Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/23

e-Konsel edisi 23 (1-9-2002)

Parenting

><>               Edisi (023) -- 01 September 2002                <><

                               e-KONSEL
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
        Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

Daftar Isi:
    - Pengantar            : Parenting
    - Cakrawala            : Kiat Membesarkan Anak
    - Telaga               : Wibawa Orangtua ( 46A)
    - Bimbingan Alkitabiah : Rumah Tangga
                             (Membesarkan dan Mendidik Anak)
    - Tips                 : Mendedikasikan Anak kepada Tuhan
    - Info                 : Milis Forum Diskusi e-AyahBunda,
                             Milis Publikasi e-BinaAnak,
                             Milis Forum Diskusi e-BinaGuru,
                             Situs PEPAK
    - Surat                : e-Konsel Menjadi Berkat

*REDAKSI -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- REDAKSI*

                    -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

  Topik edisi kita kali ini akan membahas tentang Parenting, yaitu
  hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana orangtua membesarkan dan
  mendidik keluarga dan anak-anaknya.

  Firman Tuhan berkata:
   "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
    masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu."
                                                       (Amsal 22:6)
                       < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Ams+22:6 >

  Mendidik anak yang masih kecil/muda merupakan tugas yang sangat
  penting tetapi sering diremehkan oleh para orangtua, karena dianggap
  tugas yang mudah. Namun jika di kemudian hari orangtua menghadapi
  masalah dengan anak-anaknya barulah mereka menyesal karena menyadari
  bahwa masalah tersebut merupakan buah yang dipetik dari tidak
  mendidik anak-anaknya dengan baik ketika mereka masih kecil. Oleh
  karena itu marilah kita bersama menyimak sajian edisi ini, supaya
  wawasan kita bisa lebih luas dan kita bisa belajar menjadi orangtua
  yang lebih bijaksana.

  Selamat mendidik!

  Dalam kasih-Nya,
  Tim Redaksi


*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

                    -*- KIAT MEMBESARKAN ANAK -*-

  Membesarkan anak bukanlah masalah sepele. Saya percaya bahwa para
  pembaca yang adalah orangtua (terutama ibu) akan membenarkan kalimat
  ini. Sebagaimana hubungan suami-istri akan mempengaruhi hubungan
  orangtua-anak, demikian pulalah hubungan orangtua-anak akan
  mempengaruhi hubungan suami-istri. Hubungan suami-istri yang sehat
  dan kuat cenderung menghasilkan anak-anak yang sehat dan kuat pula.
  Hubungan suami-istri yang lemah dan sakit-sakitan, cenderung
  membuahkan anak-anak yang lemah dan sakit-sakitan pula. Namun
  kebalikannya juga betul. Hubungan orangtua-anak yang lemah dan
  sakit-sakitan cenderung menghasilkan (atau merupakan tanda) hubungan
  suami-istri yang lemah dan sakit-sakitan. Dr. James Dobson, seorang
  psikolog Kristen dari Amerika, sangat menyadari peranan penting dari
  cara membesarkan anak yang sehat dalam keharmonisan hubungan suami-
  istri. Dalam bukunya "The New 'Dare to Discipline'" yang kemudian
  diintisarikan dalam majalah "Focus on the Family" (March, 1994) ia
  menjabarkan lima kiat membesarkan anak.

  Kiat Pertama: Menumbuhkan respek pada orangtua merupakan faktor yang
                sangat penting dalam membesarkan anak.

  Ada tiga alasan yang membuat hal ini penting, antara lain:
  1) Karena sesunggguhnya anak belajar memberi respek kepada orang
     lain sewaktu ia belajar memberi respek kepada orangtuanya.
     Keluarga adalah unit sosial terkecil dan sering kali cara kita
     berinteraksi dan bereaksi terhadap dunia luar merupakan cermin
     dari bagaimana kita berinteraksi terhadap keluarga kita. Seorang
     anak yang tidak menghormati orangtuanya cenderung mengalami
     kesukaran menghormati figur-figur lain di luar rumahnya. Saya
     memahami adanya kasus-kasus tertentu di mana orangtua bukan hanya
     menelantarkan melainkan juga menindas anak mereka. Dalam kasus-
     kasus khusus seperti itu saya menyadari kesukaran yang timbul
     bagi anak untuk menghormati orangtuanya. Namun saya percaya bahwa
     yang dimaksud oleh Dr. Dobson adalah kasus pada umumnya, dimana
     anak yang tidak dididik untuk hormat kepada orangtua cenderung
     menjadi anak yang sukar hormat kepada orang lain.

