Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/35

e-Konsel edisi 35 (1-3-2003)

Panggilan Melayani Tuhan

><>                 Edisi (035) -- 01 Maret 2003                   <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
   - Pengantar           : Panggilan untuk Melayani Tuhan?
   - Cakrawala           : Bukti Seorang yang Dipanggil Melayani Tuhan
   - Telaga              : Hikmat dalam Pengambilan Keputusan [T90A]
   - Bimbingan Alkitabiah: Apakah Setiap Orang Kristen Dipanggil
                                                       untuk Melayani?
   - Tanya Jawab         : Panggilan Melayani Tuhan
   - Surat               : Cari Bahan Komunikasi Keluarga

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Pada edisi ke 35 ini, e-Konsel akan membahas topik khusus tentang
  "Panggilan untuk Melayani Tuhan". Banyak orang Kristen berpikir
  bahwa panggilan untuk melayani Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang
  melayani "full-time" -- yaitu para pendeta dan hamba-hamba Tuhan
  purna waktu. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen awam, banyak
  yang berpendapat "kita tidak perlu bergumul atau memikirkan apakah
  kita memiliki panggilan untuk melayani Tuhan" atau "kita bukan
  pelayan 'full-time' ...."

  Dampak dari kesalahmengertian tentang panggilan ini cukup banyak
  membuat gereja dan pelayanan menjadi korban. Apakah dampak-dampak
  negatif tersebut?
  1. Membuat orang Kristen awam menjadi tidak "berbuah" dan tidak
     produktif bagi Kerajaan Allah.
  2. Banyak orang Kristen awam yang ikut ambil bagian dalam
     pelayanan tapi tidak serius dalam mengambil tanggung jawab.
  3. Banyak orang Kristen awam yang melayani tetapi tidak merasa
     perlu untuk diperlengkapi atau dibekali dengan baik.

  Dampak-dampak negatif di atas menjadi salah satu sumber terjadinya
  masalah-masalah dalam pelayanan dan sering kali masalah-masalah
  tsb. membuat mereka cepat mengundurkan diri dari pelayanan, bahkan
  dengan berbagai alasan mereka berusaha supaya tidak terlibat dalam
  pelayanan.

  Namun, seperti yang dikatakan rasul Paulus bahwa setiap orang
  dipanggil oleh Kristus dalam pelayanan-Nya. Tidak seorang pun
  bisa berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan.
  Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.

  Harapan kami, sajian edisi ini menolong jemaat Tuhan untuk lebih
  sadar akan panggilannya sehingga karya Tuhan boleh semakin nyata
  dalam dunia ini.

  Selamat melayani!
  Tim Redaksi


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

  Panggilan untuk melayani Tuhan adalah panggilan yang sangat istimewa
  sebagai seorang pengikut Kristus. Namun banyak orang Kristen yang
  masih sering bertanya-tanya apakah buktinya bahwa kita [semuanya!!]
  dipanggil Tuhan untuk melayani. Artikel berikut ini akan menolong
  kita mengerti lebih jelas apa bukti dari seseorang yang dipanggil
  Tuhan untuk melayani, baik melayani sebagai orang Kristen awam
  maupun sebagai hamba Tuhan purna waktu.

         -*- BUKTI SEORANG YANG DIPANGGIL MELAYANI TUHAN -*-

  a. Seorang yang benar-benar dipanggil, pasti ia mempunyai bukti
     pengalaman "dilahirkan baru". Dibaptis, mengikuti Perjamuan
     Kudus, dan menjadi anggota gereja, bukanlah bukti bahwa orang
     tersebut sudah "dilahirkan baru".

  Pada waktu orang Israel keluar dari Mesir, di antara yang ikut
  serta, terdapat orang-orang kafir yang kemudian menjadi jebakan bagi
  orang Israel untuk berbuat dosa. Tuhan Yesus pernah memberikan
  perumpamaan tentang "Gandum dan Lalang" yang bertumbuh secara
  bersama-sama (Matius 13). Pada masa kini, gereja juga menghadapi
  kesulitan yang sama. Terlebih-lebih bagi gereja yang sembarangan
  saja menerima orang untuk menjadi anggota gereja.

