Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/187

e-Konsel edisi 187 (1-7-2009)

Anak Adopsi

______________________________e-KONSEL________________________________

        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________

EDISI 187/1 Juli 2009

Daftar Isi:
  = Pengantar: Usaha untuk Mendapatkan Keturunan
  = Cakrawala 1: Apakah Anak-Anak Adopsi Memiliki Lebih Banyak
                 Masalah?
  = Cakrawala 2: Ma, Aku Anak Pungut, Ya?
  = TELAGA: Anak Adopsi
  = INFO: Jelajahi Dunia Internet Melalui Indonesian Christian
          WebWatch

PENGANTAR ____________________________________________________________

  Salam dalam kasih Kristus,

  Setiap pasangan suami istri pasti ingin rumah tangganya dilengkapi
  dengan lahirnya keturunan. Anak bukan hanya merupakan generasi
  penerus. Anak merupakan berkat karunia Tuhan bagi setiap pasangan
  suami istri. Namun, Tuhan terkadang memiliki rencana indah yang
  kadang tidak kita mengerti. Tidak semua pasangan mudah memiliki
  anak. Bahkan beberapa pasangan, karena alasan tertentu, tidak bisa
  memiliki keturunan.

  Karena keadaan itu, mereka pun akhirnya memutuskan untuk mengadopsi
  anak. Mengadopsi anak berarti mengangkat seorang anak yang bukan
  darah dagingnya sendiri untuk diasuh dan dibesarkan layaknya anak
  sendiri. Tentu saja ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi
  oleh calon orang tua yang ingin melakukan tindakan ini. Pada satu
  sisi, pilihan ini tentu membahagiakan calon orang tua karena
  setidaknya kebahagiaan rumah tangga mereka akan lengkap dengan
  hadirnya anak. Pada sisi lain, orang tua punya tantangan yang lebih
  besar ketika membesarkan anak adopsi.

  Melalui edisi Anak Adopsi kali ini, redaksi mengajak Pembaca untuk
  melihat tantangan-tantangan yang dihadapi orang tua saat mereka
  memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Kiranya sajian
  artikel-artikel berikut ini bisa menambah wawasan Pembaca.

  Selamat menyimak!

  Pimpinan Redaksi e-Konsel,
  Christiana Ratri Yuliani
  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
  http://c3i.sabda.org/

CAKRAWALA 1___________________________________________________________

        APAKAH ANAK-ANAK ADOPSI MEMILIKI LEBIH BANYAK MASALAH?

  Masalah-masalah penyesuaian dan perkembangan pada anak adopsi
  sedikit lebih banyak daripada anak kandung. Beberapa penulis
  menyatakan bahwa anak kandung nampaknya lebih sedikit mengalami
  masalah kejiwaan dan sosial daripada anak adopsi karena
  masalah-masalah identitas di kemudian hari. Bisa juga, anak adopsi
  mengalami masalah "bawaan" yang mungkin disebabkan oleh kehamilan
  remaja yang membuat stres dan disertai dengan kurangnya nutrisi
  serta perawatan medis. Kehamilan seperti itu berujung pada bobot
  bayi yang lebih ringan dan komplikasi-komplikasinya.

  Carol Nadelson menunjukkan bahwa anak adopsi rapuh secara emosional.
  Masalah-masalah emosional mereka adalah seputar kesulitan mereka
  dalam membangun identitas dan konsep diri. Saat Anda menyadari bahwa
  Anda diadopsi, itu berarti secara "de facto" Anda diberikan atau
  ditolak. Rasa tidak menentu ini dapat mengakibatkan anak adopsi
  merasa bahwa mereka pasti sangat buruk sampai-sampai mereka ditolak.
  Atau, mereka merasa bersalah karena merasa bahwa orang tua kandung
  mereka sangat jahat karena menolak mereka. Yang paling parah, anak
  adopsi merasa khawatir tentang apakah mereka akan ditolak lagi.