  2) Karena respek pada orangtua akan menolong orangtua menanamkan
     nilai-nilai rohani dalam diri anak tatkala anak mencapai usia
     remaja. Apabila kita baru mau menanamkan pentingnya respek
     sewaktu anak menginjak remaja, niscaya kita telah terlambat dan
     akan mengalami kesulitan mengajarkan nilai-nilai rohani dalam
     dirinya.

  3) Karena respek pada orangtua acap kali dikaitkan dengan respek
     pada Tuhan sendiri. Anak kecil yang belum berkemampuan berpikir
     secara abstrak sering kali mengasosiasikan figur orangtua,
     terutama ayah, dengan figur Tuhan. Jadi, anak yang kurang ajar
     terhadap orangtua sejak kecil akan cenderung tidak respek
     terhadap Tuhan pula.

  Kiat Kedua: Kesempatan terbaik untuk berdialog dengan anak adalah
              pada waktu kita baru saja mendisiplinkannya.

  Membesarkan anak tidak terlepas dari konfrontasi dan disiplin karena
  adakalanya anak dengan sengaja melawan otoritas orangtua. Pada saat-
  saat seperti inilah penting bagi orangtua akan bertumbuh. Biasanya
  dalam saat konfrontasi dan disiplin seperti ini, anak akan meluap-
  luap dengan emosi dan setelah itu mengakhiri perlawanannya dengan
  tangisan. Ini adalah momen yang penting bagi kita, orangtua, untuk
  memeluk anak, mengatakan kepadanya bahwa kita mengasihinya dan
  memberi tahu anak akan kesalahannya. Dengan cara ini, anak akan
  memahami bahwa kita tidak menolaknya atau menghukum dirinya,
  melainkan menghukum perbuatannya. Jadi orangtua tidak seharusnya
  takut mendisiplin anak selama tidak berlebihan karena momen-momen
  seperti ini biasanya dapat mempererat hubungan orangtua-anak.

  Kiat Ketiga: Kendalikan anak tanpa berteriak-teriak.

  Menurut Dr.Dobson, berteriak-teriak memarahi anak tidak
  menyelesaikan masalah, malah akan membuat anak terbiasa dengan
  kemarahan orangtua. Menggunakan teriakan kemarahan untuk
  mengendalikan anak sama dengan mencoba menjalankan mobil dengan cara
  membunyikan klakson. Oleh karena itu cara yang lebih efektif adalah
  memanfaatkan sesuatu yang penting baginya. Saya setuju dengan
  pandangan Dr. Dobson ini karena saya pun menyaksikan betapa cepatnya
  anak-anak kami makan tatkala istri saya berkata, "Kalau tidak
  selesai makan, kalian tidak boleh ikut pergi." Bagaikan pelari yang
  mendekati garis final, demikian pula mereka berlari menuju meja
  makan dan makan dengan lahap -- tanpa kami harus berteriak-teriak
  marah.

  Kiat Keempat: Jangan melimpahi anak dengan materi.

  Pada waktu kita hidup dalam kekurangan, tidaklah sukar bagi kita
  untuk menolak permintaan anak dengan alasan bahwa kita tidak
  memiliki uang untuk membeli barang yang ia minta itu. Namun tatkala
  kita mempunyai uang, menolak permintaan anak menjadi cukup sulit.
  Kita seakan-akan tidak lagi memiliki alasan untuk menolak
  permintaannya. Setiap kali kami sekeluarga mengunjungi pasar
  swalayan, anak-anak selalu mengajak kami (sudah tentu dengan rayuan)
  untuk melihat-lihat di tempat penjualan mainan anak-anak dan setiap
  kali pula mereka meminta kami untuk membelikan sesuatu. Biasanya
  saya menolak permintaan mereka dengan alasan harganya, bagi kami
  terlalu tinggi. Dasar anak-anak, sekarang mereka mengubah taktik
  mereka. Setelah mangumandangkan permintaan mereka, pertanyaan
  pertama yang mereka ajukan adalah, apakah harganya mahal atau tidak.
  Masalah mulai timbul (bagi kami), karena adakalanya barang yang
  mereka inginkan harganya memang tidak terlalu tinggi. Sedangkan
  alasan utama kenapa kami tidak bersedia membelikan barang itu adalah
  karena kami ingin membatasi barang mainan mereka agar tidak
  melimpah-ruah dan hilang nilainya. Akhirnya saya terpaksa mengatakan
  bahwa kami tidak dapat membelikan mainan itu karena mereka sudah
  memiliki mainan sejenis itu atau kami menjanjikan untuk membelikan
  mainan itu pada hari ulang tahun mereka.

