihat untuk Anak Muda

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

EDISI 263/OKTOBER 2011

DAFTAR ISI
BIMBINGAN ALKITABIAH: MENERIMA NASIHAT
TIP: NASIHAT BIJAK MENGHASILKAN KEPUTUSAN BIJAK
INFO: INTERNATIONAL DAY OF PRAYER FOR THE PERSECUTED CHURCH (IDOP)

Shalom,

Jika dibandingkan dengan orang tua, pengalaman dan kebijaksanaan anak
muda tentu tidak sama. Untuk itu, anak muda perlu meminta nasihat dari
orang tua atau orang-orang yang lebih berpengalaman. Mengapa? Karena
dengan adanya nasihat, anak muda bisa lebih bijak dalam mengambil
keputusan. Nasihat juga bisa mencegah anak muda agar tidak salah
langkah.

Tidak terkecuali dengan seorang konselor, dia juga perlu mencari
nasihat dalam membantu konseli. Selain dari Tuhan, konselor juga dapat
meminta wejangan dari konselor-konselor seniornya. Dalam edisi 263
ini, e-Konsel mengetengahkan sajian tentang pentingnya nasihat dan
bagaimana mencari nasihat. Selamat menikmati edisi ini, Tuhan Yesus
memberkati.

Pemimpin Redaksi e-Konsel,
Sri Setyawati
< setya(at)in-christ.net >
< http://c3i.sabda.org/ >

                BIMBINGAN ALKITABIAH: MENERIMA NASIHAT

Kitab Amsal menekankan pentingnya mendengarkan nasihat dalam
keputusan-keputusan penting. Kitab Amsal disusun sebagai kitab nasihat
dari orang tua atau orang berhikmat kepada anaknya, baik laki-laki
maupun perempuan, atau orang muda lainnya (Amsal 1:8, 10, 2:1, 3:1;
dll.). Perlunya mencari dan mendengarkan pertimbangan atau nasihat
yang bijak dalam beberapa cara merupakan satu-satunya pesan dalam
kitab itu. Sebaliknya, mengabaikan nasihat orang berhikmat adalah hal
yang sangat berdosa (Amsal 1:22-27).

Orang yang mencari nasihat dikontraskan dengan mereka yang menolak
nasihat. "Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi
siapa mendengarkan nasihat, ia bijak." (Amsal 12:15) "Keangkuhan hanya
menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat
mempunyai hikmat." (Amsal 13:10)

Kitab Amsal secara konsisten menghargai upaya pencarian nasihat dalam
membuat keputusan. "Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan,
tetapi terlaksana kalau penasihat banyak." (Amsal 15:22) "Jikalau
tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak,
keselamatan ada." (Amsal 11:14) "Rancangan terlaksana oleh
pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat." (Amsal 20:18)
"Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi
bijak di masa depan." (Amsal 19:20)

Tradisi mencari pertimbangan, berlanjut dalam gereja Perjanjian Baru
ketika Paulus mengangkat penatua-penatua di setiap kota. Tidak ada
orang yang cukup dengan dirinya sendiri. Setiap orang memerlukan orang
lain yang dapat berada di sisinya untuk menghibur, menegur,
menguatkan, atau menasihati. Kedua belas rasul saling menundukkan diri
satu sama lain dalam semua keputusan penting. Kita juga diberi teladan
Paulus ketika ia pergi ke Yerusalem untuk meneguhkan Injil yang
diberitakannya, walaupun ia sudah diajar secara langsung oleh Allah
(Galatia 2:1-10). Ketika terjadi suatu perselisihan, para rasul dan
penatua berkumpul di Yerusalem, dan merundingkannya sesuai dengan
firman Allah (Kisah Para Rasul 15:1-21). Paulus mengimbau para wanita
yang lebih tua untuk mengajar para wanita yang lebih muda (Titus 2:3).
Petrus memberi tahu para pria yang lebih muda agar mendengarkan dan
menghormati pria-pria yang lebih tua (1 Petrus 5:5).

Menolak mencari nasihat merupakan wabah dalam kebudayaan kita,
khususnya di kalangan kaum pria. Padahal, jika kita menolak mengakui
bahwa kita tersesat saat hal itu jelas terjadi, bagaimana mungkin kita
akan belajar mengakui saat kita benar-benar membutuhkan pertolongan,
dalam keputusan yang memengaruhi banyak orang lain secara mendalam?!

