Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/237

e-Konsel edisi 237 (12-4-2011)

Kemenangan Yesus atas Maut

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

EDISI 237/APRIL 2011

DAFTAR ISI
BIMBINGAN ALKITABIAH: MEMAHAMI KEBANGKITAN
INFO: BERBAGI BERKAT DAN BERSAKSI MELALUI PUBLIKASI KISAH

Salam kasih,

Pada bulan ini, kita memperingati peristiwa kematian dan kebangkitan
Yesus. Dia telah turun ke dunia dan menjadi "jembatan" antara kita
dengan Allah. Pengurbanan-Nya yang besar seharusnya kita syukuri
sepanjang kehidupan kita. Untuk menambah wawasan Anda, e-Konsel
menyajikan bimbingan alkitabiah yang berkaitan dengan kebangkitan
Yesus. Bukan hanya itu, di edisi ini Anda juga bisa mendapatkan info
penting yang perlu Anda simak. Mari beritakan Kabar Keselamatan kepada
mereka yang terhilang! Tuhan memberkati.

Staf Redaksi e-Konsel,
Tatik Wahyuningsih
< http://c3i.sabda.org/ >

              BIMBINGAN ALKITABIAH: MEMAHAMI KEBANGKITAN

Kebangkitan Yesus Kristus dari maut mengubah segalanya -- bagi Dia dan
bagi kita. Kebangkitan-Nya dari maut "bukan sekadar peristiwa besar
dalam sejarah, namun kisah yang terjadi dalam sejarah dengan kuasa
dari `dunia lain`. Kisah ini berhubungan dengan awal penciptaan; dan
Injil adalah kabar baik bahwa Tuhan sedang menciptakan dunia yang
baru."

Tubuh Baru yang Mulia

Kebangkitan Yesus tidak hanya berarti bahwa Yesus hidup, tetapi Dia
hidup dengan maksud khusus. Dia tidak hanya hidup dalam roh, tetapi
juga dalam tubuh kemuliaan-Nya -- hidup dalam seluruh kemanusiaan-Nya.
Kebangkitan-Nya berarti berakhirnya kuasa maut. Kebangkitan Kristus
juga menyatakan penebusan dosa manusia dari sakit-penyakit,
penderitaan, dan kematian, mulai sekarang dan sampai selamanya.

Kristus telah menebus kita pada wilayah yang tepat yaitu tubuh jasmani
kita. Tubuh jasmani kita merupakan sesuatu yang sangat kita sayangi,
akan tetapi tubuh juga membawa dukacita karena keinginan-keinginan
daging, sumber rasa sakit, kelemahan, serta kematian, dialami di dalam
tubuh. Di atas semua pergumulan -- duniawi, ragawi, serta kekalahan,
berita kebangkitan-Nya memampukan Paulus untuk berseru dengan lantang,
"Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini
dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi
kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan
manusia." (2 Korintus 5:1)

Empat Maksud Kebangkitan

Untuk melihat lebih dekat maksud dan dampak kebangkitan Yesus, kita
harus bisa melihat pengaruhnya terhadap Yesus sendiri. Hal ini tidak
hanya memberi ganjaran atas ketaatan-Nya sampai mati (Filipi 2:8),
tetapi juga menyatakan kuasa kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan umat
manusia (Matius 28:18-20).

1. Kebangkitan Mengubah Perwujudan Diri Yesus

Kebangkitan Yesus mengubah keberadaan-Nya menjadi Perantara; sebagai
Allah sekaligus manusia. Dalam tubuh jasmani-Nya, Dia telah
mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7),
Ia "menyerupai orang berdosa" (Roma 8:3), berbagi dengan kita dalam
kelemahan, rasa sakit, dan kematian secara "daging". Namun, dengan
kebangkitan-Nya semuanya berakhir. Sejak saat itu, Dia yang adalah
"keturunan Daud", ditetapkan sebagai yang pertama dan untuk selamanya,
sebagai "Anak Allah yang berkuasa" (Roma 1:3-4). Penyebutan Anak di
sini tentu saja bukanlah penyederhanaan konsep keilahian Tuhan,
melainkan penggambaran tubuh jasmani-Nya yang berubah dari lemah
menjadi kuat saat kebangkitan-Nya. Inilah perubahan dari eksistensi
kedagingan, ketergantungan, dan kerapuhan menjadi keadaan baru, yang
terbebas dari keterbatasan dan kerentanan sebelumnya.