  Dr. Dobson menekankan bahwa anak yang dilimpahi dengan materi
  niscaya mengalami kesukaran menghargai milik kepunyaannya. Saya
  menambahkan, anak yang tidak pernah menghargai milik kepunyaannya
  cenderung berkembang menjadi seseorang yang tidak berterima kasih
  dan mementingkan diri sendiri. Anak ini cenderung menjadi seseorang
  yang egois dan mementingkan haknya belaka, tanpa memikirkan
  kewajibannya dan kepentingan orang lain. Ia tidak mungkin menghargai
  pengorbanan orang lain dan tidak mengenal nilai pengorbanan diri.
  Segala sesuatu menjadi terlalu mudah baginya dan ia pun akhirnya
  cenderung memudahkan atau meremehkan segala sesuatu. Ingatlah,
  membatasi kepunyaan mereka tidaklah sama dengan menyengsarakan
  mereka. Membatasi keinginan anak penting untuk kita lakukan pada
  abad kemakmuran materi ini demi kebaikannya sendiri.

  Kiat Kelima: Menjaga keseimbangan antara kasih dan disiplin.

  Terakhir, Dr. Dobson menjelaskan kita membesarkan anak adalah
  menjaga keseimbangan antara kasih dan disiplin. Ia menuturkan sebuah
  cerita yang pernah terjadi pada abad ke-13 di mana Raja Frederick II
  mengadakan sebuah percobaan dengan 50 bayi. Tujuan eksperimen ini
  ialah untuk mengetahui bahasa apa yang akan digunakan oleh anak-anak
  ini apabila mereka dibesarkan tanpa pernah mendengar perkataan
  apapun. Raja tersebut meminta ibu pengasuh ini untuk membersihkan
  dan memberi mereka makan namun melarang para pengasuh ini untuk
  membelai ataupun berbicara kepada bayi-bayi ini. Percobaan ini
  ternyata gagal total karena akhirnya kelima puluh bayi ini akhirnya
  meninggal dunia.

  Seorang anak membutuhkan kasih sayang dan penerimaan orangtuanya
  sama seperti ia memerlukan makanan dan minuman. Tanpa kasih sayang
  dan penerimaan, ia akan bertumbuh besar menjadi seorang manusia
  yang haus dan lapar akan kasih serta penerimaan orang lain. Namun
  ia pun memerlukan disiplin yang akan menolongnya menguasai diri dan
  patuh kepada otoritas di atasnya. Disiplin membantunya hidup dalam
  kerangka atau struktur sehingga ia tidak berkembang menjadi liar tak
  terkendali bahkan oleh dirinya sendiri. Disiplin diperlukan sebagai
  sarana orangtua mengkomunikasikan pelajaran-pelajaran bermakna yang
  ia perlukan.

  Dr. Dobson menyimpulkan, "Tatkala anak menantang dan memberontak,
  menangkanlah tantangan itu dengan meyakinkan. Ketika anak bertanya,
  'Siapakah yang berkuasa (di rumah ini)?' -- beri tahu dia bahwa
  andalah, sebagai orangtua, yang berkuasa (di rumah ini). Saat ia
  bergumam, 'Siapakah yang mengasihi saya?' -- dekaplah ia dalam
  pelukan Anda dan penuhi dia dengan kasih sayang. Perlakukan dia
  dengan respek dan penuh penghargaan dan tuntutlah perlakuan yang
  sama darinya."

-*- Sumber -*-
  Buletin PARAKALEO, Departemen Konseling Sekolah Tinggi Theologi
  Reformed Injili Indonesia, Vol. 1/No.3/Edisi Juli - September 1994


*TELAGA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TELAGA*

  Apakah sebenarnya wibawa itu? Apa yang harus dilakukan orangtua
  supaya memiliki wibawa yang tepat bagi anak-anaknya? Langkah-langkah
  apakah yang perlu dilakukan untuk membangun wibawa sesuai dengan
  firman Tuhan? Silakan menyimak diskusi yang dipandu oleh Pdt. Paul
  Gunadi berikut ini yang membahas tentang "Wibawa Orangtua".

                       -*- WIBAWA ORANGTUA -*-
                       oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi

-------
  T: Tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan oleh orangtua, supaya
     mempunyai wibawa yang tepat? Jadi bukan ditakuti oleh anak-anak
     mereka tetapi memang anak-anak ini hormat kepada orangtuanya ini.

