_______________________________e-KONSEL_______________________________
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
_____________________________________________________________________
EDISI 163/1 Juli 2008
Daftar Isi:
= Pengantar: Mengevaluasi Diri
= Cakrawala: Masalah Rendahnya Rasa Harga Diri
= Bimbingan Alkitabiah: Tuhan, Mengapa Engkau Membentuk Aku Seperti
Ini?
= Tips: Mencegah Masalah Rendah Diri dan Nilai Diri yang Rendah
PENGANTAR REDAKSI ____________________________________________________
Salam sejahtera,
Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki ketergantungan satu sama
lain. Ada yang kadar ketergantungannya tinggi, ada pula yang rendah
sehingga beberapa orang bahkan bisa mengatakan bahwa dia tidak
membutuhkan siapa pun. Pada kenyataannya, benarkah seorang manusia
dapat hidup tanpa membutuhkan manusia lainnya? Tentu saja tidak,
bukan? Meskipun hanya kepada satu orang saja, kita tetap dan pasti
membutuhkan orang lain.
Ketergantungan manusia kepada sesamanya memang sangat menolong dalam
menjalani kehidupan di dunia ini. Namun di sisi lain, sifat ini
dapat pula menjadi bumerang tatkala dalam memandang, menilai, dan
menghargai dirinya sendiri, seseorang sangat bergantung kepada
pandangan dan penilaian orang lain. Akibatnya, bisa muncul krisis
harga diri, dimana seseorang memiliki rasa harga diri yang rendah
sekali jika penilaian yang dia harapkan dari orang lain tidak sesuai
dengan harapannya. Rasa harga diri yang rendah ini akan sangat
memengaruhi seseorang dalam bertindak, bergaul, berbicara, berpikir,
dan sebagainya.
Mengapa rasa harga diri yang rendah bisa sangat memengaruhi
kehidupan seseorang? Bagaimana kita bisa menolong mereka yang
memiliki rasa harga diri yang rendah dan tuntunan yang seperti apa
yang Alkitab berikan? Mari kita mencari tahu jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui edisi awal Juli ini. Kiranya
bisa menjadi berkat bagi Anda sekalian.
Staf Redaksi e-Konsel,
Evie Wisnubroto
CAKRAWALA ____________________________________________________________
MASALAH RENDAHNYA RASA HARGA DIRI
Saya yakin bahwa sebagian besar dari kejatuhan atau dosa pertama
kita bermula dari kurangya rasa harga diri. Ini adalah suatu masalah
yang dimiliki semua orang, tidak peduli bagaimana cara kita
dibesarkan. Bahkan, jauh di lubuk hati orang-orang yang berasal dari
keluarga yang mendekati ideal pun ada perasaan seperti ini, "Aku
memunyai kekurangan. Orang lain mungkin tidak, tetapi aku punya
kekurangan."
Bagi sebagian orang, keraguan pada diri sendiri ini tidak pernah
menjadi masalah yang sangat serius. Tetapi bagi beberapa yang
lainnya, hal itu mungkin menjadi masalah berat. Keraguan pada diri
sendiri dapat menjadi masalah bagi orang-orang yang sedang menuju
kedewasaan atau sedang mengalami hubungan-hubungan antarpribadi yang
tanpa kasih sayang, tidak disetujui, dan tidak diterima.
Hampir semua masalah rendahnya rasa harga diri timbul dari gambaran
diri yang diperoleh dari orang-orang yang berarti dalam hidup kita,
seperti orang tua, saudara, teman-teman sebaya di lingkungan tempat
tinggal, tempat kerja, bahkan di gereja. Sebagai manusia, kita
memerlukan penerimaan, pengakuan, dan kasih sayang. Jika orang-orang
yang penting dalam hidup kita justru memberi celaan, penolakan, dan
suatu perasaan seakan-akan kita tidak dikehendaki, maka kebutuhan
pokok kita tidak terpenuhi. Akibatnya, muncul perasaan harga diri
yang rendah sekali. Kita melihat bayangan kita di mata orang-orang
ini, dan kita berkata kepada diri kita sendiri, "Saya tidak
berharga."