Syukur kepada Allah bahwa kita memiliki satu Guru, yaitu Roh Kudus,
Sang Pengilham Agung, yang di bawah kepemimpinan Kristus memuridkan
kita dalam hikmat yang berasal dari atas. Ia lebih daripada sekadar
pasangan bagi kebodohan kecongkakan kita, pada saat kita terlalu
sombong untuk meminta tolong. Ia lebih daripada sekadar setara dengan
ketidakpercayaan kita, pada saat kita terlalu takut untuk meminta
pertolongan. Allah itu "ajaib dalam keputusan dan agung dalam
kebijaksanaan." (Yesaya 28:29) Sementara itu, Yesaya 11:2
menggambarkan Mesias dalam bahasa seperti berikut: "Roh TUHAN akan ada
padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh
pengenalan dan takut akan TUHAN."

Bahkan doktrin Trinitas menunjukkan bahwa ketiga Pribadi Trinitas
berdiskusi pada saat penciptaan manusia (Kejadian 1:26).

Terkait dengan Allah, berarti mengenakan karakter-Nya saat Allah
mengerjakan segala sesuatu bersama-sama untuk tujuan tersebut (Roma
8:28-29). Saya sangat dikuatkan oleh dampak yang telah Kristus
kerjakan dalam kehidupan banyak orang -- termasuk pria! Mereka telah
merendahkan diri di hadapan Allah, dan menemukan bahwa sungguh mudah
(bahkan menjadi kesukaan) untuk meminta pertolongan dari
saudara-saudari di dalam Kristus. Mereka mulai mencerminkan hikmat
yang ada pada orang-orang, yang suatu hari kelak akan menghakimi dunia
dan semua malaikat (1 Korintus 6:2).

Setiap kita, pria maupun wanita, seharusnya mencari nasihat dalam
keputusan penting. Kita memerlukan nasihat saat kita begitu meyakini
suatu keputusan. Bagi orang bodoh, kebanyakan keputusan yang bodoh
adalah "jelas". Kita memerlukan nasihat dalam keputusan yang
membingungkan, karena hal itu belum jelas bagi kita. Para orang tua,
guru, majikan, penatua, pendeta, kakek-nenek, sanak keluarga, dan
teman adalah para calon yang akan memberikan nasihat yang baik jika
mereka berhikmat.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul asli buku: Step by Step: Divine Guidance for Ordinary Christians
Judul buku: Selangkah demi Selangkah: Bimbingan Ilahi bagi Setiap
           Orang Kristen
Judul bab: Mencari Bimbingan: Tujuh Elemen Pengambilan Keputusan yang
           Alkitabiah
Judul asli artikel: Konsultasi
Penulis: James C. Petty
Penerjemah: Trivina Ambarsari
Penerbit: Penerbit Momentum, Surabaya 2004
Halaman: 225 -- 227

            TIP: NASIHAT BIJAK MENGHASILKAN KEPUTUSAN BIJAK
                    Diringkas oleh: Sri Setyawati

Sebagian dari banyaknya keputusan yang kita buat setiap hari, ada yang
berakhir dengan baik, sedangkan yang lainnya tidak. Apa yang bisa kita
lakukan untuk membuat keputusan yang lebih baik? Seberapa baikkah
kemampuan Anda dalam membuat keputusan? Pernahkah Anda bertanya-tanya,
"Apa yang terjadi seandainya aku ...?" -- terutama saat Anda tidak
mendapatkan hasil yang Anda harapkan?

Barangkali Anda tidak pernah menyadari bahwa Alkitab adalah sebuah
buku tentang membuat keputusan-keputusan bijak. Bukan hanya itu,
Alkitab juga penuh dengan contoh-contoh keputusan yang baik dan buruk,
serta akibat keputusan-keputusan tersebut. Alkitab menunjukkan
keputusan-keputusan yang baik, sesuai dengan prinsip-prinsip yang
benar, yang mengarah kepada hasil-hasil yang baik. Apabila Anda
membuat keputusan-keputusan emosional yang berdasarkan amarah, hawa
nafsu, dan keegoisan, Anda sebaiknya siap-siap menerima hasil-hasil
yang buruk.

Alkitab menyingkapkan satu prinsip yang berlaku di semua bidang
kehidupan: Anda menuai apa yang Anda tabur (Galatia 6:7).
Kadang-kadang, korelasi langsung ini tidak jelas, tetapi semakin kita
dewasa, hasil keputusan kita semakin jelas.