  J: Pertama-tama, saya akan paparkan sikap yang bukan wibawa tapi
     seringkali dianggap wibawa. Pertama adalah seringkali orangtua
     beranggapan kalau saya mampu mencukupi kebutuhan fisik,
     finansial, anak-anak atau istri atau suami saya maka otomatis
     saya layak untuk dihormati oleh anak-anak. Poin pertama
     sebetulnya adalah keuangan bukanlah ukuran. Nah jadi adakalanya
     konsep kita ini keliru dalam hal wibawa. Adakalanya orangtua
     beranggapan selama saya masih bisa menyediakan uang kepada anak-
     anak, maka anak-anak seharusnyalah hormat kepada saya. Jadi bukan
     soal berapa besar jumlahnya namun betapa bertanggungjawabnya si
     orangtua, betapa rajinnya dia itu yang akan membuahkan wibawa
     pada dirinya, itu yang pertama.

     Nah sikap yang kedua, adakalanya orangtua beranggapan dengan
     semakin keras perlakuannya kepada anak, semakin berwibawalah dia.
     Tapi sebenarnya anak-anak takut pada orangtua atau istilahnya
     ketakutan kepada orangtua dibedakan dari istilah takut yang lebih
     netral. Anak-anak menjadi ketakutan kepada orangtua karena
     perlakuan orangtua yang sangat keras. Nah ini juga anggapan yang
     keliru sebab membuat anak-anak ketakutan sebetulnya tidaklah
     melahirkan wibawa. Justru sebetulnya reaksi yang tersembunyi pada
     diri anak sewaktu takut terhadap orangtua ialah rasa tidak suka,
     rasa tidak hormat, bahkan rasa benci kepada orangtua. Nah ini
     adalah faktor kedua yang acapkali kita kaitkan dengan wibawa.
     Bila orangtua merasa anak-anak tidak menghormatinya, biasanya
     langkah yang diambil adalah memarahi, berteriak-teriak, memukul
     anak -- tambah hari tambah keras -- dengan harapan wibawa itu
     akan dibangkitkan kembali. Namun yang terjadi justru sebaliknya
     -- orangtua tidak ada wibawa.

-------
  T: Tapi orangtua seringkali memakai hal-hal di atas dengan alasan
     untuk menegakkan disiplin terhadap anak, bagaimana menurut Bapak?

  J: Memang yang diharapkan secara lahiriah akan tercapai dimana anak-
     anak karena ketakutan akan taat melakukan yang dikehendaki oleh
     orangtuanya. Tapi saya kira ini akan berpengaruh pada usia
     tertentu atau sampai usia tertentu, tapi sulit berlaku misalkan
     ketika anak-anak ini remaja dan sudah mampu melawan.

-------
  T: Kadang-kadang sikap disiplin ini akan ditunjukkan dengan sikap
     yang keras pada usia-usia tertentu untuk membiasakan supaya anak
     ini disiplin. Apakah itu bisa terpengaruh atau terbawa terus
     sampai usia dewasa?

  J: Disiplin itu sendiri memang mutlak diperlukan, jadi orangtua
     mesti mendisiplin anak. Namun seberapa kerasnya dia mendisiplin
     dan seberapa adilnya dia mendisiplin, itu 2 hal yang sangat
     penting yang harus dilihat oleh anak. Kita tidak boleh sedikitpun
     melupakan bahwa disiplin hanya efektif kalau sebelum disiplin
     diberikan anak merasa dicintai dan setelah disiplin diberikan
     anak juga merasa dicintai. Jadi disiplin itu tidak berdiri
     sendiri, disiplin harus didampingi oleh kedua belah pihak oleh
     cinta kasih sebab waktu anak-anak dikasihi dan dia tahu dikasihi
     kemudian didisiplin, maka disiplin itu efektif. Jangan setelah
     didisiplin anak-anak ini merasa terbuang, tersingkirkan, tidak
     diinginkan, karena dimarahi dengan begitu keras oleh orangtua.
     Cinta kasih perlu diungkapkan lagi kepada si anak, perlu
     diberikan lagi untuk meyakinkan bahwa kita tetap mencintainya.
     Apa yang diperbuatnya tadi tidak mengubah cinta kita padanya. Nah
     jadi pasca disiplin atau setelah disiplin cinta kasih juga harus
     diberikan. Nah dengan cara inilah wibawa orangtua akan bisa
     ditegakkan. Jadi sekali lagi poin kedua yang seringkali
     disalahfahami oleh orangtua adalah disiplin yang keras akan
     menampakkan wibawa saya, kalau tidak ada ini ya tidak bisa.
     Jadi 2 hal ini memang seringkali menjadi anggapan yang keliru.

-------
  T: Jadi di dalam membangun wibawa itu, langkah-langkah apa yang
     harus dilakukan orangtua?