Sebab lain dari rendahnya rasa harga diri adalah pengetahuan teologi
yang kurang serta buruknya pengajaran di gereja maupun di dalam
keluarga kita. Banyak dari kita yang telah menghasilkan kebaikan
dari suatu sifat buruk. Nampaknya, kita percaya bahwa sikap mencela
diri itu menyenangkan Tuhan, bahwa ini merupakan bagian dari
kerendahan hati orang Kristen, bahkan hal ini perlu untuk memeroleh
penyucian dan kekudusan. Dengan berpikir seperti ini, kita telah
mencampurkan rasa harga diri yang baik dengan sifat egoisme duniawi
yang buruk. Kedua hal ini tidak sama.
Yang benar dari persoalan tersebut adalah bahwa di dalam Kitab Suci,
meremehkan harga diri bukanlah sifat rendah hati kristiani yang
sejati. Meremehkan harga diri sebenarnya bertentangan dengan
ajaran-ajaran pokok iman Kristen. Sebagai contoh, Yesus menyuruh
kita mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri (Lukas
10:27, mengutip dari Imamat 19:18). Dengan berkata demikian, yang
dimaksudkan oleh Yesus adalah kita hendaknya memiliki harga diri
yang pantas. Kita hendaknya menyadari harga diri kita sendiri
sebagai manusia dan menggunakan rasa berharga itu sebagai dasar
untuk mengasihi sesama kita dengan layak.
Paulus pun menjadikan rasa harga diri sebagai dasar bagi suatu
perkawinan yang bahagia. Ia berkata, "Demikian juga suami harus
mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang
mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah
orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan
merawatinya," (Efesus 5:28,29). Salah satu versi Alkitab dalam
bahasa Inggris menyatakannya sebagai berikut, "Kasih yang diberikan
seorang laki-laki kepada istrinya adalah perluasan dari kasihnya
kepada dirinya sendiri yang ia berikan untuk membungkus istrinya."
Selanjutnya, Paulus mengatakan bahwa inilah jenis hubungan yang
dipunyai Kristus dengan gereja-Nya, "Bagi kamu masing-masing ...
kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri," katanya meringkaskan
(ayat 33).
Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri bukan hanya suatu
perintah. Hal itu adalah suatu fakta kejiwaan. Kita dapat mengasihi
sesama kita sampai sejauh kita mengasihi diri sendiri. Seseorang
yang rasa harga dirinya rendah akan sangat sukar bergaul dengan
orang lain. Kita tidak mungkin mengasihi orang lain tanpa syarat
bila kita perlu membuktikan nilai diri kita sendiri, tetapi ketika
kita yakin bahwa kita berharga di hadapan Allah, kita bebas
mengulurkan tangan kasih kepada orang lain.
Jadi, merendahkan diri sendiri tidak sama dengan kerendahan hati,
kekudusan, atau pun kesucian. Merendahkan diri bukanlah apa yang
dimaksudkan di dalam Perjanjian Baru, dengan menyalibkan diri kita
sendiri (seperti yang terdapat di dalam Galatia 2:20, misalnya).
Yesus tidak meminta kita untuk merendahkan diri kita sendiri, dan
perasaan rendah diri kita bukan berasal dari Tuhan. Perasaan rendah
diri itu sebenarnya berasal dari masa lalu kita.
