Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/88

e-Konsel edisi 88 (2-6-2005)

Moralitas

><>                Edisi (088) -- 01 Juni 2005                    <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Kekristenan dan Moralitas
    - Renungan             : Standar yang Salah
    - Cakrawala (Artikel 1): Bila Nilai-nilai Moral Saling
                             Bertentangan
                (Artikel 2): Moralitas dan Rasa Hormat
    - Bimbingan Alkitabiah : Hidup Rohani
    - Surat                : Edisi e-Konsel 15 Mei 2005 Terpotong

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  BUSER, SERGAP, TIKAM, PATROLI, dan BIDIK adalah contoh program-
  program acara kriminalitas di beberapa stasiun televisi swasta
  Indonesia. Sebagian dari pembaca e-Konsel mungkin tahu bahwa pada
  acara-acara tersebut ditayangkan tindak-tindak kejahatan mulai dari
  yang teringan sampai dengan yang tersadis. Yang menarik kita,
  sebagai orang Kristen, adalah tidak sedikit nama-nama Kristen,
  seperti Lukas, Yohanes, Paulus, yang muncul sebagai pelaku utama
  dari tindak kejahatan tersebut. Mengapa demikian? Bukankah sebagai
  orang Kristen mereka seharusnya tahu kehidupan moral yang sesuai
  dengan Firman Tuhan? Apa bedanya orang Kristen dengan mereka yang
  bukan Kristen?

  Nah, sajian e-Konsel kali ini, yang mengulas mengenai "MORALITAS",
  kami harap akan menjadi pembuka mata agar kita sebagai orang Kristen
  menyadari tingginya standard moralitas yang dituntut Tuhan bagi
  anak-anak-Nya. Selamat menyimak! (Dav)

  Redaksi


*RENUNGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* RENUNGAN*

                      -*- STANDAR YANG SALAH -*-

  Bacaan : Yesaya 6:1-5
  ---------------------
  Seorang anak kecil mengumumkan, "Aku seperti Goliat. Tinggi badanku
  2,7 meter." "Apa yang membuatmu berkata begitu?" tanya ibunya. Anak
  itu menjawab, "Aku membuat sebuah penggaris dan mengukur tinggi
  badanku dengan penggaris itu, dan tinggiku 2,7 meter!"

  Banyak orang gagal melihat kebutuhan mereka akan keselamatan karena
  mereka mengukur diri mereka sendiri dengan standar yang salah.
  Dengan melihat dan membandingkan tingkah laku mereka dengan orang
  lain yang telah melakukan hal yang lebih buruk daripada yang telah
  mereka lakukan, mereka sampai pada kesimpulan bahwa bagaimanapun
  juga mereka tidak terlalu buruk. Namun, rasa bangga semacam itu
  dihancurkan ketika orang-orang membandingkan diri mereka dengan
  standar kebenaran yang sempurna.

  Bagaimana kita memenuhi standar yang sesuai dengan pandangan Allah?
  Ketika Nabi Yesaya melihat Tuhan dalam seluruh kemuliaan-Nya, ia
  menyatakan, "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang
  najis bibir, ... namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan
  semesta alam" (Yesaya 6:5). Menurut Roma 3:23, kita semua telah
  berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya, setiap
  orang perlu diampuni.

  Jika Anda mengukur moralitas Anda dengan cara membandingkan diri
  dengan orang lain, Anda menggunakan standar pengukuran yang salah.
  Namun, jika Anda mengakui betapa besar kekurangan Anda dalam
  pandangan Allah, mendekatlah dalam iman kepada Yesus hari ini juga
  dan terimalah karunia pengampunan dari-Nya. -Richard De Haan

         JIKA KITA DAPAT MEMPEROLEH SENDIRI KESELAMATAN KITA
            KRISTUS TIDAK PERLU MATI UNTUK MENYEDIAKANNYA

-*- Sumber: -*-
  Arsip Publikasi e-RH (Renungan Harian), Edisi 28 Juli 2003
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2003/07/28/


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

  (Artikel 1)

          -*- BILA NILAI-NILAI MORAL SALING BERTENTANGAN -*-

  Sebagai orang Kristen, kita berjuang agar tetap bebas dari dosa dan
  perbuatan dursila. Adakalanya, khususnya sebagai petobat baru, hal
  ini berarti menjauhi kawan-kawan yang mempengaruhi kita untuk
  berbuat dosa. Namun, kita tidak akan bisa mempengaruhi dunia jikalau
  kita tidak berteman dengan orang yang belum percaya walaupun mereka
  hidup dursila.