  Orang yang berkarunia, bisa berdiri di mimbar membaca Alkitab,
  berdoa, bersaksi, dan sebagainya, tetapi tidak menjamin bahwa orang
  tersebut sudah diselamatkan. Penulis pernah melihat seorang yang
  sudah menyelesaikan studi di sekolah teologia dan terkenal pula
  dengan bakatnya, tapi siapa sangka, melakukan kejahatan dan harus
  berurusan dengan aparat pemerintah dan kemudian dimasukkan ke dalam
  penjara.

  Sebab itu seyogianya pihak gereja perlu memberi perhatian ekstra
  untuk mereka yang mau menyerahkan diri untuk menjadi hamba Tuhan.
  Pimpinan gereja, bukan hanya melihat bagaimana pelayanannya di
  gereja, tetapi juga perlu diperhatikan kehidupan rohani dan
  moralnya. Dari segi hidup rohani; apakah ia mempunyai kehidupan yang
  saleh dan bagaimana hubungan pribadinya dengan Allah? Di antara
  keluarga, bagaimana hubungannya dengan orangtua; di gereja,
  bagaimana sikapnya terhadap orang yang lebih tua, yang sederajat
  dan yang lebih muda? Bagaimana pula pergaulannya dengan lawan
  jenisnya? Jika ternyata yang bersangkutan mempunyai kelakuan yang
  tidak baik, perkataannya tidak bertanggung jawab, bertemperamen
  tinggi, dan sebagainya; biarpun bagaimana hebat bakatnya, jangan
  sekali-kali dengan sembarangan memperkenalkannya untuk masuk sekolah
  teologia.

  b. Seorang yang menerima panggilan, perlulah ia mempunyai bukti
     "panggilan dalam roh". Mungkin cara Tuhan memanggil seseorang
     tidak seperti cara Tuhan memanggil Paulus, tapi mungkin sama
     dengan pengalaman panggilan terhadap Elia.

  Kitab 1Raja-raja 19 memberitahukan bahwa Elia dipanggil tatkala ia
  berada di sebuah goa di bukit Horeb. Panggilan ini dilakukan bukan
  di tengah-tengah angin taufan atau di tengah-tengah gempa bumi yang
  dahsyat; melainkan dalam keadaan sunyi senyap. Panggilan pada Elia
  hanya dalam bentuk bisikan.

  Bisikan ini mempunyai daya penakluk yang tidak bisa dibantah, karena
  bisikan ini sampai ke dalam lubuk hati yang terdalam. Kemanapun ia
  pergi, bisikan ini akan terus mengikutinya, sampai ia benar-benar
  taat. Dan tentu, orang yang menerima bisikan ini, mempunyai satu
  jangka waktu untuk "pergumulan". Dalam masa pergumulan ini, ia
  mempertimbangkan tugas, tanggung jawab yang berat, dan kesulitan
  yang akan dialami dalam memenuhi panggilan bisikan ini, dan
  sekaligus pula melihat kelemahan dan kebodohannya.

  Pada waktu Musa dipanggil, ia mengatakan,
     "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan
     membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11).
  Sewaktu Yeremia dipanggil, ia juga mengatakan hal yang sama,
     "Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara,
     sebab aku ini masih muda." (Yeremia 1:6)

  Tapi jika memang benar Tuhan yang memanggil, maka Ia akan
  bertanggung jawab. Ia berkata dengan memberi jaminan kepada Musa,
     "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu,
     bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa
     bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada
     Allah di gunung ini." (Keluaran 3:12).
  Tuhan juga memberi jaminan yang sama kepada Yeremia dengan
  mengatakan,
     "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada
     siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun
     yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kau sampaikan.
     Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau
     untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan."
     (Yeremia 1:7-8).

  c. Seorang yang dipanggil, harus mempunyai beban terhadap
     panggilannya dan kegetolan hati dalam penginjilan.