Bila rasa harga diri kita didasarkan pada apa yang orang lain
pikirkan tentang kita, carilah sumber informasi lain tentang harga
diri kita. Kita harus mendapat rasa harga diri kita dari penilaian
Tuhan sendiri. Ia mengasihi, menghargai, dan menilai kita di dalam
rencana yang Ia buat bagi diri kita. Paulus berkata, "Terpujilah
Allah yang Agung, karena melalui Anak-Nya yang tercinta Ia sangat
mengasihi kita" (Efesus 1:6, Alkitab Kabar Baik). Bagi saya, artinya
adalah bila kita ada di dalam Kristus, Allah memandang kita dan
berkata tentang kita seperti Ia berkata tentang Yesus pada saat
pembaptisan-Nya, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku
berkenan," (Matius 3:17).
Bagaimana kita dapat memiliki harga diri yang sesuai dengan
pandangan Tuhan terhadap diri kita? Berikut ini ada beberapa saran.
1. Menyadari cara Saudara dalam menilai diri sendiri.
Saya telah menasihati orang-orang agar memohon kepada Tuhan untuk
memeriksa setiap kali mereka meremehkan arti diri mereka sendiri.
Satu atau dua minggu kemudian mereka kembali lagi kepada saya dan
mereka benar-benar merasa heran. "Anda tahu," kata mereka, "saya
tidak menyadari bahwa hal ini begitu dalam tertanam di dalam diri
saya. Saya menganggap rendah harga diri saya siang dan malam."
2. Belajarlah untuk menerima informasi yang baik maupun yang buruk.
Saya mengatakan kepada orang-orang untuk berlatih menerima pujian
dengan senyum dan ucapan terima kasih. Hendaknya mereka berhenti
memberikan sifat rohani pada keberhasilan mereka dan jangan
menganggap karunia-karunia mereka tidak berharga dengan menyebut
hal seperti itu sebagai kerendahan hati.
3. Berhenti mengatakan "akulah!"
Cara lain untuk mengatasi rendahnya rasa harga diri adalah dengan
berhenti menggunakan pernyataan "akulah". Hanya Yesus yang berhak
memakai "Akulah" karena Dia dan hanya Dia sendiri yang membuat
sesuatu. Sebaliknya, Saudara dan saya selalu akan menjadi
sesuatu. Bila Saudara membuat pernyataan "akulah" -- akulah
bodoh, akulah jelek, akulah tidak dikasihi, akulah canggung --
kita membatasi diri kita dengan cara yang paling tidak perlu.
Jika kita terbiasa memakai pernyataan-pernyataan yang demikian,
akan diperlukan banyak doa dan pergumulan untuk mengubah keadaan
itu. Kita bisa meminta Roh Kudus untuk memeriksa kita setiap kali
kita menggunakannya. Sebagai ganti pernyataan "akulah", kita
dapat mengatakan, "Saya adalah seorang anak Tuhan dan Ia
mengasihi saya."
4. Mintalah pertolongan.
Jika kita sering mengalami penolakan, maka kita perlu bekerja
keras sebelum kita dapat menilai diri kita sebagaimana Tuhan
menilai kita. Banyak perencanaan ulang dan penyembuhan ingatan
yang mungkin diperlukan jika kita pernah menghadapi
pukulan-pukulan yang berat terhadap keadaan diri kita. Kita tidak
mungkin mendapat kesembuhan ini dengan kekuatan sendiri; kita
membutuhkan pertolongan orang lain, dan kita tidak boleh
ragu-ragu untuk memintanya.
Tuhan akan menyembuhkan Saudara sesuai dengan waktu yang
ditentukan-Nya. Ia sangat gembira dengan setiap langkah kemajuan
yang Saudara buat. Kasih-Nya kepada Saudara adalah tanpa syarat.
Kasih-Nya sama sekali tidak bergantung pada keadaan Saudara yang
mungkin patut dikasihi, tidak bergantung pada apakah Saudara
berhak memerolehnya atau tidak, dan juga tidak bergantung pada
soal Saudara dapat mencapainya atau tidak. Kasih-Nya diberikan
kepada Saudara secara cuma-cuma. Karena Saudara tidak dapat
menghidupkan kasih Tuhan itu dengan sesuatu yang Saudara lakukan,
Saudara juga tidak dapat memadamkannya dengan suatu perbuatan.