  Paulus menghadapi soal ini ketika berurusan dengan jemaat di
  Korintus:

       "Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan
       bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah
       dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau
       dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah
       berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia
       ini. Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu
       jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya
       saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala,
       pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian
       janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. Sebab dengan
       wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar
       jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di
       dalam jemaat? Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi
       Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-
       tengah kamu." (1Korintus 5:9-13)

  Di sini Paulus dengan jelas membedakan antara perilaku kita terhadap
  orang dursila di luar gereja dan di dalam gereja. Kita harus bergaul
  dengan mereka yang di luar gereja. Kristus memanggil kita untuk
  mengasihi orang berdosa, bukan untuk menghakimi mereka.

  Mereka yang di luar gereja
  --------------------------
  Bertahun-tahun setelah perceraian orangtua saya, seorang perempuan
  datang dan hidup bersama dengan ayah saya. Saya tetap mempunyai
  hubungan yang dekat dengan ayah saya dan mulai berteman dengan pacar
  ayah saya itu. Ibu saya mengeluh, "Bukankah kunjunganmu itu dapat
  diartikan sebagai menyetujui hubungan mereka berdua?" Saya terangkan
  bahwa ayah mengerti betul kalau saya tidak menyetujui dosanya.
  Namun, jikalau saya putuskan hubungan kami, saya tidak lagi memiliki
  kesempatan untuk menunjukkan kasih Kristus.

  Coba bayangkan keadaan diri Anda sebelum percaya kepada Kristus.
  Mungkin, Anda tidak terlibat dalam kebejatan moral apa pun. Tetapi,
  apa yang akan terjadi bila tidak ada seorang Kristen pun yang
  menaruh perhatian karena beberapa kesalahan Anda? Bagaimana Anda
  akan bisa mendengarkan berita tentang Kristus?

  Misalnya, Anda mempunyai seorang rekan yang homoseks. Kita sebut
  saja dengan nama si Polan. Bila Anda menunjukkan sikap yang
  menghukum homoseksnya itu, maka si Polan takkan pernah mau
  mendengarkan kesaksian Anda. Tetapi bila Anda mengasihinya sebagai
  seorang pribadi sebagaimana Allah mengasihinya, mungkin saja Anda
  bisa membawanya kepada Kristus. Anda mungkin mempunyai kesempatan
  untuk mengutarakan bahwa homoseks itu dursila, tetapi pastikan agar
  nasihat Anda itu tetap dalam kondisi persahabatan, dan kemungkinan
  nasihat ini didengar.

  Kita tidak bisa mengharapkan orang di luar Kristus untuk hidup
  sesuai dengan moral Alkitab. Banyak orang kelihatannya bisa hidup
  demikian, tetapi tanpa Roh Kudus, prinsip-prinsip Alkitab terbukti
  sulit untuk diikuti. Yang harus kita perhatikan ialah agar sahabat
  kita yang belum seiman itu menerima Kristus, kemudian hidup moral
  yang baik akan menyusul. Berusaha untuk mengubah kebiasaan seseorang
  dalam homoseks, obat bius, minuman keras atau perubahan hidup
  drastis lainnya, acapkali memerlukan campur tangan Kristus yang
  mengerjakan penebusan. Jangan mengharapkan perubahan terjadi sebelum
  orang itu bertobat.

  Paulus mengingatkan orang Korintus untuk tetap bergaul dengan orang
  dunia yang dursila. Tuhan Yesus memberi contoh ini ketika Ia bergaul
  dengan orang-orang yang pekerjaannya buruk pada zaman-Nya, seperti
  pemungut cukai dan pelacur. Kita harus berteman dengan orang-orang
  yang ada di sekeliling kita yang belum mengenal Kristus.

