______________________________e-KONSEL________________________________
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
______________________________________________________________________
EDISI 200/15 Januari 2010
Daftar Isi:
= Pengantar: Tugas Konselor Karier
= Renungan: Pekerjaan Baru
= Cakrawala: Konseling dan Pemilihan Pekerjaan
= Artikel Terkait: Artikel Tentang Karier
= TELAGA: Bila Pekerjaan Tidak Lagi Memuaskan
PENGANTAR ____________________________________________________________
Salam sejahtera,
Edisi e-Konsel kali ini masih melanjutkan pembahasan edisi yang lalu
mengenai Konseling Karier. Kali ini, artikel-artikel yang disajikan
diharapkan dapat menolong para konselor Kristen pada saat mereka
membantu atau membimbing orang-orang yang sedang bergumul dengan
masalah pekerjaan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah dengan
memberikan tips bagaimana mendapatkan pekerjaan dan informasi di
mana mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Tentu saja, tidak hanya
berhenti sampai di situ, dalam proses konseling, konselor harus
menolong konselinya dalam menghadapi perubahan-perubahan yang
mungkin terjadi. Itulah beberapa bagian dari tugas konselor karier
yang penjelasan selanjutnya dapat disimak dalam artikel-artikel
edisi kali ini.
Selain itu, redaksi juga menyisipkan beberapa artikel yang masih
berkaitan dengan masalah karier dengan harapan dapat melengkapi
artikel-artikel yang disajikan di edisi ke-200 e-Konsel ini. Kiranya
menjadi berkat bagi Pembaca terkasih sekalian. Selamat membaca.
Pimpinan Redaksi e-Konsel,
Christiana Ratri Yuliani
http://c3i.sabda.org/
http://fb.sabda.org/konsel
RENUNGAN _____________________________________________________________
PEKERJAAN BARU
Bacaan : Kolose 3:1-4,22-25
Sebuah survei oleh Families and Work Institute (Institut untuk
Keluarga dan Pekerjaan) mendapati bahwa 70% orang di Amerika Serikat
memimpikan mata pencarian yang berbeda. Buku-buku,
konsultan-konsultan, dan agen-agen tenaga kerja menawarkan bantuan
untuk memperoleh pekerjaan yang diimpikan. Namun, apakah mendapatkan
pekerjaan yang berbeda selalu menjadi jalan keluar ketidakpuasan
dalam bekerja?
Dalam Kolose 3, Paulus menggunakan frasa "apa pun juga yang kamu
perbuat", sebanyak 2 kali. Frasa tersebut merupakan suatu panggilan
untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati. Pertama, ia menulis:
"segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap
syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita" (ayat 17). Dan kedua,
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (ayat 23).
Bila kita bekerja untuk majikan yang suka mengkritik dan tidak mau
berterima kasih, kita cenderung berupaya secara minimal. Namun, jika
pekerjaan kita dilakukan untuk Kristus, kita akan terus berusaha
melakukan yang terbaik. Memang, majikan kita yang akan
menandatangani cek pembayaran kita, tetapi Juru Selamat kitalah yang
akan memberi kita penghargaan (ayat 24).
Tidak salah mencari pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan dan
minat kita. Namun, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain
tanpa menentukan siapa yang kita layani adalah sia-sia.
Pekerjaan lama kita akan menjadi suatu pekerjaan baru ketika kita
memilih untuk melakukannya bagi Tuhan. -DCM
PEKERJAAN SEHARI-HARI MEMILIKI NILAI KEABADIAN
KETIKA DILAKUKAN BAGI ALLAH
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama publikasi: e-Renungan Harian
Edisi: 2 September 2002
Penulis: DCM
Alamat url: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2002/09/02/
CAKRAWALA ____________________________________________________________
KONSELING DAN PEMILIHAN PEKERJAAN
Diringkas oleh: Christiana Ratri Yuliani
Konseling karier merupakan bagian khusus dari beberapa teori
pendekatan dan berbagai teknik bimbingan pekerjaan yang bertujuan
untuk menolong orang lain menemukan karier yang dapat mereka
kerjakan dengan baik. Konseling karier bisa menjadi bimbingan bagi
para pencari kerja pemula, orang-orang yang ingin beralih pekerjaan,
dan para pensiunan. Dalam konseling karier ini, konselor memberikan
informasi tentang karier, mengajarkan evaluasi diri dan karier,
serta memberi dukungan dan bimbingan khusus ketika perubahan karier
terjadi. Konselor karier harus memiliki pengetahuan tentang dunia
kerja, mengenal konseli (orang yang membutuhkan konseling, -red),
dan memiliki kemampuan untuk membimbing mereka yang sedang membuat
keputusan. Semuanya ini harus dalam batas mencari kehendak Tuhan.