  Dalam mengenali masalah-masalah pada masa remaja akhir, anak adopsi
  tampak lebih rapuh daripada orang-orang pada umumnya. Mereka mungkin
  asyik dengan perasaan terpisah dan terasing, tidak hanya pada usia
  belasan, tetapi juga pada saat menikah, kelahiran anak mereka
  sendiri, atau kematian orang tua adopsi. Mereka mungkin saja
  khawatir kalau-kalau mereka melakukan inses secara tidak sengaja.
  Beberapa anak adopsi merasa sangat ingin menemukan orang tua kandung
  mereka. Kadang-kadang, anak remaja hanya berpura-pura saat mereka
  mengancam untuk mencari orang tua kandung mereka -- untuk "menguji"
  orang tua adopsi mereka. Bagi beberapa orang, pencarian orang tua
  kandung mereka merupakan suatu pengalaman positif.

  Meskipun beberapa orang setuju bahwa anak adopsi mungkin memiliki
  masalah yang lebih banyak daripada anak kandung -- dan untuk alasan
  yang tepat -- kebanyakan anak adopsi baik-baik saja dan banyak yang
  tumbuh dengan baik. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dan disesuaikan dari:
  Judul buku: Child Care Parent Care
  Judul asli artikel: Do Adopted Children Have More Problems?
  Penulis: Marilyn Heins, M.D. dan Anne M. Seiden, M.D.
  Penerbit: Doubleday & Company, Inc., New York 1987
  Halaman: 791 -- 792

CAKRAWALA 2___________________________________________________________

                       MA, AKU ANAK PUNGUT, YA?

  Sebagian besar pasangan mengharapkan keturunan dari pernikahannya.
  Biasanya setelah 5 tahun menikah tanpa anak, muncul keinginan untuk
  mengadopsi anak. Pertanyaan yang sering muncul adalah: "Kapan
  sebaiknya memberitahu sang anak bahwa kita bukan orang tua
  kandungnya?" Ketika bermaksud mengadopsi anak, sebaiknya kita
  mengerti bahwa pada prinsipnya semua ibu menyayangi anaknya. Di sisi
  lain, beberapa kehamilan terjadi karena kecelakaan, mungkin akibat
  hubungan seksual di luar nikah atau kegagalan alat kontrasepsi.
  Maka, ada juga anak yang sejak dari kandungan sudah merasakan
  penolakan orang tuanya. Tapi umumnya, begitu anak lahir, sang ibu
  jatuh hati padanya. Kalau dia terpaksa menyerahkan anaknya kepada
  orang lain, itu karena dia tidak berdaya dan tidak mampu merawatnya
  sendiri.

  Kita cukup sering mendengar kisah lain dari anak-anak yang diadopsi.
  Ada juga keluarga yang sengaja mengangkat anak untuk "memancing"
  kehamilan sendiri sehingga lahirlah anak kandung. Entah bagaimana
  menjelaskan mitos ini secara ilmiah, tetapi dalam beberapa kasus,
  hal ini terjadi. Setelah punya anak angkat, sang ibu hamil. Tidak
  lama kemudian, lahirlah anak kedua, yang adalah anak kandung. Namun,
  muncul permasalahan ketika ternyata kedua anak ini punya karakter
  dan wajah yang sangat berbeda.

  Beberapa Kasus

  Ina

  Ina seorang remaja 14 tahun, kelas 3 SMP, suatu kali diajak orang
  tuanya menemui seorang konselor. Masalahnya, akhir-akhir ini Ina
  sering diajak teman cowoknya, seorang siswa SMU. "Pacar?" Kalau
  ditanya, Ina selalu menjawab, "Cuma teman." Yang menjadi masalah
  buat mamanya, Ina diajak "clubbing" alias "dugem". Kalau dilarang,
  Ina mengambek. Terkadang dia pergi juga, tidak peduli pada larangan
  mamanya. Orang tua mana yang tidak kuatir?

  Beberapa hari lalu, iseng-iseng mamanya membuka HP Ina. Mamanya
  terkejut karena "galery" HP berisi gambar-gambar porno. Menurut Ina,
  temannya itulah yang memasukkan gambar-gambar itu ke HP-nya. Mamanya
  marah. HP Ina disita. Dia juga tidak diizinkan bertemu dengan teman
  cowoknya.