Saudara sama sekali tidak dapat membuat Tuhan berhenti mengasihi
Saudara. Saudara dapat menolaknya, menutup diri terhadapnya,
lalai menerimanya, membuat tembok yang menghalangi Saudara dari
kasih itu, dan Saudara bahkan dapat pergi ke neraka daripada
menerimanya apabila itu yang Saudara pilih. Tetapi, Tuhan akan
terus mengasihi Saudara, bagaimana pun keadaannya. Jika Ia
menghargai Saudara begitu tinggi, atas dasar apa Saudara
mengatakan bahwa diri Saudara tidak berharga?
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul Buku: Pola Hidup Kristen
Nama penulis: David Seamands
Penerbit: Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang; Yayasan Kalam Hidup,
Bandung; Lembaga Literatur Baptis, Bandung; dan YAKIN, Surabaya 2002
Halaman: 378 -- 382
BIMBINGAN ALKITABIAH _________________________________________________
"TUHAN, MENGAPA ENGKAU MEMBENTUK AKU SEPERTI INI?"
(Persoalan Mengenai Ucapan Syukur, Bukan Menghargai Diri Sendiri)
Setelah beberapa dekade, terjadi pergeseran pendapat masyarakat
mengenai bagaimana seharusnya orang memandang dirinya sendiri.
Secara khusus, intinya adalah kebutuhan untuk membangun harga diri
seseorang atau mencintai diri sendiri. Apakah Anda mendeteksi ada
permasalahan di sini? Hal yang paling menonjol di sini adalah
"diri". Pada dasarnya, hal itu adalah cita-cita yang manusiawi
karena menempatkan manusia sebagai orang yang mengambil alih dan
bertanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai "tuhannya". Inti dari
teologi ini adalah manusia menjadikan dirinya sebagai "tuhan", bukan
Allah yang menjadi yang pertama dan terutama. Ini bukan hal baru,
karena manusia selalu berusaha meminimalisir dosanya dan kerusakan
moral yang diturunkan dari dosa Adam.
Secara tradisional, gereja Kristen merespons tren baru dengan dua
cara. Gereja bisa menerima dengan hangat ide-ide baru tersebut
dengan sedikit memikirkannya atau meninjaunya dengan hati-hati, atau
mereka akan menolak dan menjauhinya dengan membuat
"peraturan-peraturan" tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Dalam lingkungan evangelikal, teologi "self-esteem" atau menghargai
diri sendiri telah diterima secara relatif. Dalam lingkungan
fundamentalis, ada penolakan terhadap ajaran ini dan ada tindakan
menjauhi topik ini. Oleh sebab itu, tujuan dari pembelajaran ini
adalah untuk memberikan pendekatan yang berbeda sebagai suatu usaha
untuk melihat subjek ini dari pandangan yang diharapkan tidak berat
sebelah. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang diselidiki:
Apakah pandangan Alkitabiah tentang manusia? Apakah seharusnya kita
tidak mengajarkan bahwa hidup kita berharga, berguna, dan penting?
PANDANGAN ALKITABIAH MENGENAI MANUSIA
Apakah Anda pernah menerima dengan terbuka ide-ide di bawah ini?
- Pandangan humanistik: Manusia memiliki sifat yang baik.
Injil: Roma 7:18; Titus 3:5; Yeremia 17:9, "Betapa liciknya hati,
lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu."
Pandangan alkitabiah: Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa
manusia telah jatuh dan sudah sepenuhnya rusak. Kita adalah
pendosa yang butuh seorang Penyelamat. Bersyukur, Tuhan Yesus mati
bagi kita untuk menghapus dosa kita dan menyelamatkan kita.