1. Mengetahui Dunia Kerja
Konselor karier kadang-kadang mengurusi berbagai jenis tes yang
hanya memberikan sedikit persiapan bagi seseorang untuk menghadapi
dunia kerja yang nyata. Misalnya, seorang konseli yang memiliki
talenta dan minat dalam bidang musik dan menunjukkan kemampuan yang
bagus sebagai aktris/aktor mungkin tidak menyadari
kesulitan-kesulitan dan persaingan dalam dunia kerja yang
sesungguhnya. Ketika menghadapi konseli yang seperti ini, konselor
harus benar-benar memahami kenyataan hidup, khususnya mengenai dunia
kerja.
Ada dua cara yang bisa digunakan oleh konselor kristen untuk
menolong konseli. Konselor dapat membagikan informasi tempat-tempat
yang dapat dimintai keterangan mengenai suatu pekerjaan. Konselor
pun dapat memberikan saran-saran agar keterangan yang telah
diperoleh dapat digunakan.
Perpustakaan umum dan sekolah sering kali menyimpan data informasi
pekerjaan dalam bentuk buku, brosur, katalog, dan koran-koran
terbitan pemerintah. Koperasi, organisasi profesi, bisnis, dan
perusahaan-perusahaan asuransi juga sering kali memberikan informasi
pekerjaan secara gratis atau dengan biaya yang rendah.
Kadang-kadang, sekolah menengah umum atau universitas setempat mau
memberikan informasi pekerjaan kepada orang-orang yang bukan murid
mereka. Selain itu, halaman kuning dalam buku telepon juga bisa
memberi informasi tentang orang-orang yang memiliki pekerjaan
tertentu, yang mungkin tahu di mana bisa mendapatkan informasi lebih
lengkap atau malah mungkin mau memberikan informasi pekerjaan.
Bahkan, mereka mungkin bersedia pula untuk menyusun rencana untuk
bertemu dengan orang-orang yang serius mencari pekerjaan. Ketika
seseorang menginginkan informasi tentang pekerjaan yang berhubungan
dengan gereja atau tentang dunia konseling, sumber terbaik dari
informasi yang relevan itu mungkin adalah Anda.
Orang-orang yang lebih siap memberikan informasi bisa saja adalah
ahli-ahli di perpustakaan, pegawai pemerintah, agen pekerja swasta,
atau universitas-universitas setempat. Orang-orang ini sering kali,
melalui komputer, dapat menunjukkan sumber-sumber informasi tentang
pekerjaan yang akurat, terus-menerus diperbarui, dan tidak sulit
untuk dicari atau digunakan.
Ketika seseorang menunjukkan sumber informasi dan mencari satu atau
lebih kemungkinan karier tertentu, beberapa pertanyaan berikut ini
dapat ditanyakan.
- Pekerjaan apakah ini? Apa yang dilakukan oleh orang-orang di
bidang ini?
- Kualifikasi apakah yang diperlukan (dalam hal kemampuan,
keterampilan, minat, pengalaman, atau persyaratan fisik)?
- Pelatihan apa yang diperlukan, di mana bisa didapatkan, berapa
lama waktu yang diperlukan, dan berapa biayanya?
- Bisakah setiap orang melakukan pekerjaan ini atau adakah
pendidikan, umur, jenis kelamin, agama, atau batasan-batasan lain?
(Undang-undang mungkin menetapkan bahwa harus ada kesempatan yang
seimbang dan tidak ada batasan, tetapi kenyataan dalam dunia kerja
bisa berkata lain.)