  Sama seperti pengalaman panggilan yang dialami oleh Yeremia dengan
  mengatakan:
     "Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia
     dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka
     dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala,
     terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk
     menahannya, tetapi aku tidak sanggup." (Yeremia 20:9).
  Sama pula yang dialami Paulus,
     "Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai
     alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan
     bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil."
     (1Korintus 9:16).
  Paulus menasehati penginjil muda Timotius dengan mengatakan,
     "Benarlah perkataan ini: "Orang yang menghendaki jabatan
     penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah."
     (1Timotius 3:1)

  Mengapa dalam perkataan Paulus ditambah dengan kata, "Benarlah
  perkataan ini?" Dalam terjemahan bahasa Inggris The Amplified Bible
  menyebutkan, "Perkataan ini benar adanya dan tidak dapat dibantah
  atau ditolak (irrefutable), jika mau menjadi penilik jemaat,
  hendaklah ia merindukan pekerjaan yang terbaik (an excellent task)."

  Orang yang menerima panggilan Tuhan, harus menganggap bahwa memilih
  pekerjaan Tuhan itu adalah yang terbaik. Bagaimanapun orang lain
  mencemooh atau berpendapat, tapi tidak bisa menghalanginya untuk
  menerima panggilan Tuhan. Yang disebut "tugas yang baik", bukan
  karena tugas ini dapat mencukupi kebutuhan orang lain, melainkan
  semata-mata karena itu adalah panggilan Tuhan. Sebab itu, jabatan
  "hamba Tuhan" bukan semacam "profesi" (profession), melainkan
  "memiliki" (possession) amanat dan anugrah Allah.

  Ada seorang pendeta gereja besar mencari Dr. Howard Robinson dan
  berkata, "Howard, aku sudah mengambil keputusan untuk tidak
  mengabarkan Injil lagi." Dr. Robinson dengan ringan menjawab, "Bagus
  aku sangat senang mendengar kamu mengatakan demikian." Pendeta itu
  merasa terkejut mendengar jawaban yang demikian. Dengan perasaan
  heran ia bertanya, "Apa maksudmu dengan perkataan ini?" Dengan tidak
  kalah entengnya Robinson menjawab, "Jika kamu bisa meletakkan
  jabatan sebagai hamba Tuhan dan untuk seterusnya tidak menginjil,
  ini membuktikan kamu belum pernah mengalami panggilan Tuhan. Sebab
  itu, baik sekali kamu berhenti."

  Dua minggu kemudian, pendeta ini kembali lagi dan berkata kepada Dr.
  Howard Robinson, "Perkataanmu dua minggu yang lalu, memang benar.
  Aku tidak mau berhenti! Untuk selama-lamanya aku tidak mau
  berhenti."

-*- Diedit dari sumber -*-:
  Judul Buku        : Problematika Hamba Tuhan
  Judul Asli Artikel: Bukti Seorang Dipanggil dan Beban atas Panggilan
  Penulis           : Rev. Yap Un Han, Th.M.
  Penerbit          : Atas kerja sama Persekutuan Alumni SBC, Jakarta
                      dan Yayasan Daun Family, Manado, 1998
  Halaman           : 18 - 22

*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*

              -*- HIKMAT DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN -*-

  Pengambilan keputusan bukanlah hal yang mudah untuk dikerjakan. Ada
  banyak faktor yang perlu dipertimbangkan agar keputusan yang kita
  ambil nantinya benar-benar bisa bermanfaat. Berikut ini adalah
  ringkasan empat prinsip (dari tujuh prinsip) pengambilan keputusan
  dalam diskusi bersama Pdt. Dr. Paul Gunadi.

-----
  T: Setiap hari kita selalu diperhadapkan pada pilihan untuk
     menentukan sikap, untuk mengambil suatu keputusan. Tetapi
     rasa-rasanya sejak kecil kita tidak pernah diajar secara khusus,
     secara sistematis untuk mengambil keputusan. Kita belajar secara
     alamiah saja sehingga banyak kesalahan yang kita lakukan dalam
     mengambil keputusan. Nah bagaimana sebenarnya kita harus bersikap
     dalam mengambil keputusan, khususnya sebagai orang yang percaya
     kepada Tuhan Yesus?

  J: Sungguh benar apa yang Anda katakan. Untuk menjadi seorang pilot,
     kita harus belajar secara formal. Kita juga harus bersekolah
     untuk menjadi seorang arsitek, tetapi tidak ada pelatihan atau
     sekolah yang mengajarkan pada kita bagaimana caranya mengambil
     keputusan. Jadi seringkali yang terjadi kita jatuh bangun agar
     dapat membuat keputusan yang baik. Ada sebagian kita yang
     seringkali membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan, maka
     saya kira tepatlah saat ini jika kita gunakan waktu untuk
     membahas prinsip-prinsip yang bisa digunakan dan ditimba dari
     Firman Tuhan untuk menolong bagaimana kita mengambil keputusan.