Kisah kebangkitan Yesus merupakan kabar baik bagi kita semua (Roma
1:1), karena Dia sekarang hidup sebagai Perantara untuk membagikan
hidup baru-Nya dengan kita, hidup baru yang telah Dia menangkan bagi
kita melalui penderitaan dan kematian-Nya. Melalui kebangkitan-Nya,
Dia datang menjadi Tuhan. Dia dinyatakan sebagai Anak Allah yang
berkuasa "menurut Roh kekudusan" (Roma 1:4). Dia sendiri dalam tubuh
manusia-Nya yang dibangkitkan, diliputi oleh Roh Allah sehingga Dia
mampu menghadirkan kuasa yang menyelamatkan; kasih karunia Allah yang
telah Dia menangkan bagi kita.

Paulus menunjukkan karya dan cara kerja Kristus ketika dia berbicara
kepada orang-orang di Korintus tentang kebangkitan Yesus. Paulus
berkata, "Adam yang akhir (Yesus Kristus) menjadi roh yang
menghidupkan (Roh Kudus)" (1 Korintus 15:45). Hal ini diperkuat lagi
dengan pernyataan Paulus dalam 2 Korintus 3:17, "Sebab Tuhan adalah
Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan." Dari ayat
tersebut kita melihat Kristus bangkit menjadi kepala yang mengubah
umat-Nya, dari satu kemuliaan ke kemuliaan berikutnya oleh kuasa
Roh-Nya (2 Korintus 3:18).

2. Kebangkitan Menggenapkan Seluruh Penetapan Yesus bagi Diri-Nya
Sendiri

Yesus sering membuat pernyataan tentang diri-Nya, yang bagi orang lain
kadang diartikan sebagai hujatan. Bahkan, pernyataan-Nya mengesankan
Dia makhluk surgawi, pencemooh ketus, atau orang sinting karena Dia
berbicara dan bertindak dengan penuh kewibawaan, mengampuni dosa,
menjadikan diri-Nya sebagai pusat pengajaran-Nya, memberitahukan bahwa
Dia akan mengurbankan diri-Nya demi keselamatan dunia, menyerahkan
nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Terakhir, Dia menubuatkan
bahwa pada hari ketiga, Dia akan bangkit dari maut untuk mengambil
tempat di sebelah kanan Allah.

Tampaknya Dia benar-benar ditentukan oleh Allah dan dinyatakan dengan
kekuatan-kekuatan, mukjizat-mukjizat, dan tanda-tanda (Kisah Para
Rasul 2:22), namun semuanya tampak terbalik melalui kengerian Salib.
Seperti ada tertulis terkutuklah orang yang "digantung di kayu salib"
(Ulangan 21:22-23). Serupa dengan hal itu, dalam pelayanan-Nya, Yesus
menegaskan hubungan istimewa-Nya dengan Allah. Dia menyatakan bahwa
Allah adalah Bapa-Nya (Matius 11:27) dan Dia sendiri adalah Anak yang
tidak ada seorang pun yang dapat menyamai-Nya (Markus 12:6, 13:32,
Yohanes 5:17-27). Salib tampaknya berarti penolakan Allah terhadap
Yesus, dan faktanya Yesus menderita karena ditinggalkan Allah (Matius
27:43-46). Akan tetapi, kebangkitan Yesus adalah pengakuan Allah
atas-Nya di hadapan surga, bumi, dan neraka. Bahkan, ini melebihi
peristiwa baptis di Sungai Yordan atau saat Dia dimuliakan di atas
gunung. Pada Minggu pagi Paskah pertama, Bapa akhirnya menegaskan,
"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan." Dalam
peristiwa hebat itu, Dia menyatakan di depan umum kepada Kristus,
"Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini." (Kisah
Para Rasul 13:33)

Inilah penekanan utama dalam pengajaran para rasul (Kisah Para Rasul
2:24,32,36, 3:13,15, Roma 10:9; 1 Korintus 6:14, 15:15, Galatia 1:1; 1
Petrus 1:21). Benarlah bahwa kebangkitan Kristus adalah karya Allah
Tritunggal -- Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Yohanes 10:17-18, Roma 1:4,
8:9-11). Oleh karena itu, Petrus dan para rasul lainnya menekankan
bahwa kebangkitan Yesus bukanlah tindakan yang dilakukan Yesus
sendiri, bukan mukjizat yang Dia tunjukkan karena kuasa-Nya yang luar
biasa. Jika benar demikian, kejadian itu bisa dikatakan seperti "kuasa
Iblis" (Matius 12:24). Akan tetapi, karena Bapa sendiri menjadi
penggagas utama kebangkitan Yesus, seluruh kritik terjawab. Allah
sendiri yang memeteraikan peristiwa ini.

Jika Yesus adalah seorang fanatik atau penipu, Bapa tidak akan
memedulikan-Nya. Namun Dia yang pernah menjadi Anak Allah dalam
kelemahan, kini menjadi Anak Allah yang berkuasa (Roma 1:3-4, Matius
28:18) melalui kebangkitan-Nya dari maut. Paulus, saksi terakhir yang
ditemui Yesus, akhirnya percaya kepada-Nya (Kisah Para Rasul 9:3; 1
Korintus 15:8; 2 Korintus 4:6; 1 Timotius 1,12-17).