- Bagaimana kondisi pekerjaannya?
- Bagaimana dengan gaji awal dan berikutnya, termasuk tunjangan
lainnya?
- Bagaimana pekerjaan akan mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang
bila harus melakukan perjalanan, lembur, bekerja pada hari Minggu,
atau pindah tempat?
- Akankah pekerjaan tersebut membutuhkan kompromi dari
prinsip-prinsip etik atau keagamaan seseorang?
- Apa potensinya di masa yang akan datang, adakah kesempatan untuk
maju, apakah karier tersebut akan terus berjalan, atau menyiapkan
orang agar bisa maju ke pekerjaan lain yang lebih memuaskan?
- Bagaimana pekerjaan ini bisa sesuai dengan keinginan orang Kristen
untuk melayani Kristus dan bagaimana menggunakan kemampuan maupun
keterampilan yang Tuhan berikan kepada seseorang?
2. Mengenal Konseli
Konselor profesional sering kali memulai bimbingan dengan melakukan
wawancara untuk mengumpulkan informasi pribadi dan pekerjaan,
termasuk pengalaman kerja, keberhasilan, frustrasi, minat, target,
dan mimpi-mimpi konseli. Ini sering kali diikuti dengan tes
psikologi untuk menolong konseli meningkatkan pemahaman diri dan
untuk membuat perkiraan tentang masa depan. Peralatan pendekatan
psikologi adalah seperti berikut.
- Tes kemampuan mental (untuk mengukur inteligensi umum dan
kompetensi di bidang tertentu seperti kemampuan pemahaman abstrak,
kemampuan matematika, dan kemampuan verbal).
- Tes pencapaian (yang mengukur keterampilan dan jumlah materi yang
telah dipelajari oleh konseli).
- Tes bakat (yang mengukur potensi seseorang untuk belajar di
bidang tertentu, misalnya musik, seni, keterampilan manual, atau
keahlian).
- Tes minat (tidak hanya untuk mengukur minat yang ditunjukkan,
tetapi apakah minat umum konseli tersebut sama atau tidak dengan
orang-orang yang telah berhasil di kelompok pekerjaan tertentu).
- Inventaris pribadi (yang bisa diketahui dengan berbagai ciri
pribadi).
- Tes khusus (seperti tes-tes yang dirancang untuk mengukur berbagai
macam hal misalnya kreativitas, fleksibilitas, stabilitas mental,
atau potensi seseorang untuk belajar bahasa asing).
Tidak semua konselor dapat menggunakan dan memberikan interpretasi
dari tes tersebut. Untuk itu, ada baiknya menyarankan konseli untuk
mengikuti tes di klinik psikologi, pusat konseling universitas, agen
pekerja swasta, atau pusat bimbingan karier Kristen. Sebagian besar
sumber-sumber ini memiliki perangkat tes yang menggunakan komputer,
yang memungkinkan tes dilakukan, dinilai, dan diinterpretasikan
dalam bentuk cetak. Sebelum Anda menyarankan konseli untuk mengikuti
tes, pastikan dulu berapa biayanya dan diskusikan dengan konseli
apakah tes tersebut perlu dilakukan. Terkadang, tes seperti ini
tidak banyak memberikan informasi baru dan jarang memasukkan materi
tentang dunia kerja.
Konselor juga bisa mendapatkan data yang berguna dari konseli itu
sendiri. Bisa juga dengan mengamati konseli atau berkonsultasi
dengan orang-orang yang mengenal konseli. Melalui wawancara bisa
didapatkan pengetahuan yang akurat tentang konseli dalam hal
kemampuan mental, keterampilan, kemampuan khusus, tingkat pendidikan
dan pelatihan yang diperlukan pada masa yang akan datang, bakat
pribadi, kesehatan mental dan fisik, penampilan pribadi, minat
(termasuk yang dinyatakan dan beberapa yang ditunjukkan melalui
kegiatan yang dipilih seseorang di waktu luangnya), tingkat komitmen
rohani atau kedewasaan, dan (untuk konseli yang lebih dewasa)
ketergantungan serta keefisienan sebagai seorang pekerja. Pengamatan
ini tidak selalu akurat tetapi bisa didiskusikan dengan konseli dan
dapat berubah selama proses konseling berlangsung.