     Marilah kita mendasarinya dengan mengambil cerita dari kisah Raja
     Rehabeam (1Raja-raja 12:3-11). Kisah ini memberikan kita suatu
     gambaran tentang seseorang yang gagal dalam  mengambil keputusan
     secara bijaksana. Sebagai akibatnya bukan kemakmuran atau
     kesejahteraan yang ia hasilkan, namun justru kekacauan dan
     perpecahan yang terjadi di negaranya.  Ada beberapa prinsip yang
     bisa kita petik dari kisah ini tentang pengambilan keputusan.

     PRINSIP PERTAMA, keputusan yang benar tidak mesti dikaitkan
     dengan bagaimana orang lain melihat diri kita. Di sini kita lihat
     keinginan Rehabeam untuk dipandang berkuasa telah membuatnya
     mengambil keputusan yang salah. Dengan kata lain adakalanya
     keputusan kita itu menjadi sangat salah karena yang memotivasi
     kita mengambil keputusan adalah karena kita lebih mempedulikan
     bagaimana orang lain melihat kita. Kita ingin agar orang melihat
     kita sesuai dengan citra yang kita coba proyeksikan kepada orang
     lain.

     PRINSIP KEDUA, keputusan yang benar didasari atas masukan dari
     sumber yang memahami duduk masalahnya. Rehabeam pertama-tama
     bertanya kepada para konselornya yaitu penasihatnya yang tua-tua,
     orang-orang yang mengerti kebijakan yang ditetapkan raja Salomo,
     ayah Rehabeam. Kesalahan Rehabeam adalah setelah mendengarkan
     nasihat dari para penasihat yang tua-tua itu dia lari kepada
     teman-teman sebayanya, yang tidak begitu mengerti duduk
     masalahnya. Akhirnya Rehabeam mengambil keputusan yang salah
     karena mendapatkan masukan dari orang-orang yang tidak kompeten.
     Namun, dalam mengambil keputusan sebenarnya yang betul adalah
     bukan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, tapi setepat-
     tepatnya.

     PRINSIP KETIGA, keputusan yang benar berpijak pada konsep
     kebajikan yang universal. Misalnya apakah keputusan itu adil,
     apakah itu kasih, apakah itu baik. Nah di sini kita melihat
     Rehabeam menindas rakyat dengan menambahkan beban, tuntutan,
     tanggung jawab kepada rakyatnya. Hal itu tidak dapat dibenarkan
     oleh alasan apapun, penindasan tidak dibenarkan oleh alasan
     apapun. Jadi dalam pengambilan keputusan kita harus melihat juga
     aspek etis dan aspek moralnya. Apakah keputusan kita itu baik,
     apakah juga adil. Kadang-kadang hal itu baik untuk kita, tapi
     belum tentu baik untuk orang lain, otomatis kita coba untuk
     mengambil keputusan yang baik untuk semuanya. Apakah keputusan
     itu adil untuk kita dan untuk orang lain serta apakah ada unsur
     kasihnya, karena kasih adalah isi hati Tuhan yang paling dalam
     yang juga harus kita miliki. Jadi itu adalah aspek moral dalam
     keputusan yang kita mesti pertimbangkan.

     PRINSIP KEEMPAT, apapun keputusan yang kita ambil membawa dampak
     kepada lingkungan atau bahkan kepada diri kita sendiri. Jika
     Rehabeam mengabulkan permintaan rakyatnya, dia akan dicintai dan
     ditaati, sebaliknya penolakannya memang membuat rakyat takut
     kepadanya namun lebih dari itu penolakannya membuat rakyat
     membencinya dan tidak menaatinya. Jadi dalam pengambilan
     keputusan, prinsip keempat harus juga kita ingat yaitu keputusan
     yang benar mesti mempertimbangkan dampak dari keputusan itu.
     Orang bijaksana akan selalu mengingat apa akibat keputusan ini
     bagi saya, bagi relasi saya dengan orang lain dan bagi orang-
     orang lain juga ....