- Pandangan humanistik: Alasan mengapa manusia selalu berbuat dosa
adalah karena mereka tidak pernah memikirkan diri mereka sendiri
sebagai yang tertinggi; mereka merasa tidak penting; mereka
memiliki harga diri yang rendah. Mereka tidak bisa diharapkan
untuk bisa bertingkah laku dengan benar.
Injil: Roma 12:3 dan 3:10-12; Yohanes 8:34, "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa."
Pandangan alkitabiah: Manusia berdosa karena mereka sudah lahir
sebagai pendosa. (Dalam Perjamuan Terakhir, Yesus berkata kepada
murid-murid-Nya, "Lakukan ini untuk mengingat Aku." Hal ini
menunjukkan, ada yang lebih penting dari gambaran anggur yang
menandakan darah-Nya yang mulia dan roti yang belum dipecah yang
melambangkan tubuh Kristus yang tak berdosa. Kita juga perlu
mengingat bahwa dengan adanya perjamuan terakhir, bangsa Israel
dibebaskan dari perbudakan, dari perhambaan di Mesir. Melalui
darah penebusan Kristus di Kalvari, orang percaya yang lahir baru
dilepaskan dari perbudakan, dari perbudakan dosa! Puji Dia!)
- Pandangan humanistik: Jangan tampar Bobby; kamu akan merusak harga
dirinya! Dia benar-benar memiliki sifat yang baik.
Injil: Ibrani 12:6; Amsal 29:16 dan 22:15, "Kebodohan melekat
pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu
dari padanya."
Pandangan alkitabiah: Sekali lagi, setiap anak dan orang dewasa
adalah pendosa, rusak secara alami. Disiplin disertai kasih yang
terus-menerus diberikan tidak akan merusak harga diri, namun
sebenarnya dapat memerbaiki sifat anak dan memberikannya pandangan
yang tepat mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Hal ini
akan menghasilkan ketaatan yang akan membuahkan sukacita.
Sebaliknya, kurang disiplin akan menghasilkan anak yang merasa
tidak aman (tidak ada batasan) dan akibatnya menjadi semaunya
sendiri dan egois.
- Pandangan humanistik: Yesus datang untuk mati bagi kita karena
begitu berharganya manusia di mata Tuhan.
Injil: "Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan
dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang
sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh
hidup-Nya!" (Roma 5:10)
Pandangan alkitabiah: Intinya adalah bahwa kita adalah musuh
Allah. Tidak ada hal baik dalam diri kita, tidak ada yang pantas
mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Ia tidak menyelamatkan kita
karena kita baik, pintar, cerdas, atau cantik. Ia hanya memilih
untuk mengasihi kita dan menebus kita. Dengan mengetahui hal ini,
kasih dan anugerah Tuhan menjadi lebih menakjubkan!
DIRANCANG UNTUK KEMULIAAN TUHAN
Jadi apakah manusia ada harganya? Apakah ada tertulis di dalam Kitab
Suci bahwa Tuhan secara positif mengatakan bahwa Dia akan membantu
kita? Apakah ada neraca? Apa yang kita lakukan ketika kita merasa
kecil hati atas diri kita sendiri? Bagaimana kita menghadapi cacat
fisik dan ketidaksempurnaan yang nampak? Bagaimana dengan kekecewaan
terhadap penyakit, sakit, dan kecelakaan? Bagaimana dengan saat-saat
di mana kita membenci diri sendiri ... ketika kita secara umum
membenci kehidupan ini?
Berikut beberapa kebenaran yang harus diingat.
1. Waspadalah terhadap tujuan setan.
"... untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan." (Yohanes 10:10).
Dia menginginkan kita sengsara dan tidak tahu berterima kasih,
menolak jalan yang telah Tuhan rencanakan bagi kita (Roma 1:19-22).
Ini tidak ada hubungannya dengan harga diri yang rendah. Ini adalah
permasalahan dosa.
Setan ingin kita benar-benar menolak Tuhan (Roma 1:25).