3. Membimbing dalam Mengambil Keputusan Karier
Konselor tidak bertanggung jawab untuk mengatakan kepada konseli
pekerjaan yang harus dia pilih. Konselor hanya menolong konseli
membuat dan melakukan evaluasi atas keputusannya sendiri berdasarkan
informasi yang ada dan perenungan pribadi. Konseling bertujuan
mempersempit daftar kesempatan berkarier menjadi beberapa kategori
pekerjaan yang berpotensi memberikan kepuasan dan memungkinkan untuk
dicapai. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, keinginan dan
motivasi konseli, kesempatan kerja, dan kondisi yang demikian dapat
membantu menentukan jenis karier atau pekerjaan yang dipilih.
Perkembangan karier terjadi dalam beberapa tahap, setiap tahapnya
memiliki ciri yang unik. "Tahap anak-anak" berlangsung selama 12
hingga 14 tahun pertama dalam hidup seseorang. Seorang anak
memikirkan tentang berbagai jenis pekerjaan yang ia anggap menarik,
yang sebagian besar akan ia tinggalkan karena tidak masuk akal. Di
SMA, "tahap penyelidikan" dimulai dengan adanya penilaian diri yang
sementara namun realistis dan mempersempit karier yang
diinginkannya. Dalam tahap ini sering terjadi kebimbangan dan
kegelisahan karena seseorang harus memilih dan membuang sejumlah
rencana pekerjaan. Tahap ini terkadang berlanjut hingga usia 20
tahun sehingga sering membuat orang muda dan orang tuanya frustrasi.
Selanjutnya adalah "tahap realistis", yaitu pada saat seseorang
serius mempertimbangkan pilihan kariernya dan membuat keputusan
dalam memilih pelatihan dan pekerjaan. "Tahap pembentukan" merupakan
tahap selanjutnya yang sering kali berlanjut dengan "tahap
pemeliharaan" yang dapat berlangsung selama rentang masa seseorang
bekerja. Bila seseorang mencapai target-target kariernya, hidup
dapat menjadi memuaskan dan berisi. Ini juga bisa menjadi saat-saat
yang menimbulkan frustrasi, terutama bila orang tersebut terkurung
dalam karier yang membosankan dan sangat mengecewakan. Banyak orang
yang menjalani "tahap evaluasi ulang" yang panjang (beberapa orang
bisa menjalani tahap ini lebih dari sekali) sehingga menyebabkan
mereka ingin beralih karier dan membangun serta mempertahankan
pekerjaan yang baru. Akhirnya, seseorang mencapai "tahap pensiun";
ia meninggalkan pekerjaan utamanya atau melakukan karier
paskapensiun baru atau terlibat dalam kegiatan yang bukan pekerjaan.
Tidak ada penunjuk waktu yang jelas kapan seseorang berpindah dari
tahap satu ke tahap berikutnya, tetapi pada setiap tahap (mungkin
kecuali tahap pertama) beberapa orang mencari bimbingan dari
konselor.
Bagaimana seseorang membuat keputusan tentang pekerjaan mereka?
Pertama, orang tersebut harus melakukan evaluasi atas kualifikasi
mereka dan memutuskan apa yang ingin mereka capai dalam hal
pekerjaan. Konseli bisa mencatat minat, bakat atau keterampilan,
pengalaman atau keahlian, tujuan hidup, dan sasaran karier.
Sarankan juga untuk membuat daftar mimpi, hal-hal yang ideal untuk
pekerjaan. Proses ini memerlukan waktu dan daftarnya mungkin perlu
diperbarui dan diubah ketika proses pemahaman diri berlangsung.
Seorang teman atau orang tua bisa membantu membuat daftar tersebut,
dan terkadang konselor perlu menunjukkan target-target mana yang
tidak realistis.
Kumpulkan juga informasi tentang pekerjaan yang potensial atau
karier yang memungkinkan. Kemudian, konseli membuat daftar yang
lebih terperinci mengenai kemungkinan aspek positif dan negatif dari
setiap alternatif. Akhirnya, konseli membuat keputusan, setidaknya
satu alternatif. Ini mungkin sulit bagi beberapa konseli karena
kesimpulan melibatkan komitmen dan berisiko salah atau gagal.