     Hal terakhir yang harus kita sadari adalah meskipun Tuhan bisa
     menggunakan segalanya, bahkan keputusan yang keliru tetap bisa
     dipakai untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28), tetapi tidak
     dapat disangkal bahwa kekeliruan dalam pengambilan keputusan
     kadangkala membawa dampak yang sangat besar. Rehabeam berpikir
     mungkin pada saat itu masalahnya hanyalah rakyat ingin
     mendapatkan keringanan kerja. Dia mungkin sekali tidak sadar
     bahwa gara-gara keputusannya itu kerajaan Israel terpecah dua.
     Bukankah ini suatu dampak yang sangat besar dan sangat parah? Nah
     adakalanya kita mesti mengingatkan diri kita agar berhati-hati
     dalam pengambilan keputusan. Gunakan semua prinsip yang benar
     agar sampai pada keputusan yang benar itu. Sebab kadangkala
     keputusan yang salah dampaknya bisa berkepanjangan.

-*- Sumber -*-:
   [[Sajian kami di atas, kami ambil dari isi salah satu kaset TELAGA
     No. #90A, yang telah kami ringkas/sajikan dalam bentuk tulisan.]]
     -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip seluruh kaset ini lewat
        e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel@xc.org >
                                  atau: < TELAGA@sabda.org >


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*--*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

    -*- APAKAH SETIAP ORANG KRISTEN DIPANGGIL UNTUK MELAYANI? -*-

  Pertanyaan:
  -----------
  Apakah setiap orang Kristen dipanggil untuk melayani?
  Bagaimana mengetahui panggilan Tuhan?

  Jawaban:
  --------
     "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
     kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka
     yang 'terpanggil' sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)

  Ayat tersebut di atas memberitahu kita tentang dua hal:
  1. Orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah mereka yang terpanggil
     sesuai dengan rencana-Nya.
  2. Tuhan berjanji bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
     mendatangkan kebaikan bagi mereka.

  Dalam Perjanjian Baru, istilah "dipanggil" ('kletos') dan
  "panggilan" ('klesis') muncul 22 kali. Semuanya menyatakan panggilan
  Tuhan kepada umat-Nya untuk sesuatu maksud yang rohani. Panggilan-
  panggilan ini tidak melulu panggilan untuk menjadi seorang pendeta
  atau missionari, melainkan seluruh jemaat dipanggil oleh Tuhan
  dimana 'kletos' + kata depan 'ek' = 'ekklesia'. Istilah "ekklesia"
  muncul dalam Perjanjian Baru sebanyak 115 kali, yang berarti "the
  called-out ones" dan diterjemahkan sebagai "gereja".

  Suatu gereja yang didirikan oleh Tuhan pasti terdiri atas individu-
  individu yang dipanggil oleh Tuhan. Mereka dipanggil ke luar dari
  keduniawian dan masuk ke dalam Kristus. Segala aktivitas dan cara
  hidup dlm gereja seharusnya tidak "serupa dengan dunia" (Roma 12:2),
  melainkan "berpadanan dengan panggilan itu" (Efesus 4:1).

  Paulus mengatakan bahwa ia "dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan
  untuk memberitakan Injil Allah" (Roma 1:1). Ini adalah panggilan
  khusus sebagai Pelayan Tuhan secara "full-time".

  Dengan istilah-istilah yang sama Paulus mengatakan bahwa anggota-
  anggota di jemaat Roma dan Korintus juga dipanggil oleh Kristus
  dalam pelayanan-Nya (Roma 1:6; 1Korintus 7:22). Ini adalah pelayanan
  umum yang harus dilakukan setiap orang Kristen. Tiada seorang pun
  yang boleh berdalih bahwa ia tidak dipanggil oleh Tuhan dalam
  pelayanan. Semua anak Tuhan adalah pelayan Tuhan.

  Secara praktis, banyak orang Kristen mempunyai alasan yang masuk
  akal untuk tidak terjun ke dalam pelayanan. Misalnya: "Aku tidak
  mempunyai talenta: Aku tidak berpendidikan tinggi; Aku lemah dan
  bodoh"; dan lain-lain. Saya anjurkan orang-orang yang demikian
  membaca 1Korintus 1:26-28. Di sana dikatakan bahwa
     "... ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak
     orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak
     banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia,
     dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa
     yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang
     kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia,
     dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk
     meniadakan apa yang berarti, ...."