Aplikasi: Seberapa sering kita lupa untuk bersyukur, sebaliknya kita
memilih untuk bersungut-sungut dan mengeluh ketika berkecil hati?
Sadarilah rencana istimewa Tuhan untuk setiap anak-Nya.
"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam
kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku
dahsyat dan ajaib; ...." (Mazmur 139:13-14)
- Kita harus menyadari bahwa Tuhan adalah Pencipta kita -- kita
adalah milik Tuhan. Kita bukan milik kita sendiri (1 Korintus
6:19).
- Tuhan menciptakan setiap kita dengan detail yang menakjubkan dan
sifat-sifat yang istimewa.
Aplikasi: Dia bahkan merencanakan "kerusakan dan tragedi" dalam
hidup kita untuk alasan istimewa (Roma 8 28). Hal ini berguna untuk
membangun karakter dan memotivasi sesama kita, "... kita malah
bermegah juga dalam kesengsaraan kita ...." (Roma 5:1-5)
2. Mengerti ciri-ciri yang tak terubahkan.
"Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat
dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan
tangan-Mu." (Yesaya 64:8)
- Harapan dan keluh kesah kita tidak dapat mengubah apa pun, kecuali
menghancurkan sifat kita dan sifat orang-orang di sekeliling kita.
- Beberapa fakta kehidupan yang tak dapat kita ubah: asal-usul
keluarga kita, umur, tinggi badan, ketajaman mental, warisan,
jenis kelamin.
- Hal ini seharusnya berdampak terhadap cara kita berbicara dengan
orang lain, memperlakukan orang lain, dan mempengaruhi humor yang
yang sering kita gunakan (menjadi peka terhadap kebutuhan orang
lain).
Terimalah rancangan istimewa yang "tak terubahkan" ini dengan ucapan
syukur. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang
dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika
5:18).
3. Bersukacitalah.
"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan
besar." (1 Timotius 6:6)
- Bersukacita dapat melawan rasa tidak semangat, kepahitan,
kemarahan, keluh kesah, dan keengganan untuk bersyukur kepada
Tuhan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan untuk setiap hal yang tak
dapat diubah.
- Kita harus menyadari bahwa hal-hal tersebut mengingatkan kita
bahwa kita adalah milik Tuhan dan Ia adalah Pencipta kita. Hal ini
tidak ada hubungan dengan masalah rendahnya harga diri atau
keberhasilan yang telah kita capai.
- Sebaliknya, kita mungkin dapat bekerja pada hal-hal yang dapat
kita ubah? Kualitas karakter dalam kehidupan kita melalui
hal-hal yang tak dapat diubah, contohnya: ucapan syukur,
kesabaran, sukacita, belas kasih, kesetiaan, dan lain lain (Filipi
1:6).
Akhirnya, sadarilah bahwa Tuhan menerima kita sepenuhnya, bukan
karena kita, tetapi karena pekerjaan Yesus yang telah selesai.
"Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai
sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus." (Roma
5:1)
Bagaimana caranya kita mengaplikasikannya saat ini?
Apakah Anda pernah menolak Yesus Kristus karena Anda marah terhadap
ciri yang tak dapat diubahkan dalam hidup Anda? Apakah Anda
kekurangan perspektif, hidup tanpa tujuan yang ditandai dengan tidak
mengucap syukur dan merasa rendah diri, atau tidak mengucap syukur
dan sombong?
1. Pertama, Anda harus percaya kepada Yesus Kristus atas keselamatan
dan pengampunan semua dosa.
2. Selanjutnya, Anda harus berterima kasih kepada Tuhan untuk semua
hal yang "tak terubahkan", terutama yang tidak Anda sukai.
3. Anda harus mohon pertolongan Tuhan untuk memelajari ajaran-Nya
dan mengembangkan karakter yang baik melalui hal yang tak dapat
diubah. Pelajarilah pandangan Tuhan dalam hidup Anda. Anda
dirancang untuk kemuliaan-Nya, bukan kemuliaan Anda sendiri.