  J: Saya akan bacakan dari kitab Kolose 3:18, "Hai istri-istri
     tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan."
     Nah, yang ingin saya tekankan: yang pertama adalah bahwa wibawa
     orangtua muncul kalau orangtua hidup sesuai dengan peranan dan
     tugasnya sebagai orangtua. Waktu orangtua mempunyai hubungan
     yang kuat, yang baik dan yang harmonis, anak-anak tidak bisa
     tidak akan memandang orangtua dengan penuh hormat. Jadi wibawa
     yang pertama muncul dari kualitas hubungan suami istri, ini
     tidak bisa ditawar-tawar.

     Kalau tadi Tuhan memberi satu perintah kepada istri, di ayat
     berikutnya Tuhan memberikan 2 perintah kepada suaminya. Saya
     bacakan dari Kolose 3:19 "Hai suami-suami kasihilah istrimu dan
     janganlah berlaku kasar terhadap dia." Jadi memang ada 2 unsur,
     yang pertama adalah perintah yakni kasihilah istrimu dan yang
     kedua adalah larangan jangan berlaku kasar terhadap istri.

-*- Sumber -*-:
   [[Sajian kami di atas, kami ambil dari isi salah satu kaset TELAGA
     No.  46A, yang telah kami ringkas/sajikan dalam bentuk tulisan.]]
     -- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip seluruh kaset ini lewat
        e-Mail, silakan kirim surat ke:  < owner-i-kan-konsel@xc.org >
     -- Informasi tentang pelayanan TELAGA/Tegur Sapa Gembala Keluarga
        dapat Anda lihat dalam kolom INFO edisi e-Konsel 03 dari URL:
    ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/003/    [01 Nov 2001]


*BIMBINGAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* ALKITABIAH*

          -*- RUMAH TANGGA (MEMBESARKAN DAN MENDIDIK ANAK) -*-

  AYAT ALKITAB
  ============
  Amsal 20:7             Kolose 3:21
  Amsal 3:11,12          Efesus 6:1-4
  Amsal 31:10,26,27,28   Amsal 30:11
  Ulangan 12:28

  LATAR BELAKANG
  ==============
  Salah satu pokok yang dibahas berulang-ulang oleh Alkitab ialah
  tentang pentingnya mendidik anak melalui pengajaran dan teladan.
  Secara jelas Kitab Ulangan menekankan bahwa anak-anak harus diajari
  jalan-jalan Allah: "Apa yang kuperintahkan kepada-Mu pada hari ini
  haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya
  berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila
  engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan,
  apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."
  (Ulangan 6:6,7).

  Kitab Amsal adalah ringkasan dari kebijakan umat Allah. Masalah
  keluarga dan mengasuh anak dalam iman adalah pokok yang mendapat
  tekanan kuat di dalamnya. "Didiklah orang muda menurut jalan yang
  patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang
  daripada jalan itu." (Amsal 22:6).

  Timotius telah dididik dalam Alkitab sejak masa kanak-kanaknya,
  sesuai dengan perintah Allah dan adat bangsa Yahudi. "Ingatlah juga
  bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat
  memberi hikmat kepada-Mu dan menuntun engkau kepada keselamatan
  oleh iman kepada Kristus Yesus." (2Timotius 3:15,17).

  Paulus berbicara tentang keharusan membina dan mendisiplin anak-
  anak kita secara terus-menerus: "Sebab aku teringat akan imanmu
  yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam
  nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup
  juga di dalam dirimu." (2Timotius 1:5).

  Alkitab mengajarkan bahwa orangtua bertanggung jawab untuk membina
  dan mendisiplin anak-anak mereka, supaya mereka boleh dibawa untuk
  mengenal Alkitab dan menghormati Tuhan.

  ------------------------------Kutipan------------------------------
  Menurut Billy Graham:
  "Penyebab dasar mengapa terjadi ketidakbahagiaan dalam rumah tangga
  kita ialah karena kita sudah tidak mempedulikan Allah dan prinsip-
  prinsip yang diberikan-Nya kepada kita. Kita tak bersedia
  melaksanakan rencana-Nya untuk keluarga. Anggota-anggota rumah
  tangga telah menolak tanggung jawab mereka seperti yang dinyatakan
  di dalam Alkitab. Jelas sekali bahwa ketaatan tidak datang dengan
  sendirinya. Ia harus diajarkan dan dipelajari. Anak-anak harus
  diajar taat, sama banyak seperti mereka perlu diajar cara membaca
  dan menulis."
  --------------------------Kutipan_Selesai--------------------------