  Saya memandang Ina. Dia remaja, berkulit agak gelap dan sedikit
  montok. Berbeda dengan mamanya yang langsing dan terlihat cantik
  pada usia tengah baya. Mungkin ibu ini merasakan sesuatu melalui
  pandangan saya. Beberapa saat setelah saya berbicara dengan Ina,
  saya pun berbicara dengan orang tuanya. Dari situ saya mendengar
  rahasia mereka, "Ina itu anak adopsi, Bu," kata mamanya, "kami
  mengadopsinya lewat sebuah panti asuhan, waktu Ina berusia dua
  bulan. Pihak panti tidak bersedia memberitahu latar belakang ibu
  kandung Ina. Apakah ini memengaruhi kebiasan dan karakter Ina?"

  Ina baru tahu bahwa dia anak adopsi saat dia beranjak remaja. Ibu
  dan bapak angkatnya terpaksa memberitahu Ina karena beberapa
  temannya membandingkan Ina dengan orang tuanya. Mula-mula Ina tidak
  peduli, tetapi mungkin karena tekanannya cukup kuat, akhirnya dia
  bertanya. "Tidak ada jalan lain. Dia membawa bukti-bukti fisik,"
  cerita mamanya. "Akhirnya kami memang memberitahu dia bagaimana dia
  bisa bersama kami. Saya juga menyatakan bahwa Ina tetap anak kami
  dan kami sangat menyayangi dia. Tapi rupanya dia kecewa. Sejak itu,
  kami merasakan dia makin tertutup, sering jalan dengan temannya dan
  marah kalau kemauannya tidak dituruti."

  Rio

  Rio berusia 13 tahun ketika seorang anggota keluarga dekatnya
  memberitahu bahwa dia bukan anak kandung orang tuanya. Karena itu,
  dia menanyakan kebenaran informasi ini pada orang tuanya. "Jangan
  dengarkan orang lain," jawab mamanya. "Kamu anak Mama." "Aku tahu,
  Ma," jawab Rio, "aku anak Mama. Tapi apakah Mama yang melahirkan
  aku?" Mamanya berusaha berkelit, "Rio, kamu anak Mama dan Papa. Kami
  sayang sama kamu. Jangan tanya itu lagi, ya. Mama sedih jika Rio
  meragukan Mama dan Papa."

  Rio tidak menjawab. Sejak itu memang dia tidak pernah lagi
  menanyakan asal-usulnya. Tetapi mamanya terus berada dalam
  kekhawatiran. Dia takut anak sulungnya itu marah karena merasa
  dikelabui. Ibu ini tidak siap menghadapi kebenaran. Bagaimana kalau
  Rio menuntut haknya untuk informasi, seperti yang kita lihat di
  sinetron-sinetron TV?

  Grace

  Saya bertemu Grace dan mamanya beberapa waktu lalu. Dia seorang
  gadis cilik yang mandiri, berani, sopan, dan menyenangkan. Pada
  waktu itu usianya 8 tahun. Saya cukup "surprised" saat ibunya
  mengatakan bahwa Grace datang ke rumah mereka ketika berusia 3,5
  tahun. "Jadi, waktu itu Mama umurnya berapa, ya?" komentar Grace
  yang ikut mendengarkan percakapan kami.

  Pada kesempatan lain, mama Grace menjelaskan bahwa sejak usia 4
  tahun, Grace telah diberitahu mengenai hal ini. Mula-mula Grace
  nampaknya tidak begitu mengerti artinya karena beberapa kali setelah
  itu dia masih terus bertanya. Namun, sejak usia 5 tahun, Grace
  mengerti bahwa dia bukan anak kandung mama dan papanya.

  Yang Perlu Diperhatikan

  Dari percakapan saya dengan mama Grace, ada beberapa hal yang perlu
  diperhatikan jika kita mengadopsi anak.

  Pertama, walaupun diperkirakan ada karakter bawaan orang tua asal
  yang kurang baik dalam diri anak itu, kita percaya bahwa ada
  anugerah Tuhan untuk mengubahnya. Tugas kita adalah membimbing anak
  tersebut untuk mengenal Tuhan.

  Kedua, sampaikan pada anak bahwa dia bukanlah anak yang kita
  lahirkan, melainkan anak yang diberikan Tuhan dalam keluarga.
  Beritahukan kenyataan ini sewaktu anak masih kecil dan masih
  bergantung pada kita sebagai orang tua yang mengasuhnya. Hal ini
  dapat disampaikan berulang kali (jika dia menanyakan terus) sampai
  dia mengerti maksudnya. Jelaskan dengan contoh-contoh dan cerita.
  Gunakan istilah positif dalam berbicara. Misalnya, "anak angkat",
  bukan "anak pungut". Usahakan agar anak benar-benar tahu bahwa kita
  sungguh-sungguh mengasihi dia.