  Ayat-ayat ini bukan berarti semua orang yang dipakai oleh Tuhan
  adalah orang yang bodoh-bodoh, melainkan berarti bahwa sekalipun
  kita bodoh, Tuhan tetap dapat memakai kita. Bahkan Tuhan berjanji
  akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan
  bagi kita yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

  Dalam masyarakat modern yang berkompetisi tinggi, perusahaan-
  perusahaan dan organisasi-organisasi dunia hanya mau memakai orang-
  orang yang "pandai, cakap, kuat dan mulia." Tetapi Tuhan memanggil
  segala macam orang yang "mengasihi Dia" (Roma 8:28) dan "yang kudus"
  (Efesus 4:12), untuk diperlengkapi bagi pekerjaan pelayanan. Istilah
  "diperlengkapi" ('katartismos', Efesus 4:12), boleh diterjemahkan
  "dipersenjatai" atau "disempurnakan." Syukur kepada Tuhan bahwa
  karena kerelaan melayani Tuhan, maka kita yang lemah dan bodoh
  "diperlengkapi" menjadi orang-orang yang pandai dan kuat. Seorang
  tokoh iman yang bernama A.W. Tozer mengatakan:
     "Tuhan hanya dapat memakai orang yang selalu bersukacita
     dan tidak menolak didikan atau ajaran Tuhan."

  Ada banyak orang yang melayani Tuhan secara "temporary" (sementara).
  Artinya, kalau ia "senang hati, lancar, banyak berkat, dipuji" maka
  ia mau melayani Tuhan. Tetapi kalau keadaan memburuk, maka ia tidak
  lagi berminat untuk melayani. Ini adalah sifat manusia yang egois.
  Ingatlah bahwa "Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-
  Nya" (Roma 11:29). Panggilan Tuhan bersifat "permanen", bukan
  "sementara".

  Yang terakhir, bagaimana kita mengetahui panggilan Tuhan atas diri
  kita masing-masing?

  1. "Berusahalah sungguh-sungguh" (2Petrus 1:10a) untuk mengetahui
     panggilan Tuhan.

  2. "Jikalau kamu melakukannya (taat), kamu tidak akan pernah
     tersandung" (2Petrus 1:10b).

  3. Mintalah (berdoa) ... supaya Ia menjadikan mata hatimu terang,
     agar kamu mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam
     panggilan-Nya (Efesus 1:17-18).

  4. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita meyakini panggilan
     Tuhan. Menurut Roma 8:28, "mereka yang mengasihi Dia" identik
     dengan "mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
     Maka ketaatan terhadap perintah Tuhan dan dorongan kasih kepada-
     Nya itulah yang mendasari pelayanan kita.

  Setelah kita mengerti panggilan Tuhan, marilah kita siap untuk
  terjun ke dalam pelayanan dengan segenap hati dan pengucapan syukur.
  Sebagaimana ada sebuah poster rekruitmen dari pemerintah/tentara USA
  yang mengatakan: "Your Country needs YOU" demikian pula "we (our
  church) need you" -- Gereja membutuhkan orang Kristen yang mengasihi
  Tuhan dan rela melayani-Nya.

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku   : Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Kontemporer
  Judul Artikel: Tentang Gereja dan Pelayanan (Bab III)
  Penulis      : Dr. David Pan Purnomo
  Penerbit     : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1994
  Halaman      : 57 - 59
  CD SABDA     : No topik: 17326 (CD SABDA)


*TANYA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* JAWAB*

                   -*- PANGGILAN MELAYANI TUHAN -*-

  Pertanyaan:
  -----------
  Adakah kemungkinan orang awam melayani Tuhan secara penuh, mengingat
  pekerjaan sekuler banyak sekali menyita waktu sehingga tidak ada
  waktu untuk belajar maupun melayani?