  Banyak orang yang hidup, bekerja, dan berteman dengan Anda,
  barangkali melakukan hal-hal yang Anda tentang sebagai seorang
  Kristen. Hal ini mungkin membatasi persahabatan Anda sebab Anda
  harus menolak untuk minum-minuman keras, berjudi, atau menipu
  bersama mereka. Sudah tentu Anda tidak boleh membahayakan nilai-
  nilai yang Anda anut demi persahabatan itu.

  Dalam hal ini Anda dapat memusatkan diri pada kegiatan-kegiatan yang
  menjauhi pertentangan nilai-nilai, seperti makan siang bersama,
  bermain golf, atau berbelanja bersama. Carilah kegiatan-kegiatan
  yang dapat dinikmati bersama-sama yang tidak melibatkan kompromi.
  Galanglah persahabatan Anda atas pengalaman yang positif. Selama
  saat-saat seperti itu, mungkin saja Anda mendapatkan kesempatan
  untuk membicarakan kepercayaan Anda. Jika satu persoalan timbul,
  jangan lupa mengutarakan pendapat Anda tanpa menghakimi sahabat
  Anda. Katakan saja apa yang Anda anggap benar sesuai dengan Alkitab.
  Jadikan Alkitab sebagai otoritasnya, bukan Anda.

  Terlebih pula, berdoalah agar ada kesempatan untuk menyampaikan iman
  Anda di dalam Kristus. Ingatlah, memberitakan Kristus itu lebih
  menguntungkan bagi sahabat Anda daripada jika Anda mengutarakan
  nilai-nilai hidup. Bersama Kristus akan datang nilai-nilai hidup.
  Tanya saja diri sendiri, apakah Anda mempunyai sahabat non-Kristen
  yang dengannya Anda dapat menggalang persahabatan? Apakah Anda
  terbuka bagi kesempatan untuk menyatakan iman Anda? Apakah Anda
  mengutarakan nilai-nilai hidup Anda bila ditanya?

  Mereka yang di dalam gereja
  ---------------------------
  Di pihak lain, Paulus memberikan pengarahan yang berbeda sekali
  mengenai orang-orang yang ada di dalam gereja. Orang-orang yang
  telah menyatakan diri sebagai orang Kristen harus menjauhkan diri
  dari perbuatan dursila. Paulus meminta orang Korintus untuk
  mengucilkan seorang saudara seiman yang telah diperingatkan
  sebelumnya mengenai perbuatan dosanya. Kemudian, Paulus
  memerintahkan agar gereja menerimanya kembali setelah ia bertobat.

  Orang-orang Kristen harus menunjukkan kejujuran. Kita harus
  bertingkah laku sesuai dengan pernyataan kepercayaan kita. Sebagai
  anggota gereja, kita harus dapat dimintai tanggung jawab satu sama
  lain. Jika satu anggota hidup dalam dosa, gereja harus
  memperingatkan orang itu. Yesus mengajarkan hal ini dalam Lukas
  17:3, "Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia
  menyesal, ampunilah dia." Kita terpanggil untuk menegur dan
  mengampuni.

  Baik teguran maupun pengampunan membawa kita dalam kesulitan. Kita
  lebih suka menceritakannya kepada orang lain, mengeluh, dan
  bergunjing. Yesus menerangkan dalam Matius 18:15-17 bahwa kita harus
  menghadapi orang itu sendiri, kemudian baru dengan orang lain. Bila
  kita mengasihi saudara seiman, maka kita akan menghadapinya,
  khususnya apabila kita secara langsung terkena akibatnya.

  Oleh sebab itu, bila seorang lelaki di dalam gereja hidup bersama
  dengan pacarnya, maka kita bertanggung jawab untuk mengingatkan dia
  bahwa perbuatan itu melanggar norma susila. Bila seorang perempuan
  menipu suaminya, maka wajiblah kita mengingatkan dia. Besar
  harapannya bahwa nasihat yang penuh kasih itu akan membawanya kepada
  pertobatan.