  STRATEGI BIMBINGAN
  ==================
  1. Anjurkan para orangtua untuk menciptakan suasana rumah tangga
     yang menghasilkan kerohanian yang kokoh dan perkembangan mental
     yang baik.
     a. Suatu rumah tangga yang stabil, damai dan penuh kasih.

     b. Suatu rumah tangga yang mengutamakan suasana kekeluargaan, di
        mana terdapat suasana persaudaraan, saling menghormati dan
        saling menguatkan. Suatu rumah tangga di mana seisi keluarga
        melakukan sesuatu bersama-sama, khususnya ketika anak-anak
        masih kecil.

     c. Suatu rumah tangga yang berpusatkan Allah dan setiap
        anggotanya berhak untuk menyambut kasih Allah dalam Kristus,
        dan diajar untuk hidup dari sudut pandang rohani. Lihat
        Amsal 22:6. (Di sini saat yang tepat untuk menanyakan kepada
        orangtua itu, apakah dia sudah menerima Yesus Kristus
        sebagai Tuhan dan Juruselamat). Jelaskan "Damai dengan
        Allah".

     d. Suatu rumah tangga yang berorientasi pada gereja. Lebih
        mudah untuk membesarkan anak-anak, bila kehidupan mereka,
        seluruh isi keluarga beserta para sahabatnya, dipusatkan pada
        gereja.

     e. Para orangtua harus memperkenalkan anak-anak mereka kepada
        dunia pemikiran, baik melalui contoh maupun tindakan. Jika
        orangtua suka membaca, anak-anak pun akan suka membaca. Buku-
        buku dan majalah-majalah yang baik untuk anak-anak, harus
        sudah diperkenalkan dalam rumah tangga. Pengembangan bakat
        dan kepribadian seperti les musik, olah raga dan hobi, sudah
        dapat diperkenalkan kepada mereka sejak masih di SD. Ini akan
        menjadi batas pengaman terhadap konflik-konflik yang akan
        muncul kelak pada waktu mereka remaja.

  2. Bimbing orangtua untuk mengakui bahwa anak pun memiliki hak-hak
     mereka, tetapi hak-hak itu harus dijalin kepada seluruh isi
     keluarga.
     a. Anak berhak untuk dikasihi dan diterima.

     b. Anak berhak untuk menerima berbagai bentuk bantuan yang akan
        membuat mereka memiliki harga diri, rasa aman dan berarti.

     c. Anak berhak menyaksikan kedua orangtua mereka menyatakan
        kasih sayang dan saling menghargai, satu kepada yang lain.
        Contoh-contoh kelakuan Kristen yang dewasa, perlu mereka
        saksikan, supaya mereka lihat bagaimana orangtua mereka
        menangani masalah dan tekanan hidup.

     d. Anak berhak untuk didisiplin dan dihukum secara adil dan
        bersitetap.
       (1) Jangan menuntut lebih dari yang mampu dilakukan anak.

       (2) Laksanakanlah hukuman secara adil dan benar. Tuntutan yang
           melampaui batas dan keras, siksaan jasmani, cepat
           menimbulkan kegetiran dan pemberontakan. Orangtua perlu
           bersikap luwes dan tidak berpegang pada "huruf-huruf
           Taurat".

       (3) Jangan menghukum dalam kemarahan atau letusan perasaan
           hati saat itu juga.

       (4) Berikan selalu penjelasan, agar mereka tahu mengapa mereka
           dihukum.

  3. Anjurkan orangtua untuk membuka kesempatan berkomunikasi
     seluas-luasnya, apa pun resikonya.
     a. Orangtua harus menyediakan waktu untuk menjadi pendengar yang
        memperhatikan dan mengambil prakarsa untuk mendorong
        terjadinya percakapan. Perlu ada diskusi jujur tentang
        masalah seks, obat bius, alkohol, pacaran, dan sebagainya.

     b. Orangtua harus membagikan pengalaman-pengalaman masa kecil
        dan remajanya, termasuk kesalahan dan kegagalan mereka.

     c. Orangtua harus jujur, mempersilakan anak untuk mempertanyakan
        patokan hidup dan kepercayaannya. Ini membuka kesempatan untuk
        menjelaskan dan membelanya. Melalui ini, anak Anda akan
        merumuskan dasar-dasar kepercayaan dan nilai hidup mereka
        sendiri. Anda dapat mengajak dan menolong mereka untuk
        menyusun sasaran-sasaran hidupnya kini dan nanti.

-*- Sumber -*-:
  Judul Buku: Buku Pegangan Pelayanan
  Penulis   : Billy Graham
  Penerbit  : Persekutuan Pembaca Alkitab
  Halaman   : 235 - 237
  CD-SABDA  : Topik 17717


*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*

  Tips berikut ini diambil dari publikasi "e-BinaAnak" edisi 085/2002
  bulan Juli.