Jika Anda melihat Alkitab sebagai buku pegangan dalam pembuatan
keputusan, Anda akan menemukan banyak petunjuk yang berguna. Jika Anda
ingin membuat pilihan-pilihan yang benar, Anda dapat menyelamatkan
diri Anda sendiri dari banyak masalah; apalagi jika Anda lebih
mencermati contoh-contoh yang tercatat di dalam firman Allah.
Misalnya, cerita tentang Kain ketika dia mengambil keputusan yang
buruk, dan akhirnya menuai hidup yang penuh kutukan dan sengsara
(Kejadian 4:5-13). Atau, Saul yang mengambil keputusan di luar yang
sudah ditetapkan Tuhan Allah. Karena keputusannya yang salah tersebut,
Saul hidup dalam depresi, mencari pertolongan dari seorang peramal,
berupaya melakukan pembunuhan yang justru berujung pada kematiannya
sendiri. Keputusan yang salah sangat merugikan dirinya
(Samuel 13:8-14).

Apakah contoh-contoh tersebut relevan dengan kita pada masa kini?
Mungkin contoh tersebut tampak jauh dan di luar konteks dunia modern
kita. Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa prinsip-prinsip itu
tetap berlaku.

Jangan lupa bahwa kita ada untuk suatu tujuan. Allah menciptakan kita
dengan sebuah harapan bahwa suatu hari nanti kita menjadi bagian dari
keluarga-Nya. Belajar membuat keputusan-keputusan bijak berdasarkan
perintah-perintah Allah adalah sebuah pelajaran utama yang perlu
dipelajari setiap orang.

Allah memberi tahu kita untuk tidak "bersandar kepada pengertianmu
sendiri" (Amsal 3:5). "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi
ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12) Lalu, bagaimana kita belajar
membuat keputusan yang bijak?

Kunci untuk membuat keputusan yang benar.

1. Mencari hikmat.

Kita bisa membuat pilihan yang benar dengan lebih mudah, jika kita
mencari hikmat. "Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan
segala yang kauperoleh, perolehlah pengertian." (Amsal 4:7) Kita
dibanjiri dengan pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan. Namun,
nilai-nilai pokok tidak berubah. Belajar menunjukkan rasa hormat
kepada Allah sebagai Pencipta segala sesuatu, adalah hal mendasar bagi
keberhasilan hidup. Bacalah wejangan hikmat dalam Kitab Amsal, dan
pakailah itu sebagai pedoman sehari-hari, untuk mendapatkan pengertian
dan pengetahuan, kemudian terapkan itu dalam proses pengambilan
keputusan.

2. Menaati Allah.

Setelah kehidupan yang penuh berkat dan kenyamanan, yang membuat
Salomo mengalami berbagai kebahagiaan dan keberhasilan, dia merangkum
apa yang telah dipelajarinya. Kesimpulan berdasarkan pengalaman yang
dialaminya seumur hidup adalah: "...Takutlah akan Allah dan
berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban
setiap orang." (Pengkhotbah 12:13) Yesus dari Nazaret mengajar para
murid-Nya pelajaran sejenis: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius
6:33)

Yesus Kristus dan Salomo tahu bahwa hal-hal jasmaniah yang tampaknya
paling penting bagi kita, tidak semuanya signifikan dalam waktu yang
lama. Pada akhirnya, menaati dan menyenangkan Allah adalah intinya.
Itulah satu-satunya cara, agar kita mampu menjalani hidup yang
benar-benar berguna dan produktif. Kita harus mengingat hal ini saat
kita membuat keputusan.

3. Mengembangkan hubungan yang sehat.

Keseluruhan Alkitab berbicara mengenai hubungan. Allah menghendaki
kita untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Dia menghendaki kita
untuk belajar bekerja bersama-sama, dan saling bergandengan tangan
dalam damai dan kasih. Beberapa misteri terbesar dari kehidupan,
disingkapkan dalam proses belajar untuk bekerja bersama-sama, yang
menuntut kesabaran, hormat, dan kerja keras untuk membangun
persahabatan.

Memiliki teman untuk mendukung dan memberi inspirasi kepada Anda, bisa
menjadi pertolongan yang luar biasa untuk menolong Anda membuat
pilihan yang benar. Sering kali, dengan mencurahkan isi hati kepada
sahabat atau seseorang yang Anda hormati, Anda bisa melihat jalan yang
lebih jelas.

Di sisi lain, sebagian hubungan bisa berbahaya. "Pergaulan yang buruk
merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33b) Berada di antara
orang-orang yang salah, akan memengaruhi penilaian Anda dan menuntun
kepada keputusan-keputusan yang buruk.