  Yang menyedihkan adalah bahwa setelah orang itu bertobat, sering
  lebih sulit bagi kita untuk mengampuninya. Rupanya, kita tidak bisa
  melupakan bahwa orang itu pernah berbuat zinah atau mencuri uang
  gereja. Walaupun kita mengatakan telah mengampuninya, pikiran kita
  masih menuduh perbuatan itu. Seorang yang baru menjadi Kristen
  mengaku bahwa ia masih bergumul melawan homoseksualitas, lalu kita
  tidak pernah mempercayai dia lagi. Sahabat kita yang telah cerai
  ternoda karena kegagalannya itu.

  Hakikat kekristenan adalah kemurahan. Allah mengampuni, melupakan,
  dan membaharui segalanya. Bahkan, dosa-dosa yang dilakukan setelah
  pertobatan pun dapat diampuni, dan tidak ada dosa yang harus dinilai
  lebih buruk dari yang lainnya. Jikalau Allah bisa mengampuni sifat
  egois saya, maka Ia pun bisa mengampuni perceraian sahabat saya.
  Jika saudara kita bergelimang dalam dosa, kita wajib menegur, tetapi
  setelah ia bertobat kita harus mengampuni dan memperbaharuinya.

  Pertimbangkanlah bagaimana Anda dapat memasuki pelayanan
  pengampunan. Lihat di sekeliling jemaat Anda. Apakah ada orang-orang
  yang tidak diikutsertakan oleh karena pada masa silam mereka
  bercerai, terlibat homoseksualitas, perzinahan, atau oleh karena
  mereka tidak memiliki sifat yang dikehendaki gereja? Pikirkan cara-
  cara Anda agar dapat mengikutsertakan mereka dalam hidup Anda dan
  menolong mereka merasa diterima dalam jemaat.

  Mereka yang mencari
  -------------------
  Antara mereka yang di luar gereja dan mereka yang di dalam gereja
  ada kelompok ketiga, yaitu mereka yang sedang mencari Kristus.
  Mereka terkatung-katung antara permulaan kebangkitan hidup rohani
  dan penyerahan sepenuhnya kepada Kristus. Selama proses ini
  diperlukan banyak kesabaran terhadap mereka.

  Beberapa orang mengalami pertobatan dengan segera, sedangkan orang
  lain secara berangsur-angsur menjadi orang Kristen. Di dalam kedua
  kelompok ini ada orang-orang yang mengalami perubahan hidup secara
  total, berhenti melakukan perbuatan dursila dan di depan umum hidup
  sungguh-sungguh sebagai orang Kristen baru. Tetapi beberapa orang
  masih bergumul dalam perubahan kehidupan mereka.

  Perjalanan hidup setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa
  mengharapkan setiap orang untuk berubah secara mendadak. Kita harus
  bersabar dan memohon kepada Tuhan agar membimbing orang itu
  mengadakan perubahan yang perlu.

  Dalam kelompok penelaahan Alkitab saya, ada seorang lelaki dan
  perempuan yang hidup serumah. Mereka saling mencintai; malahan
  lelaki ini telah meninggalkan pekerjaannya untuk ikut pindah ketika
  si wanita ditugaskan di kota lain. Masing-masing orang ini pernah
  menikah sebelumnya dan sekarang mereka memutuskan untuk tidak kawin
  resmi lagi.

  Sewaktu mereka terus mengikuti penelaahan Alkitab ini, Allah mulai
  mengerjakan suatu perubahan dalam hidup mereka. Saya berdoa agar
  Allah menggerakkan mereka untuk menikah secara resmi, dan tidak lama
  kemudian mereka mengumumkan rencana pernikahan mereka. Tuhan yang
  menginsafkan mereka; saya tidak mengatakan apa-apa.

  Seringkali kita harus bersabar saja dan mengizinkan Roh Kudus untuk
  mengubah hidup seseorang. Walaupun demikian, kadang-kadang orang
  perlu menerima tuntunan dari orang Kristen lainnya. Satu kesempatan
  yang baik sekali timbul jikalau mereka memutuskan untuk bergabung
  dengan gereja setempat. Banyak gereja memberikan sedikit pelajaran
  dan penyuluhan sebelum menerima anggota baru. Waktu seperti itu
  memberi keleluasaan kepada pendeta untuk bertanya mengenai beberapa
  bagian kehidupan mereka yang mungkin perlu diperbaiki.