  Ketiga, jika kita tidak tahu riwayat keluarga asalnya, kita harus
  hati-hati dengan berbagai penyakit yang mungkin ada dan bersifat
  genetik, misalnya alergi dan kesehatan mental. Perhatian ekstra
  memang harus diberikan sampai kita mendapat konfirmasi dari tenaga
  ahli.

  Keempat, walaupun tidak mudah, kita harus menyiapkan dia untuk
  menyambut adik lain yang akan hadir dalam keluarga.

  "Loosing Isaiah"

  Ketika ingin menulis artikel ini, kami teringat film "Loosing
  Isaiah". Siapa pun Anda yang mengadopsi anak, perlu menonton film
  tersebut. Dikisahkan, Isaiah, seorang anak kulit hitam yang lahir
  dari seorang ibu tunggal yang pecandu. Saat mamanya sedang memakai
  candu di tempat pembuangan sampah, Isaiah terangkut truk sampah.
  Dalam keadaan sekarat dia ditemukan oleh pemulung dan dibawa ke
  rumah sakit pemerintah. Seorang dokter yang bertugas merawatnya
  jatuh hati padanya. Dokter ini membawa Isaiah ke rumahnya dan
  merawat bayi mungil ini seperti anaknya sendiri.

  Namun apa yang terjadi. Ibu kandung yang pecandu ini berusaha
  merebut buah hatinya. Untuk itu dia masuk dalam pusat rehabilitasi,
  lalu berusaha mencari pekerjaan. Setelah mapan dan merasa mampu, dia
  mengunjungi Isaiah di sekolahnya. Dia bersyukur melihat Isaiah yang
  sehat, pandai, dan tampan. Didukung oleh keluarga kulit hitam di
  lingkungannya, ibu kandung Isaiah menggugat ibu angkat anaknya.
  Pengadilan mengabulkan permintaan sang ibu kandung. Maka Isaiah pun
  berpindah tangan.

  Namun, Isaiah yang saat itu berusia tiga tahun sudah lupa pada sosok
  wanita yang tidak dikenalnya itu. Dia menangis dan menyatakan
  protesnya dengan tidak mau makan saat dalam asuhan ibu kandungnya.
  Cerita ini berakhir dengan bahagia. Isaiah akhirnya dikembalikan
  kepada ibu angkatnya. Kasih kedua ibu ini pada Isaiah membuatnya
  sekarang memunyai dua ibu.

  Dalam hidup seorang anak, apakah kandung atau anak asuh, yang dia
  butuhkan adalah cinta yang tulus, terus-menerus, dan tanpa syarat
  dari si pengasuh. Semoga ini jadi perenungan bagi setiap kita para
  orang tua.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama situs: Ayahbunda.org
  Penulis: Roswitha Ndraha dan Julianto Simanjuntak
  Alamat URL: http://ayahbunda.org/index.php?option=com_content&task=view&id=81&Itemid=38

TELAGA _______________________________________________________________

                             ANAK ADOPSI

  Tidak semua pasangan nikah dikaruniai anak, sehingga mengadopsi anak
  menjadi sebuah alternatif yang layak dipertimbangkan. Sungguhpun
  demikian, kita mesti memastikan beberapa hal di bawah ini agar tidak
  melakukan kesalahan dalam mengadopsi anak.