Rasul Paulus mengerti akan hal ini, dan ia memilih "bangga" di
saat sakit dan lemah (1 Korintus 1:26).
TINJAUAN ULANG
Apa kunci dari isu menghargai diri sendiri? Apakah Anda mengalami
kepahitan atau sukacita? Jawaban sederhana atas pertanyaan di atas
adalah memilih untuk bersyukur kepada Tuhan! (t/Hilda)
Diterjemahkan dari:
Nama situs: HomewithGod
Judul asli artikel: "God, Why Did You Make Me This Way?"
(A problem of gratefulness, not self-esteem)
Alamat URL: http://www.our.homewithgod.com/ewerluvd/self_esteem.htm
TIPS _________________________________________________________________
MENCEGAH MASALAH RENDAH DIRI DAN NILAI DIRI YANG RENDAH
Idealnya, gereja lokal adalah suatu tubuh orang percaya yang
berkomitmen untuk menyembah Tuhan dan mengabarkan Injil ke seluruh
dunia dengan mengajar, memberi perhatian, membangun, dan melakukan
perbuatan-perbuatan baik kepada orang lain dengan tidak memandang
hal tersebut sebagai beban, manipulasi, dan keinginan untuk
mendapatkan status dalam masyarakat. Tentu saja, kebanyakan gereja
gagal, bahkan sering kali gagal, dalam mencapai bentuk yang ideal
ini. Meskipun demikian, komunitas Kristen bisa memberikan pengaruh
yang besar dalam mengubah konsep diri dan mencegah rasa rendah diri
pada diri seseorang. Pengaruh ini bisa dilakukan melalui pengajaran,
dukungan semangat, dan bimbingan dari orang tua.
1. Pencegahan melalui pengajaran.
Kita telah melihat bahwa banyak orang membangun harga diri yang
rendah karena mereka telah diajarkan bahwa orang-orang yang
beriman seharusnya terus-menerus menempatkan diri mereka di bawah
dan merasa tidak layak. Beberapa orang diajarkan bahwa Tuhan
adalah hakim yang kejam yang menunggu untuk memberikan hukuman
atas kesalahan-kesalahan kita sehingga dia bisa menghukum kita.
Tuhan juga diajarkan sebagai Pribadi yang senang merendahkan
kepribadian kita dan menyengsarakan hidup kita.
Pandangan-pandangan yang salah dan menyimpang ini harus ditarik
dan diganti dengan pengajaran yang alkitabiah tentang nilai
manusia, pengampunan, harga diri, dan pentingnya mengasihi diri
sendiri.
Konsep diri seseorang tidak bisa tergantung pada tujuan-tujuan
manusia dan pencapaiannya saja. Rasa memiliki, berharga, dan
mampu yang dimiliki oleh setiap orang muncul karena kita dikasihi
dan didukung oleh Tuhan yang besar dan berkuasa yang mengajar
kita tentang dosa dan pengampunan kekal, memberkati kita dengan
kemampuan dan karunia yang unik, menjadikan kita ciptaan baru,
dan memberi kita alasan yang benar untuk memiliki harga diri yang
pantas karena kita telah ditebus oleh Kristus.
Di dalam gereja, orang-orang kristen harus belajar bahwa kita
dapat mengasihi diri kita sendiri karena Allah mengasihi kita dan
menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Kita dapat mengakui dan
menerima kemampuan, karunia, dan prestasi yang kita miliki karena
semuanya itu berasal dari Tuhan dan atas kehendak-Nya. Kita bisa
merasakan pengampunan dosa karena Tuhan mengampuni kita tanpa
syarat dan orang-orang percaya bisa memuji Tuhan atas apa yang Ia
kerjakan di dalam dan melalui hidup kita. Tidak ada satu
institusi pun yang mengajarkan konsep diri yang sesungguhnya
sedekat gereja yang alkitabiah. Selain pengajaran yang alkitabiah
melalui khotbah dan kelas-kelas, pendidikan ini juga melibatkan
kelompok-kelompok diskusi.