  Jawab:
  ------
  Pertama-tama kita harus menjernihkan dahulu konsep kita mengenai
  pelayanan. Orang berpikir pelayanan itu adalah kegiatan rohani saja.
  Itu suatu pandangan yang keliru, yang berasal dari pengkotak-
  kotakan. Hidup itu bukan terkotak-kotak, ada sebagian untuk Tuhan,
  sebagian untuk dunia dan sebagian untuk diri sendiri. Pengertian
  Alkitab yang benar ialah, seluruh hidup kita adalah milik Tuhan,
  sesuai dengan Kolose 3:17-23,
     "Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah itu seperti untuk Tuhan"
  dan Roma 12:1-2,
     "Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan (Yun.- liturgi)...",
  sehingga pengertian sesungguhnya dari pelayanan itu adalah ibadah.

  Kita melayani Tuhan bukan hanya melalui perbuatan kegiatan rohani,
  melainkan kita melayani Tuhan berarti kita hidup memenuhi kehendak
  Tuhan. Maka dalam pengertian itu, di mana pun kita bekerja, di mana
  pun Tuhan menempatkan kita, itu adalah suatu bentuk pelayanan juga.
  Itu adalah pelayanan untuk Tuhan di dalam penempatan Tuhan, dan
  dengan kekuatan-Nya kita melaksanakan misi Tuhan baik dalam bidang-
  bidang rohani maupun dalam bidang-bidang yang mempengaruhi
  masyarakat dan kepentingan manusia. Tetapi kalau kita berkata
  demikian, bukan berarti kesimpulan kita dipersempit lagi; karena toh
  dalam pekerjaan sekuler saya sudah melayani Tuhan maka saya tidak
  perlu lagi melayani di luar itu. Ini juga salah. Kalau ada orang
  yang akhirnya menjadikan pekerjaan sekuler sebagai satu-satunya
  bentuk pelayanan, ia melupakan bahwa Tuhan juga mau supaya gereja
  Tuhan dibangun dan penginjilan dilaksanakan. Oleh sebab itu, sambil
  kita melaksanakan pekerjaan sekuler kita, kita perlu menyelesaikan
  dan mendisiplin pembagian waktu supaya ada keseimbangan, sehingga
  kita bisa memilih (dalam waktu yang sudah sempit itu) bentuk-bentuk
  pelayanan yang efektif untuk pekerjaan pembangunan Kerajaan Allah,
  dan kita minati itu dengan penuh konsentrasi.

-*- Diedit dari sumber -*-:
  Judul Buletin: Momentum No. 3 Oktober 1987
  Nama Kolom   : TANYA JAWAB
  Pengasuh     : Pdt. Dr. Stephen Tong dan Paul Hidayat, S.Th.
  Penerbit     : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta
  Halaman      : 24


*SURAT*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-DARI ANDA-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*SURAT*

  Dari: andri firmansyah <@yahoo.com>
  >Salam kenal ...
  >Sebagai awalan dari perkenalan ini saya minta dan ingin menanyakan
  >beberapa informasi dan artikel yang berkenaan dengan skripsi saya
  >mengenai komunikasi keluarga.
  >,1. definisi komunikasi, keluarga, dan komunikasi keluarga
  >,2. karakteristik komunikasi keluarga
  >,3. kriteria-kriteria komunikasi keluarga
  >,4. prinsip-prinsip komunikasi keluarga
  >Saya ucapkan terima kasih atas bantuan informasinya.
  >Andri

  Redaksi:
  Dalam e-Konsel edisi 019, kami pernah mengulas mengenai gaya-gaya
  dalam berkomunikasi dan bagaimana gaya-gaya tsb. dapat menimbulkan
  masalah. Selain itu disajikan juga bahan-bahan lain yang dapat
  menolong untuk memperbaiki komunikasi, termasuk komunikasi antara
  suami dan istri. Kiranya edisi 019 ini dapat sedikit membantu Anda.
  ==>   http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/019/
  Pada masa yang akan datang topik tentang masalah komunikasi
  keluarga kami harap dapat kami bahas lebih banyak.

  Selain itu, Anda juga bisa membaca buku-buku yang mengulas tentang
  komunikasi antara lain:
  1. Komunikasi Kunci Pernikahan Bahagia, oleh H. Norman Wright
  2. Komunikasi Keluarga, oleh Sen Wahlroos, Ph.D.
  Good luck dalam mengerjakan skripsinya,
                              ... and let us see the result ... ;-)


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                          STAF REDAKSI e-Konsel
                       Yulia O., Lani M., Kiki F.
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2003 oleh YLSA

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
 Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
 Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
 dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
 Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
 Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
 Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
 ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org