Tekankan bahwa pilihan pertama tidaklah selalu pilihan final dan
bergerak perlahan adalah lebih baik daripada tidak bergerak sama
sekali. Konseli kemudian dapat didorong untuk (a) bergerak
berdasarkan keputusan dengan mengikuti program pelatihan tertentu,
mencari pekerjaan, atau menerima suatu tawaran pekerjaan dan/atau
(b) melakukan evaluasi kembali pekerjaannya, setidaknya secara
periodik dan bila perlu mengulang kembali seluruh proses.
Kapan pun ini terjadi, bimbingan pekerjaan bisa fokus pada satu atau
lebih dari empat tujuannya.
- Penempatan kerja atau karier.
Termasuk menolong orang mendapatkan informasi dan pelatihan,
menemukan posisi, dan kadang-kadang membantu pekerja yang
potensial mendapatkan pekerjaan.
- Persiapan kerja atau karier.
Siap untuk masuk, menolong konseli mempertimbangkan aspek yang
baik dari pekerjaan yang diinginkan. Ini bisa terjadi ketika
perubahan diantisipasi.
- Penyesuaian dengan pekerjaan atau karier.
Kadang-kadang orang mendapatkan karier yang diinginkan tetapi
kesulitan menyesuaikan diri. Konseling krisis yang membantu
menyelesaikan konflik interpersonal, atau menghadapi kesepian atau
kecemasan dapat digunakan untuk mendampingi konseli yang sulit
menyesuaikan diri dengan situasi kerja yang baru.
- Perubahan pekerjaan atau karier.
Ini termasuk diskusi dan bimbingan sebelumnya, selama dan setelah
terjadi perubahan yang disengaja atau pun tidak. Ketika
orang-orang kehilangan atau dikeluarkan dari pekerjaannya, stres
berpeluang terjadi, khususnya bila pekerjaan itu telah dilakukan
selama sekian tahun. Sering kali terjadi kedukaan, rasa rendah
diri, gagal dan putus asa, tekanan keluarga, dan takut mencari
pekerjaan baru. Ketika perusahaan pindah ke tempat baru, kenaikan
jabatan, atau munculnya kesempatan baru, ada sukacita bercampur
dengan dukacita, antusiasme tentang masa depan yang bercampur
dengan keengganan untuk meninggalkan kenyamanan. Dalam situasi
seperti ini, dibutuhkan dukungan, semangat, dan bimbingan yang
seringkali dalam bentuk informal.
4. Mengetahui Kehendak Tuhan
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan beberapa tahun yang lalu,
seorang pria yang berpendidikan menulis bahwa dia tidak mendapatkan
pekerjaan yang cocok, dia justru dipekerjakan sebagai pelayan di
toko peralatan setempat. Ketika ia melakukan evaluasi atas
kekecewaannya, pria tersebut menyadari bahwa dia telah "menyimpan
dendam terhadap Tuhan karena telah menahan ... karunia pekerjaan
yang layak." Penulis mencoba memahaminya tetapi menyimpulkan bahwa
"seandainya itu saya, saya tidak dapat menemukan bagian dari Alkitab
yang benar-benar menjamin bahwa Allah akan memberi saya pekerjaan
yang benar-benar membutuhkan semua talenta saya."
Bagaimana kita mengonseling orang seperti ini? Sebagai orang
percaya, pria tersebut menginginkan kehendak Tuhan bagi hidupnya,
termasuk kehidupan pekerjaannya. Bagaimana konseli (atau konselor)
menentukan kehendak Tuhan? Banyak yang telah menulis tentang
pimpinan yang dari Tuhan tetapi mungkin hanya sedikit yang memiliki
prinsip dasar.
a. Menginginkannya
Apakah konseli benar-benar menginginkan pimpinan Tuhan atau mencari
pengesahan dari Tuhan atas rencananya? Karena Tuhan yang memimpin
maka kita harus memunyai kemauan yang keras untuk mematuhinya.