  ==>   http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/2002/085/

               -*- MENDEDIKASIKAN ANAK KEPADA TUHAN -*-

   Susannah Wesley adalah ibu dari 19 anak, termasuk John Wesley dan
   Charles Wesley. Dia mendedikasikan semua anaknya kepada Tuhan, dan
   dia tidak menggunakan buku-buku akademis anak untuk menjaga
   kehidupan anak-anaknya. Tapi berikut ini adalah "16 Peraturan" yang
   Susannah terapkan, lebih dari 200 tahun yang lalu, untuk menjaga
   agar 19 anaknya tetap hidup dalam kebenaran:

    1. Anak-anak tidak diperbolehkan makan di luar jam-jam makan.

    2. Anak-anak tidak diperbolehkan tidur lebih dari pukul 8 malam.

    3. Anak-anak harus dapat minum obat tanpa mengeluh.

    4. Mengurangi kehendak egois dari seorang anak dan karena itu
       perlu bekerjasama dengan Tuhan untuk menyelamatkan jiwa anak.

    5. Mengajari seorang anak berdoa begitu ia dapat berbicara.

    6. Melatih anak-anak untuk belajar tenang saat melakukan doa
       keluarga.

    7. Jangan memberikan sesuatu kepada anak yang dimintanya dengan
       menangis, tetapi berikan kepada mereka apa yang dimintanya
       dengan sopan.

    8. Agar anak tidak suka berbohong, jangan memberikan hukuman pada
       anak begitu dia mengakui kebohongannya dan menyesali
       perbuatannya.

    9. Jangan biarkan anak melakukan perbuatan dosa tanpa hukuman sama
       sekali.

   10. Jangan menghukum anak dua kali untuk satu kesalahan.

   11. Berikan pujian dan hadiah jika anak berkelakuan baik.

   12. Berikan pujian pada anak untuk usaha apapun yang ia lakukan
       untuk menyenangkan hati orang lain, meskipun usahanya tersebut
       kurang begitu baik.

   13. Menghargai hak milik pribadi bahkan untuk hal-hal yang sepele.

   14. Perhatikan dengan cermat setiap janji yang dibuat.

   15. Anak perempuan tidak diperbolehkan bekerja sebelum ia mampu
       membaca.

   16. Ajarkan anak untuk takut pada hukuman.

-*- Bahan diterjemahkan dari sumber -*-:
  Judul Buku: All the Children of the Bible
  Pengarang : Herbert Lockyes
  Penerbit  : Zondervan Publishing House, Grand Rapids, Michigan, 1970
  Halaman   : 49


*INFO *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* INFO*

  Ingin menambah wawasan Anda sebagai orangtua untuk mendidik dan
  membesarkan anak-anak dengan baik? Berikut ini kami perkenalkan
  sumber-sumber informasi di internet yang berguna bagi orangtua yaitu
  milis forum diskusi e-AyahBunda dan e-BinaGuru, milis publikasi
  mingguan e-BinaAnak, serta situs PEPAK (Pusat Elektronik Pelayanan
  Anak Kristen). Untuk bergabung/berlangganan dengan ketiga milis
  tersebut, silakan mengakses alamat:
  ==>   http://www.sabda.org/komunitas/i-kan/subscribe/


                -*- MILIS FORUM DISKUSI e-AYAHBUNDA -*-

  Apakah Anda ingin bertemu dengan para orangtua lain untuk saling
  curhat tentang masalah seputar keluarga? Anda ingin mendapat masukan
  dari orangtua lain dan para dokter untuk berkonsultasi tentang
  permasalahan keluarga yang Anda hadapi? Milis diskusi e-AyahBunda
  adalah tempat yang tepat untuk Anda bergabung.

  Milis e-AyahBunda adalah forum bagi para orangtua untuk berdiskusi
  seputar masalah keluarga, baik untuk hal-hal yang jasmani (seperti
  kesehatan keluarga, pendidikan anak, dll.) tapi juga hal-hal rohani.
  Harapan milis ini adalah untuk menolong setiap anggota agar dapat
  membentuk keluarga yang bahagia. Selain itu tujuan lain adalah untuk
  membina persahabatan, yang saling meneguhkan, menguatkan, berbagi
  rasa, dan mendoakan antara orangtua Kristen anggota milis tanpa
  memandang aliran untuk kemuliaan nama Kristus. Untuk itu ada
  beberapa pakar, seperti beberapa dokter dan psikolog Kristen yang
  ikut bergabung. Nah, tunggu apalagi ... silakan cepat-cepat
  bergabung.