3. Kebangkitan Menandakan Kemenangan Yesus yang Sempurna

Bapa membangkitkan Yesus dari maut bukan hanya karena Dia Anak-Nya,
tetapi juga karena Dia telah melaksanakan tugas-Nya, menyelesaikan
pekerjaan-Nya, dan menggenapkan kurban penebusan-Nya. Yesus
dibangkitkan bukan semata-mata karena Dia sebagai Anak melainkan juga
sebagai Perantara -- mewakili umat-Nya dalam kapasitas yang luas dan
bukan untuk pribadi tertentu. Dia benar-benar "Adam yang akhir",
"manusia kedua" (1 Korintus 15:45-47). Oleh karena itu, lewat
kematian-Nya di kayu salib, Dia diperlakukan Bapa sebagai wakil umat
Allah di segala zaman. Dalam kapasitas itu, hukuman atas segala dosa
kita dilimpahkan kepada-Nya; Dia sendiri "menanggung dosa-dosa kita
dalam tubuh-Nya di atas kayu salib." (1 Petrus 2:24)

Penebusan itu bukan hanya untuk sebagian dosa kita, tetapi seluruhnya.
Allah mampu mengampuni segala dosa. Sebagai Seseorang yang
menggantikan tempat kita, memikul tanggung jawab dosa kita, Yesus
berada di bawah kuasa maut. Akan tetapi, kebebasan-Nya dari maut
(Kejadian 2:17, Roma 6:23) menunjukkan bahwa harga penebusan sudah
dibayar lunas, dosa telah ditanggung dan dilenyapkan
(Imamat 16:15, 20-22), penebusan sempurna telah diberikan dan
diterima. Hal ini memberi kita wawasan yang lebih mendalam tentang
perkataan Petrus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:24). Jika
Allah yang Mahaadil mustahil membebaskan Yesus karena penebusan tidak
dibayarkan, maka mustahil pula Allah yang Mahaadil tidak
membebaskan-Nya setelah kehendak Allah dipenuhi. Hal itu "mustahil"
bukan karena mempertimbangkan kuasa Kristus atau Allah, tetapi karena
keadilan Allah. Tidak mungkin Yesus harus tetap berada dalam kuasa
maut sebagai hukuman atas dosa, padahal Dia telah melenyapkan semua
dosa dan membayar lunas dosa. Mustahil jika kebangkitan tidak terjadi.
Kebangkitan-Nya adalah murni karena keadilan Allah. Penebusan
menegaskan kebangkitan sebagaimana kebangkitan mengesahkan penebusan.
Belajar dari pengertian ini, pengarang Ibrani menyimpulkan bahwa
pengurbanan Yesus dilakukan sekali dan berlaku untuk selamanya (Ibrani
10:12,14).

4. Kebangkitan Yesus Adalah Janji dan Kuasa Kebangkitan Kita Sendiri

Kebangkitan Kristus adalah janji sekaligus awal kebangkitan kita.
Dalam 1 Korintus 15, Paulus menggambarkannya dengan mengingat upacara
Perjanjian Lama tentang buah sulung dari hasil panen, lalu menjelaskan
konsep ini menggunakan dua istilah, "yang sulung dari orang-orang yang
telah meninggal" dan "Adam yang akhir". Kebangkitan Kristus bukan
sekadar janji akan kebangkitan kita, tetapi kebangkitan itu sendiri
adalah awal kebangkitan kita!

Inilah sumber sukacita dan keyakinan Kristen. Ayat 20 menyatakan bahwa
buah sulung adalah bagian dari seluruh hasil panen. Inti ajaran Paulus
adalah adanya hubungan organik dan kesatuan antara buah sulung dan
hasil panen selanjutnya; yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang
lain. Kebangkitan-Nya bukan hanya mengawali kebangkitan kita, tetapi
kebangkitan kita merupakan bagian dari kebangkitan-Nya juga.

Kuasa Allah yang tanpa batas dalam Kristus adalah kuasa yang dibeli
dalam kelemahan, namun dianugerahkan tanpa batas (Matius 28:18).
Paulus menyebutkan kuasa yang akan membangkitkan tubuh rohani kita
pada Hari Terakhir sebagai kuasa Kristus (Filipi 3:20-21), kuasa Roh
(Filipi 3:20-21), kuasa Bapa (1 Korintus 6:14, dan 2 Korintus 4:14).
Kesamaan dari pernyataan-pernyataan tersebut adalah bahwa kuasa
kebangkitan orang percaya sangat erat hubungannya dengan kuasa
kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus dan umat-Nya membentuk
kesatuan yang tidak dapat dihancurkan. Itulah sebabnya kebangkitan
kita adalah sebuah harapan pasti.