2. Pencegahan melalui komunitas Kristen.
Seseorang yang diterima dan dihargai sebagai anggota dari suatu
kelompok akan merasa nyaman dan dapat membangun harga dirinya.
Gereja bisa memberikan penerimaan dan dukungan, khususnya pada
saat mereka membutuhkannya. Anggota gereja harus didorong untuk
menunjukkan kepedulian dan perhatian satu dengan yang lain tanpa
melebih-lebihkan atau membesar-besarkan pendatang baru atau
anggota yang pasif.
Gereja juga bisa menolong orang mendapatkan kemampuan praktis
yang baru. Melalui gereja pula, kita bisa menolak berbagai
materialisme dan jebakan-jebakan sukses yang tidak umum dalam
masyarakat. Kita bisa belajar saling mengasihi sebagai saudara,
setiap kita memiliki karunia dan kontribusi yang penting dalam
membentuk tubuh Kristus. Tentu saja, ini adalah sesuatu yang
idealis. Pakaian, usaha, dan cara bicara orang menunjukkan status
sosial mereka. Berbagai jenis mobil yang ada di halaman parkir
menunjukkan bahwa jemaat terbagi berdasarkan kemampuan ekonomi
mereka. Namun karena Allah kita tidak terkesan dengan
simbol-simbol status itu, kita seharusnya berusaha menjaga supaya
simbol-simbol itu tidak memengaruhi hubungan interpersonal kita
dan nilai-nilai dalam tubuh Kristus.
3. Pencegahan melalui bimbingan dengan orang tua.
Karena kebanyakan masalah harga diri berawal dari rumah, maka
dari rumahlah masalah ini bisa dengan sangat efektif dicegah.
Tentu saja pencegahan itu masih dalam batas-batas pendidikan
Kristen untuk mengajarkan kepada orang tua bagaimana membangun
suasana rumah kristiani yang saling mengasihi dan bagaimana
mengkomunikasikan bahwa anak-anak mereka terima. Anak-anak yang
masih kecil membutuhkan kontak fisik dan ekspresi yang spontan
atas hal-hal yang menyenangkan, termasuk waktu untuk bermain.
Bila bersama anak-anak yang usianya lebih tua, harus ada
dorongan, disiplin yang konsisten, pujian dan waktu yang
digunakan untuk berkomunikasi. Dengan adanya bukti bahwa orang
tua yang memiliki harga diri yang tinggi, cenderung memiliki anak
yang harga dirinya juga tinggi, maka penting juga untuk menolong
para ayah dan ibu mengatasi rasa rendah diri mereka dan membangun
konsep diri yang positif. (t/Ratri)
Diterjemahkan dari:
Judul buku: Christian Counseling; A Comprehensive Guide
Judul asli artikel: Preventing Inferiority and Low Esteem
Penulis: Dr. Garry R. Collins, Ph.D
Penerbit: World Publishing, USA 1988
Halaman: 324 -- 325
_______________________________e-KONSEL ______________________________
Pimpinan Redaksi: Christiana Ratri Yuliani
Staf Redaksi: Evie Wisnubroto
Penanggung Jawab Isi dan Teknis: Yayasan Lembaga SABDA
Infrastruktur dan Distributor: Sistem Network I-Kan
Copyright(c) 2008
YLSA -- http://www.ylsa.org/
Katalog -- http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda punya masalah/perlu konseling? Atau ingin mengirimkan
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.?
Silakan kirim ke: konsel(at)sabda.org
atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org
Arsip: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I: http://c3i.sabda.org/
Network Konseling: http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_konseling
______________________________________________________________________
|