  Motivasi

  Kita harus memiliki motivasi yang benar dalam mengadopsi anak dan
  motivasi yang benar adalah keinginan untuk membagi kasih dan hidup
  dengan anak serta membesarkannya menjadi penggenap rencana Allah
  dalam hidupnya. Ada orang yang memiliki motivasi yang keliru,
  misalkan ada yang ingin berstatus memunyai anak namun tidak bersedia
  membagi hidup dan kasih dengan anak. Atau ada yang bercita-cita agar
  anak menjadi penerus dirinya belaka dan melupakan satu fakta yang
  hakiki, yakni anak adalah manusia ciptaan Tuhan yang Ia tempatkan di
  bumi untuk menggenapi rencana-Nya, bukan rencana kita. Singkat kata,
  kita mengadopsi anak karena ingin mengasihinya, bukan memakainya
  demi kepentingan pribadi. Jika unsur kasih tidak kuat, maka bila
  suatu saat anak kandung lahir, niscaya anak adopsi akan menjadi anak
  terbuang. Atau, bila motivasi kasih tidak kuat, sewaktu anak adopsi
  mengembangkan masalah, orang tua dengan mudah mengusirnya atau
  mengembalikannya kepada orang tua kandung.

  Kesiapan

  Sebelum mengadopsi anak, kita mesti siap menerima kedatangannya di
  dalam kehidupan kita. Ada orang yang mengadopsi anak namun tidak
  siap untuk mengakomodasi kehadiran anak dalam jadwal kehidupannya.
  Anak langsung diserahkan kepada perawat. Kita pun harus siap
  menerima kehadiran anak yang bukan dari darah daging sendiri --
  bentuk fisiknya mungkin akan sangat berbeda dari kita dan sifat atau
  tabiatnya juga berlainan. Dengan kata lain, kita selayaknya
  menyiapkan diri untuk menghadapi perbedaan ciri -- baik itu ciri
  fisik maupun ciri kepribadian.

  Selain kedua hal di atas, ada beberapa hal teknis yang mesti kita
  pertimbangkan dalam mengadopsi anak.

  1. Sebaiknya kita mengadopsi anak sejak bayi sehingga terjalin
     ikatan yang kuat antara anak dan orang tua.

  2. Kita harus memastikan kesiapan pribadi untuk mengadopsi anak
     sesuai jenis kelamin yang diharapkan. Ada orang yang lebih nyaman
     dengan anak perempuan atau sebaliknya.

  3. Sebaiknya anak adopsi diberitahukan status sebenarnya pada waktu
     ia berusia di bawah 10 tahun, sehingga kalaupun harus terjadi
     pergolakan, hal itu akan terjadi pada usia kanak-kanak, bukan
     remaja.

  4. Jika harus terjadi kontak dengan orang tua kandung, sebaiknya itu
     terjadi sewaktu anak sudah mendekati usia akil balig untuk
     mencegah terjadinya kerancuan.

  Tuhan tidak membedakan anak -- baik anak yang dibesarkan orang tua
  kandung atau bukan. Samuel dibesarkan oleh Iman Eli, bukan oleh
  ibunya, Hana, namun Tuhan memberkati dan memakai Samuel. Nama Samuel
  berarti "aku telah memintanya dari Tuhan" (1 Samuel 1:20). Inilah
  yang Hana katakan, "Untuk mendapat anak inilah aku berdoa dan Tuhan
  telah memberikan kepadaku apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku
  pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya
  kepada Tuhan." (1:27-28)

  Hampir semua anak adopsi tahu bahwa ia bukanlah anak kandung orang
  tuanya. Kadang ini terlihat dari ciri fisik yang begitu berbeda,
  namun ada kalanya perasaan ini muncul dengan sendirinya. Itu
  sebabnya jauh lebih baik bila ia diberitahukan status sebenarnya
  pada waktu ia masih kecil. Sama seperti anak lain, anak adopsi tidak
  harus menimbulkan masalah, namun orang tua mesti mewaspadai hal-hal
  berikut ini.

  Ketertolakan dan Kemarahan

  Anak adopsi cenderung mengembangkan rasa ketertolakan --
  bagaimanapun ia diserahkan orang tuanya kepada orang lain. Rasa
  ketertolakan berpotensi membuatnya merasa tidak berharga dan
  berpandangan negatif terhadap dirinya. Itu sebabnya kita mesti
  ekstra peka dalam mengasuhnya. Jika rasa ketertolakan berlanjut, ia
  dapat memberontak dan berusaha menjauhkan diri dari keluarga. Pada
  dasarnya, isi dari ketertolakan adalah kesedihan dan kemarahan. Ia
  pun dapat merasa tertipu sebab selama ini ia merasa sebagai anak
  kandung.