  Jikalau seseorang terus berkanjang di dalam dosa mereka selama
  beberapa waktu, maka mereka bisa dikategorikan sebagai "mereka yang
  di dalam gereja" dan perlu ditegur. Walaupun demikian, kita perlu
  bersabar dengan para petobat baru. Allah lebih mengetahui dari kita
  sejauh mana mereka dapat berubah dengan segera. Jika mereka terbuka
  terhadap Roh-Nya, maka Ia yang akan memperingatkan mereka. Kita
  wajib berdoa agar mereka terbuka dan taat kepada Roh Allah.

  Penghargaan terhadap nilai. Akhirnya, kadang-kadang ketika nilai-
  nilai kita bertentangan, maka kita harus mempertimbangkan apa nilai
  itu. Alkitab memberikan pernyataan yang jelas tentang kedursilaan.
  Akan tetapi, ada nilai-nilai kehidupan tertentu yang tetap tidak
  terlalu penting, seperti kebiasaan pribadi dalam berpakaian atau
  mencari hiburan. Televisi mungkin saja dihindari oleh beberapa
  orang, sedang orang lain memujinya. Beberapa orang, karena
  profesinya, perlu berdandan, sedangkan yang lain menghindari cara
  berpakaian seperti itu karena menghendaki kesederhanaan.

  Beberapa nilai hidup bersifat pribadi dan tidak disebutkan dengan
  jelas di dalam Alkitab. Masalah-masalah ini mungkin dapat
  dibicarakan secara terbuka, namun jangan sampai menyebabkan
  perselisihan satu dengan yang lain, baik di dalam maupun di luar
  gereja.

  Bila nilai hidup seseorang bertentangan dengan yang dimiliki orang
  lain, kita harus melihat beratnya perselisihan itu. Jika masalahnya
  amat penting, maka kita perlu mengingatkan keadaan rohani orang yang
  bersangkutan. Kita harus terus mengasihi orang lain sekalipun ada
  faktor-faktor lain. Jikalau kita mau berdoa bagi mereka daripada
  mengeluh saja, maka kita akan bisa menyelesaikan masalah itu, itu
  semua bila terjadi di dalam gereja.

-*- Sumber diedit dari: -*-
  Judul Buku   : Pola Hidup Kristen
  Judul Artikel: Bila Nilai-Nilai Moral Saling Bertentangan
  Penulis      : Kathy Callahan-Howell
  Penerbit     : Kerjasama antara: Penerbit Gandum Mas, Yayasan Kalam
                 Hidup dan YAKIN, 2002
  Halaman      : 737 - 742


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

  (Artikel 2)

                   -*- MORALITAS DAN RASA HORMAT -*-

  Virginia Satir, seorang pakar terapi keluarga, mengemukakan bahwa
  suami-istri adalah poros keluarga. Dengan kata lain, hubungan suami-
  istri sangat mewarnai kondisi keluarga secara keseluruhan. Salah
  satu aspek kehidupan suami-istri yang berdampak langsung pada
  keluarga ialah kehidupan moral suami dan istri.

  Sebagai contoh, keberhasilan orang mendisiplin anak sangat terkait
  dengan kehidupan moral orangtuanya. Apabila anak menghormati
  kehidupan moral orangtua, anak juga cenderung mematuhi petuah
  orangtua. Sebaliknya, wibawa orangtua untuk menerapkan disiplin
  kepada anak mudah merosot jika anak sudah tidak menghormati
  kehidupan moral orangtuanya lagi.

  Konsep yang sama dapat pula diterapkan pada hubungan suami-istri.
  Sesungguhnya, respek terhadap pasangan sangat bertalian dengan
  kehidupan moral pasangan itu sendiri. Respek yang telah tererosi
  akan meresap masuk dan membawa pengaruh pada banyak aspek kehidupan
  suami-istri. Sebaliknya, respek yang terpelihara (apalagi bertambah)
  akan menyederhanakan dan menyelesaikan persoalan dalam pernikahan.
  Itu sebabnya, bagian moral merupakan elemen yang integral dalam
  kehidupan suam-istri, namun malangnya, acapkali luput dari perhatian
  kita.