  Untuk bergabung kirim surat ke :: subscribe-i-kan-AyahBunda@xc.org
  Arsip :: http://purcell.xc.org/scripts/lyris.pl?visit=i-kan-AyahBunda

                  -*- MILIS PUBLIKASI e-BINAANAK -*-

  Milis publikasi e-BinaAnak diterbitkan dengan kerinduan untuk
  memperlengkapi guru-guru Sekolah Minggu dan mereka yang terlibat
  dalam pelayanan anak. e-BinaAnak yang muncul sekali seminggu ini
  menampilkan artikel, tips mengajar dan kegiatan-kegiatan lain yang
  dapat menolong meningkatkan pengenalan guru SM terhadap anak dan
  bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan Sekolah Minggu di gereja
  masing-masing. Selain bagi guru SM, topik-topik yang dibahas dalam
  e-BinaAnak juga dapat bermanfaat bagi orangtua dalam mendidik anak-
  anaknya, misalnya edisi yang membahas tentang Rasa Percaya Diri Anak
  (edisi 087/2002), Cara Anak Berpikir (edisi 088/2002), dan Cara
  Anak Belajar (edisi 089/2002), dll.

  Untuk berlangganan  :: subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org
  Arsip               :: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/


                -*- MILIS FORUM DISKUSI e-BINAGURU -*-

  Selain itu ada juga Milis Diskusi e-BinaGuru yang sangat bermanfaat
  bukan hanya untuk guru-guru Sekolah Minggu tapi juga para orangtua.
  Karena dalam milis diskusi ini anggota bisa saling bertukar pendapat
  dan berbagai informasi khususnya sehubungan dengan bagaimana
  mendidik dan mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya.

  Untuk bergabung kirim surat ke :: subscribe-i-kan-BinaGuru@xc.org
  Arsip :: http://purcell.xc.org/scripts/lyris.pl?visit=i-kan-BinaGuru


                         -*- SITUS PEPAK -*-

  Situs PEPAK (Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen) menyajikan
  berbagai informasi tentang Pelayanan Anak dan Pelayanan Sekolah
  Minggu yang paling lengkap dalam bahasa Indonesia. Situs PEPAK
  merupakan proyek besar hasil kerjasama antara milis publikasi
  e-BinaAnak, milis diskusi e-BinaGuru, dan YLSA. Di dalam situs PEPAK
  ini pengunjung bisa membaca artikel, bahan pelajaran, tips-tips
  mengajar, berbagai aktivitas dan keterampilan untuk guru Sekolah
  Minggu dan para pelayan anak. Silakan berkunjung! Kami yakin anda
  akan mendapat banyak informasi yang berguna bagi bekal mendidik dan
  membesarkan anak-anak Anda di dalam Tuhan.

  Situs PEPAK :: http://www.sabda.org/pepak/


*SURAT *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*- DARI ANDA -*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* SURAT*

  Dari: "Lukas A.P" <lukas_liem@>
  >Syalom,
  >Terima kasih atas perhatian dan kiriman emailnya secara rutin.
  >Selain untuk menambah wawasan kami tentang bahan-bahan konseling,
  >kami sebagai konselor, juga dapat menjadi berkat bagi pertumbuhan
  >iman. Saya sebenarnya mengirimkan kisah kesaksian tentang bagaimana
  >Tuhan telah menyelamatkan jiwa lewat kesembuhan yang Tuhan berikan
  >secara ajaib, sehingga saya harus ber-nazar untuk memberikan bagian
  >dari hidup saya maupun keluarga saya membantu pekerjaan Tuhan.
  >apakah alamat untuk itu benar atau ada alamat lain mohon diberi
  >tahu, trima kasih
  >Tuhan memberkati.

  Redaksi:
  Puji Tuhan untuk berkat yang Anda terima lewat e-Konsel. Mengenai
  kesaksikan yang ingin Anda bagikan, silakan kirimkan ke Redaksi.
  Doa kami kiranya kasih Tuhan senantiasa menyertai Anda dan pelayanan
  Anda. Selamat melayani.


e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                         STAF REDAKSI e-Konsel
                      Yulia O., Lani M., Ka Fung
                    PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                         Yayasan Lembaga SABDA
                     INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                          Sistem Network I-KAN
                      Copyright(c) 2002 oleh YLSA


*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Anda punya masalah atau perlu konseling? <masalah-konsel@sabda.org>
  Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
  dapat dikirimkan ke alamat:             <owner-i-kan-konsel@xc.org>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
  Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: subscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  unsubscribe-i-kan-konsel@xc.org
  Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
  ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org