  Rasa Tidak Aman

  Anak adopsi cenderung membandingkan diri dengan anak lain dan
  berupaya terlalu keras untuk membuktikan bahwa ia layak dikasihi dan
  menjadi bagian dari keluarga yang mengadopsinya. Ia merasa tidak
  diinginkan oleh orang tua kandung, jadi sekarang ia berusaha keras
  mendapatkan penerimaan ini. Perilaku ini tidak sehat dan berpotensi
  menimbulkan masalah karena dengan mudah ia dapat kehilangan jati
  dirinya dan terjebak dalam perilaku menyenangkan orang secara
  membabi buta.

  Ketersesatan

  Anak adopsi bisa pula merasa terhilang dalam hidup sebab tiba-tiba
  ia merasa sebatang kara. Tanpa penjagaan dan kasih yang kuat, ia
  dapat melakukan hal-hal yang salah karena kehilangan arah hidup. Ia
  beranggapan tidak ada seorang pun yang sungguh peduli kepadanya,
  jadi mengapakah ia harus memedulikan perasaan orang lain.

  Tindakan Orang Tua

  1. Orang tua mesti memperlakukan anak adopsi seperti anak kandung
     karena fakta inilah yang akan berbicara kepadanya tatkala ia
     tengah mengalami pergolakan.

  2. Orang tua harus kuat bertahan dan tidak terjebak ke dalam upaya
     anak menguji batas kesabaran. Anak adopsi kadang berperilaku
     buruk seolah-olah meminta untuk ditolak kembali -- jadi,
     menggenapi "nasib" sebagai anak yang terbuang.

  3. Orang tua tetap mesti mendisiplinnya dan tidak boleh
     memperlakukannya secara khusus. Kasih dan disiplin harus
     diberikan secara seimbang.

  Firman Tuhan: Yefta adalah anak yang terbuang dan akhirnya menjadi
  anak berperilaku buruk (Hakim-Hakim 11:1-4). Anak adopsi bukanlah
  anak yang terbuang; sebaliknya, anak adopsi adalah anak yang
  terselamatkan. Tuhan menyelamatkan dan memberinya keluarga yang
  baru.

  Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T199A
  yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin
  mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim
  surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org>
  atau < TELAGA(at)sabda.org >. Atau kunjungi situs TELAGA di:
  ==> http://www.telaga.org/audio/anak_adopsi

INFO _______________________________________________________________

    JELAJAHI DUNIA INTERNET MELALUI INDONESIAN CHRISTIAN WEBWATCH

  Apakah Anda membutuhkan informasi situs-situs Kristen maupun umum
  sebagai referensi dalam pelayanan Anda?

  Publikasi Indonesian Christian WebWatch (ICW) hadir untuk menjawab
  kebutuhan Anda. Setiap dua kali dalam sebulan, Anda akan mendapatkan
  banyak informasi mengenai situs-situs Kristen yang berbahasa
  Indonesia maupun berbahasa Inggris. Tidak hanya itu, pelanggan juga
  dimanjakan dengan ulasan situs umum, ulasan milis publikasi, ulasan
  milis diskusi, serta artikel-artikel menarik seputar kekristenan dan
  dunia internet. Newsletter/majalah elektronik yang diterbitkan
  Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) ini dapat Anda peroleh dengan GRATIS!
  Bagi Anda para konselor, hamba Tuhan atau siapa pun yang ingin
  memperluas jaringan dan tidak ketinggalan informasi tentang situs
  Kristen terbaru, segeralah berlangganan ICW. Untuk berlangganan,
  Anda hanya harus mengirimkan e-mail ke alamat berikut ini.

  ==>   <subscribe-i-kan-icw(at)hub.xc.org>

  Untuk menyimak topik-topik apa saja yang pernah disajikan, silakan
  kunjungi:

  ==>   http://www.sabda.org/publikasi/icw/

_______________________________e-KONSEL ______________________________

Pimpinan Redaksi: Christiana Ratri Yuliani
Staf Redaksi: Tatik Wahyuningsih dan Dian Pradana
Penanggung Jawab Isi Dan Teknis Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2009
YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog -- http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda punya masalah/perlu konseling? atau ingin mengirimkan
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
silakan kirim ke:
konsel(at)sabda.org atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
ARSIP: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I: http://c3i.sabda.org/
Network Konseling: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_konseling

Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org/
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org