Seorang konselor mengatakan, Roh Kudus, "tidak akan membuang
waktu-Nya untuk menunjukkan kehendak Allah kepada seseorang yang
tidak sungguh-sungguh taat." Bila konseli tidak menginginkan
pimpinan Tuhan maka perlu mendiskusikan alasan-alasannya,
mengkonfrontasi orang tersebut dengan sikap ketidaktaatannya, dan
mendorongnya berdoa supaya perilakunya berubah.
b. Mengharapkannya
Tuhan telah berjanji untuk menunjukkan jalan-Nya kepada kita ketika
kita benar-benar mau percaya kepada-Nya, mencoba hidup kudus dan
menjaga pikiran kita berfokus pada hal-hal yang menyenangkan Allah.
Dia tidak bermain petak umpet, sengaja membuat pengikut-Nya bingung.
Dia telah berjanji untuk memimpin. Ini harus disampaikan kepada
konseli.
c. Mencarinya
Tidak ada formula yang tepat yang secara otomatis menunjukkan
kehendak Tuhan, dan Dia jarang memimpin dengan cara yang dramatis
dan ajaib. Hampir selalu memimpin melalui Alkitab dan Roh Kudus.
Alkitab tidak mengatakan pekerjaan macam apa yang harus kita pilih,
tetapi Alkitab memberikan bimbingan yang luas mengenai pilihan mana
yang bisa diambil. Roh Kudus tidak pernah memimpin dengan cara yang
tidak selaras dengan pengajaran Alkitab. Untuk mengetahui kehendak
Tuhan, kita perlu memahami Alkitab dan peka terhadap pengaruh Roh
Kudus dan pimpinan dari dalam diri.
Ini tidak berarti konseli seharusnya menolak menggunakan otak yang
telah Tuhan berikan kepada mereka. Tes psikologi, analisa
pekerjaan, melengkapi formulir melamar pekerjaan, konseling karier,
diskusi dengan teman, saling terlibat dengan pencari kerja lain,
dan minta dukungan doa dapat menolong konseli menemukan kehendak
Tuhan ketika mereka membuat keputusan pekerjaan. Dengan percaya
bahwa Tuhan akan memimpin, mereka bergerak maju dengan percaya diri,
sebisa mungkin membuat keputusan yang paling bijaksana dalam terang
yang nyata.
d. Menenangkannya
Bagaimana bila konseli membuat kesalahan? Bagaimana bila dia tidak
bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok? Pertama, ingatkan bahwa
setiap orang membuat kesalahan, tetapi Tuhan mengampuni, memulihkan
dan membantu kita kembali ke jalan yang benar. Seperti Yunus yang
mencoba lari dan Petrus yang mengkhianati Kristus, orang-orang
ini tahu bahwa Tuhan selalu memulihkan mereka yang datang kembali
kepada-Nya meminta pimpinan.
Kemudian ingatkan konseli bahwa Tuhan, dalam kebijaksanaan dan
waktu-Nya, membiarkan kita ke mana pun Dia ingin. Dia menerima kita
untuk melayani dengan rajin, di mana pun dan apa pun keadaannya.
Ketika ada kemarahan atau kecemasan (yang keduanya merupakan hal
yang umum), orang-orang percaya harus mengakuinya, mendiskusikannya
dengan seorang teman atau konselor, dan membawanya kepada Tuhan
melalui doa dan minta agar perasaan itu diangkat. Dengan demikian
konseli bisa tertolong, seperti Paulus, mengalami kepenuhan apa pun
keadaannya. (t/Ratri)
Diterjemahkan dan diringkas dari:
Judul buku: Christian Counseling: A Comprehensive Guide
Judul asli artikel: Counseling and Vocational Choices
Penulis: Gary R. Collins, Ph.D
Penerbit: Word Publishing, 1988
Halaman: 546 -- 553
ARTIKEL TERKAIT ______________________________________________________
ARTIKEL TENTANG KARIER
Beberapa artikel seputar karier dapat pula Pembaca simak di situs
C3I dengan judul dan alamat situs berikut ini:
1. Anak Tuhan dan kariernya
==> http://c3i.sabda.org/anak_tuhan_dan_kariernya
2. Pemuda dan Karier
==> http://c3i.sabda.org/pemuda_dan_karier
3. Tiga Hal Dalam Memilih Karier
==> http://c3i.sabda.org/tiga_hal_dalam_memilih_karier
TELAGA _______________________________________________________________
BILA PEKERJAAN TIDAK LAGI MEMUASKAN
Mencari pekerjaan yang ideal tidaklah mudah; kerap kali kita harus
puas dengan pekerjaan yang tersedia, kendati pekerjaan itu tidak
terlalu kita sukai. Akibatnya, kita merasa jenuh dan tertekan; pada
akhirnya kualitas karya kita pun merosot. Apa yang harus kita
lakukan bila kita berada dalam kondisi itu?