  Kehidupan moral dapat dibagi dalam dua unsur: standar dan perilaku.
  Standar moral mencakup keyakinan tentang benar-salah dan baik-buruk,
  sedangkan perilaku moral mengacu kepada perbuatan konkretnya
  sendiri. Kesamaan atau kesesuaian antara standar dan perilaku moral,
  saya sebut `integritas`. Jadi, orang yang mengaku Kristen, tetapi
  kalau marah memukuli istrinya adalah orang yang tidak memiliki
  integritas. Hal yang sama bisa ditujukan kepada seorang istri yang
  mengaku respek terhadap suaminya, namun sering melontarkan kata-kata
  yang menghina. Integritas adalah kekonsistenan antara apa yang
  diucapkan dan yang dilakukan, antara yang apa yang diyakini dan yang
  diperbuat.

  Hampir semua orang dapat mengemukakan apa yang dipercayainya sebagai
  kebaikan dan keburukan, tetapi tidak semua bisa hidup sesuai dengan
  standar moralnya itu. Adakalanya, suami menolak "khotbah" istrinya
  sebab ia tidak melihat integritas pada istrinya. Mungkin suami itu
  berdalih, "Engkau sendiri melakukan hal yang sama!" Atau, kadang
  istri sukar menerima keputusan suaminya, sebab ia tahu bahwa
  keputusan itu, toh, akan dilangggar oleh suaminya sendiri pula.

  Hampir semua orang dapat mempunyai integritas dengan standar moral
  yang rendah. Maksud saya, bukankah mudah bagi kita untuk meraih
  standar jika standar itu rendah. Jadi, akan ada orang yang berkata,
  "Saya tidak suka berpura-pura! Kalau saya main perempuan, saya pasti
  memberitahukan istri saya. Terserah dia mau terima atau tidak!"
  Standar dan perilaku moral yang rendah, betapa pun menunjukkan
  integritas, tetap berdampak negatif terhadap pernikahan -- tidak
  akan membuahkan respek pada diri pasangannya.

  Bila kita ingin meningkatkan kualitas hubungan nikah, tidak bisa
  tidak, kita mesti memelihara integritas yang tinggi. Standar moral
  harus sepadan dengan yang telah Tuhan tetapkan. Firman Tuhan memacu
  kita untuk memiliki standar yang tinggi, sebagaimana dapat kita
  tilik di Filipi 4:8, "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang
  benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua
  yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan
  dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."

  Sejak kecil istri saya sudah hidup di luar negeri sebelum akhirnya
  menetap di Amerika Serikat. Setelah kami menikah, kami pun
  menancapkan akar kami di negeri Paman Sam itu. Sewaktu kami kembali
  ke Indonesia 9 tahun yang lalu, ia harus meninggalkan keluarga dan
  kehidupannya di sana -- sebuah keputusan yang tidak mudah diambil.
  Ia melakukannya dengan suatu keyakinan bahwa itulah yang Tuhan
  tuntut darinya. Dengan setia ia mendampingi saya di sini, dan setiap
  hari saya melihatnya membaca Alkitab dan bersaat teduh dengan Tuhan.
  Ia jugalah yang memastikan agar anak-anak membaca Alkitab setiap
  hari dan memantau kehidupan rohani mereka. Apa yang muncul dalam
  hati saya menyaksikan semua ini? Respek!

  Apakah kami tidak lagi berselisih paham setelah melakukan semua ini?
  Sudah tentu masih -- kadang kecil, kadang besar. Namun, respek yang
  telah menyerapi benak kami, bekerja sebagai penawar dan penahan
  berkembangnya masalah. Respek tidak usah dicari dari luar sebab itu
  tidak akan ada. Respek bertunas dari kehidupan moral yang "mulia dan
  patut dipuji".