4. Aturlah hidup Anda.

Para atlet menyadari bahwa untuk meraih prestasi hebat, mereka perlu
berlatih dan bertindak. Sebagian orang yang ingin bertanding di
Olimpiade atau bermain olah raga profesional, mendedikasikan diri
mereka untuk melaksanakan jadwal latihan dengan ketat. Rasul Paulus
menyoroti gaya hidup seorang atlet, sebagai analogi untuk menunjukkan
bahwa orang Kristen harus berusaha sungguh-sungguh, untuk memiliki
hidup saleh: "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya,
supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku
sendiri ditolak." (1 Korintus 9:27)

Di dunia yang mudah terikat dengan permainan, makanan, alkohol,
pekerjaan, atau kemalasan, masuk akal untuk mencermati bagaimana kita
mengatur waktu kita. Proses membuat pilihan yang benar meliputi
menetapkan dan mengorganisasikan tujuan, kemudian mengerjakannya.

5. Temukan pekerjaan yang berarti.

"Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka
mendatangkan kekurangan saja." (Amsal 14:23) Allah memberi kita
pikiran yang sanggup menemukan hal-hal yang mengagumkan, salah satunya
dirangsang melalui pemecahan masalah dan pembangunan. Melakukan
sesuatu yang bermanfaat, dapat membuat Anda menemukan arti dalam hidup
dan melewati hari dengan cepat. Sebagian orang yang sedang mengerjakan
proyek yang menantang, lupa waktu dan bahkan mereka bisa lupa untuk
makan dan tidur.

Ingatlah bahwa Allah memberikan kepada manusia, 6 hari untuk bekerja
dan satu hari untuk beristirahat. Ini menunjukkan maksud Pencipta
kita, agar kita produktif. Membuat pilihan yang benar berarti kita
akan bekerja untuk tujuan produktif.

6. Perhatikan kesehatan Anda.

Ketika Anda sakit atau tertekan, sulit bagi Anda untuk tetap
bersemangat terhadap apa pun. Menjaga kesehatan meliputi memerhatikan
menu makan Anda, menjaga kebugaran fisik, dan menjaga penampilan
mental yang positif. Anda bisa beraktivitas jauh lebih baik, ketika
tubuh dan pikiran Anda sehat.

Paulus bertanya: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait
Roh Kudus... Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus
6:19-20) Allah memberikan kepada kita, masing-masing talenta yang luar
biasa dan kompleks dalam tubuh kita, dan Dia mengharapkan kita untuk
memeliharanya.

7. Miliki hubungan dengan Allah setiap hari.

Jika Anda mengerti alasan keberadaan Anda, maka Anda bisa menyadari
Allah telah membuat Anda sesuai dengan gambar-Nya. Secara alami, Dia
menghendaki kita untuk mengembangkan relasi kita dengan Dia. Kesadaran
ini membantu kita untuk mengetahui tujuan hidup kita.

Keputusan bijak, ketika timbul dari keinginan untuk mengembangkan
potensi kita, akan membuat hidup lebih bebas dari tekanan dan lebih
berharga. Paulus mendorong kita untuk memelihara cara pandang yang
benar ini, sehingga "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala
akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi
4:7)

Sebab dan Akibat

Beberapa abad yang lalu, Allah menginspirasi Musa untuk menawarkan
kepada bangsa Israel, pilihan-pilihan yang sama dengan yang harus kita
hadapi. Musa segera menyuruh bangsa Israel berkumpul untuk
mendengarkan dan memahami bahwa, pilihan mereka untuk menaati Allah
dan melakukan perintah-perintah-Nya akan menuntun kepada hidup. Di
sisi lain, dengan memilih untuk tidak taat, akan membawa mereka kepada
kematian. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu
pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat
dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun
keturunanmu." (Keluaran 30:19)

Semoga Anda memilih dengan bijak! (t/Setya)

Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama situs: TheGoodNews
Alamat URL: http://www.ucg.org/christian-living/
                   just-youth-wise-advice-wise-decisions/
Judul asli artikel: Just for Youth: Wise Advice for Wise Decisions
Penulis: Larry Greider
Tanggal akses: 29 Juli 2011

                    INFO: INTERNATIONAL DAY OF
               PRAYER FOR THE PERSECUTED CHURCH (IDOP)

Pada bulan kegiatan IDOP, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh
dunia berdoa bersama bagi gereja Tuhan yang teraniaya. Tahun ini,
kegiatan IDOP akan dilaksanakan secara serempak pada bulan November
2011.

Kami mengajak Anda, para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum
muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya untuk dapat bergabung
dalam acara doa bersama ini. Dapatkan pula IDOP KIT untuk membantu
Anda berdoa dan menyusun acara IDOP di gereja, sekolah, atau
persekutuan doa Anda. Informasi lebih lanjut tentang acara IDOP, bisa
dilihat di < www.persecutedchurch.org >.

Kontak: < konsel(at)sabda.org >
Redaksi: Sri Setyawati, Tatik Wahyuningsih, Mahardhika Dicky K., dan Davida Welni Dana
(c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/konsel >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org