1. Meski tidak menyukainya, kita tetap harus mengerjakan kewajiban
kita sebaik-baiknya. Firman Tuhan mengingatkan, "Hai,
hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal,
jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,
melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apapun juga
yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:22, 23) Kita dipanggil
untuk mengerjakan tugas kewajiban kita sebaik-baiknya, tidak
peduli apakah kita menyukai atau tidak menyukai pekerjaan itu.
2. Kita pun dipanggil untuk bekerja meski pekerjaan ideal yang kita
idamkan belum terwujud. Firman Tuhan mengingatkan, "Tetapi kami
berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus
Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang
tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang
telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana
kamu harus mengikuti teladan kami karena kami tidak lalai bekerja
di antara kamu dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi
berusaha dan berjerih payah siang malam supaya jangan menjadi
beban siapapun di antara kamu." (2 Tesalonika 3:6-8)
3. Tuhan memiliki alasan ketika memerintahkan kita untuk bekerja,
sekalipun kita belum memperoleh pekerjaan yang kita idamkan.
Kita harus menjaga kesaksian hidup sebagai orang Kristen.
Jangan sampai kita mencoreng nama Tuhan akibat kemalasan kita.
4. Tuhan memimpin kita sampai ke tempat tujuan (dalam hal ini,
pekerjaan yang kita dambakan) melalui perjalanan karier, bukan
melalui berdiam diri menantikan datangnya tawaran. Tidak jarang,
Tuhan mempertemukan kita dengan orang tertentu yang akhirnya
membukakan pintu bagi kita untuk masuk ke pekerjaan baru yang
kita impikan. Juga, dengan terus bekerja, bukankah kita
sesungguhnya tengah membangun tumpukan pengalaman kerja yang
nantinya akan sangat bermanfaat untuk mendapatkan pekerjaan yang
baru? Ingat, kita cenderung mengaryakan orang yang bekerja,
bukan orang yang tidak bekerja. Jadi, apa pun pekerjaan itu,
lakukanlah.
5. Adakalanya Tuhan tidak memberikan pekerjaan yang kita inginkan
karena Tuhan bermaksud lain, misalnya ada "tugas" yang belum
terselesaikan, ada perubahan karakter yang perlu dipersiapkan,
atau ada "bahaya" yang Tuhan perlu hindarkan dari kita.
Firman Tuhan, "Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan
kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau
mengangkat aku ke dalam kemuliaan." (Mazmur 73:23-23)
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Nama situs: telaga.org
Judul transkrip: Bila Pekerjaan Tidak Lagi Memuaskan
(TELAGA No. T176A)
Alamat url: http://telaga.org/audio/bila_pekerjaan_tidak_lagi_memuaskan
Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
e-mail, silakan kirim surat ke:
==> < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org> atau
==> < telaga(at)sabda.org >
______________________________________________________________________
Apakah Anda punya masalah/perlu konseling, atau ingin mengirimkan
informasi/artikel/bahan/surat/saran/pertanyaan/sumber konseling?
silakan kirim ke:
< konsel(at)sabda.org > atau < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org >
ARSIP: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I: http://c3i.sabda.org/
Facebook Konseling: http://fb.sabda.org/konsel
_______________________________e-KONSEL ______________________________
Pimpinan Redaksi: Christiana Ratri Yuliani
Staf Redaksi: Tatik Wahyuningsih
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) Konsel 2010 / YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
|