Dalam 1 Korintus 15:25-26, Paulus memberikan pemahaman khusus bahwa
Kristus berkuasa atas sejarah dunia yang hancur sampai Allah
"meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya" dan bahwa "musuh
terakhir yang dibinasakan ialah maut". Paulus menjelaskan bahwa maut
bukanlah musuh kita karena Kristus telah membayar lunas dosa kita.
Dengan demikian, maut tidak lagi berkuasa atas kita. Sebaliknya,
Kristus berkuasa atas maut. Dalam pertarungan terakhir melawan maut,
Kristuslah yang berjaya karena Dia memiliki kuasa dan kewenangan dalam
tangan-Nya. Dia tidak akan membiarkan karya-Nya di Kalvari sia-sia.
Kristus yang telah dibangkitkan, hidup untuk menegaskan arti
penebusan-Nya dan membawa kita kepada pendamaian yang sempurna dan
mulia. Maut harus dihancurkan. Kristus melakukannya bagi kita karena
Allah "telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kakinya" (1 Korintus
15:27) dan telah memberi-Nya kuasa untuk "menaklukkan segala sesuatu
kepada dirinya" (Filipi 3:21).

Kebangkitan Yesus merupakan jaminan pasti yang diberikan oleh Allah
Bapa untuk kita (1 Korintus 15:20-23). Bagian kita akan berlanjut
sampai kita "mengenakan manusia yang tidak bisa binasa", menerima
gambar Kristus, "makhluk surgawi". Apa yang Dia alami akan kita alami
juga. Dia bukan sosok yang dibatasi ruang dan waktu (Lukas 24:31,36,
Yohanes 20:19); begitu juga dengan kita (1 Korintus 15:40-44).
Tubuh-Nya yang dimuliakan bukan ilusi, tetapi nyata (Lukas 24:39-43).
Dia tidak akan pernah lagi merasakan kelemahan, penderitaan, atau
kematian (Kisah Para Rasul 13:34); begitu juga dengan kita (Wahyu
21:4; 1 Korintus 15:53-56). Tubuh-Nya penuh kemuliaan (Lukas 24:15-16,
Wahyu 1:12-16); begitu juga dengan kita (1 Korintus 15:34-42 dan 1
Yohanes 3:2).

Dengan demikian, dalam kebangkitan Yesus Kristus dari maut kita
mendapatkan prinsip kebangkitan seluruh gereja Allah. Kuasa ajaib yang
membuka kubur pada Hari Terakhir dan membangkitkan tubuh-tubuh mulia
yang tak terhitung banyaknya menjadi bukti kuasa kebangkitan-Nya.
Himpunan orang-orang kudus yang dibayar lunas dan sempurna akan
berdiri berjajar di sebelah Kristus pada hari penghakiman-Nya.
(t/Dicky)

Diterjemahkan dan diringkas dari:
Judul asli buku: The Glory of Christ
Judul asli artikel: Understanding the Ressurection
Penulis: Peter Lewis
Penerbit: Moody Press, Chicago 1997
Halaman: 371 -- 380

     INFO: BERBAGI BERKAT DAN BERSAKSI MELALUI PUBLIKASI KISAH

Ingin mewartakan kasih karunia dan penyertaan Allah yang luar biasa
atas hidup Anda? Saatnya Anda berbagi kasih mengenai pekerjaan Allah
dalam setiap aspek kehidupan Anda. Melalui Publikasi KISAH, Anda dapat
berbagi berkat dan saling menguatkan melalui kesaksian Anda.
Bergabunglah segera dan jadikan publikasi KISAH sebagai wadah
penyampai berkat Anda dalam menyaksikan kasih karunia Allah kepada
sesama. Caranya sangat mudah dan tidak dipungut biaya apa pun. Anda
tinggal menulis e-mail kosong ke:

< subscribe-i-kan-kisah(at)hub.xc.org > atau kontak redaksi di:
< kisah(at)sabda.org >

Simak pula informasi lain yang tidak kalah menarik berikut ini.

Baca arsip KISAH atau kesaksian lainnya:
< http://www.sabda.org/publikasi/Kisah/arsip/ >
dan < http://kesaksian.sabda.org/ >

Berinteraksi dan berbagi kesaksian dalam jejaring sosial:
< http://fb.sabda.org/kisah > dan < http://twitter.com/sabdakisah >

Selamat bergabung!

Kontak: < konsel(at)sabda.org >
Redaksi: Sri Setyawati, Tatik Wahyuningsih, dan Yulia Oeniyati
(c) 2011 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/konsel >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org