-*- Sumber: -*-
  Judul Buletin : Buletin Eunike (Edisi 21)
  Penulis       : Pdt. Dr. Paul Gunadi
  Penerbit      : Yayasan Eunike, Jakarta

  Artikel ini terdapat pula di Situs C3I:
  ==>  http://www.sabda.org/c3i/artikel/isi/?id=81&mulai=195


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

                         -*- HIDUP ROHANI -*-

  Allah kita adalah Allah yang bertanggung jawab. Ia tidak akan
  membiarkan umat-Nya terus-menerus berada dalam kekelaman yang dapat
  menghancurkan mereka. Silakan Anda buka Alkitab Anda pada ayat-ayat
  berikut ini. Inilah salah satu wujud tanggung jawab Allah dan juga
  Firman Allah yang dapat menguatkan kita.

   1. Allah yang memberi                : Kolose 2:13
   2. Kristus yang memberi              : Yohanes 5:21,25, 6:33,51-53, 14:6
   3. Roh Kudus yang memberi            : Yehezkiel 37:14; Roma 8:9-13
   4. Tersembunyi bersama dengan Kristus: Kolose 3:3
   5. Takut akan Allah adalah           : Amsal 14:27, 19:23
   7. Keinginan Roh adalah              : Roma 8:6
   8. Dipelihara oleh:
        - Firman Tuhan                  : Ulangan 8:3; Matius 4:4
        - Iman                          : Galatia 2:20
        - Kristus                       : Yohanes 6:57; 1Korintus 10:3,4
        - Meminta doa                   : Mazmur 69:33
   9. Asal -- adalah kelahiran baru     : Yohanes 3:3-8
  10. Mulai sebagai anak-anak           : Lukas 10:21; 1Korintus 3:1,2; 1Yohanes 2:12
  11. Kemudian menjadi kuat seperti
      orang-orang muda                  : 1Yohanes 2:13,14
  12. Akhirnya menjadi orang dewasa     : Efesus 4:13; 1Yohanes 2:13,14
  13. Dilukiskan:
        - Hidup bagi Allah              : Roma 6:11; Galatia 2:19
        - Hidup yang baru               : Roma 6:4
        - Hidup oleh Roh                : Galatia 5:25
  14. Dihidupkan oleh Allah             : Hosea 6:2
  15. Dinyatakan dengan mengasihi
      saudara kita                      : 1Yohanes 3:14
  16. Semua orang kudus mempunyai       : Efesus 2:1,5; Kolose 2:13
  17. Berusaha untuk makin bertumbuh
      dalam                             : Efesus 4:15; 1Petrus 2:2
  18. Orang-orang fasik dijauhkan dari  : Efesus 4:18
  19. Orang yang mencari kemewahan tidak
      memperoleh                        : 1Timotius 5:6
  20. Digambarkan dalam                 : Yehezkiel 37:9,10;
                                          Lukas 15:24

-*- Sumber diedit dari: -*-
  Pedoman Pokok-pokok Alkitab (CD SABDA)
  Nomor Topik: 06189
  Copyright  : Yayasan Lembaga SABDA [Versi Elektronik (SABDA)]


*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI Anda-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*

  Dari: Eliza <eliza@>
  >Shalom.
  >Edisi e-konsel tanggal 15 Mei saya terima dengan kondisi
  >terpotong. Bisakah saya dikirimi ulang versi lengkapnya? Terima
  >kasih banyak lho. =)

  Redaksi:
  Dear Eliza,
  Terima kasih untuk informasi yang Anda berikan dan dengan ini,
  Redaksi telah mengirimkan kembali edisi yang Anda sebutkan tersebut.

  Bagi pelanggan lainnya yang juga mengalami hal yang sama, silakan
  memberitahu kami dan kami akan segera mengirimkan kembali edisi
  tersebut. Atau, jika Anda ingin mendapatkannya dengan cepat, silakan
  berkunjung ke situs arsip e-Konsel di:
  ==>  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/087/
  GBU!


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                        STAF REDAKSI e-Konsel
                          Ratri, Tesa, Evie
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                    INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                         Sistem Network I-KAN
                     Copyright(c) 2005 oleh YLSA
                      http://www.sabda.org/ylsa/
                    Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                 No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org